
"Anak mama sayang, kamu baik-baik kan di sana? Maafkan mama karena kondisi mama yang lemah ini sampai kamu juga ikut merasakan sakit." gumam Elsa sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Saat itu Elsa sedang duduk di balkon kamarnya sambil menatap ke arah taman yang seringkali di gunakan untuk tempat bermain anak-anak bersama orang tuanya.
Elsa menatap pemandangan seperti itu hampir setiap hari selama dia berada di negara itu.
"Apa aku bisa melihat anakku besar? Apa aku bisa menemaninya bermain seperti mereka? Apa aku bisa melihat anakku tumbuh menjadi anak yang menggemaskan? Bagaimana kalau aku tidak selamat? Apa anakku akan bertanya tentang mamanya?" gumam Elsa yang tanpa sadar sudah meneteskan air matanya.
"Sayang... Lihatlah siapa yang datang." ucap Rey yang membuyarkan lamunan Elsa saat itu.
Elsa yang mendengar suara suaminya dengan segera menghapus air matanya dan berbalik dengan senyuman cerah ke arah suaminya.
"Sarah!? Kamu sudah datang? Aku senang sekali akhirnya kamu bisa kemari dan menemaniku di sini.." ucap Elsa.
"Nyonya, saya juga senang karena bisa ke luar negeri untuk pertama kali." jawab Sarah.
Sarah melihat bekas air mata yang ada di pipi Elsa, Sarah juga melihat tubuh Elsa yang lebih kurus dari sebelumnya, padahal baru beberapa bulan Elsa berada di sini.
"Kamu sudah kemari untuk menemaniku, itu tandanya kamu adalah temanku jadi jangan panggil aku nyonya lagi.." ucap Elsa sambil memanyunkan bibirnya.
"Maaf nyonya.. Eh, Elsa. Kalau begitu aku akan memanggilmu Elsa seperti teman bukan?" ucap Sarah sambil tersenyum.
Sarah berusaha untuk mengabulkan semua keinginan Elsa, setidaknya Sarah tidak ingin membuat Elsa mengeluarkan tenaga untuk berdebat dengannya.
"Begitu dong.. Haaahh,, aku senang sekali bisa memiliki teman di sini." ucap Elsa.
"Kan sudah ada tuan Rey, kenapa kamu masih membutuhkan teman?" Tanya Sarah.
"Karena aku tidak ingin dia berusaha keras merawatku padahal banyak sekali pekerjaan yang perlu dia kerjakan." ucap Elsa.
"Sayang, jangan bicara seperti itu! Aku rela meninggalkan apapun demi dirimu!" tegas Rey.
"Iya sayang aku tau kok hehe.." balas Elsa sambil memamerkan gigi putihnya.
"Sarah, nanti Jef akan menjelaskan semua tentang apa yang boleh dan tidak di lakukan oleh Elsa, kamu jangan terkecoh oleh ekspresi wajah Elsa yang sok kuat itu." ucap Rey sambil melihat ke arah istrinya yang sedang memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Baik tuan." ucap Sarah dengan hormat.
"Sarah, cepatlah menikah dengan Jef!" ucap Elsa yang membuat seisi kamar seketika menjadi hening karena canggung.
"Sayang jangan membuat suasana menjadi canggung begitu! Lihatlah mereka berdua jadi mematung." ucap Rey.
Elsa menoleh ke arah Sarah dan menggenggam tangannya sambil tersenyum ke arahnya.
"Sarah, menikahlah dengan Jef! Jadilah orang tua anakku jika dia lahir." ucap Sarah.
"Elsa!" tegas Rey yang kesal dengan ucapan istrinya.
"Sarah, ada banyak dokter yang mengatakan kalau kemungkinan aku selamat sangat sedikit, aku takut kak Rey tidak akan menikah lagi, jadi aku ingin kamu dan Jef menikah dan memberikan kasih sayang yang utuh kepada anakku seperti anak kalian sendiri." ucap Elsa yang tidak memperdulikan ucapan Rey.
"Elsa aku mohon berhenti!! Aku tidak suka jika kamu terus bicara seperti itu!!" teriak Rey yang langsung memutuskan untuk meninggalkan kamar istrinya.
"Aku menyusul tuan Rey dulu." ucap Jef yang langsung berlari mengikuti atasannya.
Elsa meneteskan air matanya saat melihat Rey dan Jef sudah pergi dari kamarnya, sedangkan Sarah mengelus pundak Elsa dengan lembut.
"Sarah, aku hanya ingin mengingatkan Rey untuk tidak berharap banyak, aku tidak ingin saat kepergianku dia menjadi sangat terpukul " jelas Elsa.
"Apa kamu tidak menyayangi keluargamu? Apa kamu tidak ingin merawat anakmu sendiri?"
"Tentu saja aku mau!"
"Kalau begitu berusahalah! Jangan patah semangat seperti ini, sekecil apapun persentase keselamatanmu kamu harus tetap berjuang untuk bisa selamat!" tegas Sarah.
"Aku takut Sarah, jujur aku takut membayangkan anakku akan tumbuh tanpa mamanya, aku takut membayangkan bagaimana tersiksanya kak Rey jika aku tinggal." ucap Elsa yang sudah banjir air mata.
Sarah dengan sigap memeluk tubuh Elsa, Sarah memang belum pernah berada di posisi Elsa, tapi Sarah tau betapa beratnya saat kita tau kalau kita bisa saja meninggalkan orang yang kita cintai untuk selama-lamanya.
Di sisi lain, Jef bingung mencari keberadaan Rey yang lebih dulu berjalan dengan sangat cepat entah masuk kemana.
Ada banyak sekali ruangan di rumah yang besar itu sehingga Jef mulai merasa pusing mencari keberadaan Rey.
__ADS_1
Hanya tinggal satu ruangan yang belum Jef lihat, yaitu ruangan yang sudah di ubah menjadi mushola oleh Rey.
Jef mengintip perlahan ke dalam dan melihat Rey yang baru memulai sholatnya. Akhirnya Jef memutuskan untuk menunggu hingga Rey menyelesaikan sholatnya dan dia juga akan ikut sholat bergantian.
Beberapa saat kemudian, Rey sudah mengatakan Assalamualaikum yang menandakan bahwa sholatnya telah selesai. Jef sudah menggulung lengan kemejanya dan juga celananya, namun seketika Jef menghentikan aktifitasnya.
"Yaallah, berikanlah keselamatan kepada istriku, jangan engkau ambil dia dariku yaallah..
Kenapa engkau memberikan keluarga kecilku ujian yang seperti ini? Kami baru saja bahagia dengan kabar kehamilannya, lalu kenapa engkau memberikan masalah kepada kandungan istriku?
Kami baru saja mulai terbuka dengan perasaan satu sama lain, lalu kenapa engkau ingin mengambilnya lagi?
Jika memang bisa di tukar, tukarkan saja nyawa istriku dengan nyawaku! Anak kami lebih membutuhkan mamanya dibandingkan denganku."
Jef benar-benar terpaku saat mendengar Rey berdoa dengan tangis yang sedikit terdengar olehnya. Untuk pertama kalinya Jef melihat atasannya terpuruk seperti ini hingga membuatnya menangis.
"Kenapa kalian berdua harus mengalami hal seperti ini?" gumam Jef yang langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan mengurungkan niatnya untuk sholat karena menurutnya Rey lebih membutuhkan ruangan itu.
Rey masih setia mengadahkan kedua tangannya ke atas memohon jalan keluar untuk keluarganya, setiap ucapan Elsa yang mengingatkannya tentang kepergiannya membuat hati Rey teriris.
Rey tidak pernah membayangkan dan tidak akan pernah membayangkan hidup tanpa Elsa, dia sudah benar-benar sangat mencintai wanita yang kini menjadi istrinya itu.
Drrtt,, drrtt.. telfon Rey berdering dan terlihat dokter Levin yang menghubunginya yang tidak lain adalah dokter yang menangani Elsa.
"Halo dok, ada apa?" Tanya Rey yang terburu-buru mengangkat telfonnya.
"Rey, besok bawa istrimu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan terakhir, karena hasil pemeriksaan kemarin seperti ada yang mengganjal." ucap dokter Levin dengan menggunakan bahasa asingnya.
"Baiklah dok, saya dan istri saya akan segera ke rumah sakit besok! Apa ada sesuatu yang serius?" Tanya Rey khawatir.
"Tidak ada, semuanya baik-baik saja.. Kami hanya perlu melakukan pemeriksaan kembali."
Rey hanya mengiyakan ucapan dokter Levin lalu segera mematikan telfonnya.
***
__ADS_1