Gadis Tangguh Pujaan Ku

Gadis Tangguh Pujaan Ku
#Buncit#


__ADS_3

Dua bulan berlalu, kini Agam sudah berada di rumah Ananda, kerinduan terhadap sang istri, sudah tidak bisa dibendung lagi, pria itu sudah dua bulan tidak berkunjung ke rumah istri, dia sudah teramat sangat rindu, hingga saat Agam datang Ananda yang baru saja tiba di rumah wanita itu langsung dihujani pelukan dan kecupan bertubi-tubi terutama di bagian perut.


"Sayang Daddy begitu rindu dengan kalian bertiga, kangen banget"ujar Agam, begitu menghayati sambil membenamkan wajahnya di perut buncit yang kini sudah berusia empat bulan, mungkin karena kembar perut Ananda seperti orang hamil la bulan.


"Kami pun sama Daddy"ujar Ananda yang menirukan suara bayi.


"Benarkah itu cinta,,," ujar Agam sambil menatap manik mata penuh kerinduan tersebut.


"Tentu saja"ujar Ananda yang kini mengalungkan tangannya di leher Agam.


cuph....


cuph....


Kecupan sayang itu terus mendarat di seluruh wajah istrinya, dan yang terakhir di bibir, dan bertahan lama di sana hingga menjadi ciuman panas, mereka pun melepas rindu di tengah hari bolong.


Hingga sore hari Ananda yang lelah setelah itu, dia bangun karena mendengar tangis Leo, yang kini terdengar nyaring wanita itu buru-buru menggunakan dress nya dan langsung bergegas bangun dari ranjang, Agam yang melihat itu dia pun ikut bangun.


"Ada apa? sayang, jangan terburu-buru begitu jalanya hati-hati"ujar Agam.


"Leonel menangis, aku akan menemui dia, tidak biasanya dia seperti saat ini"ujar Ananda.


"Mungkin dia haus Sayang"ujar Agam .


Agam pun terus mengikuti dari belakang.


"Leonel kamu kenapa? sayang"ujar Ananda yang menuruni tangga.


Tiba-tiba saja Ananda berdiri mematung saat melihat pria bule, yang benar-benar mirip dengan Leonel, tengah menggendong putra nya, yang meronta-ronta minta di lepas.


"Leonel"ujar Ananda.


"Sayang dia Daddy nya Leonel"ujar Agam.


"Kak, tapi"ucapan nya terhenti saat pria itu menyapa, Ananda.


"Selamat sore Nyonya Agam, maafkan saya datang begitu saja, setelah mendapat informasi dari tuan Agam" ujar nya.


Ananda langsung mengambil alih Leo, dari tangan pria itu, pria yang masih sangat muda dan tampan juga terlihat gagah itu, kini duduk bertiga bersama Ananda yang kini memeluk Leo, yang langsung terdiam, sambil minum susu dari botol yang Nina, berikan pada Ananda.


Ananda pun kembali membuka obrolan.


"Apa? benar ada pria yang telah menghamili ibu dari Leo"pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Ananda yang memang ingin mengatakan semua itu sejak lama.


"Bukan menghamili Nyonya, saat itu dia ada di kamar penginapan saya dalam pengaruh obat perangsang, dia tiba-tiba menyerang saya, meskipun saya sudah menolak karena saya sudah memiliki tunangan dan tidak mungkin saya menyentuh dia, meskipun saya laki-laki normal tapi dia terus minta tolong, dan entah kenapa? ada dorongan kuat untuk menolong nya dengan cara itu, tapi anehnya dia langsung menghilang saat pagi hari saya terbangun"ujar nya.


Artur, adalah pria yang sudah menghamili wanita itu.


"Saya sudah berusaha mencari jejak nya tapi tidak pernah mengira bahwa dia warga sekitar sini, padahal saya akan datang satu tahun sekali karena tuntutan pekerjaan"ujar nya.


"sekarang dia sudah tiada, dan dia adalah warga desa sebelah, kasihan hidup nya, sungguh tragis, sudah yatim Piatu, terkena depresi saat dia hamil dan meninggalkan setelah berada di rumah sakit jiwa, saat itu hanya saya yang bisa menolong nya, karena bidan mana pun tidak ada yang berani mendekat pada nya, mungkin Tuhan ingin saya untuk menjadi pelindung nya"ujar Ananda.


Terlihat penyesalan dan rasa bersalah dari raut wajah pria itu, akhirnya dia kembali bersuara.


"Untuk itu, saya datang kemari setelah mendengar informasi dari tuan Agam, yang mencari keberadaan saya, saya akan merawat putra saya jika anda berkenan, lagi pula istri saya ada masalah dengan rahimnya jadi dia tidak bisa memberikan saya keturunan"ujar Arthur.

__ADS_1


"Saya tidak akan menghalangi anda, dengan dengan niat baik anda, tapi saya hanya ingin memastikan apakah Anda benar-benar ayah Arthur atau bukan, saya butuh tes DNA, dan juga data resmi untuk semua ini dan saya juga harus tau dimana alamat lengkap Anda, jika sewaktu-waktu saya berkunjung untuk memastikan bahwa Leonel baik-baik saja"ujar Ananda.


"Tentu saja, Nyonya"ujar pria itu dengan serius dia pun memanggil asisten pribadi nya yang menunggu dia di mobil.


"Saya akan memenuhi persyaratan yang anda ajukan, dan sebelum hasil tes DNA itu keluar, saya hanya akan datang untuk berkunjung menengok putra saya"ujar nya sambil tersenyum manis pada Leonel yang sedari tadi menatap kearah pria itu.


"Tentu saja semua butuh pendekatan"ujar Ananda.


"Dan jangan buat Leonel ketakutan"ujar Ananda lagi.


"Baiklah nyonya, tadi saya benar-benar terbawa suasana, karena melihat Leonel yang benar-benar mirip dengan saya, ibu saya bahkan akan lebih antusias lagi karena dia sudah mengharapkan cucu sejak saya menikah setelah kejadian itu."ucap Arthur.


"Tuhan memang sangat adil, disaat anda menyakiti wanita lain dengan kehadiran Leonel, anda sendiri tidak diberikan kesempatan untuk memiliki buah hati, mungkin karena Tuhan ingin menunjukkan bahwa seberapa besar rasa cinta anda terhadap istri anda, setelah mencampakan wanita lain yang sudah mengandung anak Anda"ujar Ananda.


Agam, yang mendengar itu merasa tersindir, saat ini bukan karena dirinya melakukan hal yang sama, tapi karena dia sempat mencampakkan istrinya selama berbulan, hingga tahun berulang kali, karena keadaan bukan karena dia terlena dengan istri keduanya yang bahkan hanya sekali dia sentuh dalam keadaan mabuk, saat malam pertama, dengan bayangan Ananda.


Sampai akhirnya wanita itu mengandung, tapi tuhan begitu adil lagi-lagi semua itu tidak sesuai harapan Agam dan keluarga, yang lahir adalah seorang putri, bukan putra yang akan mewarisi tahta kerajaan bisnis nya.


Ananda sendiri pun terus fokus, pada obrolan mereka berdua, antara dirinya dengan Arthur, tanpa memperdulikan Agam, yang menatap sendu pada dirinya.


Hingga Arthur pun pamit, setelah mereka sepakat, Arthur, akan melakukan pendekatan terlebih dahulu pada Leonel, hingga mereka benar-benar dekat dan semua persyaratan itu lengkap dengan hasil tes DNA, barulah Arthur akan mengambil hak asuh Leo.


Agam mengecup puncak kepala istrinya, saat terlihat wajah Ananda yang terlihat sedih, mungkin karena akan berpisah dari Leo.


Agam pamit untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


"Maafkan Bunda, Leo, Bunda melakukan ini bukan karena tidak menyayngimu, tapi waktu Bunda tinggal sedikit, bahkan mungkin setelah kedua adik mu lahir nanti Bunda, tidak punya kesempatan untuk merawat mereka"ucap nya sambil menangis.


Deg....


Jantung Agam seketika itu hampir saja terhenti, karena ucapan istrinya itu, dia tidak menyangka bahwa istrinya masih menyembunyikan sesuatu yang lebih besar lagi saat ini.


"Apa? yang sebenarnya telah kamu sembunyikan dari ku honey, jawab dengan jujur, jangan sampai aku mencari tau semua nya sendiri"ujar Agam.


Agam pun masih berdiri menatap tajam kearah nya.


"Tidak kak, tidak ada yang aku sembunyikan"ujar Ananda.


"Tidak Ananda, kamu tidak bisa berbohong lagi apa? yang kamu sembunyikan ku"ujar Agam.


"Aku tidak menyembunyikan apapun kak, aku tidak bohong"ujar Anada.


"Honey, please beritahu aku, apa? yang kamu sembunyikan dari ku"ujar Agam yang kini bersimpuh di hadapan istrinya.


"Aku mengidap kanker otak" ujar Ananda sambil menatap wajah Agam, yang kini mematung di tempatnya, bagai disambar petir di siang bolong, pria itu benar-benar tidak percaya dengan semua itu.


"Bersiap lah, sayang kita akan melakukan pemeriksaan terhadap mu, sekarang juga, aku tidak percaya kamu pasti salah dan sampai kapan pun, aku tak akan membiarkan itu terjadi jika perlu aku akan melakukan segala cara untuk membuat mu sembuh jika memang itu terjadi"ujar Agam yang langsung bergegas menuju kamar mereka, di susul oleh Ananda, yang kini terlihat panik.


"Siapkan segera, aku tidak mau tau pokonya saat ini"ujar Agam.


Pria itu langsung memutus panggilan telepon nya, saat itu juga.


"Ayo sayang mandi dan bersiap lah aku kita akan segera pergi ke Amerika"ujar Agam.


"Kak, aku sudah menghentikan pengobatan ku, sejak aku tau bahwa aku hamil"ujar Ananda.

__ADS_1


"Sayang semua harus di cek dengan jelas, dan rumah sakit mana yang menyatakan semua itu"ujar Agam.


"Aku sudah mengecek nya di Bandung jauh sebelum aku pergi" bohong Ananda.


wanita itu menyembunyikan sesuatu yang lebih besar bukan penyakit yang akan mengambil nyawa, tapi seseorang yang selama ini selalu mengancam jiwa nya.


"Tidak perlu kak"ujar Ananda.


"Honey"


"Aku baik-baik saja ia kan kakak lihat aku sudah baik-baik saja"ujar Ananda.


"Tidak kamu membohongi ku"ujar nya.


Saat mereka berdebat tiba-tiba saja dering ponsel Ananda terdengar nyaring.


Agam langsung meraih ponsel tersebut, dia kaget saat melihat layar ponsel tersebut yang bertuliskan malaikat pencabut nyawa.


"Ananda, jangan coba-coba mengadu kepada siapapun, karena semua akan percuma, tidak akan ada yang bisa menolong mu dari kematian, kau tidak lebih dari benalu suamimu akan segera lenyap, seperti sahabat mu, jika kau terus bertahan di samping nya"ujar penelpon gelap itu.


Agam langsung meremas ponsel tersebut sampai remuk tak berbentuk, hanya kekuatan tangan Agam yang bisa melakukan semua itu.


Ananda hanya terdiam, Air mata nya mengalir deras, antara takut kehilangan dan sedih karena waktu semakin dipersempit.


"Katakan sejak kapan? orang itu, meneror mu, Honey"ujar Agam.


Tapi Ananda hanya terdiam, hanya gelengan kepala, dan sepersekian detik kemudian"pulang lah dia tau kakak disini, tolong pergilah dan aku mohon berhati-hati lah di jalan, aku tidak mau kamu kenapa-napa, karena aku, aku juga akan segera meminta Nina pulang ke tempat asalnya, karena berada di sekeliling ku tak akan aman aku mohon segeralah pergi, aku janji sampai kedua anak kita lahir aku akan memberitahu mu"ujar Ananda.


Agam menatap tak percaya, betapa tertekan nya Ananda saat ini, Agam tidak bisa bayangkan betapa tertekan nya jiwa Anada, selama ini, dan mungkin itu yang menjadi faktor dirinya sulit untuk memiliki anak.


Istrinya mendapatkan tekanan dari beberapa pihak.


"Sayang jangan takut, aku ada disini, aku tidak akan pernah membiarkan mu celaka atau apapun itu, aku akan selalu melindungi mu"ujar Agam.


"Tidak kak karena yang dia inginkan bukan itu, yang di inginkan oleh nya, adalah perpindahan kita sejak dulu karena dia bilang aku adalah kelemahan bagi mu, itulah kenapa? kedua orang tua ku lenyap, dan kedua Ageng, tapi karena aku selalu berada di samping mu, teror itu kembali berlanjut dia akan mengeksekusi ku, setelah kedua anak kita lahir nanti, itulah kenapa? aku tidak pernah mau kembali dengan mu, biarlah waktu itu datang, yang penting kalian semua selamat dan tolong bahagiakan kedua anak kita, jaga mereka dengan baik, setidaknya itu permintaan terakhir ku" ujar Agam.


"Tidak sayang kamu tidak akan kenapa-napa, bahkan saat putra kita lahir, semua akan baik-baik saja, tidak akan ada yang berani menyentuh mu meskipun seujung kuku pun, tanpa seijin ku"ujar Agam yang langsung membawa Ananda untuk mandi bersama.


Sesampainya di dalam kamar mandi, pria itu, membantu istrinya mandi, Agam ingin istrinya rileks,agar tidak tertekan karena terlalu berbahaya untuk janin yang dia kandung.


"Sayang jangan memikirkan hal yang tidak penting, anggap saja angin lewat kamu dan kedua anak kita, harus tetap sehat dan tetap bahagia, kamu pasti tau jika terlalu banyak pikiran semua akan berakhir buruk untuk kesehatan mu dan kedua anak kita, kamu serahkan saja pada ku, suami mu ini tidak akan pernah bisa dikalahkan begitu saja"ujar Agam sambil tersenyum manis dan mengecup bibir yang terlihat semakin menggoda itu, karena kehamilan Ananda, saat ini pipinya terlihat semakin berisi, dan itu sangat menggemaskan karena kecantikan Ananda semakin bertambah.


"Tapi aku takut kamu terluka atau lebih parahnya"


"Tidak sayang kecuali yang maha kuasa tidak ada yang akan bisa menyakiti ku"ujar Agam dengan yakin.


Ananda pun berharap seperti itu, saat ini dia tau keadaan sekitar rumah Ananda selalu diawasi oleh orang yang selama ini menerornya.


Agam selesai mengerjakan rambut Ananda, wanita itu sudah sangat cantik dan terlihat sangat segar saat ini, Ananda sendiri membantu suaminya mengancingkan kemeja nya, sesekali Agam, memberikan kecupan hangat pada istrinya itu.


Sebisa mungkin Agam ingin membuat istrinya nyaman, Ananda selalu dimanjakan oleh nya, setiap saat dia tidak membiarkan Ananda melamun.


Hanya ada senyum dan gelak tawa saat ini karena tingkah Agam, yang selalu menggoda dirinya di tempat santai mereka saat ini sebuah balkon yang terdapat di lantai dua khusus tempat mereka bersantai.


Kadang jika Boy datang mereka juga bersantai di sana, tempat itu tampak sangat nyaman.

__ADS_1


"Sayang kamu dapat arsitektur dari mana, saat bangun rumah ini"ujar Agam yang mengagumi desain rumah tersebut.


"Aku yang merancang nya sendiri, dan seorang teman yang mengerti akan keinginan ku, dia menyempurnakan rancangan ku"ujar Ananda


__ADS_2