
Sementara itu di kediaman Mario, Desy kini tengah mengalami kontraksi hebat, beruntung, Mario, tidak jadi pergi ke luar negeri, untuk perjalanan bisnis nya, saat ini bahkan, pria itu tengah dilanda kepanikan.
Beruntung, ada Mila dan Alexander, yang tengah berkunjung untuk menemui bintang dan langit, cucunya.
Mario, langsung, meminta bantuan Ananda, untuk menemani dan mengurus proses kelahiran nya, di rumah sakit milik Agam, yang dikelola oleh Boy.
Sesampainya di rumah sakit, Mario, bersama dengan Ananda, tengah berada di dalam ruangan bersalin, Desy, tengah meringis kesakitan, kontraksi hebat yang dia alami saat ini, sama persis seperti yang bintang dan langit saat pertama kali lahir.
Desy, bahkan memeluk Mario, dia menangis sesenggukan, dia teringat ibunya, yang sudah tiada, dia juga merasa terharu, karena baru kali ini, ada sosok suami menemani dirinya saat akan melahirkan bayi kembar, yang kini masih baru pembukaan lima.
"Kak, maafkan aku, jika saat melahirkan nanti, aku tidak kuat bertahan, maafkan aku jika selama ini, aku, hanya menjadi beban bagi mu"ucap nya, lirih.
Dengan Isak tangis lirih, Desy, meminta maaf pada Mario.
"Sayang, jangan bicara sembarangan, kamu bisa sayang kamu kuat, aku tidak akan pernah memaafkan mu, jika kamu pergi, aku mohon bertahan lah untuk keempat anak kita dapat juga diriku, aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kamu menyerah sayang"ucap Marco, yang kini terlihat sangat tegang, apalagi saat mendengar keluhan istrinya.
"Sayang, aku, sudah tidak kuat"ucap Desy.
"Des, nyebut.... berdoalah agar persalinan mu diberikan kelancaran, karena keduanya, menginginkan lahiran normal, begini saja, saat kini, kamu sebaiknya tidur ya, nanti tarik nafas dan buah nafas, saat kontraksi kembali datang"ucap Ananda.
"Iya, kak...aku juga sedang berdoa"ucap Desy lirih.
Desy pun, sudah mulai tenang, setelah Mario memeluk nya, sambil mengelus perut dan pinggang belakang istrinya.
"Sayang, kalian yang tenang ya, jika kalian ingin segera keluar, ayo berjuang lah Daddy yakin kalian mampu, jangan terlalu lama, kasihan mommy"ucap Mario.
Seakan mereka, mengerti apa? yang Mario katakan, tiba-tiba Daisy, mengalami kontraksi cukup hebat, dan Ananda pun langsung memeriksa, dan itu adalah sebuah keajaiban, ternyata pembukaan langsung lengkap.
Tiba-tiba saja Desy, mengejan kuat, hingga Ananda, buru-buru menggunakan sarung tangan karet yang biasa digunakan bahkan didampingi oleh dokter, dan juga, Adeline asisten pribadi nya.
"Sekarang sudah waktunya Des, kamu ikuti arahan kami ya, Mario, biasa membantu di atas jika, istri mu tengah mengejan, genggam tangan nya"ujar Ananda.
"Baiklah"ucap Mario.
Desy mengejan, lagi dan lagi hingga akhirnya tanpa aba-aba, wanita itu, melahirkan bayi laki-laki pertama, yang langsung dipasang gelang nama.
"Marvin, Alexander"ujar Mario.
"Ini yang kedua"ujar Ananda.
"Marco Alexander"jawab Mario.
"Alhamdulillah semua sudah lahir, bagaimana Desy, do'a mu dikabulkan oleh yang maha kuasa, lihat kedua bayi mu sehat, dan tampan"ucap Ananda.
"Kakak, benar"jawab Ananda.
Semua orang tengah berbahagia saat ini, termasuk Mario, yang akhirnya mematahkan rumor, bahwa dirinya, mandul.
Terbukti, kedua putranya begitu mirip dirinya.
Jangan ditanya lagi, soal Alexander dan Mila, sepasang paruh baya tersebut, saat ini tengah menggendong cucu mereka berdua, bergantian, Desy, tersenyum manis tangan nya digenggam oleh Mario, dan Maikel pun, tengah berada di dalam ruangan VVIP itu.
"Kalian, sudah memiliki kedua jagoan, bagaimana jika Bintang dan Langit tinggal bersama ku, untuk selamanya, aku janji mereka akan tetap menjadi anak kalian tapi, setidaknya berikan aku kesempatan untuk merawat mereka"ucap Maikel.
"Tidak, aku tidak ingin itu, lebih baik tetap seperti ini, kau yang datang untuk bertemu mereka berdua jika kau benar-benar menyayangi mereka,maka jangan pisahkan kami"ucap Desy.
"Maikel, jangan bahas itu sekarang, kamu lihat istri ku, baru saja melahirkan."ujar Mario.
"Lain kali, kita bisa cari solusi"ujar Mila.
"Sudah Daddy, putuskan setelah anak kalian berusia lima tahun nanti, maka, mereka akan ikut bersama kami, tinggal di rumah peternakan"ucap Alexander.
"Tapi Daddy"ujar Mario.
"Tidak ada tapi-tapian, Maikel,kau fokus saja pada rumah tangga mu, jika bisa secepatnya kau memiliki anak lagi"ucap Mila.
"Baiklah mom"jawab Maikel.
Disaat mereka tengah bersuka cita, di rumah Adeline, yang baru dia pun tengah terharu melihat, Brian, yang tengah menggendong putri nya, dengan sayang saat Amara, ingin tidur dalam gendongan nya.
Wanita yang saat ini, baru'saja pulang bekerja itu, mematung di tempatnya sambil menitikkan air mata, seharusnya yang melakukan hal itu adalah Deri, sebagai ayahnya, tapi pria itu bahkan tidak pernah peduli dengan nasib putrinya itu.
"Terimakasih atas semua yang telah tuan berikan kepada kami, aku mungkin tidak akan pernah bisa membalas nya, tapi biarlah tuhan yang akan membalas semua itu."ujar Adeline,lirih.
__ADS_1
"Aku melakukan itu, karena, aku sangat mencintaimu, kau adalah wanita kedua yang bertahta di sini, tapi aku juga tulus mencintai dan menyayangi putri mu, Amara, bulan depan aku akan membawa dia berobat ke Amerika"ujar pria itu.
"Tapi, tuan....saya belum memiliki uang sebanyak itu, saat ini, pengobatan disana sangatlah mahal bahkan jika aku, meminta bantuan dari kedua orang tua ku, pun tidak akan mampu membiayai pengobatan tersebut"ujar Adeline.
"Kau tidak perlu pikiran itu, saat ini yang terpenting adalah bagaimana caranya agar Amara, kembali bisa melihat secara normal kembali"ucap Brian.
"Terimakasih tuan, atas semua niat baik tuan, katakan dengan apa? saya harus membayar anda, meskipun itu harus dengan mengabdi seumur hidup pada, anda, sekalipun saya, akan melakukan hal itu"ujar Adeline.
"Aku, tidak ingin kamu, menganggap hal ini sebagai balasbudi, tapi aku ingin kau menikah dengan ku, meskipun kau tidak pernah mencintai ku, tapi yakinlah suatu saat nanti cinta itu akan datang, seiring berjalannya waktu, kita akan bahagia bersama-sama"ujar Brian.
"Baiklah, demi kebahagiaan putri ku, apapun akan aku lakukan tuan, aku bersedia kapanpun kamu berminat untuk menikah dengan ku"ujar Adeline.
"Benarkah"ujar Brian, yang kini terlihat sangat berbahagia.
"Tentu saja"ucap Adeline, meyakinkan.
"Terimakasih"ucap Brian, setelah membaringkan Amara, di atas ranjang milik Adeline.
"Sama-sama"jawab Adeline.
"Bagaimana jika, kita menikah secepatnya, dan keberangkatan kita pun, adalah waktu untuk kita berbulan madu di sana"ucap Brian.
"Terserah, tuan saja"ucap Adeline.
"Segeralah bersih-bersih aku tunggu di bawah, kita akan membahas ini, sambil makan malam bersama"ucap Brian.
"Owh baik'lah"
...🌹💖💖💖🌹...
Disaat cinta tengah bersemi di hati Brian, di tempat lain, Bianca, sang adik tengah meregang nyawa, karena perbuatan pelakor yang ingin menguasai suaminya.
Bianca, didorong, dari tangga, oleh wanita yang gencar mendekati suaminya,ayah dari dua orang anak yang terlihat sangat tampan dan gagah itu, meskipun pria sederhana,tapi Bianca, sering sekali harus menjaga suaminya dari wanita-wanita penggoda yang selalu datang secara terang-terangan, padahal suaminya tidak terlalu mapan seperti dirinya yang sudah kaya dari lahir.
Brian, yang mendengar hal itu langsung pergi menuju rumah sakit, dia benar-benar tidak ada yang menduga nya.
Adeline, mendampingi Brian yang terlihat khawatir, wanita itu pun duduk di kursi tunggu sampai operasi itu berlangsung.
Sementara itu, suami Bianca, terus menangis, dia sama sekali tidak mengira bahwa, wanita yang mengaku ingin menjadi teman untuk mereka berdua, dengan tega nya mendorong Bianca, dari lantai dua.
"Dia, diamankan polisi"jawab Adryan.
"Aku akan membunuhnya, sekarang juga"ujar Brian yang terlihat begitu emosi.
"Tuan jangan"ucap Adeline yang menggenggam tangan Brian.
"Brian, menoleh tapi dia sudah berniat membunuh adikku Adeline."ucap Brian.
"Tidak tuan, biarkan polisi dan tuhan yang mengadili, tuan fokus saja, pada adik tuan,agar dia cepat sembuh"ucap Adeline.
Wanita, yang berprofesi, sebagai perawat dan, sesekali menjadi bidan untuk membantu Ananda, itu pun mencoba, membuat Brian tenang.
Adeline membawa Brian duduk, di kursi tunggu.
Sampai Bianca, keluar dari dalam ruang operasi , suaminya, sekaligus Brian dan Adeline, berjalan mengikuti tim dokter dan perawat membawa Bianca menuju ruangan rawat intensif.
Sesampainya di sana, keluarga belum diperbolehkan untuk menjenguk, Bianca.
"Tuan, maafkan saya, tidak bisa menemani anda terlalu lama disini , besok saya kesini lagi"ucap Adeline.
"Biar aku antar kamu pulang"ucap Brian.
"Tidak tuan, biar saya naik taksi saja"tolak Adeline.
"Tidak, biar aku yang antar, tidak baik, jika kamu pulang sendiri"ucap Brian tetap kekeuh.
"Aku mengantar dia dulu, sekaligus, memberitahu mommy dan Daddy, jika ada apa-apa? segera hubungi aku"ujar Brian pada suami dari adiknya itu.
Pria itu pun mengangguk, sambil berpesan pada Brian, agar membawa kedua anak mereka kerumah Arina, ibu mertuanya, untuk sementara waktu, selama mereka ada di rumah sakit.
"Pria itu terlihat sangat terpukul dengan kejadian itu, wanita yang sangat mencintai nya dan sudah mengubah kehidupannya penuh kebahagiaan, kini, terbaring tak berdaya di ruang perawatan intensif.
"Bianca, sayang maafkan aku, andaikan saja tadi aku tidak terlambat datang mungkin saat ini kamu, masih baik-baik saja"ujar Adryan suaminya.
__ADS_1
Sementara itu, di perjalanan pulang, Adeline, sesekali menatap ke arah pria yang kini terlihat, tidak baik-baik saja, bagaimana akan baik-baik saja jika melihat orang yang kita sayangi terluka parah dan hampir saja meregang nyawa.
Kabar itu, sampai ke seluruh keluarga besar, hingga malam larut, seperti saat ini pun mereka berbondong-bondong datang ke rumah sakit tersebut.
Masih di perjalanan, Brian, tiba-tiba menghentikan mobilnya, pria itu melihat wanita yang kini tengah bersamanya, sedari tadi menatap kearah nya, hingga mengganggu konsentrasinya saat tengah mengemudi.
"Ada apa?..heumm"Tanya Brian.
"Tidak apa-apa, tuan aku hanya sedang melihat, jalanan, di arah kanan"ucap Adeline.
"Adeline, sayang.... jika ada pertanyaan silahkan katakan lah, jangan hanya melihat orang nya"ujar Brian.
"Tuan, aku tidak sedang ingin bertanya...ayo jalan lagi"ucap Adeline.
"Tidak sebelum kamu bertanya, dan mengeluarkan kegelisahan mu"ujar Brian.
"Baiklah, apa? keluarga tuan, akan setuju dengan hubungan diantara kita nantinya"tanya Adeline.
"Aku tau, itu sudah akan jadi pertanyaan utama, dan kamu tidak usah khawatir, mereka akan setuju dengan hubungan kita, karena setelah istri ku meninggal, mommy dan Daddy, selalu meminta ku, untuk menikah lagi, jadi aku rasa tidak ada yang harus dikhawatirkan"jawab Brian.
"Baiklah, lalu apa? kamu masih marah"tanya Adeline.
"Tidak sayang aku tak pernah marah padamu kecuali jika kamu memilih laki-laki lain"ucap Brian.
"Aku tidak bertanya tentang itu, aku hanya bertanya apa? kamu masih ingin menghabisi seseorang" ujar Adeline.
"Sejujurnya ingin, tapi istri ku, melarang ku"ujar Brian.
"Owh rupanya istrinya masih ada"ucap Adeline, yang kini hendak melepaskan seat belt.
"Adeline, kamu mau kemana? sayang"ujar Brian.
"Maafkan aku, aku tidak ingin berhubungan dengan pria yang masih memiliki istri, aku bisa merasakan bagaimana rasanya dikhianati berulang kali" ujar Adeline.
"Memang nya, yang berkhianat siapa? sayang kamu jangan salah sangka dulu"ujar Brian.
Pria itu masih menahan tangan Adeline.
"Aku janji sampai kapan pun, tidak akan pernah mengkhianati cinta mu"ucap Brian.
"Tolong jalan lagi, aku harus segera kembali, sebelum Amara terbangun"ucap Adeline.
"Tentu saja Sayang"ucap Brian.
Ada perasaan yang hangat di hati Adeline saat ini.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Di, rumah Dony, saat ini Dony, yang baru pulang dari bengkel, di jam sebelas malam itu, dia tidak tega membangunkan, istrinya, beruntung dia membawa kunci serep, dan saat dia masuk kedalam rumah ternyata, benar bahwa wanita hamil itu, kali ini tengah terlelap.
Agatha, masih tetap terlelap hingga saat Dony, selesai mandi.
Setelah itu Dony, pun naik ke atas ranjang dimana istrinya tengah terlelap saat ini.
"Sayang, maafkan aku, tadi banyak pelanggan yang datang, jadi aku pulang terlambat, apa? kamu sudah makan"ujarnya lirih.
Tapi tidak ada jawaban dari Agatha, karena memang sudah terlelap tidur.
Dony, sebenarnya tidak tega, meninggalkan Agatha, sendirian di rumah, jika saat di Jepang dulu, dia sibuk di kantor, dan sorenya pulang pun, ada pelayan yang banyak di Mension tersebut.
Dony pun mengecup puncak kepala istrinya yang kini tengah terlelap.
Hingga keesokan paginya, Agatha, terbangun lebih dulu, dia pun tersenyum karena melihat wajah tampan suaminya yang sangat ia cintai, yang saat ini tengah memeluk erat dirinya, dan juga putra semata wayangnya, yang kini masih berada di dalam kandungan nya.
Agatha, merasa jika dirinya, adalah wanita paling beruntung di dunia.
"Mas aku bangun dulu, mau mandi gerah, dan harus menyiapkan sarapan pagi untuk kita"ucap Agatha
"Tidak usah, sayang nanti saja"ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Mas, aku keringetan loh"ucap Agatha.
"Kata siapa? sayang kamu itu wangi"ucap Dony, yang menyusupkan wajah nya di ceruk leher Agatha, yang harum dan sangat mulus.
__ADS_1
Sampai pukul sepuluh pagi, mereka belum bangun tidur.