ELSA'S LOVE STORY

ELSA'S LOVE STORY
BAB 18


__ADS_3

“Terimakasih karena sudah mengantarku kak Rey.” Ucap Elsa.


“Sama-sama.”


“Kak Rey tidak mau masuk dulu?” tanya Elsa.


“Tidak perlu, aku harus kembali menjemput Nala.” Ucap Rey yang di balas anggukan oleh Elsa.


“Lagipula kamu pasti akan menangis sambil memeluk mamamu karena kepergian Rania.” Ucap Rey yang membuat Elsa semakin sedih karena di ingatkan.


Setelah melihat kepergian Rey, Elsa segera berlari mencari keberadaan mamanya, setelah menemukan mamanya Elsa langsung berlari memeluk tubuh mamanya yang masih mengenakan pakaian kantor itu.


“Hikss,, hikss..” Elsa mulai menangis membuat Rose terkejut.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Rose sambil menjauhkan tubuh Elsa darinya.


“Hikss,, mama bagaimana ini..”


“Bagaimana apanya Els?”


“Mama..”


“Elsa! Kalau kamu tidak bicara bagaimana bisa mama tau alasanmu menangis?”


“Ma, Rania ma..”


“Kenapa Rania?”


“Dia mau pindah sekolah dan akan menikah dengan seseorang hikss..”


“Apa?! Tapi dia masih SMA!”


“Orang tuanya memiliki hutang ma dan orang itu meminta imbalan Rania harus menjadi istri anaknya.”


“Tidak bisa begitu! Bilang padanya kalau kita akan membantunya.” Tegas Rose.


“Hikss,, Elsa sudah mengatakan hal itu ma tapi Rania tidak mau, dia bilang ini adalah pengorbanan untuk keluarganya agar keluarganya tidak melakukan hal yang sama dua kali hikss..”


Rose tidak bisa berkata apapun lagi, karena itu adalah keputusan Rania sendiri jadi dia tidak bisa banyak ikut campur, Rose hanya menghela nafas panjang.


“Sudahlah sayang, kita juga tidak bisa melakukan apapun lagi jika Rania sendiri yang sudah mengambil keputusan.” Ucap Rose sambil mengelus punggung anaknya dengan lembut.


“Tapi ma, kenapa dia mengambil keputusan seperti itu! Jika Rania pindah lalu bagaimana dengan Elsa?”


“Emang kamu kenapa?”


“Elsa hanya memiliki satu teman saja hikss..”


“Kamu anak buangan ya Els?” tanya Rose yang membuat Elsa terkejut mendengarnya.


“Apa ma? Kenapa mama malah bilang Elsa anak buangan?” protes Elsa.

__ADS_1


“Lalu kalau bukan anak buangan, kenapa kamu hanya memiliki satu teman saja?”


“Ma, mencari teman yang tulus kepada kita itu susah tau! Sejauh ini hanya Rania yang tulus berteman dengan Elsa, dia selalu menghibur Elsa kalau Elsa sedang sedih.” Jelas Elsa.


“Sayang, selama ini Elsa yang mama kenal adalah Elsa yang mudah bergaul dan memiliki banyak teman, di Paris kamu memiliki banyak teman bukan? Lalu kenapa di sini kamu seperti menutup diri?” tanya Rose.


Elsa terlihat berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab ucapan mamanya.


“Elsa juga tidak tau ma, tapi saat pertama kali Elsa berada di sekolah itu Elsa hanya bisa melihat Rania, entah kenapa Elsa hanya bisa dekat dan nyaman dengan Rania saja.” ucap Elsa.


“Maka dengan adanya kejadian seperti ini, kamu lebih baik bergaul dengan banyak teman dan mencoba untuk membuka hati untuk teman-teman yang lain.” Ucap Rose.


Elsa hanya bisa menghela nafas berat dan dia mulai berekad untuk mencari banyak teman untuk menjadi temannya mulai hari itu.


“Kapan Rania pindah? Bukankah kamu harus memberinya kenang-kenangan?” tanya Rose.


“Besok ma.”


“Apa? Secepat itu?”


“Dia juga harus mengurus berbagai macam hal untuk kepindahannya di sekolah barunya, Elsa tidak mau mengantarnya pergi ma..”


“Kenapa begitu sayang?”


“Elsa takut, kalau Elsa melihatnya pergi nanti Elsa akan kembali menangis.”


“Sayang, bagaimanapun juga kamu harus mengantarnya agar tidak ada rasa penyesalan.” Ucap Rose.


“Benarkah ma? Mama benar-benar tidak akan bekerja kan?”


“Iya sayangku! Sudahlah sekarang mama mau mandi dulu, kamu juga mandi dan turun lagi ke bawah bantu mama menyiapkan makan malam karena papamu akan segera pulang setelah pertemuannya selesai.” ucap Rose.


“Ma, bukankah sebagai sekretaris seharusnya mama menemani papa terus ya kalau ada pertemuan? Lah ini kenapa mama sering banget pulang duluan?” tanya Elsa.


“Mama kan istrinya, tentu saja mama punya hak istimewa karena mama harus memasak untuknya di rumah.” Canda Rose.


“Cih! Padahal kan kita harus professional bagaimanapun juga!” ketus Elsa yang di balas tawa oleh Rose karena menurutnya anak perempuannya itu sangat menggemaskan.


“Apakah enak menjadi istri CEO ma?” tanya Elsa.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Apa Elsa harus menikahi CEO juga ma?”


Rose merasa heran dengan pertanyaan anaknya yang menurutnya sangat aneh.


“Kamu ini kenapa Elsa? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Rose.


“Tidak ada, Elsa hanya tiba-tiba ingin bertanya saja.”


“Sayang, begini ya,, papa dan mama tidak pernah menuntut kamu untuk menikahi seorang CEO, papa dan mama hanya ingin kalau anak perempuan kami akan mendapatkan laki-laki yang sangat mencintainya dan bertanggung jawab atas hidupnya.” Jelas Rose.

__ADS_1


“Mama yakin, sekaya apapun laki-laki itu sehebat apapun laki-laki itu, kalau dia tidak bisa bertanggung jawab atas dirimu papa tidak akan pernah menyetujuinya.” Lanjutnya.


Elsa yang mendengar ucapan mamanya merasa sangat senang, dia tau betul kalau kedua orang tuanya sangat menyayanginya.


“Sudahlah kalau begitu Elsa ke atas dulu ya ma, nanti Elsa akan membantu mama memasak.” Ucap Elsa.


“Baiklah, tunjukkan kemampuan yang kamu dapat dari mami Khansa.” Ucap Rose.


“Siap boss..” tegas Elsa sambil bersikap hormat.


Dengan cepat Elsa segera berlari ke kamarnya untuk mandi dan bersiap membantu mamanya memasak makanan untuk makan malam.


Di dalam kamar Elsa seketika berhenti saat menaruh tasnya di atas meja belajarnya, di sana Elsa melihat fotonya bersama Rania yang dia ambil saat mereka sedang study tour.


Elsa duduk di kursi meja belajarnya dan mengambil bingkai foto tersebut, Elsa memikirkan kenangan yang selama ini dia lalui bersama Rania dan akhirnya air matanya kembali menetes membasahi pipinya.


“Hikss,, kenapa kamu jahat sekali Rania!” Elsa protes terhadap bingkai foto yang ada di genggamannya.


Setelah cukup lama melihat foto tersebut, Elsa segera menaruh kembali bingkai tersebut dan segera beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Di sisi lain, Rey yang sudah kembali ke mall langsung kembali masuk ke dalam mall dan mencari Nala di outlet yang Nala datangi.


“Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan tersebut kepada Rey yang baru saja datang.


“Aku sedang mencari seorang wanita yang tadi sudah lama menunggu di sini, kemana dia sekarang?” tanya Rey.


“Ah wanita itu? Dia sudah pergi setelah membayar tas yang dia beli tuan.”


“Ah, terimakasih kalau begitu.” Ucap Rey yang langsung meninggalkan outlet tersebut.


Rey berusaha menghubungi Nala berkali-kali tapi dia tidak mengangkatnya membuat Rey merasa khawatir.


“Kemana dia? Kenapa dia tidak bisa di hubungi? Apa dia marah kepadaku?” gumam Rey sambil tetap menghubungi Nala.


Rey memutuskan untuk berkeliling dan mencari Nala kemanapun hingga langkahnya terhenti saat melihat Nala yang sedang duduk di bangku yang ada di pinggiran toko sambil menunduk ke bawah menggoyangkan kakinya.


Dengan segera Rey menghampirinya, sedangkan Nala yang melihat sepatu kets milik Rey langsung mendongak ke atas dan memasang wajah cemberut.


“Kamu jahat!” ketus Nala.


“Maafkan aku Nal, tadi Elsa dan Rania menangis di tengah kerumunan orang jadi aku merasa memiliki tanggung jawab untuk mengantar mereka pulang.” Jelas Rey namun Nala tidak menjawab sama sekali.


“Kamu mau memaafkan aku bukan?” tanya Rey.


“Hm baiklah, aku akan memaafkanmu!” ucap Nala dengan malas.


“Terimakasih! Kalau begitu ayo kita belanja lagi.” Ajak Rey.


“Tidak mau! Aku mau makan saja, lapar.” Ucap Nala.


Entah kenapa hari itu Nala tidak ingin berbelanja, dia seketika merasa kalau Rey adalah seseorang yang sangat dia butuhkan, dia merasa cemburu saat Rey lebih mementingkan Elsa di bandingkan dengan dirinya.

__ADS_1


“Aku tidak mungkin mulai menyukainya bukan?" gumam Nala di dalam hatinya sambil melihat Rey yang sedang tersenyum di hadapannya.


__ADS_2