ELSA'S LOVE STORY

ELSA'S LOVE STORY
BAB 134


__ADS_3

“Kamu benar-benar sudah gila mas! Kakakku dan keponakanku masih hidup, tapi kenapa kamu bilang sama papi kalau mereka sudah meninggal hah!?” ketus Hana sambil memberikan tatapan kesal kepada suaminya.


“Diamlah Hana! Aku ingin membuat hidup kita enak tapi kenapa kamu malah tidak patuh padaku!” tegas Aditya.


“Kenapa kamu tega sih mas? Selama ini kakakku dan mas Maulana sangat baik kepada kita.”


“Aku tau, mereka memang baik sangat baik kepada kita tapi itu hanyalah pura-pura.. mereka tidak benar-benar baik kepada kita Hana, bukalah kedua matamu!” ketus Aditya.


“Stop mas stop! Aku ga akan pernah mengikutimu, aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada papi!” teriak Hana tiba-tiba.


“Ah begitu? Kalau begitu silahkan, karena sebagian warisan milikmu sudah aku pindah tangankan atas namaku, semua sertifikan rumah dan lainnya juga aku pindahkan atas namaku.” Jelas Aditya.


“Apa!? Bagaimana bisa? K-kamu, kamu mengkhianatiku mas?” tanya Hana tidak percaya.


“Aku tidak akan pernah mengkhianatimu kalau kamu tidak menentang ucapanku sayang, kamu tau aku sangat mencintaimu bukan? Aku ingin hidup bahagia dan makmur denganmu dan anak kita.” Ucap Aditya sambil memegang kedua pipi Hana dan menatapnya dalam-dalam.


“Mulai hari ini, kita tidak mengenal Hanin dan Han! Mereka adalah orang yang sudah meninggal dan tidak ada yang mengetahui tentang hal ini kecuali kita.” Ucap Aditya.


Hana hanya terdiam sambil meneteskan air matanya, dia benar-benar tidak habis fikir dengan apa yang sedang terjadi kepadanya.


Aditya tau ini adalah pilihan yang berat untuk istrinya, bagaimanapun juga istrinya sangat mencintai dan menghormati kakaknya. Dia langsung memeluk tubuh istrinya mencoba untuk menenangkannya.


“Sudah ya, lebih baik kita pulang.. Aku janji akan memberikan perawatan terbaik untuk Hanin dan memberikan fasilitas terbaik untuk Han.” Ucap Aditya kembali.


Mendengar hal itu membuat Hana sedikit lebih tenang, setidaknya suaminya akan memastikan kakak dan keponakannya akan baik-baik saja.


Hana menganggukkan kepala menandakan kalau dia setuju untuk kembali pulang ke rumah bersama sang suami.


Sepanjang jalan Hana terus saja memikirkan tentang keadaan Hanin dan Han, Hana tetap khawatir, bagaimana dia bisa menghadapi kedua orang tuanya.


“Mas, besok aku ingin bertemu dengan kak Hanin.” Ucap Hana.


“Hm,, tentu saja besok kamu bisa bertemu dengannya, aku akan mengantarmu saat berangkat kerja.” Ucap Aditya yang di balas senyuman oleh Hana.


Aditya mengentikan mobilnya di depan rumah mewah milik mertuanya, Hana menoleh ke arah Hana yang sedang tertidur dan berusaha untuk membangunkannya.

__ADS_1


“Hana sayang, bangunlah kita sudah sampai.” Ucap Aditya sambil menggoyangkan tubuh Hana.


Hana perlahan membuka kedua matanya dan melihat ke luar jendela dengan kening yang berkerut.


“Ini kan rumah papi mami mas, bukannya kamu bilang kita akan pulang?” tanya Hana.


“Iya, sekarang kita pulang ke sini sayang… Papi menyuruh kita untuk pulang ke sini dan menyuruhku untuk segera menggangtikan posisi Maulana.” Jelas Aditya.


“Apa?! Bukankah ini terlalu cepat mas? Sama aja kita bahagia di atas penderitaan orang lain mas!”


“Diam Hana! Dalam kondisi perusahaan yang memiliki banyak musuh, hal ini adalah pilihan yang paling tepat!” tegas Aditya.


Hana hanya diam, dia tidak bisa mengatakan apapun jika menyangkut masalah perusahaan. Tapi setidaknya ini adalah hal yang tidak benar mengingat mereka baru saja kehilangan anggota keluarga mereka.


Namun mau bagaimana lagi, akhirnya Hana dan Aditya keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu.


“Hana? Hana! Bagaimana keadaan kakakmu? Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa membawanya kembali hiksss.. hikss..” ucap maminya sambil menarik-narik tangan Hana.


“Maafkan Hana mi, maaf… Maaf karena Hana terlambat mendatangi kak Hanin.” Ucap Hana dengan penuh kesedihan.


“Mi tenanglah,, kalau mami terus menangis Hana pasti akan ikut merasa sedih.” Ucap Hana.


“Sebaiknya papi membawa mami kamu ke kamar dulu ya, kalian duduk dulu atau pergi ke kamar kalian untuk beristirahat, setelah ini papi akan membicarakan masalah perusahaan dengan kalian.” Ucap sang papi.


Adit dan Hana menganggukkan kepala lalu segera berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


“Mas, aku ke kamar mami dulu ya… Aku mau menjaga mami jadi kamu dan papi bisa berbicara mengenai perusahaan.” Jelas Hana.


“Kamu memang paling pengertian sayang, baiklah kalau begitu temanilah mami dan minta papi ke ruang keluarga, aku akan segera ke sana setelah mandi.” Ucap Aditya yang di balas anggukan oleh Hana.


Setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Hana segera keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar orang tuanya, namun saat Hana mau memegang gagang pintu kamar orang tuanya, Hana mendengar suara maminya yang berteriak sehingga Hana mengurungkan niatnya untuk membuka pintu tersebut dan langsung mendekatkan telinganya untuk mendengarkan.


“Mami tolong jangan melakukan hal ini, papi hanya ingin yang terbaik untuk semuanya.”


“Yang terbaik? Apa dengan cara seperti ini kamu bilang ingin yang terbaik? Apa Hanin dan Maulana tidak ada harganya di matamu sehingga kamu langsung akan mengumumkan pergantian pewaris?!”

__ADS_1


“Apa? Kenapa kamu mengatakan hal itu? Keduanya sangat berharga untukku!”


“Tapi perusahaan lebih berharga untukmu! Ah atau jangan-jangan kamu memang sengaja mencelakai anakku dan membuat Adit menjadi penggantinya!”


“Mami tolong!”


“Diam! Aku tau sekarang kenapa kamu seperti ini pi.. Kamu seperti ini karena Hanin adalah anakku dan Hana adalah anak selingkuhanmu itu kan? Selama ini aku menjaga Hana dengan setulus hatiku, walaupun sebenarnya sakit saat mengurus anak selingkuhan suamiku.”


Hana benar-benar terkejut mendengar ucapan maminya, kenyataan apa ini sebenarnya? Kenapa dia harus mendengar kenyataan pahit seperti ini?


“A-aku bukan anak kandung papi dan mami? Apa maksudnya aku adak selingkuhan papi? Jadi aku hanyalah anak haram?” gumam Hana yang seketika lemas karena mendengar kenyataan itu.


Tidak lama kemudian papi Hana keluar dari kamar dan terkejut saat melihat Hana yang ada di depan kamarnya dengan wajah yang suda tidak bisa di tebak lagi.


“H-Hana?” ucap papinya saat melihat Hana berada di hadapannya.


Maminya yang sedang ada di dalam kamar juga terkejut dan menoleh ke luar kamar melihat Hana yang sedang berkaca-kaca.


“Hana..” ucap maminya.


“Apa semua ini benar? Aku hanya anak haram benarkah itu?” tanya Hana.


“Sayang dengarkan papi, saat ini mami kamu hanya sedang emosi jadi dia berbicara ngelantur.”


“Tidak! Mami tidak akan bicara seperti itu jika bukan kenyataannya papi!”


Hana segera berlari keluar rumah karena sudah tidak ingin mendengar apapun dari mulut orang tuanya. Sedangkan papi dan maminya hanya bisa menghela nafas berat.


“Ini semua karena kamu mami! Kamu selalu mengungkit wanita yang sudahh tidak ada di dunia ini lagi hingga akhirnya anak kita pergi begitu saja!”


“Aku yang salah? Aku memang selalu salah! Aku salah karena anak dan cucuku pergi untuk selamanya? Aku salah karena marah kepada suami yang lebih mementingkan perusahaannya di bandingkan anaknya sendiri? Bahkan kita belum melihat mayat mereka, tapi kamu percaya begitu saja kalau mereka sudah meninggal?”


“Ingat satu hal! Hana memang tidak mungkin melakukan hal keji ini, tapi Aditya adalah orang yang sangat berambisi dan sejak dulu Hanin selalu bilang kalau Aditya tidak menyukai kesuksesan Maulana!”


Mami Hanin dan Hana pergi begitu saja meninggalkan suaminya yang masih berdiri di dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2