
Desy pun kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai teknisi pesawat terbang saat ini dia sudah sangat rindu dengan dua krucil yang sangat menggemaskan itu.
Rasa sakit saat menerima benih, dan sakit karena kehadiran mereka di dalam rahim menuai banyak cacian dan hinaan hingga dia harus terusir dari kampung halaman nya bersama ibu dan kakak nya, karena telah dianggap menodai kesucian kampung halaman nya tersebut.
Hingga Desy, memutuskan untuk pergi ke Surabaya dengan uang hasil penjualan rumah dan kebun miliki keluarga nya, beruntung RT di sana masih memberikan toleransi untuk menjual semua itu terlebih dahulu, mungkin karena jasa sang ayah yang suka menolong orang di kampung tersebut, bisa dibilang ayah Desy, adalah tetua adat di kampung tersebut dia miliki kekuatan supranatural yang dia gunakan untuk menolong orang, yang mengalami gangguan mahluk halus, ataupun sihir.
Setelah selesai melakukan pekerjaan nya, Desy kini sudah bersiap bahkan sudah mandi wanita itu membawa koper kecil dan tas punggung kecil, dia berada di sebuah outlet untuk membeli beberapa pakaian dan mainan untuk putra dan putri nya, meskipun mereka masih terlalu kecil tapi Desy, selalu antusias untuk itu.
Setelah selesai berbelanja, dia pun memasukkan semua itu kedalam koper yang ia bawa tadi, wanita itu pun bersiap untuk menunggu penerbangan malam ini ke Surabaya.
Dia duduk di ruang tunggu penumpang, di kursi pojok, sambil menikmati satu cup kopi moka kesuksesan nya.
Desy, tetap fokus pada handphone yang memperlihatkan bahwa putra-putri nya baru selesai mandi tadi sore kakak nya yang mengirimkan itu.
"Sayang ibu kalian berdua harus sehat selalu"ujar Desy, lirih.
Desy, membiasakan diri nya dipanggil ibu, seperti dirinya memanggil ibunya sendiri.
Desy pun langsung bergegas saat panggilan yang ditujukan untuk penumpang pesawat dengan tujuan Surabaya itu bergema diruangan tersebut akhirnya ibu muda itu pun pergi meninggalkan kota Jakarta, dengan senyum ceria karena ada kedua anak nya yang akan menyambut nya dan menjadi obat lelah baginya.
sesampainya di bandara kota Surabaya, akhirnya Desy langsung naik taksi untuk menuju rumah sederhana nya itu.
Sekarang ekonomi keluarga nya, tidak terlalu sulit setelah Desy bekerja, dan kakak nya hingga saat ini bekerja di tempat yang sama bersama dengan Desy, dia memutuskan untuk menyendiri dan membantu adiknya untuk membesarkan dua krucil yang sangat menggemaskan itu.
Desy pun tiba di depan gang sempit yang terlihat cahaya remang-remang dari perumahan warga yang saling berhadapan itu.
Sesampainya di depan rumah dia langsung mengucap salam, pada penghuni rumah, dan tidak berapa lama seseorang membuka pintu, tampak seorang pria tampan tegap berdiri sambil tersenyum menyambut sang adik yang baru pulang bekerja dari luar kota.
"Kamu sudah pulang De, kenapa? pulang larut malam seperti ini, besok pagi juga ada pesawat terbang lagi"ujar sang kakak yang khawatir.
"Tapi aku sudah kangen kalian"ujar Desy sambil mencium punggung tangan kakak laki-laki nya itu.
"Kemarilah biar kakak yang bawakan"ucap Dony .
"Terimakasih kak"ucap Desy yang akhirnya melangkah pergi menuju kamar milik ibunya.
Saat itu dia tersenyum manis pada kedua putranya.
Dia terlebih dahulu mencium kening ibunya dan mencium punggung tangan nya wanita yang kini terlihat terlelap di samping kedua putranya itu.
Desy langsung berbaring di samping kedua putranya dan mereka tidur di kasur yang sama seperti biasanya, karena itu hanya kasur tanpa ranjang untuk menjaga bila suatu hari nanti kedua anak nya telah bisa bergerak aktif.
Hingga pagi tiba mereka pun terbangun dengan suara tangis keduanya, semalam Desy hanya bangun untuk membuat susu formula, karena sejak mereka lahir, mereka hanya menyusu beberapa bulan karena Desy, selalu bekerja di luar kota, jika perusahaan tersebut meminta bantuan nya.
Desy adalah montir cantik tapi bukan di bengkel mobil atau pun mobil tapi di bekel mesin pesawat.
Wanita berotak cerdas itu, mampu menyetarakan dirinya dengan para lelaki hebat itu.
"Sayang nya ibu kalian sudah bangun ya, tunggu ibu cuci muka dulu ya, setelah itu kita bersih-bersih oke"ucap Desy.
Wanita paruh baya itu pun datang ke dalam kamar tersebut.
"Biar ibu saja yang memandikan mereka Desy bersih-bersih dulu, setelah itu pergi sarapan dengan dengan kakak mu"ucap sang ibu.
"Tapi Desy rindu mereka Bu, sudah hampir satu Minggu lebih Desy tidak pulang"ucap Desy.
"Iya tapi sebaiknya sarapan dulu,ibu sudah memasak makanan kesukaan mu"ucap sang ibu.
"Sayang ibu pergi dulu ya"ucap Desy yang sudah mencuci muka.
Wanita itu pun pergi meninggalkan ketiganya menuju meja makan, disana ada Dony yang tengah duduk menikmati kopi sambil menunggu adiknya untuk sarapan pagi.
"Kopi nya masih utuh kak"ucap Desy.
"Iya De, nunggu makan dulu, ibu sudah buat ikan rendang"ucap Dony.
"Wah ibu memang hebat, sepagi ini sudah masak rendang" ucap wanita itu sambil mengambil sendok dan piring dia mengambilkan makanan untuk sang kakak.
"Jangan terlalu banyak de"ucap Dony.
__ADS_1
"Baiklah kak" ucap Desy sambil menyodorkan piring yang sudah berisi makanan.
"Apa? pekerjaan mu tidak menyulitkan mu"ucap Dony.
"Tidak terlalu kak, sulit itu sudah pasti tapi aku bisa mengatasi nya dengan cepat saat mengingat senyum mereka"ujar Desy.
"Mereka adalah dunia yang tuhan ciptakan untuk mu, jadi kamu harus benar-benar menjaga mereka"ucap Dony.
βmerka berdua pun menghabiskan waktu sarapan mereka.
Sementara itu di Jakarta, Marco kini sudah berada di kantor dia tengah sibuk dengan pekerjaan nya, pria itu sudah hampir menyelesaikan semua nya, tiba-tiba suara pintu terbuka, Maikel langsung duduk di hadapan nya.
"Ada apa? kau datang kemari"ucap Marco.
"Apa? yang kamu katakan pada mommy dan Daddy, hingga mereka marah besar pada ku"tanya Marco.
"Kau bisa tanya sendiri pada Daddy, apa? yang aku katakan, kenapa? kau harus repot-repot datang kesini" ucap Marco datar.
"Anak, kau bilang aku memiliki anak, lalu kenapa? dia tidak menuntut tanggung jawab ku, jika memang dia hamil"ujar Maikel.
"Jangan kan meminta tanggung jawab atas anak mu, kau bahkan tidak ingin dia lihat, baginya kau adalah iblis, tapi lihat lah apa? kau lihat hasil perbuatan bejat mu"ucap Marco sambil memberikan foto-foto bayi yang sangat lucu itu.
Maikel langsung terdiam, dia seperti robot yang kehabisan baterai, saat ini ekspresi wajah nya tidak bisa di tebak.
"Kenapa? kau diam, apa sudah tahu dimana letak kesalahan mu, kau harus bertanggung jawab untuk kedua anak mu"ujar Marco tegas.
...πΉππππΉ...
"Mengapa, kau diam"ucap Marco lagi setelah hampir beberapa menit, Maikel hanya melihat foto itu bolak balik satu persatu.
"Aku akan mengambil kedua anak ku"ujarnya.
"Jangan bodoh Maikel, jangan sampai kau melukai dia untuk yang kedua kalinya,aku hanya minta kau bertanggung jawab atas perbuatan mu, bukan untuk merampas mereka dari tangan Desy"ucap Marco.
"Aku akan menikahi nya"ucap Maikel.
"Sudah kubilang jangan"
"Kau jangan melampaui batas sabar ku Maikel, aku sudah mengampuni mu, saat itu karena mommy yang meminta nya, aku juga menikahi ****** mu karena aku tau kau akan menolak terus, tapi apa? yang kau lakukan kau bahkan sudah membuat wanita yang kucintai menderita sedemikian rupa"ucap Marco sambil menatap tajam.
"Kak, kenapa? kau pelit jika menyangkut dia, bukan kah kau bilang bahwa nyawamu pun akan kamu berikan jika aku menginginkan nya"ujar Maikel, mengingatkan janji seorang Marco, yang sangat menyayangi adiknya.
"Tapi ini lain lagi ceritanya"ujar Marco.
"Dia hanya gadis kampung kak"
"Stop Maikel jangan kelewat batas, kau bahkan sudah menghina ibu dari kedua anak mu!"
Bug....
Bug.....
Kemarahan Marco sudah tidak terkendali lagi, dia menghajar Maikel tanpa perlawanan karena pria itu juga sadar dengan kesalahan nya.
"Hentikan!!"ujar wanita paruh baya itu yang kini melihat Marco tengah menghajar adiknya sendiri.
"Hentikan, apa? kalian sudah kehilangan akal sehat, kenapa?kau harus menghajar adikmu kak"ujar Mila.
"Mommy tanyakan saja padanya, aku hanya bilang dia harus bertanggung jawab atas buah dari perbuatan nya, tapi dia malah menghina ibu dari kedua anak-anak nya"ucap Marco.
"Jadi kalian ribut hanya karena wanita itu"ujar Mila, yang lupa daratan darimana dia berasal sebelum bertemu dengan Alexander, dan di angkat derajat nya.
"Hanya mom, dimana hati nurani mommy, bagaimana jika posisi dia saat ini terjadi pada mommy"ucap Marco yang tidak mengerti dengan jalan pikiran sang mommy.
"Sudah cukup kak, jangan samakan ****** itu dengan mommy, bahkan mommy tidak Sudi memiliki cucu dari nya"ucap Mila, yang langsung membuat Marco mematung di tempatnya, begitu juga dengan Maikel.
"Sekarang kalian berdua harus bersiap untuk bertemu dengan wanita pilihan mommy, mommy tidak ingin mendengar alasan apapun lagi"ucap Mila.
"Aku tidak mau Mom, sudah cukup... aku tidak mau lagi mengikuti perjodohan itu, berikan saja seluruh harta kekayaan pada Maikel kesayangan mommy dan Daddy"ucap Marco, pria itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Kak, mommy tidak pernah membedakan kalian berdua!"teriak Mila tapi pria itu tidak mau mendengar nya.
Maikel pun duduk di sofa, ruang kerja Marco.
"Maikel mau tanggung jawab pada kedua darah daging Maikel mom, karena biar bagaimanapun Maikel adalah ayah kandung nya"ucap Maikel lirih.
"Tidak Maikel, kamu pikir mommy akan membiarkan itu terjadi, bisa saja sebelum dia berhubungan dengan mu, dia adalah ayam kampus"ucap Mila.
"Mom, aku pastikan seratus persen dia masih virgin, bahkan kak, Marco tau itu karena dia sendiri yang memergoki ku"bela Maikel.
"Mommy tidak peduli mau dia virgin atau pun tidak, kalian tetap harus menikah dengan pilihan mommy, setelah itu baru mommy akan pikir kan tentang anak itu jika memang dia terbukti darah daging mu"ujar Mila.
"Mommy bisa lihat semua itu"ujar Maikel.
Sontak Mila terperanjat kaget, saat melihat kedua bayi kembar itu benar-benar mirip seratus persen dengan Maikel.
"Ma Maikel, a apa? mommy tidak salah lihat"ucap Mila sambil menitikkan air mata melihat kedua bayi kembar itu, benar-benar bagian dari darah daging nya.
Maikel hanya mengangguk.
Plak.....
Tamparan keras mendarat di pipi sang putra yang tadi dia bela.
"Kau memang pantas di hajar Maikel Alexander, kau sudah sangat keterlaluan kenapa? mommy memiliki putra seperti mu Maikel, sekarang juga ikut mommy untuk menjemput kedua cucuku"ucap Mila.
"Tidak mom, jangan rebut mereka dari ibunya tapi bawa mereka dengan ibunya agar kita tidak harus menghadapi kemarahan publik"ujar Alexander yang kini hadir di tengah-tengah mereka.
"Hentikan kegilaan kalian, aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti mereka"ujar Marko.
"Tapi kak, kau bilang Daddy harus bertanggung jawab untuk itu kita harus segera bertindak cepat"ucap Alexander.
"Tunggu, setelah aku bisa meyakinkan dia"ujar Marco.
"Tapi kakak, akan menikahi nya iya kan"ujar Maikel.
"Hentikan Maikel, apa? kamu tidak sedikit pun merasa bersalah"tanya Marco.
"Aku sadar sadar akan kesalahan ku, tapi aku yakin jika kakak tidak akan pernah membiarkan aku menikah dengan nya"ucap Maikel.
"Tentu saja tidak, karena kau hanya akan mengambil keuntungan untuk itu, kau tidak benar-benar menyesal atas perbuatan mu"ucap Marco.
"Daddy tidak mau tau, pokonya hari ini juga kita akan mengambil mereka"ujar Alexander.
"Jangan lakukan itu Daddy, jangan buat mereka lebih menderita lagi sudah cukup atas apa? yang putra kesayangan kalian lakukan"ujar Marco.
"Kak, mommy dan Daddy hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua"ucap Mila.
"Terserah kalian"ucap Marco yang kembali duduk di meja kebesaran nya, dia akan datang secara diam-diam untuk meyakinkan bahwa Desy baik-baik saja.
Sementara Alexander dan Mila, juga Maikel terbang ke Surabaya saat itu juga untuk menjemput kedua bayi kembar itu dan Marco yakin semua tidak akan baik-baik saja.
Sesampainya di sana, mereka bertiga diikuti oleh beberapa orang pengawal pribadi yang membawa mobil dan mengamankan perjalanan nya, hingga para tetangga heboh saat kedatangan pengusaha terkenal itu, masuk melewati gang sempit itu bersama beberapa orang pengawal.
Desy yang tengah bermain dengan kedua anak nya di teras dia begitu terkejut, saat melihat siapa? yang datang saat ini.
Desy buru-buru masuk membawa kedua anak nya.
"Tunggu Desy"ucap Maikel.
"Untuk apa? kalian datang kemari"ujar Dony yang menghadang langkah Maikel.
"Aku datang untuk bertanggung jawab"jawab Maikel.
"Heuhhhhh, lucu sekali setelah sekian lama, kamu bilang bertanggung jawab"ucap Dony.
"Kita bisa bicara di dalam tuan"ujar Mila.
"Jangan berani kalian melangkah kan kaki di rumah kami, karena sampai kiamat datang pun kami tidak akan pernah memaafkan kalian"ujar Dony yang benar-benar terbakar emosi.
__ADS_1
Alexander pun memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke rumah itu, dan saat itu juga mereka masuk tapi tiba-tiba mereka tidak bergerak sedikit pun seakan semua menjadi patung.