
"Yang apa yang kamu katakan, aku minta maaf jika aku ada salah, tapi kenapa? tadi kita baik-baik saja, apa aku sudah membuat mu kesal karena menunggu ku"tapi Arinda hanya menggeleng.
wanita itu meraih tas nya dan langsung bergegas pergi namun Argha, langsung menghentikan langkahnya.
"Yang please jangan begini kita bisa bicara jika ada masalah"ucap Argha, yang kini menahan bahu Arinda.
"Aku merasa tak pantas, karena aku bukan istri yang sempurna, bahkan jauh dari predikat istri, lebih tepatnya aku hanya benalu yang hidup menyusahkan mu, kamu lebih pantas bersanding dengan wanita yang selalu ada di samping mu, saat bekerja, dia sempurna dia bisa melayani mu dengan baik mengurus segala keperluan mu dengan cekatan, dan aku yakin dia akan membuat mu lebih bahagia, satu lagi anak, dia bisa memberikan mu itu"ucap Arinda yang kini sedang ditatap dengan tatapan tajam oleh Argha.
pria itu tidak terima jika, Arinda merendahkan diri nya sendiri bahkan mengatakan bahwa ia lebih cocok dengan asisten nya, mungkin Arin cemburu melihat perlakuan asistennya tadi tapi itu sudah biasa ia lakukan jika ada hal darurat seperti tadi.
"Yang aku tidak suka kamu seperti ini"ucap Argha.
"Aku tidak pantas berada di sisi mu,mas kamu berhak bahagia aku bukan wanita yang baik, benar kata ibumu aku hanya begundal maaf jika selama tiga tahun lebih aku tidak pernah membuat mu bahagia"ucap Arinda yang langsung melepaskan tangan Argha, dia pergi ke luar setengah berlari sambil bercucuran air mata.
dia sempat berpapasan dengan asisten Argha, tapi dia tidak perduli dengan itu, dia terus pergi, sementara Argha tidak bisa mengejar nya, karena pasien saat ini sudah menunggu nya.
Arinda pergi dengan taksi menuju Mension, keluarga nya, yang selama ini dihuni oleh Arina, tapi kemudian dia langsung mengambil kunci mobil nya dan lanjut pergi menuju rumah peternakan dimana terdapat mereka selalu berkumpul selama ini.
jarak yang lumayan jauh dari kota Jakarta tapi tidak mengurungkan niatnya untuk pergi kesana, dia akan meminta Refi dan Dheandra untuk menyudahi hubungan nya dengan Argha.
wanita itu benar-benar merasa tidak pantas mendampingi Argha, apalagi selama ini dia tidak pernah akur dengan mertua nya, dia sadar watak nya yang keras kepala, tidak bisa berbaikan dengan mertua nya,itu meskipun jauh dari lubuk hati yang paling dalam Arinda menyayangi mertua nya itu.
Argha sendiri tidak bisa berkonsentrasi saat ini dia langsung meminta teman nya, untuk menggantikan nya bertugas malam ini.
sementara Arinda, sudah berada di tengah-tengah perjalanan, dia tidak menghentikan mobilnya,sama sekali dia lanjut pergi, karena hari sudah mulai larut, dan perjalanan nya masih panjang, Arinda masih berada di perjalanan menuju tempat tersebut.
saat Argha, tiba di rumah Argha, tidak menemukan istrinya itu, tadi Argha pikir Arinda, hanya sedang cemburu dan tidak akan nekad pergi jauh dari rumahnya.
Arinda seperti nya, benar-benar pergi karena marah dan Argha langsung meraih tas selempang yang berisi dompet juga handphone dan tidak lupa memakai jaket karena cuaca sedang hujan jadi udara benar-benar dingin.
Argha langsung bergegas menuju Mension keluarga Arinda tapi pelayan bilang tadi nona muda mereka datang untuk mengambil mobil lalu pergi lagi, tidak bilang apa-apa.
Argha mengusap wajah nya kasar, dia terlintas wajah putus asa dari Arinda, tadi siang tidak biasanya wanita itu seperti ini, dia langsung bergegas pergi mencari Arinda ke tempat-tempat yang biasa Arinda kunjungi tapi tidak ada, Argha juga menelpon kedua orang pria yang bergelar sebagai mertua nya itu tapi Arinda tidak ada di sana.
sementara Arinda baru memasuki area peternakan itu, tepat pukul satu malam, dia sempat berhenti di sebuah restaurant pada pukul sembilan malam untuk mengisi perut nya yang terasa nyeri mungkin karena dia melewatkan waktu makan siang dan makan malam, sambil beristirahat sejenak karena jalanan sedikit berkabut akibat hujan lebat, hingga hujan itu reda Arinda pun melanjutkan perjalanan nya, berhubung restaurant tersebut juga akan tutup di jam tersebut.
sesampainya di depan gapura jalan masuk ke area peternakan itu semua penjaga yang berjaga di sana, langsung membuka palang pintu masuk ke area tersebut.
Arinda tancap gas, sehingga suara deru mesin mobil sport itu terdengar hingga ke rumah besar itu.
Refi yang berada di ruang baca pun langsung keluar, dan bergegas turun dia tau suara mobil putri kesayangan nya itu.
sementara Dheandra juga langsung membuka mata Arina dan Alex juga menyusul ayah mereka.
Arinda langsung menghambur memeluk ayahnya yang kini berdiri menyambut nya di depan pintu masuk.
__ADS_1
Arinda menangis sesenggukan, tangis pilu itu membuat Refi kaget tapi dia tidak ingin bertanya saat ini dia memeluk Arinda, sambil mengelus puncak kepala nya.
"Sayang masuk dulu ya ini sudah terlalu larut"ucap Refi.
Arinda pun menurut dia berjalan menuju tangga tidak lepas dari Refi.
sementara Dheandra menghela nafas, dia tau putri nya sedang tidak baik-baik saja, mereka bertiga mengikuti langkah kedua orang itu menuju kamar Arinda.
sesampainya di sana, Dheandra langsung mendekat memeluk putri pertamanya itu.
"Ada apa heumm, cerita sama mommy"ucap Dheandra tapi Arinda hanya menangis tidak bicara apa-apa, Refi memberikan isyarat pada Dheandra agar tidak bertanya saat ini.
"Kak, aku ngantuk jika ingin bicara besok kita ngobrol"ucap Arina yang langsung pergi menuju kamar nya, di susul oleh Alex, yang juga sama-sama ngantuk pemuda itu langsung menuju kamar nya.
"Arin, tidur di temani ayah sama mommy ya, sekarang sebaiknya kamu berganti pakaian dulu"ucap Dheandra, seperti memperlakukan gadis kecil.
karena sebesar apapun, seorang anak, di mata ibunya dia tetap lah, anak kecil yang masih harus di jaga dan dilindungi.
Arinda hanya mengangguk, dia langsung pergi menuju kamar mandi untuk gosok Gigi dan berganti pakaian, setelah itu dia keluar sedikit lebih segar meskipun tidak mandi tapi wajahnya masih tetap sembab.
Arinda tidur di apit kedua orang tua nya, karena itu adalah kebiasaan mereka jika salah satu anak mereka sedang bersedih karena masalah nya.
Arinda, juga tidak pernah merasa risih dengan Refi yang hanya seorang ayah sambung, karena Arinda sudah dekat dengan Refi semenjak dia lahir begitu juga dengan Arina, tidak ada yang menganggap Refi,ayah sambung mereka benar-benar menganggap Refi, sebagai ayahnya sendiri.
Arinda pun, tertidur di pelukan kedua orang tua nya, saat ini gadis berusia dua puluh dua tahun itu, seperti baru berusia lima tahun yang dengan pelukan kedua orang tua nya, bisa tidur pulas.
Sambil dudu,di tepi ranjang, Argha bergumam pelan "Yang kamu dimana aku sudah mencari kamu kemana-mana, pulang sayang aku rindu"ucap nya lirih.
🌹💖💖💖🌹
pagi hari nya, Arinda terjaga, dia sudah tidak melihat kedua orang tua nya, saat ini entah kemana mereka, Arinda pun bangkit dan langsung berjalan menuju kamar mandi, dia ingin mandi karena badan nya, terasa kurang nyaman.
wanita cantik itu, saat ini tengah berendam di dalam bathtub, sementara dibawah semua orang tengah menunggu untuk sarapan, tapi Refi langsung berkata"Kita makan duluan saja nanti Arinda menyusul mungkin dia masih belum bangun, dia begitu pulas tidur nya, hingga tidak menyadari ayah dan mommy pergi"ucap Refi.
"Baiklah yah"jawab semuanya serempak.
mereka pun sarapan pagi bersama,di tengah-tengah sarapan tiba-tiba seseorang datang, yang datang itu adalah Bruno, yang kini ingin menjemput Arina.
Bruno langsung dipersilahkan gabung untuk sarapan pagi bersama dengan mereka semua, entah pukul berapa dia tiba di area peternakan itu, sepertinya Bruno, datang dan menginap di pos satpam, karena itu adalah peraturan bagi orang asing yang tidak mereka kenal, dan pagi-pagi sekali kepala penjaga mengantar Bruno, hingga ke rumah besar itu.
"Bruno silahkan duduk"ucap Refi tidak hanya itu pria berusia empat puluh tujuh tahun itu memerintahkan kepada pelayan untuk menyiapkan sarapan untuk Bruno.
Refi mencoba untuk bersikap santai, karena dia belum tau masalah sebenarnya
setelah sarapan pagi mereka,kini semua berkumpul di ruang keluarga sementara Alexander pamit untuk pergi sekolah dengan mobil sport milik nya.
__ADS_1
"Ayah, mom...,aku pergi sekolah dulu"ucap Alexander sambil mencium tangan kedua orang tuanya juga kakak nya Arina, sementara Bruno, dia lewat, karena Bruno juga tidak mengulurkan tangannya saat ini.
setelah selesai berpamitan Alexander Wijaya, langsung bergegas pergi menuju mobil kesayangan nya, yang dia ambil dari Mension ibunya satu bulan lalu.
semua mobil yang Dheandra miliki, selalu Alexander pakai untuk pergi sekolah atau pun jalan-jalan dia tidak mau menggunakan mobil miliknya yang dibelikan oleh Gerald, meskipun itu mobil keluaran terbaru, tapi baginya mobil milik mommy nya, semua lebih menarik, dan dengan kecanggihan teknologi yang ada di dalam nya.
"Ada apa??, kamu datang kemari"tanya Dheandra.
"Saya ingin menjemput anak dan istri saya"jawab Bruno, tegas.
"Kapan kamu menikahi putri ku, karena yang aku tau dia hamil tanpa suami"ucap Dheandra, dengan sengaja.
"Aku minta maaf, saat itu aku tidak berpikir panjang, setelah pertemuan kita hari itu, aku langsung kembali ke Amerika, dan aku benar-benar tidak tahu jika istri ku sedang mengandung putra ku"ucap Bruno.
"Kalau seperti itu, kamu bukan siapa-siapa lagi bagi putri ku, kamu tidak bisa memperlakukan Arina, seenaknya, dia punya keluarga yang utuh, dia tidak pernah hidup kekurangan dan jika bukan kamu yang maksa putri saya tidak akan berbuat demikian, kamu tau di manapun kamu tinggal kamu pasti tau adat dan tata cara menjalin hubungan dengan lawan jenis, apa lagi sampai menikah, Arina masih memiliki keluarga dia punya Daddy dan ayah juga mommy nya, pasti kamu tau cara untuk bisa bersama dengan Arina dalam ikatan pernikahan, kecuali jika Arina, sudah tidak punya siapa-siapa lagi"ucap Dheandra penuh penekanan,sikap tegas dan berwibawa nya, kini terlihat kembali.
"Saya minta maaf Nyona, saya tau saya salah, tapi saya sudah mendaftarkan pernikahan kami secara sah"ucap Bruno.
"Dimana letak sah nya pernikahan di atas kontrak perjanjian, apa kamu pikir kami tidak punya harga diri sehingga kamu bisa seenaknya melakukan hal itu terhadap putri saya, kamu harus nya, bersyukur saya masih memiliki toleransi, jika kamu berniat untuk memperbaiki hubungan antara kamu dan anak saya, tapi itu dulu, saat anak saya tengah mengandung anak mu, tapi tidak untuk saat ini, saya tau kamu bahkan sudah memiliki istri lagi"ucap Dheandra tegas.
"Tapi Nyona"
"Tidak ada tapi-tapian saya tidak akan pernah memberikan kamu izin untuk bersama dengan putri saya, jika kamu masih bersama dengan nya, dan soal perceraian kalian tidak perlu dilakukan sidang karena tidak pernah ada pernikahan selain perzinahan, dan saya sangat benci semua itu, mulai saat ini jauhi putri dan cucuku, jangan coba-coba berbuat curang di belakang ku, jika kamu tidak ingin kepala mu melayang, sekarang silahkan kamu pergi"ucap Dheandra datar kilatan mata yang sudah lama tidak pernah terlihat itu kembali nampak, dan Refi berusaha untuk menenangkan nya, dan meminta Bruno langsung pergi.
sementara Bruno,baru kali ini, dia takluk pada seorang wanita, yang bisa membuat nya merasa ketakutan.
Arina langsung mengantar Bruno keluar.
"Yang kamu tega ingin pergi dari ku, hingga kamu melakukan cara ini"ucap Bruno.
"Cara apa? aku tidak melakukan apa-apa, semua yang dikatakan oleh mommy benar, aku telah berbuat kesalahan,maka saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya, dan jangan datang atau melakukan hal yang akan membuat mommy ku marah, karena kamu tidak akan sanggup menghadapi nya"ucap Arina menginginkan.
"Ada apa?....apa? mommy mu adalah wanita yang sangat hebat hingga tak terkalahkan"ucap Bruno.
"Jika kamu ingin merasakan penderitaan, silahkan usik mommy ku, bahkan anak buah mafia, yang diperintahkan oleh Daddy pun habis dalam hitungan detik, oleh mommy ku, jika kamu mau merasakan nya silahkan saja"ucap Arina.
Bruno pun pergi tapi sebelum itu dia mencium kening dan bibir Arina, lebih dulu, dia bahkan meminta Arina, untuk menunggu nya kembali.
sementara Arinda, masih berada di dalam kamar nya, dia sarapan di sana setelah pelayan rumah membawakan dia sarapan kedalam kamar nya.
Arinda, saat ini tengah menatap Padang rumput yang hijau dan terawat bahkan dia melihat danau yang terlihat sangat indah dari balkon kamar nya di lantai tiga, Arinda berharap ada keajaiban saat ini bahwa dia bisa memiliki anak, tapi itu hanya angan-angan saja, pikir nya.
"Aku berharap kamu akan lebih bahagia setelah kepergian ku mas"ucap Arinda.
sementara Argha yang baru mengetahui posisi Arinda saat ini dia langsung bergegas menuju tempat tersebut dengan helikopter milik sang kakak.
__ADS_1
Argha,tau Arinda berada di peternakan lewat GPS mobil yang ada di mobil Arinda, dari mantan anak buah nya, pagi tadi.