
Sementara itu, Brian, yang baru kembali dari perjalanan bisnis, dia membawa, sebuah kado berukuran besar, dan dibawa ke tempat praktek nya Adeline,yaitu klinik ibu dan anak milik Ananda.
Sementara itudi dalam ruangan, Adeline, yang baru saja selesai, memandikan bayi yang baru lahir, setelah Ananda, membantunya untuk melakukan persalinan.
"Adeline, sepertinya ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu"ucap Ananda, yang baru saja melakukan tindakan pada pasien melahirkan tersebut, dan Adeline, hanya menggeleng, tak habis pikir, bagaimana bisa, ada pria yang terus menerus, mengejar cinta seorang wanita bersuami, bahkan sudah punya anak yang bisa dibilang kurang sempurna itu seperti putri nya.
"Nyonya, kalau begitu saya pamit dulu "ucap Adeline, yang langsung keluar, menemui, pria tampan itu.
"Sudah, selesai bertugas"ucap Brian.
"Sudah, sebentar lagi juga pulang"ujar Adeline.
"Ayo, saya antar pulang"ucap Brian.
"Tidak, itu tidak lah mungkin, saya tidak ingin menimbulkan fitnah"ujar Adeline.
"Siapa? yang berani memfitnah dirimu, beritahu saya"ucap Brian.
"Tidak ada tuan, tapi jika kamu, mengantarkan aku, tuan, fitnah itu akan terjadi"ucap Adeline.
"Baiklah, aku tidak akan, mengantarkan mu pulang, tapi... tolong temani aku makan, sebentar saja"ujar Brian.
"Maafkan saya... tuan,saya sudah ditunggu oleh putri saya, di sana"ujar Adeline.
"Mulai, besok, akan ada baby sister yang akan mengurus, Amara, di tempat ini jangan biarkan dia menderita, hanya karena ibu dan bapak nya, bekerja, dia juga butuh kasih sayang mu"ucap Brian.
"Saya, tau tuan"ucap Adeline, yang tiba-tiba menunduk dan terlihat menitikkan air mata.
sepersekian detik, Adeline, memalingkan wajahnya, ibu mana yang ingin jauh dari putri kecilnya, apalagi, putri nya itu memiliki kekurangan.
"Adeline, maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu, jika kamu berkenan, aku akan menjadikan dia putri angkat ku"ucap Brian.
"Aku tidak akan menolak, siapapun yang menyukai putri ku, tapi, aku tidak akan membiarkan dia, dalam penjagaan orang asing, dia lebih aman, saat dia kembali"ucap Adeline.
"Masuk lah, barang sebentar saja, saya juga tidak akan meminta mu yang aneh-aneh"ucap Brian.
"Baiklah tuan"ucap Adeline, yang kini masuk dalam.
Setelah masuk, Brian, pun memberikan sebuah kotak kado besar dari Brian.
"Jika, aku tidak bisa menemui Amara, kamu tolong berikan ini padanya"ucap Brian.
"Tuan, apa? ini" tanya Adeline.
"Itu, oleh-oleh untuk Amara, dari ku"ucap Brian.
"Tuan, saya tidak boleh menerima ini"Ucap Adeline.
"Adeline , aku sayang sama Amara, tolong berikan ini padanya, aku mohon"ucap Brian.
"Baiklah tuan, terimakasih atas hadiah nya"ucap nya.
"Sama-sama"ucap Brian sambil tersenyum manis.
Saat, Adeline, akan turun tiba-tiba suara perut keroncongan Brian terdengar nyaring, Adeline, jadi tidak tega saat itu, akhirnya ia pun mengalah sekedar untuk menemani Brian, yang sudah baik hati, memberikan perhatian lebih pada putrinya itu.
"Saya, akan temani anda makan"ucap Adeline.
Brian, pun menyungging kan senyuman di bibir nya.
Pria itu kembali melajukan mobilnya menuju sebuah restaurant berbimtang, yang tidak jauh dari kawasan itu.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Brian, membukakan pintu mobil, untuk Adeline, lalu mempersilahkan Adeline, untuk berjalan lebih dulu, meskipun ragu, wanita itu pun melangkahkan kakinya, disambut pelayan yang menunggu nya di depan pintu.
Adeline, pun tersenyum ramah, masih dengan menggunakan seragam dinas nya, Adeline pun masuk, tanpa melirik ke kanan dan ke kiri, hingga saat dia mendengar suara seseorang yang sangat familiar di telinga nya, barulah ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah, sumber suara.
"Yang, tunggu dua bulan lagi, kita akan meresmikan hubungan kita"ucap Deri yang tak lain adalah suaminya, yang kini tengah menggenggam tangan wanita itu, sambil mengecup nya beberapa kali.
Air mata Adeline tidak terbendung lagi, suami yang sangat ia cintai, yang ia sanjung, meskipun tidak pernah memperdulikan dirinya dan sang putri, bahkan tidak pernah memberikan uang sebagai nafkah, selama ini dia masih tetap bertahan, di tengah keadaan tersulit sekalipun, saat putri nya, mengalami kecelakaan, dia masih mempertahankan pernikahan mereka, bahkan berulang kali dia ketahuan jalan bareng wanita lain, tapi saat ini, wanita itu bahkan mendengar kan rencana busuk, secara langsung.
"Kenapa? menunggu dua, bulan lagi sih mas, perut aku sudah lebih besar"ucap nya.
"Aku, harus menceraikan istri ku dan mengusir nya dari rumah aku juga tidak ingin putri ku, yang tidak berguna itu mengganggu kenyamanan kita, nanti setelah mereka pergi, kita akan tinggal di rumah ku"ujar Deri.
"Owh, jadi begini... sifat mu mas! tidak usah menunggu dua bulan lagi, sekarang pun aku akan pergi dari neraka yang kau ciptakan,dan untuk wanita penggoda seperti mu, berdoalah agar azab itu tidak datang padamu, dan aku ucapkan selamat, kepada pria yang sangat bertanggung jawab, sebagai suami, tidak pernah memberikan kami nafkah, dan sebagai seorang ayah, kau bahkan tidak pernah memberikan perhatian pada putrimu, yang bahkan kamu sebut tidak berguna itu, andaikan kau tau mas, betapa....aku mencintaimu, bahkan selama Pernikahan kita tidak pernah sedikitpun aku menuntut hak ku, padamu' hingga berulang kali kau sakiti aku, aku pun tidak perduli! aku tidak perduli dengan semua itu karena cinta ini terlalu besar untuk mu, aku bahkan tidak perduli jika harus bekerja keras untuk kita, tapi saat ini, aku tidak akan pernah peduli lagi,kau bajingan! kau pelakor, semoga tuhan membalas rasa sakit yang telah kalian berikan, mulai saat ini aku sendiri yang akan menggugat cerai dirimu, laki-laki tak berguna...kau dengar itu! apa? kau dengar itu!"teriak Adeline, di balik rangkulan Brian, karena dia mengamuk sambil menangis histeris melempar yang ada di hadapannya pada mereka berdua yang juga hendak menyakiti Adeline, tapi tiba-tiba ada orang-orang yang menggunakan jas hitam, yang memegangi mereka berdua.
"Anjing....kau, tai... kalian berdua akan mendapatkan ganjaran, atas perbuatan kalian"ucap Adeline.
"Dasar perempuan tidak berguna, bahkan siapapun tidak akan sudi menjadikan mu, istri selain tidak pandai memuaskan suami, kau juga, benalu, kau benalu!"ucap Deri.
"Stop, jangan pernah bicara buruk, tentang istri yang sudah menemani mu, selama bertahun-tahun, dia ibu dari anak mu, jika kau lupa, bahkan dia, berjuang untuk menghidupi rumah tangga kalian, dia berjuang untuk pengobatan anak kalian, dan yang harus di sebut benalu bukan Adeline, tapi kau...kau pria tidak bertanggung jawab, kau bekerja banting tulang tapi hanya menghidupi dirimu sendiri"ujar seseorang dari arah belakang Deri.
"Kau membela nya, karena kau, juga mencintai dia,iya kan, karena kau menaruh hati pada adik ipar mu ini"ucap Deri, pada sang kakak, yang ternyata baru saja tiba di sana.
Pertengkaran mereka, disaksikan oleh puluhan orang yang ada di sana, bahkan tidak sedikit yang mengabadikan momen tersebut, hingga manager, restaurant tersebut, membubarkan mereka, saat Brian, memberikan isyarat.
...🌹💖💖💖🌹...
Brian, membawa Adeline kesebuah ruangan khusus, yang ada di restaurant tersebut, restaurant yang ternyata milik Brian, pria itu membawa Adeline, duduk di sofa dia mendekapnya erat, tangis pilu, Adeline, membuat hati nya, terasa nyeri, dia mungkin sangat berharap pada Adeline, tapi dia benar-benar tidak tega, saat melihat wanita yang dicintainya tersakiti.
"Maafkan aku tuan, gara-gara aku, tuan tidak jadi makan, ujar Adeline, yang kini melepaskan pelukan tersebut, dia terlihat tidak enak dengan keadaan nya saat ini.
"Tidak apa?, yang penting kamu baik-baik saja, dan menangis lah jika masih ingin menangis, tidak usah ragu, atau pun malu, aku, siap untuk menjadi sandaran bagimu, kapan pun kamu bisa datang padaku untuk, berkeluh kesah tentang apapun itu, tidak usah khawatir putri mu, sudah dijemput oleh orang ku, sebentar lagi dia akan datang"ucap Brian, yang melihat Adeline, menghawatirkan sesuatu.
Sementara Deri, sudah diamankan polisi, atas perintah Brian, pria itu ingin memberikan pelajaran kepada sepasang kekasih yang berselingkuh tersebut.
Dan tampak lah, Gadis kecil yang kini terlihat sangat berhati-hati dalam melangkah kan kakinya, karena kondisi penglihatan nya, masih kurang baik.
Brian langsung bergegas menghampiri Amara.
Amara sayang kamu sudah datang"ucap Brian, sambil menggendong Amara.
"Daddy, tampan ada di sini"ucap Amara, yang sebenarnya sudah lebih dulu mengenal Amara, saat gadis kecil itu berada di sekolah yang, didirikan oleh nya, sekolah khusus, untuk anak-anak berkebutuhan khusus, Brian, adalah pengusaha sukses yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar, termasuk orang-orang yang kurang beruntung.
"Iya sayang, Daddy tampan sedang menjaga mommy mu"ucap Brian.
"Mana, disini"ucap nya yang mencari ke arah lain, karena ternyata, wanita itu tidak ada di tempat.
"Mungkin sedang berada di toilet,sayang"ucap Brian, pria itupun memangku Amara, lalu meminta anak buah nya untuk mengambil sesuatu di mobilnya, dan mereka pun pergi.
"Amara, sudah datang sayang sini sama mama"ucap Adeline.
"Mama"ucap gadis kecil itu, yang langsung menghambur memeluk Adeline.
"Mama, rindu putri cantik mama yang satu ini"ucap Adeline.
"Putri, mama kan cuma aku"ucap Amara.
"iya sayang ku, hanya kamu"jawab Adeline.
"Ma, tadi papa, datang ke sekolah bersama Tante jutek, papa bilang Amara, harus terus bersama mama, karena Amara, akan punya adik"ujar Amara.
Deg...
__ADS_1
Sakit rasanya hati Adeline, tidak masalah jika Deri, ingin menjauhi Amara, tapi tidak seharusnya dia bicara seperti itu, pada Amara yang jelas-jelas masih sangat kecil untuk menerima itu.
"Mam, kok diam, apa? mama mau punya baby lagi"tanya Amara.
"Iya, sayang mommy kamu akan punya Baby tapi nanti, dari Daddy tampan"ujar Brian.
"Tuan" ucap Adeline, pelan.
"Kenapa? apa... salah nya, jika kamu juga kembali menata hidup mu, bersama ku, agar rasa sakit itu hilang" lirih Brian.
"Bukan waktu yang tepat, untuk bicara seperti itu"ujar Adeline.
"Jadi kapan? ada waktu untuk itu" ucap Brian.
Adeline hanya terdiam hingga seseorang mengetuk pintu.
"Masuk"ucap Brian.
Pria, tiga puluh tujuh tahun itu, memesan makanan lewat anak buah nya, tadi sebelum meminta dia mengambil oleh-oleh yang besar itu, untuk Amara.
"Amara, tadi Daddy, bawakan oleh-oleh untuk Amara, karena Daddy, baru pulang dari perjalanan bisnis"ucap Brian.
"Wah, Tedy bear, aku sangat suka terimakasih Daddy, wah bonekanya besar sekali"ucap gadis kecil itu, sambil terus mengelilingi, boneka itu dengan langkah yang ekstra hati-hati.
"Syukurlah jika kamu suka sayang, Daddy akan belikan boneka yang lebih banyak, jika kamu mau"ucap Brian.
"Mau-mau"ujarnya sambil terlihat sangat bahagia, meskipun penglihatan nya, sangat terbatas.
"Sekarang, kita makan dulu ya sayang, Daddy sudah siapkan makanan kesukaan kamu, setelah itu, kita akan mencari rumah baru untuk Amara, dan mommy"ucap Brian.
"Rumah....baru..."ucap gadis itu bingung.
"Tuan"tegur Adeline.
"Kita harus buat pengertian pada putri kecil kita"ucap Brian.
"Heumm"Adeline berdehem, saat mendengar kata, putri kita.
"Sudah lah ayo kita makan, aku sudah sangat laper"ujar Brian.
Mereka pun makan bersama, hingga selesai, tidak ada obrolan , saat mereka makan, suasana terasa sangat hening karena, Amara bilang tidak boleh bicara saat makan karena gurunya bilang seperti itu, dan Adeline, pun harus mengikuti peraturan itu, sebagai contoh.
Hingga mereka, selesai makan, Brian pun mengantar Adeline, pulang, tapi sesampainya di sana Adeline, begitu terkejut, ternyata semua barang-barang milik nya dan Amara sudah berada di luar pagar rumah, sungguh tega, pria itu, bagaimana jika ada orang jahat yang menjarah barang-barang tersebut, karena, Adeline pun memiliki surat-surat penting, dan buku rekening juga ijazah, tapi sepertinya barang itu baru dikeluarkan, dan terlihat, pembantu rumah itu masih membawakan barang-barang nya.
Brian langsung bergegas keluar dan meminta Amara untuk tetap berada di dalam mobil, sementara Adeline dan dirinya, mengambil barang-barang milik Adeline.
"Tolong kirimkan, mobil untuk membawa barang-barang pindahan.
"Nyonya, anda sudah datang, maafkan saya, saya diperintahkan oleh tuan, untuk mengosongkan rumah ini, sebelum dia datang nanti malam"ucap BI Ijah.
"Tidak apa-apa, bibi hanya menjalankan tugas, apa? semua, sudah selesai"ucap Adeline, ramah.
"Belum nyonya, barang-barang pribadi nyonya, yang paling penting masih ada di dalam"ucap nya.
"Baiklah saya ambil dulu"ucap Adeline, yang kini berjalan menuju kedalam rumah tersebut.
Brian, hanya terdiam di tempat, melihat orang-orang yang sedang mengeluarkan semua barang seisi rumah tersebut, tapi tidak sedikit pun Adeline marah pada orang-orang itu.
"Ananda, benar kamu terlalu baik, Adeline, aku tidak akan pernah membiarkan mu disakiti lagi"ucap Brian lirih.
Hanya lima belas menit, Adeline, sudah kembali dengan membawa koper besar, berisi, barang-barang pribadi nya, yang sangat berharga baginya, sementara dia, kaget, karena sudah ada dua mobil besar untuk mengangkut barang nya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, saya belum bilang akan pergi kemana" ucap Adeline.
"Rumah ku, Adeline"