
Rey menceritakan setiap detail kejadian di masa lalu yang terjadi kepada Jef (Han) dan keluarga kandungnya.
Jef yang mendengarnya benar-benar terkejut karena tidak menyangka kalau keluarganya sendiri bisa melakukan hal keji dan merenggut kebahagiaannya.
“Jadi mama kandungku masih hidup? Kalian menaruhnya dirumah sakit jiwa? Kenapa! Kenapa!?” teriak Jef yang membuat semua orang terkejut mendengarnya.
“Han, kami bisa jelaskan semuanya kepadamu..”
“Tidak perlu! Kalian berdua yang seharusnya menjadi keluargaku justru membuat aku menjadi yatim piatu tanpa tau dimana orang tuaku.” Ketus Jef.
“Selama ini aku hidup dengan membenci kedua orang tuaku yang sudah membuangku karena kalian, tapi ternyata seharusnya aku harusnya membenci kalian berdua.” Lanjutnya.
BRAKK!!
“Papa!!” teriak Gilang dan Dika secara bersamaan.
“Hah, hah, hah… Kalian k-kenapa cepat sekali sih?” ucap Giffari yang berlari di belakang kakak dan abangnya.
“Anak-anak? Kalian sedang apa di sini?” tanya Rey yang terkejut melihat ketiga anaknya ada di ruangan yang sama dengannya.
“Papa! Apa papa tidak kenapa-kenapa?” tanya Gilang yang langsung berlari ke arah papanya.
“Papa baik-baik saja, kalian bertiga kenapa ke sini? Sama siapa kalian ke sini?” tanya Rey dengan tegas.
“Kami kabur dari rumah uncle Ken pa, soalnya kami dengar aunty Key menghubungi mama dan kami langsung menyelinap ke luar.” Jelas Giffari.
“Giffa! Kenapa kamu bilang ke papa?” tanya Gilang.
“Di mana mama?” tanya Rey kepada ketiganya, lalu tiba-tiba…
Drrtt,, drrtt.. Tiba-tiba saja hp Rey berbunyi dan dengan segera Rey mengangkat telfon dari istrinya.
“Halo sayang…” ucap Rey saat mengangkat telfonnya.
“Sayang! Anak-anak, anak-anak tidak ada di rumah mereka hilang! Bagaimana ini?!” ucap Elsa dengan nada paniknya.
“Sayang tenanglah, anak-anak baik-baik saja.”
“Dari mana kamu tau kalau mereka baik-baik saja, mereka menghilang!”
“Karena mereka ada di sini! Anak-anak ada di sini menerobos masuk ke restaurant secara tiba-tiba.” Jelas Rey.
__ADS_1
“Apa?! Bagaimana bisa mereka sampai ke sana, padahal mereka ga tau alamat restaurant itu sayang.. Kalau gitu aku ke sana sekarang ya.” Ucap Elsa.
“Tidak perlu sayang, biarkan anak-anak pulang bersamaku dan Key nanti.” Ucap Rey.
“Baiklah kalau begitu, kalian hati-hati ya.” Ucap Elsa yang langsung mematikan telfonnya.
Setelah mematikan telfonnya, Rey langsung meihat ketiga anaknya yang sedang menundukkan kepala karena merasa bersalah.
“Jangan menundukkan kepala karena papa tidak akan luluh dan kalian masih harus di hokum setelah ini!” tegas Rey kepada ketiga anaknya.
Ketiga anak itu hanya menatap wajah Rey dengan memelas agar bisa di maafkan, namun Rey tetap menatap mereka dengan tajam.
“Key tolong bawa Sarah dan anak-anakku ke luar, kita akan pulang setelah menyelesaikan masalah di sini.” Ucap Rey.
Key dan Sarah menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Rey, namun tidak dengan ketiga anak-anak Rey.
“Tidak pa! Kita akan tetap di sini!” tegas Gilang.
“Gilang, dengarkan kata papa! Di sini masalah orang dewasa jadi kamu jangan ikut-ikut.” Tegas Rey.
“Gilang benar pa, kami ke sini karena mendengar papa sedang menghadapi orang jahat, jadi kami kemari untuk membantu papa.” Sambung Dika.
“Giffa ga ikut-ikut papa, Giffa cuma ngikutin kakak dan abang aja.” Sahut Giffari.
Giffari sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi mendengar ucapan papanya.
“Kami tetap di sini aunty Key, jangan bawa kami keluar.” Ucap Dika.
“Dika, kalian harus keluar karena ini adalah urusan orang dewasa.”
“Anak-anak! Keluar!” tegas Rey untuk kesekian kalinya dan membua ketiga anaknya akhirnya terpaksa harus menuruti ucapannya dan keluar dari ruangan itu bersama dengan Key dan Sarah.
Setelah mereka semua keluar akhirnya hanya tinggal Rey, Jef, dan sepasang suami istri yang sudah membuat Jef kehilangan orang tuanya itu di dalam ruangan.
“Jadi, di mana ibu kandungku berada?” tanya Jef kepada pasangan suami istri itu.
“Kami tidak tau!” ucap Aditya.
“Tidak tau katamu?! Kalian yang sudah memasukkannya ke rumah sakit jiwa dan kalian juga tidak mengetahui hal ini?” tanya Jef.
“Jef tenanglah, aku sudah menyuruh Nala untuk mencarikan informasi tentang rumah sakit jiwa di mana ibu kandungmu di rawat.” Jelas Rey.
__ADS_1
Drrtt,, drrtt,.. tidak membutuhkan waktu lama bagi Nala untuk mencari informasi tentang rumah sakit yang ada di kota itu.
“Halo, bagaimana?” tanya Rey saat mengangkat telfon dari Nala.
“Rumah sakit pelita, tapi staff rumah sakit di sana bilang kalau beberapa tahun yang lalu lebih tepatnya saat Jef dan Sarah sedang berbulan madu nyonya Hanin kabur dari rumah sakit dan sampai saat ini mereka masih belum menemukannya.” Jelas Nala.
“Apa!? Ah jadi itu sebabnya mereka bilang kalau mereka tidak tau keberadaannya?” ucap Rey.
“Baiklah terimakasih Nala, tugas selanjutnya tolong cari di mana keberadaan nyonya Hanin secepatnya.” Lanjutnya yang langsung mematikan telfonnya.
Setelah Rey mematikan telfonnya, seketika wajah Hana berubah menjadi khawatir dan menatap wajah suaminya dengan tatapan curiga.
“Kak Hanin hilang? Kenapa kamu tidak bilang kalau kakakku hilang!?” teriak Hana kepada suaminya.
“Terus kalo aku bilang kenapa? Bukannya kamu juga membenci kakakmu karena kalian sebenarnya bukan saudara kandung?” ucap Aditya.
Hana hanya diam, dia tidak membantah ucapan suaminya karena memang Hana sempat membenci ibu dan kakaknya karena menyembunyikan fakta selama ini.
“Pak,tangkap mereka berdua.. Beri mereka keadilan yang setimpal atas apa yang sudah mereka perbuat di masa lalu dan sekarang!”
“Tidak! Tidak!!” teriak Hana dan Aditya secara bersamaan.
Namun polisi teap menangkap keduanya dan memborgol tangan mereka berdua.
“Kalian! Kalian tenang saja, mertuaku tidak akan membiarkan pewarisnya di tangkap polisi begini, dia pasti akan membebaskan kami!” ucap Aditya dengan sombongnya.
“Cih! Apa kamu sudah lupa kala pewaris resmi keluarga kalian sudah di temukan? Dan mulai sekarang dia yang akan mengurus perusahaan kalian!” ketus Rey yang membuat wajah Aditya seketika berubah menjadi khawatir.
“Tuan…” ucap Jef yang langsung di hentikan oleh Rey.
“Diam Jef, kamu adalah pewaris sesungguhnya karena perusahaan itu menjadi besar karena papa kandungmu, jadi perusahaan itu adalah hak mu.” Jelas Rey.
“Tidak! Anak kemarin sepertinya tidak akan mampu mengurus perusahaan sebesar itu!” teriak Aditya.
“Benarkah? Bahkan perusaaan papi Andra lebih besar di bandingkan perusahaan kalian, tapi abangku bisa mengurusnya bahkan semakin berkembang setelah di pegang olehnya.” Jelas Rey.
Aditya hanya diam saja mendengar ucapan Rey, dia hanya menatap wajah Rey dan Jef dengan kesal dan berjalan mengikuti polisi yang membawanya.
“Terimakasih tuan, terimakasih karena sudah membantu mendapatkan keadilan untuk keluargaku.” Ucap Jef setelah Aditya dan Hana pergi bersama polisi.
“Aku yang harusnya meminta maaf kepadamu karena aku langsung menyimpulkan begitu saja tanpa memeriksa lebih lanjut.” Ucap Rey.
__ADS_1
“Tidak apa-apa tuan, kalau begitu sebaiknya kita segera kembali, nyonya Elsa pasti khawatir.” Ajak Jef yang di balas anggukan oleh Rey.