ELSA'S LOVE STORY

ELSA'S LOVE STORY
BAB 82


__ADS_3

"Maaf tuan, nyonya, saya membuat anda menunggu lama." ucap Jef yang sudah berada di meja Rey dan Elsa.


"Kami tidak membutuhkan maafmu Jef, tapi kami membutuhkan penjelasan darimu." ucap Elsa.


"Penjelasan tentang apa?"


"Tentang siapa wanita itu? Bagaimana bisa aku tidak tau apa-apa tentang asisten pribadiku?" sambung Rey.


"Dia hanya kenalanku saja tuan, nyonya.." ucap Jef.


"Aku tidak yakin akan hal itu!" ucap Rey dengan tatapan tajam.


Tiba-tiba saja, Sarah datang dengan makanan yang sudah di pesan lebih dulu oleh Elsa.


"Sudah sayang, lebih baik kita tanyakan langsung pada wanita itu." Bisik Elsa kepada Rey.


"Permisi nona, bisakah kami tau siapa namamu?" Tanya Elsa dengan sangat ramah.


Sarah menatap Elsa dengan tatapan khawatir, Sarah takut jika Elsa bertanya tentang kejadian saat itu.


"Nama saya Sarah nyonya, Sarah Ardella." ucap Sarah ragu.


"Jangan panggil nyonya, panggil aku Elsa aja karena sepertinya kita seumuran." balas Elsa.


"Tidak nyonya! Jangan seperti itu karena saya tidak pantas memanggil anda dengan nama." tolak Sarah.


"Sarah, kita sama-sama manusia kok, lalu kenapa kamu tidak pantas memanggil namaku? Ayolah, teman Jef berarti temanku juga.." ucap Elsa.


"Tapi nyonya..."


"Sayang... Lihatlah dia tidak mau menjadi temanku huhuhu..." rengek Elsa kepada suaminya.


Entah kenapa sikap Elsa akhir-akhir ini sangat manja, namun itu membuat Rey sangat.


"Nona, Sarah, tolonglah turuti ucapan istriku... Dia hanya memiliki 1 sahabat baik itupun sudah sibuk mengurus anak-anaknya, kakak-kakaknya pun begitu! Hanya dialah yang tidak punya kerjaan." ucap Rey.


Elsa yang awalnya senang karena Rey mau membelanya seketika merubah ekspresinya, dia kesal karena Rey mengatainya tidak punya kerjaan.


"Kenapa kamu bilang kalau aku tidak punya kerjaan!?" ketus Elsa.


"Eh, benarkah begitu? Tidak ah sayang, mungkin kamu salah dengar.." ucap Rey berbohong.


"Tuan, nyonya, lebih baik anda makan dulu karena makanan sudah datang semua." ucap Sarah.


"Sarah! Mungkin kamu belum terbiasa langsung memanggilku dengan nama, tapi sepertinya tidak masalah jika kamu ikut duduk denganku dan makan bersama kami semua." ucap Elsa.


Sarah benar-benar terkejut mendengar ucapan Elsa yang mengajaknya makan bersama di meja yang sama sekali tidak pernah dia duduki selama bekerja di sana.


"Tidak apa Sarah, duduklah." sambung Rey yang melihat kalau Sarah benar-benar terkejut dengan permintaan Elsa.

__ADS_1


"Jef, jangan terlalu kaku! Kalau dia kenalanmu maka ajaklah dia duduk bersama kami." ucap Elsa kepada Jef yang dari tadi hanya diam.


Jef yang mendengar ucapan Elsa langsung menoleh ke arah Sarah.


"Duduklah, mereka adalah orang yang sangat baik." ucap Jef.


"Bukan itu masalahnya tuan, tapi saya takut kalau manager restaurant ini marah, saya baru sehari bekerja di sini saya takut kalau saya akan di pecat." jelas Sarah.


"Aku yang akan bicara langsung dengan manager restaurant ini, jadi duduklah dan temani istriku makan." pinta Rey.


Dengan penuh pertimbangan akhirnya Sarah ikut duduk di kursi kosong yang ada di sana.


Elsa senang sekali karena akhirnya Sarah mau duduk dan makan bersama mereka. Merekapun makan bersama dengan tenang, Elsa yang sebenarnya sangat penasaran tentang hubungan keduanya itu berusaha untuk menahannya dan tidak ingin terlalu memaksa Sarah dan Jef untuk menjelaskan.


Sampai akhirnya mereka semua sudah selesai makan bersama dan memutuskan untuk pergi dari restaurant tersebut.


"Kalau begitu kami pergi dulu ya Sarah,, kapan-kapan aku akan kemari lagi untuk makan bersamamu." ucap Elsa sambil tersenyum ke arah Sarah.


"Terimakasih banyak nyonya, anda benar-benar orang yang sangat baik.. Semoga anda selalu bahagia." jawab Sarah.


Elsa mengaminkan ucapan Sarah lalu melambaikan tangan sambil masuk ke dalam mobil, hingga akhirnya mobil Rey meninggalkan restaurant tersebut.


"Tuan, nyonya, kalian tidak mengatakan apapun?" Tanya Jef secara tiba-tiba.


"Tidak! Aku hanya berharap kalau Sarah adalah wanita yang akan menjadi pasanganmu Jef, dia adalah wanita yang baik sekali." ucap Elsa.


"Nyonya, saya dan Sarah tidak memiliki hubungan apapun." ucap Jef.


"Sudah sayang, jangan memaksa Jef, aku yakin dia akan menyatakan cintanya nanti." sambung Rey.


Setelah beberapa menit akhirnya keduanya sampai di rumah sakit, Elsa dan Rey keluar dari mobil sedangkan Jef memilih untuk menunggu di parkiran.


"Sayang, aku deg-degan nih!!" ucap Elsa sambil menggenggam erat tangan Rey.


"Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja percayalah.."


Rey dan Elsa tidak perlu lagi mendaftar atau mengantri karena sejak kemarin Rey sudah mendaftar lebih dulu.


"Silahkan masuk tuan dan nyonya.." sapa dokter yang dulu memeriksa Elsa.


"Selamat siang dok.." sapa Rey dan Elsa secara bersamaan.


"Kalian sudah penasaran dengan bayi kalian ya.." ucap dokter tersebut.


"Papanya yang sangat penasaran dok, padahal saya sudah bilang kalo belum waktunya periksa." sambung Elsa.


"Tidak apa, semoga sudah semakin terlihat sekarang ya.. Silahkan berbaring di tempat tidur nyonya." ucap dokter tersebut.


Elsa berbaring di atas tempat tidur, dokter tersebut mulai mengangkat baju Elsa dan menaruh alat di atas perutnya.

__ADS_1


"Apa harus di buka begitu dok?" Tanya Rey.


"Tentu saja, agar mesin USG bisa melihat anak anda." jelas dokter tersebut.


"Haaahh,, syukurlah.." gumam Rey yang bisa di dengar Elsa dan bu dokter.


"Kenapa kamu bersyukur?"


"Aku bersyukur karena kamu di periksa oleh dokter wanita, kalau dokter pria mungkin aku akan menatapnya dengan tatapan mematikan." ucap Rey.


Bu dokter yang sedang memeriksa tertawa mendengar ucapan Rey, sedangkan Elsa hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap sang suami yang semakin lama semakin protektif.


Dokter kandungan sudah selesai memeriksa Elsa, namun Elsa bisa melihat perubahan wajah dokter tersebut.


"Dok, apa anakku baik-baik saja?" Tanya Elsa yang sudah turun dari tempat tidur pasien.


"Kalian berdua dengarkan saya baik-baik, jangan histeris dulu dan cobalah untuk tenang."


Mendengar hal itu membuat Rey dan Elsa khawatir, keduanya takut jika sesuatu terjadi kepada anak mereka.


"Ada apa sebenarnya dok? Jangan membuat kami penasaran!" Ucap Rey.


"Bayi kalian baik-baik saja, insyaallah dia akan tumbuh dengan sehat di dalam perut nyonya Elsa.." jelas dokter tersebut.


"Alhamdulillah..." ucap keduanya yang bisa bernafas lega.


"Tapi, ada kabar buruk yang harus saya sampaikan juga.."


"Apa itu dok!?"


"Anda memiliki kanker yang tumbuh di Rahim anda nyonya..."


DUARR!!! Hal yang benar-benar membuat Rey dan Elsa terkejut.


"A-apa!? Tidak dok tidak mungkin!!" teriak Elsa yang sudah meneteskan air mata.


"Dok, lalu bagaimana? Bagaimana caranya untuk menyelamatkan keduanya!?" Tanya Rey.


"Kita bisa melakukan operasi pengangkatan kanker, tapi itu akan membuat janin yang ada di rahim nyonya Elsa tidak selamat." jelas dokter tersebut.


"Hiksss,, hikss.. Tidak! Tidak kak Rey! Aku tidak ingin operasi aku mohon..." pinta Elsa.


"Sayang tenanglah, aku mohon pikirkanlah lagi untuk melakukan operasi, mumpung bayi ini masih sangat kecil.." ucap Rey.


"Apa!? Kenapa kamu tega sekali! Kamu sangat bahagia saat mengetahui aku hamil kak Rey hikss,, kenapa sekarang kamu memintaku untuk melepas bayi ini hikss.. hikss.."


"Sayang, aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu sayang aku mohon.."


"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak! Aku ingin melahirkan anak ini hikss.. A-aku m-moho.."

__ADS_1


Elsa tidak menyelesaikan ucapannya karena tiba-tiba saja kesadaran Elsa menghilang, Elsa tidak sadarkan diri. Untung saja ada Rey di sebelahnya jadi dengan sigap Rey menangkap istrinya itu.


__ADS_2