
Setelah Celsi pergi, dengan mobilnya, dalam keadaan marah wanita itu bahkan tidak fokus, karena ancaman Gerald, yang akan menyebar Vidio, saat dirinya tengah berada di kamar hotel bersama dengan Gerald.
"Aku tidak perduli!!"teriak Celsi, sambil terus mengebut menjauh dari Gerald, yang terus mengejar wanita itu dari belakang dengan mobil nya.
"Apa yang kamu lakukan Celsi, hentikan mobil mu"ucap Gerald.
tapi Celsi tidak mendengar nya, hingga sebuah truk datang melaju sangat kencang dari arah berlawanan.
"Celsi awas!!" teriak Gerald.
Bruk...
Bruk...
dua kali hantaman keras mobil itu terbalik di atas trotoar, dan truk pengangkut barang itu tergelincir.
"Celsi!!!" teriak Gerald yang langsung berlari menuju mobil Celsi, Gerald berusaha untuk mengeluarkan Celsi sambil terus berteriak memanggil namanya, sementara orang-orang berdatangan dan menghentikan kendaraan nya tidak ada yang berani mendekat tapi Gerald terus berusaha untuk mengeluarkan Celsi.
"Tuan hentikan, gadis itu tidak akan bisa dikeluarkan lihat dia terjepit body mobilnya"ucap beberapa orang yang melihat itu, sementara Celsi tidak sadarkan diri.
"Cepat cari bantuan aku tak ingin Celsi ku kenapa-napa" ucap Gerald.
tidak lama polisi dan bantuan datang mereka semua berusaha mengeluarkan Celsi dari dalam mobil bersamaan dengan tenaga medis, setelah berjuang selama hampir satu jam lebih, akhirnya Celsi berhasil dikeluarkan dari mobil yang ringsek tersebut, dan gadis itu dalam keadaan keritis .
dia langsung dilarikan ke rumah sakit saat itu juga.
Gerald mengurus semua administrasi nya bersama dengan sekertaris nya yang baru datang.
setelah Celsi dibawa ke ruang operasi karena mengalami luka yang cukup serius dan ada retak di bagian betis, akhirnya Gerald yang memberikan persetujuan dari tindakan tersebut.
karena dia tidak pernah tau keluarga Celsi berada di mana.
hingga beberapa jam berlalu Gerald belum juga beranjak hingga Celsi, keluar dari ruang operasi Gerald mengikuti langkah dokter dan perawat yang membawa Celsi ke ruang rawat inap .
Gerald masuk ke ruang VVIP satu, tempat Celsi menjalani perawatan intensif saat ini hingga akhirnya Gerald pergi membersihkan diri di toilet kamar rawat tersebut.
setelah selesai Gerald keluar dari kamar mandi dan sudah terlihat fresh, meskipun menggunakan pakaian santai.
wajah nya makin terlihat tampan, saat Gerald duduk, tiba-tiba Celsi bersuara.
"Daddy, sakit"gumam nya lirih.
Gerald langsung menggenggam tangan Celsi.
perlahan Celsi membuka mata nya, sepertinya pengaruh obat bius itu masih ada.
"Aku dimana Daddy"ucap Celsi lirih.
"Kamu dirumah sakit, tadi sore kamu kecelakaan"ucap Gerald.
Celsi hanya menatap sendu.
"Jangan sedih kamu baik-baik saja, mungkin butuh waktu, tapi semua nya akan cepat membaik"ucap Gerald.
"Daddy, kenapa kepala ku sakit"ucap Celsi yang tidak bisa meraba kepala nya, karena kedua tangan nya masih kebas.
"Tunggu aku akan panggil dokter"ucap Gerald, yang langsung memijat tombol berwarna merah di samping ranjang.
seperti nya, Celsi tidak tau bahwa yang ada di samping nya, adalah Gerald, wanita itu begitu patuh, berbeda setelah pagi menjelang, Celsi begitu terlihat sangat kesal pada Gerald.
"Untuk apa? kamu masih disini, pergilah aku hanya ingin sendiri"ucap Celsi.
"Aku akan pergi, setelah kamu benar-benar sembuh meskipun kecelakaan ini bukan aku penyebab nya"ucap Gerald.
"Bukan kamu, tapi apa? kamu tidak sadar sudah membuat ku tak bisa konsentrasi karena sikap mu kemarin siang"ucap Celsi.
"Sabar, jangan marah-marah seperti itu, aku hanya ingin kamu segera sembuh setelah ini aku janji tidak akan pernah mendekati mu, lagi aku akan bersikap acuh jika kita bertemu nanti"ucap Gerald.
Deg...
ada rasa sakit yang teramat, disaat Gerald berkata seperti itu.
mulai saat ini aku yang akan menjaga mu hingga kamu bisa kembali beraktifitas sendiri"kata Gerald.
"Aku bisa sendiri pulang lah"ucap Celsi.
"Please kali ini saja jangan egois"ucap Gerald.
__ADS_1
"Tuan kamu yang sebenarnya egois, kita tidak saling kenal dan tidak punya hubungan apapun, jadi silahkan pergi dan akan ku transfer uang ganti rugi nanti"ucap Celsi.
"Celsi please"ucap Gerald.
tapi Celsi menggelengkan kepalanya"Terimakasih atas pertolongan mu, semoga tuhan membalas kebaikan mu"ucap Celsi yang langsung memejamkan mata, pura-pura tertidur.
Gerald pun dengan berat hati pergi meninggalkan Celsi, dan dia sempat menyuruh seseorang untuk berada di sisi Celsi, dan membantu nya.
Celsi membuka mata nya, setelah memastikan Gerald, pergi ada air mata yang keluar dari pelupuk mata nya, saat ini.
lebih baik seperti saat ini daripada nanti dirinya terluka lebih dalam lagi, Celsi jatuh cinta pada Gerald, berawal dari pertengkaran dirinya hingga berkali-kali bertemu dan pria itu terlihat begitu peduli pada Celsi, selama ini.
Celsi tau Gerald, tidak pernah ada rasa untuk nya, selain dia butuh teman agar bisa melupakan cinta pertama nya saat ini.
Gerald, terlalu sempurna untuk nya, meskipun Celsi, juga terlahir dari keluarga berada tapi semua harta kekayaan ayahnya, saat ini banyak dikuasai oleh ibu tiri nya.
Gerald langsung bergegas menuju rumah lama Dheandra, dia tinggal di sana selama ini, sementara Arina di Mension, yang Refi bangun untuk keluarga nya, dan dia senang tinggal di rumah besar itu karena suasana nya cukup tenang.
Gerald langsung berjalan masuk menuju ke kamar nya, setelah mbok Ijah, membuka pintu utama rumah tersebut, hingga sampai di kamar Gerald, tidak hentinya memikirkan keadaan Celsi, saat ini.
Celsi pun tertidur karena pengaruh obat, yang dokter berikan agar dirinya Celsi, cepat pulih hingga satu minggu berlalu Celsi, yang kini tengah berada di dalam ruang rawat meminta dokter untuk mengijinkan dia pulang karena gadis itu tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit.
beruntung wanita itu adalah gadis yang sangat kuat, dia tidak mengeluh jika sementara dia harus menggunakan kursi roda.
Celsi pulang sendiri dari rumah sakit setelah satu orang perawat memesan taksi untuk Celsi pulang ke sebuah rumah yang selama ini Celsi, tempati, Celsi membeli sebuah rumah berlantai dua, rumah tersebut cukup nyaman dan sangat terawat bahkan tidak ada debu sedikit pun, seperti Celsi, yang sangat suka kebersihan tapi kali ini dia harus menambah jasa asisten pribadi nya, karena dia butuh orang untuk membantu nya bergerak ke sana kemari.
Gerald sendiri saat ini sudah mengetahui keberadaan Celsi, dari orang yang dia suruh untuk mengikuti Celsi.
Celsi memasuki kamar nya, yang berada di bawah, sebelum dia benar-benar sembuh dia akan tinggal di sana.
saat Celsi hendak berbaring suara bel pintu berbunyi menandakan bahwa ada tamu yang datang tapi siapa? bahkan dia tidak pernah memberitahukan alamat itu pada Anggi, sekalipun.
🌹💖💖🌹
sudah satu jam lebih, Celsi berusaha untuk mengusir Gerald, yang bahkan saat ini malah duduk di samping ranjang nya.
"Tuan pergilah"ucap Celsi ketus.
"Kenapa? aku masih betah di sini"ucap Gerald.
"Tapi ini rumah ku, dan aku tidak mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam kamar ku" ucap Celsi.
"Gerald please"ucap Celsi yang benar-benar pusing dibuat nya.
"Baiklah aku akan pergi tapi kamu harus mau menjadi istri dan juga ibu dari anak-anakku, bagaimana"ucap Gerald serius.
"Jangan katakan itu, tuan karena aku tidak akan mau menikah, kamu dan aku terlalu jauh berbeda"ucap Celsi.
"Ya jauh karena kamu disini dan aku di sana"ucap Gerald
Celsi hanya memonyongkan bibirnya, sementara Gerald, hanya tertawa kecil.
"Baik-baik aku akan pergi tapi aku mohon kabari aku jika ada apa-apa"ucap Gerald.
Celsi, tidak menjawab wanita itu hanya diam, sampai Gerald, mendaratkan kecupan mesra di bibir Celsi, yang kini masih menatap dirinya.
"Jangan main-main tuan"ucap Celsi.
"Aku tidak main-main Celsi ,aku serius"jawab Gerald.
kamu bisa pulang tuan"ucap Celsi.
"Baiklah"jawab Gerald.
Gerald pun pergi tapi sebelum itu dia kembali mengecup bibir Celsi.
"Celsi aku serius, mulai saat ini kita adalah resmi bertunangan"ucap Gerald sambil memasang cincin di jari manis nya.
Gerald pun pergi meninggalkan rumah tersebut, sementara Celsi melamun sambil menatap kearah pintu.
"Aku tidak tau tapi aku akan mencoba nya"gumam Celsi.
dari saat itu mereka tidak pernah bertemu tapi sekertaris nya, selalu mengirimkan bunga kerumah itu, dan mengabarkan bahwa Gerald berada di Jerman, sedang mengurus perusahaan nya disana.
Gerald bahkan kadang meminta Marvin, untuk mengirimkan makan siang untuk Celsi.
gadis itu hanya tersenyum setiap kali mendapatkan perhatian dari pria yang menganggap dia sebagai tunangan nya.
__ADS_1
hingga satu bulan lebih akhirnya Gerald pun kembali ke Indonesia, dia langsung menuju rumah Dheandra, hingga keesokan paginya dia sudah bersiap untuk pergi ke kantor, tapi dia sudah menyiapkan paper bag yang berisi oleh-oleh yang ia beli dari Jerman.
Gerald melajukan mobilnya menuju kediaman Celsi, beruntung Celsi masih berada di rumah, pagi itu belum berangkat ke kampus.
Celsi, sudah sembuh dari cederanya, meskipun sedikit meninggalkan bekas.
Gerald pun tiba di depan rumah, dia langsung masuk saat asisten rumah membuka pintu, rupanya Celsi,baru selesai bersiap untuk pergi ke kampus, saat ini dia kaget melihat Gerald berdiri di hadapan nya.
Deg.
Deg.
detak jantung keduanya terasa begitu cepat, Celsi langsung menghambur ke dalam pelukan Gerald.
begitu juga dengan Gerald, yang langsung mendarat kan kecupan pada puncak kepala Celsi, dan mereka pun bercumbu mesra di depan pintu kamar.
"Apa? kabar honey"ucap Gerald.
"Sudah jauh lebih baik"ucap Celsi.
"Maaf aku tidak bisa menghubungi mu, selama satu bulan ini, tapi aku selalu merindukan mu, sayang"ucap Gerald.
"Heummm, tidak masalah aku juga sibuk mengejar ketertinggalan ku, dan sekarang aku juga harus kuliah, yang tidak apa-apa kan aku tinggal"ucap Celsi.
"Aku antar, ke kampus ya nanti pulang nya aku jemput"ucap Gerald.
"Baiklah, jika tidak merepotkan, padahal aku bisa pergi bawa mobil ku"ucap Celsi.
"Sayang kamu masih tidak takut menyetir sendiri"ujar Gerald.
"Tidak , aku tidak boleh takut pada apapun karena kematian akan datang meskipun tidak lewat kecelakaan"ucap Celsi, sambil tersenyum.
"Kamu memang wanita tangguh honey, dan aku cinta"ucap Gerald sambil memberikan paper bag, pada Celsi.
"Apa ini "ucap Celsi buka saja nanti sekarang ayo kita pergi bukan nya sudah hampir terlambat"ucap Gerald yang langsung mengecup bibir Celsi.
"Tidak terlambat ,aku masuk agak siang, hanya saja ada yang harus aku temui di kampus"ucap Celsi.
"Siapa? heumm"ucap Gerald.
"Hanya teman"ucap Celsi.
"Pria atau wanita"ucap Gerald.
"Pria yang"ucap Celsi.
"Heummm"ucap Gerald tidak bicara apa-apa lagi.
mereka pun tiba di kampus, Gerald memarkirkan mobilnya sebentar, saat Celsi akan turun, dia lalu berkata"Pamitan nya mana"ucap Gerald.
"Aku kuliah dulu ya tuan Gerald Alexander Wijaya, hati-hati di jalan sayang jangan lupa makan siang"ucap Celsi, sambil mengecup pipi Gerald.
"Hanya itu yang"ujar Gerald.
Celsi yang hendak turun pun kembali berbalik dan mencium bibir Gerald dan Gerald langsung menahan tengkuk wanita itu, mereka pun lanjut bercumbu, untung mobil Gerald canggih, kaca mobilnya bisa dibuat gelap dan tidak terlihat dari luar.
hingga beberapa detik kemudian, akhirnya Gerald, menyudahi ciuman tersebut.
"Selamat belajar yang rajin ya sayang hari ini aku ada meeting mungkin jika tidak sempat jemput, aku akan menyuruh asisten ku untuk menjemput mu, nanti"ucap Gerald.
"Tidak usah, aku bisa pulang naik taksi ko"ucap nya .
"Tidak boleh lihat nanti saja"ucap Gerald.
Celsi pun keluar dari mobil setelah merapihkan penampilan nya, semua mata tertuju pada nya, karena mobil super mahal itu mendarat di parkiran kampus.
Gerald memang membawa mobil miliknya dari Jerman tidak hanya satu tapi tiga, sebagai seorang anak pemilik perusahaan mobil super mewah itu dia juga memiliki semua itu.
hingga Anggi menghampiri nya, dan langsung memeluk Celsi, dengan berjingkrak karena merasa wah saat ini, melihat Celsi, turun dari mobil tersebut.
"Lo hutang penjelasan Celsi, setelah selama ini dikabarkan sakit, dan tau-tau udah memiliki supir pribadi dengan mobil yang super mahal itu, bahkan di sini saja tidak ada yang memiliki mobil tersebut"ucap Anggi.
"Dia tunangan gue"ucap Celsi, tidak ingin ada rahasia.
"Wah-wah...ini gila hampir satu abad menghilang Lo,tau tau sudah mau menikah"ucap Anggi.
mereka terus mengobrol hingga di kantin, karena Celsi, akan menemui seseorang, dia dosen yang waktu itu, dia mengajak Celsi bertemu.
__ADS_1
Gerald sendiri yang merasa tidak tenang dia kembali ke kampus dan mencari keberadaan wanita nya itu, sesampainya di sana dia langsung mencari keseluruhan area sambil bertanya apa? ada yang melihat Celsi, dan seseorang menunjuk ke arah kantin saat Gerald, tiba bertepatan dengan pria yang saat itu sedang mengobrol dengan nya sambil sarapan mengelap sudut bibir Celsi, tanpa seijin Celsi.