
Pertama-tama author mau Minta maaf Yang sebesar-besarnya ya kakak-kakak, bukannya author mau menghina orang kampung atau gimana, jadi Nama Jef itu emang mau author buat Jeffry, tapi karena author pikir biar ada lucu-lucunya jadi author ganti jadi Jejep🥺
Tapi nanti di pertengahan ada sesuatu yang tersembunyi di balik kehidupan Jef yang sebenarnya Jef sendiri tidak tau tentang hal itu, jadi kakak-kakak semua tunggu saja ya..
Serius ga ada niat buat menghina sama sekali, cuma buat lucu-lucuan aja.. Maaf bila ada yang tidak suka atau tersinggung dengan hal itu..🙏
***
BRAKK!!! Elsa menutup pintu dengan kencang sehingga membuat Rey dab Jef terkejut mendengarnya.
"Tuan, apa tidak apa-apa jika kita biarkan nyonya pergi sendirian?" Tanya Jef.
"Dia tidak akan pergi jauh Jef! Kamu tenang saja, dia akan segera kembali karena kelaparan, dia tidak membawa dompetnya." ucap Rey.
Mendengar hal itu membuat Jef menganggukkan kepalanya dan melanjutkan memasaknya.
"Tapi bukankah tuan bilang kalau mantan nyonya ada di sini juga?" Tanya Jef tiba-tiba.
"Dia memang ada di restaurant kemarin, tapi aku yakin dia tidak mungkin ada di resort ini." ucap Rey sambil menyeruput kopi hangat yang di buat Jef.
Namun seketika, matanya terbuka lebar, cangkir kopi yang ada di tangannya langsung di taruh dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
"Ada apa tuan? Apa kopi yang saya buat tidak enak?" Tanya Jef.
"Bukan itu! Bagaimana kalau mantannya juga berada di sini?" Tanya Rey yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Anda mau kemana tuan?"
"Kamu selesaikan saja masakanmu, aku akan menyusul istriku!" ucap Rey yan langsung berlari keluar kamarnya.
Jef hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua atasannya itu.
"Ternyata tuan Rey tipe suami-suami takut istri ya!" gumam Jef sambil terkekeh geli.
Di luar, Elsa sedang menggerutu sambil berjalan di pantai dekat resort mereka.
"Huh, aku kesal sekali dengan mereka! Kalau cewe sudah aku hajar mereka berdua!" ketus Elsa.
"Els! Sayang.." teriak Rey.
Elsa yang mendengar ucapan Rey langsung berjalan lebih cepat untuk menghidar dari suaminya.
"Els tunggu!!" teriak Rey.
"Apaan sih kak!?" teriak Elsa dari kejauhan.
Semua orang yang berada di sana menoleh ke arah Elsa dan Rey, mereka saling berbisik satu sama lain.
"Wah, saudara yang sedang bertengkar ternyata.." bisik salah satu orang yang ada di sana.
"Iya, pertengkaran adik dan kakak." ucap yang lainnya.
Rey yang mendengar hal itu langsung berlari menghampiri Elsa dan menarik tangannya.
"Ah! Apaan sih kak!?"
"Kamu jangan panggil aku kakak lagi! Aku tidak suka jika orang mengira kita adalah kakak beradik!" ketus Rey.
__ADS_1
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Tanya Elsa.
"Honey!"
"Emang kamu madu?"
"Iya madu, aku kan manis!"
"Cih! Orang asem begitu!"
"Apa!? Els, pulang atau aku akan menggendongmu!" ketus Rey.
"Ga mau! Kamu dan Jef makan saja berdua!"
"Elsa, satu!" Rey mulai menghitung untuk membuat Elsa kembali, namun usahanya sia-sia karena Elsa justru menjulurkan lidahnya kepada Rey.
"Dua!"
"Tiga!" sambung Elsa mengejek Rey.
Dengan segera Rey menggendong Elsa seperti sedang menculik seseorang. Semua orang yang berada di sana melihat ke arah keduanya dengan tatapan aneh.
"Kak Rey turunkan aku! Ga liat semua orang lagi melihat ke arah kita!?" ketus Elsa.
"Biarkan saja semua orang melihat ke arah kita!"
Setelah Jef selesai memasak, dia segera merapihkan meja makan karena dia tau kalau bos dan istrinya akan segera kembali untuk sarapan.
Sesampainya di dalam kamar, Rey segera menurunkan Elsa. Elsa yang saat itu kesal hanya bisa masuk ke dalam dengan wajah yang kesal.
"Rasain kalian berdua! Ga atasan, ga asistennya sama aja sikapnya menyebalkan!" ketus Elsa yang sudah berhasil mengunci pintu kamarnya.
Elsa dengan leluasa menikmati makanan yang di masak Jef.
"Hmm,, makanannya enak sekali! Seharusnya dia jadi koki terkenal bukan jadi asisten pribadi." gumam Elsa sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Sedangkan di luar, Rey langsung menatap tajam ke arah Jef.
"A-ada apa tuan? Kenapa anda menatap saya seperti itu? Anda melihat saya seperti sedang melihat mangsa." ucap Jef.
"Ini semua gara-gara kamu Jef! Lihatlah aku di usir!" ketus Rey.
"Hah? Kenapa gara-gara saya tuan? Kan anda yang membuat nyonya kesal.. Tadi nyonya baik-baik saja sebelum anda bangun." ucap Jef.
"Ini karena kamu bilang dia bukan seleramu!"
"Lalu, apa saya boleh bilang kalau nyonya adalah selera saya?"
"Tentu saja tidak!" tegas Rey hingga membuat Jef terkejut.
"Kenapa saya serba salah begini tuan? Bukankah anda yang membuat nyonya kesal dan menggendongnya sampai kemari?"
"Ah tau ah! Pusing aku, ga bisa mikir Karena perutku lapar!" ketus Rey sambil mengacak-acak rambutnya.
"Kalau begitu kita makan di bawah saja tuan."
"Ya, lebih baik makan di luar dari pada harus menahan lapar!" ketus Rey.
__ADS_1
Akhirnya Rey dan Jef pergi ke luar untuk mencari makanan karena keduanya sudah kelaparan.
Sedangkan di kamar, Elsa sedang mengambil beberapa pakaian Rey yang akan dia masukkan ke dalam tas dan menaruhnya di luar kamar.
"Sukurin! Sisa beberapa hari lagi kita di sini dan aku ingin kamu tidur di kamar Jef sampai Kita kembali!" gumam Elsa dengan senyum sinisnya.
Setelah semua sudah sesuai dengan yang dia inginkan, Elsa segera berjalan ke arah balkon dan duduk di sana sambil melihat pemandangan orang-orang yang sedang berlalu-lalang.
Lalu tiba-tiba tatapan mata Elsa menajam saat melihat orang yang tidak asing sedang berbicara dengan dua orang wanita asing berkulit putih dan berpakaian sexy.
"Wah, lihatlah mereka berdua bagaimana bisa mereka menggoda wanita saat perut kosong!" ketus Elsa.
***
"Bagaimana ini Jef, tidak ada restaurant yang buka di jam segini!" ucap Rey yang sudah lelah karena berkeliling namun tidak menemukan restaurant yang buka.
"Tidak mungkin tuan, ini adalah tempat wisata harusnya mereka buka sebelum tamu resort bangun." ucap Jef.
"Lalu buktinya? Tidak ada restaurant yang buka sama sekali di sini."
"Bagaimana kita beli mie instan saja di swalayan tuan, swalayannya dekat kok tadi saya kesana membeli bahan makanan." ajak Jef.
"Yaampun Jef, kalo jauh-jauh ke Hawaii buat makan Mie instan mending kita balik lagi ke Indonesia sekarang." ucap Rey.
Jef berfikir sejenak, lalu tiba-tiba dia melihat ada dua orang wanita asing yang berjalan ke arah mereka.
"Tuan, bagaimana kalau kita tanya mereka saja." ucap Jef.
"Jef, mereka itu pasti wisatawan seperti kita juga, jadi mereka tidak akan mengerti."
"Tidak ada salahnya bertanya tuan, siapa tau mereka di sini lebih dulu di banding kita."
"Terserahlah, aku serahkan padamu!" ketus Rey sambil menghela nafas panjang.
Saat dua wanita asing itu sudah hampir mendekati mereka, tiba-tiba Jef memanggil mereka berdua.
"Sorry, excuse me lady, can I ask you something?" (Maaf, permisi nona, bolehkah saya bertanya sesuatu?)
Jef memulai pembicaraan dengan dua wanita asing itu dengan sangat lancar, sedangkan Rey hanya mendengarkan di sebelah Jef.
Rey memang tidak salah memilih asisten pribadi, nama hanyalah sebuah panggilan saja, yang terpenting adalah tampang dan isi di dalam otaknya.
Sebelum Rey benar-benar menjadikannya asisten pribadi, Rey meneliti semua informasi tentang Jef karena dia tidak ingin salah memilih orang kepercayaan.
Walaupun hanya lulusan dari kampus yang biasa saja, namun nilai IPK nya jauh lebih bagus di bandingkan dengan orang yang lulusan dari kampus ternama.
"Bagaimana? Apa mereka tau?" Tanya Rey kepada Jef yang sudah selesai berbicara dengan dua wanita asing itu.
"Mereka juga tidak tau tuan." ucap Jef sambil memamerkan gigi putihnya dengan polosnya.
"Haahh,,, Jef.. kalau sampai istriku melihat kejadian tadi, mungkin aku akan di bunuh olehnya di sini, dan pulang ke Indonesia tinggal nama saja!" keluh Rey.
"Tenang tuan, saya akan memakamkan tubuh anda di tempat yang terbaik!" ceplos Jef yang langsung di beri tatapan tajam oleh Rey.
Jef yang mendapatkan tatapan seperti itu segera berlari sebelum atasannya berteriak di telinganya.
"Kau! Dasar asisten kurang asem kamu Jef!" teriak Rey yang baru sadar dengan ucapan asistennya.
__ADS_1