
Argha, tiba di sebuah rumah yang cukup besar meskipun tidak sebesar tempat tinggal nya kemarin, dia langsung membuka pintu mobil setelah mobilnya terparkir cantik di garasi dia langsung membuka pintu, untuk istrinya itu dan menarik Arinda yang tetap berdiam diri di dalam mobil.
"Honey, please jangan seperti ini lagi, kita sudah bukan anak remaja lagi, kita adalah orang dewasa, kita bisa menyelesaikan semua nya, sudah cukup aku bersabar selama ini dengan sikap mu yang seperti saat ini, please sayang kembali lah pada Arinda ku yang dulu yang selalu bersikap manja, seperti dulu"ucap Argha.
"Aku tidak bisa mas, semua sudah berubah, semua tidak seperti dulu lagi, dan aku sudah kehilangan separuh hidupku, saat kau bersama dengan nya, jadi tolong jangan buat aku terus merasakan sakit, karena itu tolong jangan buat aku terus mengingat semua nya aku benar-benar sudah tidak kuat"ucap Arinda.
"Aku tidak pernah menduakan cinta kita, sayang rasa cinta ku, tetap abadi untuk mu itulah kenapa? sampai saat ini aku lebih memilih dirimu"ucap Argha.
"Kenapa? baru sekarang mas, kenapa? bukan disaat kamu hendak menikah dengan nya"ucap Arinda, lirih tangis nya bahkan begitu memilukan, Argha langsung memeluk dan mencium puncak kepala Arinda.
"Maaf kan mas, sayang maafkan mas yang telah melukai mu terlalu dalam, mas begitu mencintaimu , hingga sampai kapan pun mas akan terus berusaha untuk mengembalikan semua kebahagiaan mu yang pernah hilang selama ini"ucap Argha, yang langsung menggendong Arinda seperti bayi koala karena Argha, sangat merindukan semua itu.
hingga tiba di dalam rumah, suasananya begitu tenang bahkan tidak ada siapapun di sana, Arinda, pun bertanya pada Argha, tentang rumah tersebut, dan Argha, bilang itu adalah rumah sang papah sebelum papahnya meninggal dunia, Argha, adalah anak dari pria biasa yang menikah dengan mommy nya yang lumayan tajir melintir, harta yang ditinggal kan oleh suaminya terdahulu sangat banyak, hingga akhirnya menikah dan dikaruniai dua orang anak yang pertama.
Arkan dan yang kedua Argha sendiri mereka tidak punya nama panjang atau pun marga, kedua orang tua nya hanya menamai mereka seperti itu.
Arinda pun hanya mengangguk.
"Apa? rumah ini cukup untuk kita dan kedua putra kita"ucap Argha.
"Cukup, tapi siapa? yang mengatakan kita akan tinggal bersama"ucap Arinda, pelan.
"Yang, please jangan bicara seperti itu, aku sangat mencintaimu dan akan tetap seperti itu"ujar Argha.
"Mas ,harus sadar semua sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi"ucap nya. membuat Argha langsung menatap sendu.
"Sayang tolong kamu bunuh mas saja saat ini juga, dari pada mas harus kembali lagi menjadi pria keji karena, kehilangan arah dan tujuan hidup ku"ucap Argha, yang langsung membiarkan pisau yang ada di lengan nya.
"Aku tidak ahli untuk menghabisi orang" ucap Arinda yang hendak pergi.
"Baiklah aku sendiri saja, ucap Argha yang langsung membuat Arinda menahan tangan Argha untuk terus Arinda pun menatap Argha.
"Jangan buat kedua Putra kita menjadi yatim, Aku tidak bisa membiarkan semua itu terjadi"ucap Arinda, yang langsung melempar pisau tersebut dengan kuat entah kenapa? hatinya terasa sakit saat mendengar Argha berkata bahwa ia ingin mati.
"Sayang aku tidak meminta yang macam-macam, aku hanya ingin kamu tetap bersama dengan ku membesar kan mereka dalam ikatan pernikahan kita"ucap Argha.
"Baiklah , tapi dengan suatu syarat, tolong ceraikan dia"ucap Arinda.
"Aku sudah melakukan itu sebelum kamu minta pun" ujar Argha.
"Baiklah kita akan tinggal di luar negeri, bagaimana"ucap Arinda.
"Terserah kamu sayang, aku ikut dengan mu kemana pun kamu mau_"ucap Argha.
hingga keesokan paginya, Argha dan Arinda yang sudah berdamai saat ini kembali ke rumah peternakan, untuk mengurus semua nya, termasuk mengambil kedua anak mereka yang kemarin masih tinggal di sana.
sementara Alexander Wijaya pagi- pagi sekali dia sudah berangkat ke Jakarta untuk mengurus perusahaan yang ayahnya miliki, pria tampan itu saat ini sudah menjelma menjadi pria yang dewasa meskipun usia nya, sudah 24 tahun, Alexander yang ganteng dan kadang bersikap kekanak-kanakan dan kocak itu, kini duduk di sebuah ruangan bertuliskan CEO, dengan semua kecerdasan yang dia miliki saat ini dia mampu memimpin perusahaan meskipun usia nya, masih terlalu muda untuk ukuran CEO.
Alexander, tengah sibuk dengan setumpuk berkas di meja kerja nya, semua adalah laporan keuangan dan yang lainnya, dia sibuk mengecek berkas lalu dia tandatangani sebagian yang sudah benar dan mencoret laporan yang masih tidak lengkap dan kadang salah tapi kemudian dia langsung meminta sekertaris nya, untuk membawa berkas yang sudah dia tanda tangani dan yang belum lengkap Alexander meminta karyawan di device lainnya untuk memperbaiki semua nya.
Alexander pun turun dengan asisten pribadi sang ayah untuk melakukan pengecekan kinerja para karyawan nya, dari mulai lantai teratas hingga ke bawah satu hal yang membuat penglihatan Alexander teralihkan, saat mengecek para karyawan nya, ternyata di device keuangan, ada seseorang yang sangat ia kenali, yaitu Tante ganjen yang sering ia sebut begitu, dia adalah teman kuliah Alexander.
wanita itu kali ini terlihat lebih tenang dan tidak pecicilan seperti dulu, wanita yang usianya sama dengan dirinya itu, dulu sering mengejar-ngejar Alexander, hanya untuk bisa bersama dengan nya mengerjakan tugas, perkuliahan.
tapi saat ini Alexander bahkan dibuat heran wanita itu hanya manggut-manggut saja saat Alexander memberikan masukan, tidak ada kata yang keluar yang biasanya cerewet memanggil Alexander, dengan sebutan sayang kang mas atau kanda , dulu Alexander di buat merinding dengan tingkah nya.
hingga Alexander pergi meninggalkan ruangan nya, tidak ada obrolan sama sekali, tapi justru itu membuat hati nya terasa sepi, seperti ada yang hilang.
setelah puas berkeliling pria itu langsung menuju kantin kantor, dia benar-benar merasa laper mungkin karena terlalu lelah dan ini juga sudah masuk jam makan siang nya.
__ADS_1
Saat dia hendak makan, tiba-tiba ada seseorang yang melewati meja yang tengah ia tempati dan Alexander, melihat gadis itu lagi, tapi kali ini dia terlihat sedang sedih sambil menerima telepon, tidak lama setelah itu seluruh karyawan membanjiri tempat tersebut, ini untuk pertama kalinya mereka makan bareng dengan CEO, dalam satu ruangan, meskipun ada meja khusus di ruangan tempat yang di khususkan untuk CEO, makan siang.
tapi Alexander lebih memilih untuk berada di meja tempat karyawan.
Alexander tetap fokus pada makanan nya, hingga selesai makan, tapi telinga nya, mendengar apa yang Mila katakan
terhadap teman nya.
"Mila, kamu benar-benar harus menikah dengan nya, agar kamu bisa melunasi hutang Bapak mu, yang gemar berjudi itu, apa? kamu sudah siap menikah di malam ini"ucap salah satu teman nya.
"Aku tidak punya pilihan lain, Wina, aku tidak ingin kedua orang tua ku bercerai, biarlah aku yang mengalah" ucap nya.
"Andaikan saja kita punya banyak uang mungkin tidak akan sesulit ini, dan kau tidak perlu bersusah payah untuk menikah dengan pria tua itu"ucap wanita yang bernama Wina itu.
🌹💖💖💖🌹
sudah hampir satu jam Alexandre tidak bisa fokus dengan pekerjaan nya, dia selalu memikirkan, Mila yang ia dengar akan menikah malam ini.
Alexander pun memutuskan untuk meminta Mila, untuk menghadap diri nya.
setelah menunggu beberapa menit kemudian, akhirnya seseorang mengetuk pintu dan Alexander, langsung meminta dia masuk dan yang masuk adalah Mila.
Mila berjalan menghampiri Alexander yang tengah duduk di kursi kebesaran nya itu.
"Bapak memanggil saya? ucap Mila, sopan.
"Duduk lah, ada yang saya ingin tanyakan pada mu"ucap Alexander.
"Tentang apa? pak, karena saya pun masih mengerjakan laporan keuangan di bawah"ucap Mila, sedikit grogi.
"Mila, kita bicara sebagai teman bukan sebagai atasan dan bawahan, dan saya ingin menanyakan hal pribadi padamu"ucap Alexander.
"Apa? benar kamu akan menikah malam ini juga"ucap Alexander.
Mila tidak mampu menjawab karena dia benar-benar merasa sakit ditanya tentang itu, oleh pria yang selama ini menjadi pria idaman nya, tapi dia harus tau diri jika dulu Mila, tidak akan gentar saat tau siapa? Alexander, tapi kini nyalinya menciut, Alexander, adalah bos di perusahaan besar ini, dan dia hanya karyawan biasa.
Mila hanya mengangguk pelan.
"Mila, bisa katakan, dengan benar apa? yang sebenarnya terjadi pada mu"ucap Alexander.
"Tidak ada masalah pak, saya sangat mencintai dia dan kami sudah lama pacaran"ucap Mila, dengan nada sedikit bergetar.
"Oke jika begitu, aku ucapkan selamat, dan ini ambilah sebagai kado, dari teman mu untuk pernikahan kalian"ucap Alexander, yang memberikan cek sebesar dua ratus juta, yang ia tulis sendiri, tidak peduli berapa banyak kemarahan yang akan iya terima dari sang mommy nanti, karena telah menggunakan uang suaminya.
sungguh kelakuan nya buat geleng-geleng kepala, setiap hari mommy nya akan mengomelinya karena tingkah nya yang kadang tak masuk akal.
Mila, hanya bisa terdiam saat melihat nominal yang tertera di atas kertas tersebut.
"Maafkan saya pak, saya tidak bisa mengambil itu" ucap Mila.
"Ya... tapi kenapa? ini kado untuk pernikahan mu dengan orang lain"ucap Alexander, yang sedikit keceplosan.
"Ya pak, tapi saya tidak bisa menerima kado itu , saya memang orang tak punya tapi saya juga tidak bisa menerima kado sebanyak itu dari anda"ucap Mila, sambil menatap kearah nya.
"Kalau begitu boleh saya hadir di pernikahan kalian"ucap Alexander.
Mila hanya terdiam, tapi Alexander yang masih fokus dengan berkas di tangan nya, karena sedari tadi dia berbicara sambil bekerja.
"Baiklah-baiklah jika kamu keberatan, aku akan bertanya untuk terakhir kalinya, apa? kata cinta yang aku dengar setiap hari, saat dulu kita kuliah masih ada"ucap Alexander.
__ADS_1
Mila, langsung bergegas berdiri, tapi Alexander menahan nya.
"Mila, kita belum selesai bicara"ucap Alexander.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan tuan"ucap gadis itu .
"Aku tau kamu menikah dengan bandot tua, tapi aku tidak akan ikut campur urusan kamu, hanya saja aku ingin dengar benarkah kamu sudah tidak mencintai ku"ucap nya.
"Tidak tuan, dulu aku tidak serius, aku juga tau diri jika harus jatuh cinta pada anda"ucap Mila.
"Mila, tidak usah berbohong aku tau semua nya, lagipula kenapa? dengan ku, kita sama-sama manusia normal jika lawan jenis saling mencintai"ucap Alexander.
"Mimpi saya kejauhan jika saya terus bermimpi mencintai anda, aku tidak tau diri"ucap Mila, sambil melepaskan tendangan Alexander.
"Mila" panggil Alexander.
tapi wanita itu tidak sedikit pun menoleh, tapi kemudian.
"Tante ganjen"panggil Alexander lagi, Mila berhenti lalu berbalik dan tersenyum, dia kembali berbalik dan meneruskan langkah nya.
"Tunggu aku di rumah mu"ucap Alexander.
"Kamu tidak perlu repot-repot datang ke sana, tuan"ucap Mila.
"Aku mencintaimu Tante ganjen"ucap Alexander, yang langsung membuat Mila, mematung di tempat, lalu melirik.
"Tapi bohong"ucap Alexander sambil tersenyum manis, sungguh jika Alexander bukan atasan nya, Mila akan berlari ke arah Alexander dan menimpuk kepalanya tapi saat ini dia tidak berdaya dan mencintai Alexander sangat mustahil baginya.
akhirnya jam kantor pun berakhir karyawan pada bubar hanya Mila yang sedikit pulang telat karena dia harus menyelesaikan pekerjaan nya yang tertunda karena obrolan nya dengan atasan nya.
hingga dia keluar bersamaan dengan Alexander yang akan pulang juga, pria itu menawarkan tumpangan dengan paksa, dan terpaksa Mila , meninggalkan motor nya di parkiran kantor.
Alexander berjalan mengitari mobil setelah membuka kan pintu untuk Mila.
sepanjang perjalanan mereka hanya sesekali mengobrol itupun saat Alexander bertanya pada Mila, tentang kegiatan setelah selesai kuliah mereka dulu.
"Aku bekerja di sebuah pertokoan setelah lulus kuliah, dan mencoba melamar kerja di perusahaan ucap Mila.
"Owh jadi kamu pegawai baru"ucap Alexander.
"Ya, baru enam bulan" jawab Mila lagi.
Alexander membawa Mila, ke sebuah butik, dia ingin membelikan Mila, baju untuk acara pernikahan nya, entah itu akad nikah atau pesta pernikahan.
setidaknya dia sempat memberikan yang terbaik untuk wanita yang selalu mengatakan cinta pada nya.
hingga masuk ke dalam butik akhirnya Alexander menarik tangan Mila, untuk segera mengikuti langkah nya, yang sudah disambut oleh pemilik butik yang selalu menjadi langganan mommy nya, selama ini setiap kali tinggal di Jakarta.
"Tuan kita kesini mau ngapain"tanya Mila.
"Prewed"ucap Alexander tegas.
"Apa? dia tidak salah bicara kenapa? prewed di butik, dan siapa yang prewedding, perasaan aku menikah siri dan tidak ada pesta juga dengan bandot tua.
Alexander terlihat berbicara dengan pemilik butik tersebut.
Alexander pun duduk setengah Mila dibawa oleh pemilik butik itu, untuk mencoba baju kebaya modern untuk akad nikahnya nikah nya nanti, hingga dia keluar dari ruangan tersebut Alexander terperanjat kaget saat melihat wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini.
"Mila, kamu cantik sekali aku sampai pangling"ucap Alexander.
__ADS_1
"Baiklah bungkus yang dia inginkan.