
Drrtt,, drrtt.. Dering telfon dari hp yang ada di atas meja menggema ke seluruh ruangan yang sudah gelap.
Dengan segera sang pemilik hp terbangun, mengambil hpnya dan menjawab panggilan telfon tersebut.
"Halo.."
"Hana, tolong! Tolong bantu kakak, kakak mengalami kecelakaan, kakak iparmu sedang terjebak di dalam mobil karena kakinya tercepit, tolong segera kirim bantuan karena kakak tidak tau nomer bantuan!" ucap Hanin dengan nafas yang terengah-engah.
"Kak Hanin? Kakak kenapa kak?" Tanya Hana dengan panik.
"Kakak dan mas Maulana mengalami kecelakaan.. Aku dan Han sudah ada di luar, tapi mas Maulana masih terjebak di dalam mobil.. Tolong Hana, aku tidak memiliki nomer bantuan." ucap Hanin yang terlihat sedikit terengah-engah.
"Baik kak, aku dan mas Adit akan segera kesana dan mengirimkan bantuan, kakak kirim lokasi kakak sekarang ya." ucap Hana sambil mematikan telfonnya.
Setelah telfon berakhir, Hana mendapatkan pesan yang berisi lokasi Hanin berada.
Dengan segera Hana mengambil jaket tebal dan menyuruh sang suami yang ikut terbangun karena suara telfon istrinya untuk segera bersiap.
"Mas Adit, ayo kita berangkat! Kenapa kamu diam saja?" Tanya Hana yang kesal karena suaminya masih tetap berada di atas tempat tidurnya.
"Biarkan saja!" ucap Aditya.
"Hah? Apa maksudnya mas?"
"Biarkan saja mereka! Kita tidak usah ke sana."
"Mas jangan ngaco! Kak Hanin dan mas Maulana sedang dalam bahaya!"
"Aku lelah selalu di nomer duakan oleh papimu! Aku lelah selalu di bandingkan dengan Maulana! Jadi biarkan dia pergi untuk selamanya!" ucap Aditya.
Mendengar hal itu membuat Hana terkejut, karena suami yang selama ini dia kenal bisa memiliki niat jahat seperti itu.
"Mas, kak Hanin adalah kakakku! Kakak kandungku!"
"Dia sudah selamat bukan!? Dia sudah berada di luar mobil itu tandanya dia sudah selamat! Aku hanya ingin kamu membiarkan Maulana mati!"
"Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu mas! Kalau tidak ada mas Maulana, kakakku tidak bisa hidup!" teriak Hana.
"Aku tidak perduli! Jika kamu tidak mau membantu mereka, aku akan berangkat sendiri ke sana!" lanjut Hana.
"Stop Hana!! Kalau sampai kamu pergi tanpa seijinku, bukan juga keluarga kakakmu, tapi keluarga kita juga akan hancur!" ancam Aditya.
Ancaman itu membuat Hana yang sudah memegang gagang pintu kamarnya seketika berhenti dan mematung.
__ADS_1
Hana tau ini salah, tapi saat ini dia sedang mengandung dan tidak ingin keluarganya hancur karena dia menyelamatkan keluarga kakaknya.
Hana segera melepaskan tangannya dari gagang pintu dan berjongkok sambil menangis kencang karena saat ini dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu sang kakak.
"Hikss,, maaf kak,, maafkan aku... Aku benar-benar tidak ingin keluargaku hancur karena menyelamatkan keluargamu kak hikss.." gumam Hana sambil menangis kencang.
Sedangkan di sisi lain, Hanin yang menunggu kedatangan adiknya sambil memeluk erat tubuh Han hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang.
Sesekali dia juga berjalan mendekati mobilnya untuk memastikan kalau suaminya masih terbangun.
"Pa, papa bertahan ya.. Mama sudah menghubungin Hana, dia bilang dia akan segera datang bersama bantuan jadi papa harus tetap sadar oke?" ucap Hanin.
"Ma, k-kamu pergilah, b-bawa Han ke rumah sakit terdekat untuk di rawat.. A-aku b-baik-baik saja di sini." ucap Maulana.
"Tidak pa! Mama tidak akan pernah meninggalkan papa sendirian!"
"Ma! Papa mohon.. Anak kita yang terpenting sekarang." teriak Maulana.
Akhirnya Hanin menganggukkan kepalanya dan berjalan perlahan menjauh dari mobil untuk mencari jalan besar yang banyak orang berlalu lalang walaupun cukup jauh.
DUARRR!!!
Namun belum saja Hanin berjalan cukup jauh, tiba-tiba Hanin mendengar suara ledakan yang sangat kencang dari belakang.
"Engga! Engga papa engga!!!" teriak Hanin sambil berlari ke arah mobil sambil menggendong Han.
"Mas!!! Hiksss engga mas, kamu ga boleh meninggalkan aku dan Han sendirian mas hikss.."
Hanin mencoba untuk menghubungi adiknya kembali namun nomernya sudah tidak aktif dan membuat Hanin seketika menjadi lemas, karena sudah tidak ada harapan lagi untuk membuat sang suami selamat.
"Bagaimana ini mas? Kenapa kamu meninggalkan aku dan Han? Aku tidak sanggup jika harus hidup tanpamu mas.." ucap Hanin dengan suara yang sudah lemah.
Hanin memaksakan diri untuk berdiri, namun tidak bisa karena tubuhnya terasa sangat lemas.
"Hikss,, hiksss, bagaimana ini? Kenapa aku tidak bisa berdiri.. Bagaimana dengan Han ku.." ucap Hanin sambil menangis menyesali ketidak berdayaannya.
Tidak lama kemudian, ada suara banyak mobil yang datang menghampirinya.
"Kak! Kak Hanin!!" teriak Hana yang segera berlari setelah keluar dari mobilnya.
"Hana! K-kenapa kamu terlambat? Hikss,, kenapa kamu terlambat!?" teriak Hanin.
"Mas Maulana.. Hiksss,, mas Maulana sudah tidak ada!" lanjutnya.
__ADS_1
"Maaf kak, maaf karena aku datang terlambat.. Sekarang aku akan membawamu dan Han pergi." ucap Hana.
"Engga! Aku ga akan kemana-mana! Bawa Han, tolong rawat dia karena aku akan bersama dengan suamiku sampai akhir hayatnya!"
"Kak Hanin! Sadarlah kak! Jangan seperti ini aku mohon, mas Maulana juga ga akan suka kalau kak Hanin seperti ini.."
"Engga! Aku ga bisa hidup tanpa mas Maulana Hana! Lepaskan aku!" teriak Hanin.
"Kakak!!!" teriak Hana yang langsung menarik Hanin dengan paksa.
"Diam!!" teriak Hanin.
Hana benar-benar terkejut melihat keadaan kakaknya yang benar-benar hancur karena kehilangan suaminya, Hana ingin sekali mengutuk dirinya sendiri karena sudah mengikuti ucapan suaminya yang menyuruhnya untuk datang terlambat.
"Maaf kak, maafkan Hana karena sudah terlambat menjemputmu, ayo ikut Hana kak.." ajak Hana dengan lembut.
Hanin masih tetap saja histeris, lalu pekerja medis datang dan memberikan obat bius kepada Hanin agar menjadi lebih tenang.
Setelah Hanin tertidur, Hana segera menggendong Han dan Adit menggendong Hanin di bantu oleh petugas medis lainnya.
Aditya meminta petugas untuk membawa Hanin ke rumah sakit jiwa karena kondisinya yang tidak bisa di sembuhkan dengan obat.
Sedangkan Han di bawa ke rumah sakit anak untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Apa kamu gila mas!? Kakakku baik-baik saja, dia tidak perlu di masukkan ke rumah sakit jiwa!" teriak Hana.
"Dia tidak bisa di sembuhkan dengan obat-obatan Hana! Dia sudah gila karena kehilangan Maulana!" tegas Aditya.
Drrtt,, drrtt.. Hp Aditya berdering, seketika Aditya menjadi tegang sebelum mengangkat telfon dari seseorang.
Hana tau betul siapa yang menghubungi suaminya, dengan segera dia mendekat untuk mendengarkan percakapan mereka.
"Halo pi?" ucap Aditya yang mengangkat telfon dari mertuanya.
"..."
"Tidak ada yang selamat dari kecelakaan ini pi, maafkan Adit karena terlambat datang ke lokasi kejadian." jelas Aditya.
Mendengar suaminya mengatakan hal itu membuat Hana terkejut dan langsung mendekat namun Aditya mengulurkan tangannya dan menyuruh Hana berhenti.
"Iya pi, maaf sekali lagi Adit minta maaf tentang hal ini, Adit akan berusaha agar berita ini tidak keluar ke masyarakat luas." ucap Aditya yang langsung mematikan telfonnya.
"Apa kamu gila mas!?" teriak Hana saat suaminya sudah mematikan telfon.
__ADS_1