
Sementara Argha yang tidak terima dengan keputusan Arinda, pria itu, berjanji akan merebut kedua putranya.
"Tidak akan mas aku yang mengandung dan melahirkan mereka, aku bahkan sudah kamu singkirkan dari hati mu, saat kamu memutuskan untuk menikah lagi, dan itu artinya, kamu juga tidak berhak atas mereka"ucap Arinda tegas.
"Arinda, kamu yang pergi menjauh dari ku, apa? kamu lupa jika kamu yang mendorong ku, untuk tetap memilih nya, jika kamu lupa itu"ucap Argha, sambil berderai air mata.
pria itu selalu saja seperti itu, saat mengenang kepergian istrinya itu, hingga saat ini Argha tidak pernah menandatangani surat perceraian itu.
"Aku melakukan itu karena kamu memang sangat menginginkan kehadiran seorang anak, dan aku tidak bisa memberikan itu, hingga tuhan menitipkan mereka berdua saat kau memilih untuk menikah lagi ,aku sendiri lebih terpukul dengan itu, kamu sudah tidak perduli dengan perasaan ku, maka dari itu lebih baik kita seperti ini, kamu juga sudah jauh lebih bahagia dengan nya, jadi tidak perlu lagi mencari ku dan kedua anak kita"ucap Arinda yang langsung pergi meninggalkan kamar hotel yang kini tengah mereka gunakan untuk berbicara.
"Yang kamu tidak bisa begini aku masih suami mu, dan mereka harus tau bahwa aku adalah Daddy nya bukan Jack"teriak Argha.
"Sebaiknya mas pergi, aku tidak akan membiarkan putra ku bergantung pada mu, mereka sudah terbiasa tanpa kehadiran seorang ayah di sisi mereka saat ini, dan hanya ada Jack, di hati keduanya, yang siap mati hanya demi untuk melindungi mereka"ucap Arinda yang terus berjalan.
"Tidak sayang, aku tak akan pernah melepaskan kalian bertiga itu janjiku"ucap Argha tegas.
"Kita lihat saja, siapa yang akan menang"ucap Arinda, sambil berjalan pergi meninggalkan Argha yang terus mengikuti langkah nya.
Arinda meneteskan air mata, saat ia teringat malam, yang menjadi rasa sakit yang teramat hingga dia tidak pernah ingin kembali sekalipun Argha, sudah berjuang untuk mencari nya, seperti yang dia tahu.
Arinda pergi menuju toilet wanita,agar Argha tidak melihat Air mata nya saat ini, tapi Arinda tidak tau jika Argha, bahkan berhasil masuk dan membuat semua yang ada di sana terbirit-birit pergi, karena Argha, menatap mereka dengan tatapan membunuh.
"Yang, maaf kan aku ,aku mohon kembali lah,aku janji akan memperbaiki semua nya,aku akan menebus kesalahanku pada mu"ucap Argha.
"Mas tidak bersalah, sedikit pun mas tidak pernah punya salah padaku,aku bahkan merasa malu karena aku tidak pernah bisa membahagiakan mu, maka dari itu aku memilih untuk pergi dari hidup mas, untuk selamanya, mungkin dengan ini aku bisa menebus dosa ku terhadap suami dan ibu mertua ku, semoga kalian semakin berbahagia"ucap Arinda lirih, sambil menatap Argha dari sebuah cermin yang kini berada di hadapan nya.
"Apa kamu pikir aku bahagia sayang, kamu tega... benar-benar tega, Arinda, aku bahkan hampir mati karena kehilangan mu, jika saja saat itu Gerald tidak menghentikan ku, dan meyakinkan ku, untuk tetap bersabar dan bilang bahwa suatu saat nanti kamu akan kembali, aku pun mengurungkan niatku untuk bunuh diri, apa? cinta ini tidak pernah berarti apa-apa untuk mu, apa? aku tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua saat ini, setidaknya beri aku waktu sebentar saja untuk membuktikan bahwa aku teramat sangat mencintaimu,aku sangat mencintaimu Arinda Alexander Wijaya, aku sangat mencintaimu"ucap nya sambil terisak.
sementara itu di luar, ada seseorang yang kini tengah menahan rasa sakit, karena mencintai seseorang yang ternyata adalah milik orang lain.
Arinda, terdiam sesaat saat melihat tangis itu, wanita itu berbalik lalu menepuk pundak pria itu.
"Hey... jangan begini, jangan aku tidak pantas untuk kamu tangisi aku, wanita yang tidak becus mengurus suami dan bahkan aku hanya akan merepotkan mu, tidak seperti dia yang selalu sigap sekalipun itu dalam keadaan emergency sekalipun"ucap Arinda, sambil memalingkan wajahnya karena dia sendiri tidak kuasa menahan kesedihan disaat mengingat semua itu.
"Aku hanya membutuhkan kamu istri ku yang sangat aku cintai, bukan wanita lain ,aku hanya butuh wanita tangguh yang suka mengumpat di atas jembatan, bahkan dengan beraninya memfitnahku, saat aku membuat mu kesal, kamu adalah wanita tangguh yang tidak pernah takut dengan apapun, meskipun kamu tau aku adalah seorang mafia, dan hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa meluluhkan hati mommy ku, yang keras kepala itu, untuk pertama kalinya dia bisa mengakui kekalahan nya, saat itu hanya Arinda ku, yang bisa membuat semua berubah, aku mohon kembalilah"ucap Argha, yang masih berderai air mata.
"Maaf mas, aku sudah bukan Arinda yang dulu lagi aku bahkan tidak kuat, untuk menerima rasa sakit dari cinta yang begitu besar yang kamu berikan, aku bahkan baru sadar bahwa ternyata diriku tidak sekuat itu,aku tidak kuat untuk menerima kenyataan bahwa suamiku, akhirnya menduakan cinta nya, aku tidak sekuat itu , dan lebih baik, kita jalani saja hidup seperti enam tahun ini, kamu pun masih bisa hidup tanpa ku, bahkan jauh lebih baik"ucap Arinda yang menepuk dada membenarkan posisi dasi Argha, untuk yang terakhir wanita itu pun kembali pergi meninggalkan Argha.
"Baiklah sayang jika ini yang kamu mau"ucap Argha yang langsung mengarahkan pistol yang kini dia pegang di kepala nya.
"Mas, jangan main-main, kamu itu dokter hidup mu masih sangat dibutuhkan oleh mereka, dan juga anak dan istri mu, dirumah termasuk mommy, lepas aku mohon jangan lakukan itu"ucap Arinda yang langsung memegang tangan Argha, dan perlahan ingin mengambil nya, tapi Argha tidak kunjung melepaskan itu dan dia meminta Arinda untuk pergi, Argha sudah tidak punya keinginan lain lagi, selain hidup bersama Arinda, dan bonus kedua putranya itu.
"Baiklah , mas baik'lah, kita akan kembali, tapi aku tidak ingin tinggal serumah dengan kalian, aku akan tetap tinggal di Jepang, dan kamu bisa berkunjung kapan pun, kamu kangen dengan kedua putra kita"ucap Arinda.
"Di rumah kita Arinda atau tidak untuk selamanya"ucap Argha.
"Iya oke, dirumah kita, tapi kamu tetap bersama dengan nya, aku sendirian di kamar ku"ucap Arinda.
__ADS_1
"Tidak ada dia atau pun orang asing hanya ada kita berempat"ucap Argha tegas.
"Iya mas iya"ucap Arinda yang kini mendekat kembali dan dengan perlahan menurunkan pistol tersebut yang sudah tidak ada isinya, hanya saja Arinda, tertipu dengan itu.
Argha langsung memeluk Arinda dengan senyum licik nya.
🌹💖💖💖🌹
Akhirnya Arinda pun pulang dengan Argha dan keempat anak nya, sementara Jack pamit pulang ke negaranya, saat itu juga terlihat tatapan kesedihan di mata pria itu, untuk Arinda, tapi wanita itu tidak bisa membalas perasaan nya, saat ini karena masih berstatus istri Argha.
Arinda menempati Mension utama nya, yang Argha bangun untuk nya, dan kedua putranya, percaya atau tidak, sejak Arinda pergi Argha, selalu bermimpi memiliki dua anak kembar laki-laki yang selalu membangun kan dia saat pagi dan mengucapkan selamat malam ketika Argha akan tidur.
hingga sampai saat satu tahun yang lalu akhirnya mimpi itu adalah sebuah kenyataan.
Argha bahkan menyiapkan sebuah kamar besar dengan nuansa putih dan perabotan anak laki-laki nya, suatu hari nanti.
dan sekarang akhirnya Argha meraih bahagia nya, meskipun Arinda terlihat kaku, dia tidak seperti Arinda yang dulu, yang selalu bergelayut manja seperti bayi koala.
Arinda bahkan melakukan pekerjaan yang biasa seorang istri lakukan, dengan menyiapkan segala keperluan dirinya dan kedua putranya, tapi tidak dengan melakukan kewajiban sebagai istri seutuhnya, dia bahkan selalu menjaga jarak.
hanya jika Argha memberikan kecupan selamat pagi dan juga selamat malam, selebihnya adalah jaga jarak.
hal itu membuat Argha merasa sedih Arinda berada di hadapan tapi dia tidak bisa menyentuh nya.
Arinda selalu pergi ke sekolah kedua putranya, jika Argha meminta nya ditemani pergi ke rumah sakit, tapi wanita itu selalu menolak karena istri muda Argha, berada di sana meskipun dia tidak lagi menjadi asisten Argha.
pria itu langsung menatap tajam kearah Arinda, dan Argha sempat melirik ke arah nya, karena perbuatan Arinda, tangan nya hampir di amputasi.
"Apa? masih kurang heuhhhhh"ucap Arinda yang langsung berdiri dan hendak pergi, tapi tiba-tiba Argha menarik nya kedalam pelukan pelukan Argha.
"sayang mau kemana, heumm kakak mau ketemu kalian bertiga" ucap Argha.
"Aku sibuk"ucap Arinda yang kembali bangkit.
Arinda langsung bergegas pergi, disusul oleh Argha, sambil memohon, agar Arinda mau duduk untuk membahas masalah keluarga, atau bersilaturahmi dan ingin mengenal kedua putranya, tapi Arinda menolak.
"Baiklah jika kamu ingin aku dan anak-anak ku pergi bawa saja semua keluarga mu kesini, termasuk anak istri mu"ucap Arinda yang langsung mengambil tas dan ponsel nya, tapi Argha langsung menahan wanita itu.
"Oke... oke sayang tidak ada mereka di sini hanya kakak saja dia ingin bertemu dengan mu dan juga kedua putra kita.
"Mommy uncle Jack dimana kenapa? sudah lama tidak ada di sini, biasanya juga akan datang setelah pulang kampung, aku mau uncle Jack"ucap keduanya merengek ingin bertemu dengan Jack.
"Sayang uncle Jack itu, sedang berada di luar negeri, jadi dia tidak bisa bertemu dengan kita saat ini, nanti mommy, telpon dia oke"ucap Arinda.
Arinda bahkan langsung meraih ponsel nya, tapi tiba-tiba saja Argha, merebut ponsel nya itu.
"Tidak ada uncle Jack, sekarang ada yang bisa lebih jago dari uncle Jack, adalah uncle Arkan"ucap Argha sambil menggendong keduanya.
__ADS_1
sesampainya di lantai bawah akhirnya, kedua putranya duduk di pangkuan Argha.
"Daddy dia siapa?"ucap Agam.
"Itu uncle Arkan, Agam dia kakaknya Daddy"ucap Argha.
"Aku mau uncle Jack titik"ucap Ardan.
putra nya yang satu itu langsung berlari, dan diikuti oleh Agam, yang juga ikut-ikutan berlari.
"Bawa Jack untuk kedua keponakan ku"ucap Arkan.
"Tidak ada yang bisa merekrut, Jack untuk seorang mafia, karena dia adalah anggota pasukan khusus, yang di terikat kontrak kerja seumur hidup dengan Daddy ku"ucap Arinda.
"Aku bisa mendapatkan apapun, termasuk dirimu"ucap. Arkan.
"Dasar manusia gila, kau pikir kau siapa heuhhhhh, seenaknya saja bicara seperti itu padaku,aku Arinda Alexander Wijaya, tidak pernah direndahkan oleh pria tak berguna seperti dirimu yang hanya bisa mengandalkan kekuatan anak buah mu yang tidak seberapa itu"ucap Arinda, sambil berlalu pergi.
Arkan sempat mengepalkan tangannya, ternyata wanita itu masih keras kepala seperti dulu, hingga sekarang tidak pernah berubah.
"mohon jangan tersinggung dengan nya, kak dia sudah cukup terluka gara-gara aku"ujar Argha.
"Kau keluar dari dunia bawah hanya karena wanita seperti itu, sungguh sangat keterlaluan Argha, dimana akal sehat mu"ucap Arkan.
"kenapa? jika kamu menyesali semua nya, kamu bisa kembali dengan tikus got itu mas,aku tidak ada masalah, yang pasti jangan pernah berharap untuk bisa bertemu dengan kami bertiga lagi, jika dia benar-benar memiliki kekuatan itu, dia akan bisa membantu mu untuk menemukan ku, tapi apa? hanya seorang pecundang"ucap Arinda.
"Diam! kau wanita kurang ajar"ucap asisten Arkan, tapi seketika Arinda menendang wajah pria itu hingga dia terjatuh tidak berdaya di hadapan semua orang yang kini membulatkan matanya.
Arinda mengambil sebuah pisau buah yang ada di meja seketika itu juga, wanita itu menancapkan pisau tersebut di lengan pria itu hingga menembus nya, lengan itu dulu hampir diamputasi, dan sekarang sepertinya akan benar-benar di amputasi.
"Sebaiknya kedua tangan tidak berguna ini, dipotong saja iya kan suamiku"ucap Arinda, yang kini sorot mata iblis itu terlihat oleh mereka semua, Arkan, sempat kaget.
"Sayang sudah ya, maafkan mereka, mereka tidak sengaja"ucap Argha, mencoba menenangkan jiwa iblis yang ada di dalam jiwa nya.
"Kau kenal dia dimana"ucap Arkan yang langsung pergi begitu saja, Argha tetap memeluk istrinya itu dengan penuh kelembutan.
"Sekali lagi kamu hadirkan mereka disini aku akan menghabisi mereka semua"ucap Arinda.
sifatnya tidak jauh dari Dheandra.
"Tidak sayang aku tak akan pernah melakukan itu"ucap Argha.
"Kau tahu kenapa? aku tidak pernah bertahan dan memilih pergi dari hidup mu, karena sekali saja wanita itu menyinggung perasaan ku, aku tidak akan membiarkan wanita itu hidup, hingga saat ini, jadi sebaiknya jangan biarkan aku bertemu dengan nya, dan jika kamu memilih nya, lebih baik kamu tinggalkan aku, daripada aku menghabisi seluruh keluarga mu"ucap Arinda.
"Sayang semua bisa kita bicara baik-baik, jadi tidak ada keributan ok, saat ini aku ingin kita hidup damai berempat aku kamu dan juga kedua anak kita"ucap Argha.
Arinda sudah sedikit tenang Argha, mengecup puncak kepala nya dengan lembut.
__ADS_1