
Keesokan harinya, para guru menyuruh semua siswa untuk pergi ke museum untuk memulai pembelajaran mereka.
Elsa dan Rania pergi bersama seperti biasanya, tapi hari itu Elsa memakai tutup mata karena matanya yang bengkak, mereka berdua berjalan bergandengan tangan seperti biasanya.
“Ran, aku malu tau di liatin sama yang lain.” Bisik Elsa.
“Sudahlah jangan di pikirkan! Mereka semua melihatmu karena aneh kamu tetap cantik walaupun dengan penutup mata itu!” balas Rania.
“Cih! Kamu memang selalu bisa merayuku!” ucap Elsa sambil tersenyum.
Sesampainya di museum, Elsa langsung meminta Rania untuk menemaninya ke toilet yang berada di tempat itu.
“Tunggu di sini sebentar ya Ran.” Ucap Elsa.
“Hm, cepatlah kita harus segera berkumpul.” Balas Rania.
Elsa segera masuk ke dalam kamar mandi, namun dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Nala dan seseorang yang kebetulan juga berada di dalam kamar mandi.
“Hahaha, jadi kamu berhasil membuat Rey luluh padamu?” tanya seseorang kepada Nala.
“Rey? Mereka kenapa menyebut nama kak Rey?” gumam Elsa sambil membesarkan telinganya kembali untuk mendengar pembicaraan mereka lebih banyak.
“Tentu saja! Rey luluh padaku dan semua yang aku inginkan selalu dia turuti.”
“Kamu sangat beruntung! Apa kamu sudah mulai menyukainya?”
“Suka? Hahaha, tentu saja tidak! Dia hanya laki-laki yang bergantung dengan kekayaan orang tua dan juga kedua saudaranya! Aku tidak mungkin bukan menyukai laki-laki yang pengecut seperti itu.” Ucap Nala sambil tertawa.
“Lalu kenapa kamu menerimanya?”
“Aku hanya ingin bermain-main sebentar, lumayan bukan sebagai dompet berjalanku.”
Nala dan temannya tertawa dengan puas di dalam kamar mandi, mendengar hal itu membuat Elsa merasa emosi dan langsung melabrak keduanya.
Plak!! Elsa mendaratkan tamparan keras di pipi Nala hingga membuat Nala dan temannya terkejut, Rania yang ada di luar pun mendengar suara itu dan langsung masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi.
“Els! Apa yang terjadi? Kamu tidak apa-apa!?” tanya Rania dengan panik.
“Heh anak miskin! Kamu harusnya bertanya sperti itu kepadaku karena aku yang di tampar olehnya!” ketus Nala hingga membuat Elsa menamparnya untuk yang kedua kalinya.
“Els..” ucap Rania.
“Heh nenek lampir! Asal kamu tau ya, selama ini aku diam saja karena aku masih berusaha bersabar, tapi kamu selalu mencari masalah denganku dan sekarang kamu menghina temanku!?” bentak Elsa.
“Kenapa?! Memang benar bukan dia orang miskin! Kami harusnya berteman dengan orang yang selevel denganmu!”
__ADS_1
“Ya dia orang miskin tapi masih memiliki hati yang kaya, tidak sepertimu yang miskin harta dan juga hati!” ketus Elsa.
“Apa kamu bilang!? Berani sekali kamu mengataiku miskin!”
“Kenapa, memang benar bukan? Tidak ada orang kaya yang mau memanfaatkan harta orang lain sepertimu!” ucap Elsa yang langsung pergi meninggalkan Nala di dalam toilet.
Elsa menarik tangan Rania keluar toilet dengan wajah yang sangat kesal, saat itu Elsa juga berpapasan dengan Rey namun dia tidak menggubrisnya dan hanya melewati Rey begitu saja.
Rey yang melihat ekspresi Elsa merasa sangat aneh dan bingung, dia tau pasti ada sesuatu terlebih dia melihat Elsa baru saja keluar dari toilet.
“Dia pakai penutup mata? Apa matanya separah itu?” gumam Rey sambil berjalan ke arah toilet untuk menyusul Nala.
Nala yang baru saja keluar dengan temannya terkejut saat melihat Rey yang ada di sana.
“K-kamu sejak kapan di sini Rey?” tanya Nala dengan sedikit gugup karena takut kalau Rey mendengar ucapannya dengan temannya.
“Baru saja, pipimu kenapa merah seperti itu?!” tanya Rey yang terkejut melihat pipi Nala yang masih memerah.
“Em,, t-tidak apa-apa Rey, aku baik-baik saja kok.” Ucap Nala dengan wajah polos namun tangannya menyenggol tangan teman yang ada di sebelahnya.
“Bohong! Tadi ada seorang wanita yang menampar Nala tiba-tiba sampai kami terkejut, siapa tadi namanya? Ah iya! Elsa!” ucap teman Nala.
Rey yang mendengar nama Elsa langsung mengingat ekspresi Elsa yang kesal saat keluar dari dalam toilet, Rey yang kesal hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya kepada Elsa.
***
“Els, kita mau kemana?” tanya Rania.
“Entahlah pokoknya kita harus pergi dari tempat itu! Aku tidak ingin melihat wajah nenek lampir itu lagi!” ketus Elsa.
“Els, kenapa kamu jadi marah-marah gini? Jangan berlebihan.” Ucap Rania.
“Berlebihan katamu!? Kamu diam saja walaupun dia sudah menghinamu? Oke, mungkin kamu tidak perduli dengan hinaannya terhadapmu, tapi aku tidak terima Rania! Dia tidak pantas menghina kamu.” Tegas Elsa.
“Aku tau kalau kamu adalah orang baik Els, aku tau kamu pasti takut kalau aku akan sakit hati dengan ucapan wanita itu, tapi kamu tenang saja wanita sepertinya tidak akan membuatku sakit hati begitu saja.” ucap Rania.
Elsa hanya diam saja mendengar ucapan Rania, dia kesal karena Rania yang sama sekali tidak mengerti dirinya.
Rania yang mengetahui kekesalan Elsa hanya bisa tersenyum, dia meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya dengan erat.
“Els, sudahlah aku benar-benar tidak apa-apa, ayo kita kembali bagaimanapun juga kita harus tetap mengikuti pembelajaran.” Ucap Rania.
Akhirnya mereka berdua kembali ke dalam museum dan berkumpul bersama di sana, Rey yang melihat Elsa kembali langsung menghampirinya dan menarik tangannya hingga membuat Elsa dan Rania terkejut, begitu juga dengan Nala yang awalnya berada di sebelah Rey.
“Nal, ga mau kamu kejar?” tanya teman Nala yang berada di sebelahnya.
“Tidak perlu! Aku yakin Rey akan memarahinya habis-habisan!” ucap Nala dengan senyum sinisnya.
__ADS_1
Rania ingin mengikuti Rey dan Elsa namun Rey tiba-tiba berhenti hingga membuat Rania terkejut dan hampir menabrak Elsa.
“Jangan mengikuti kami!” tegas Rey.
“T-tapi kak Rey..”
Rania melihat ke arah Elsa untuk mendapatkan jawaban darinya, namun Elsa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Rania.
“Tidak apa Ran, aku baik-baik saja.” ucap Elsa.
Mendengar jawaban itu dari sahabatnya Rania segera mengangguk dan tidak mengikuti mereka berdua kembali, saat memastikan Rania tidak mengikuti mereka lagi Rey melanjutkan niatnya untuk membawa Elsa entah kemana.
“Kita mau kemana kak Rey?” tanya Elsa.
“Diam!” ketus Rey membuat Elsa tidak bertanya kembali.
Mereka berduapun berhenti di suatu tempat yang cukup sepi yang masih berada di dalam museum tersebut.
Rey melepas pegangannya dengan kasar dan membuat Elsa hampir membentur tembok yang ada di belakangnya.
“Kamu menampar Nala!?” tanya Rey secara tiba-tiba.
“Cih! Jadi dia mengadu kepadamu kak Rey?” ucap Elsa dengan santainya.
“Dia tidak mengadu kepadaku! Tapi aku tau kalau ini adalah ulahmu!” ketus Rey.
“Lalu? Apa kamu bertanya apa sebabnya aku menamparnya?”
“Dia bilang kamu menamparnya secara tiba-tiba saat kamu masuk ke dalam toilet.”
“Apa? Hahaha, dan kamu percaya begitu saja? Kak Rey, apa kamu fikir aku gila? Aku tidak akan menampar seseorang jika tidak ada alasannya.” Ucap Elsa yang sebenarnya sangat kesal karena ucapan Rey yang menuduhnya tanpa mencari tahu kebenarannya.
“Ingat satu hal kak Rey, aku memang menyukaimu tapi aku tidak akan pernah bermain kasar hanya untuk mendapatkanmu!” lanjut Elsa yang mendekatkan wajahnya ke arah Rey.
Seketika Elsa kembali menjauhkan wajahnya dan menjadi jauh lebih santai dari sebelumnya.
“Bagaimana? Apa kak Rey mau mendengarkan cerita dari pihakku?” tanya Elsa.
“Ceritalah!” ucap Rey.
“Aku yakin kamu tidak akan mempercayai ucapanku tapi bagaimanapun juga aku harus mengucapkannya.” Gumam Elsa yang masih bisa di dengar oleh Rey.
“Ceritalah, jangan memakan lebih banyak waktu!” ketus Rey.
“Nenek lampir itu bilang kalau kamu adalah laki-laki pengecut karena hanya bisa mengandalkan kekayaan orang tuamu dan juga kedua saudaramu! Dia hanya menjadikanmu sebagai dompet berjalannya!”
“Mendengar ucapannya tentu saja aku tidak menyukainya dan aku langsung menamparnya, apa aku salah? Sedingin apapun sikapmu kepadaku tetap saja aku tidak terima kalau orang yang aku sukai di hina begitu saja.” ucap Elsa.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Elsa awalnya membuat Rey sedikit berfikir namun akhirnya dia tertawa keras hingga membuat Elsa semakin kesal.