Gadis Tangguh Pujaan Ku

Gadis Tangguh Pujaan Ku
#Arinda tidak bisa hamil#


__ADS_3

Arina, tidak bisa berteriak karena saat ini Bruno, benar-benar membuat dia dilema.


"Aku tidak akan berteriak, jika kamu segera pergi, dia putra ku"ucap Arina.


"Kamu pikir aku percaya"ucap Bruno.


"Terserah kamu saja"ucap Arina, yang sedari tadi mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Bruno.


"Jangan pernah berusaha lari dari ku, karena sebelum kamu menyerah kan putra kita,aku tidak akan pernah melepaskan mu"ucap Bruno tegas.


"Tuan Bruno, hubungan kita sudah lama berakhir, sejak kau memutuskan untuk pergi dan tak lagi peduli padaku"ucap Arina.


"Aku pergi karena kamu meminta berpisah dari ku, apa kamu amnesia"tegas Bruno.


"Aku melakukan itu karena kamu juga sudah menghianati cinta ku"ucap Arina.


"Arina, aku tidak sengaja jika kamu marah apa? kamu pikir aku tidak kesepian saat kau pergi saat itu, dan aku coba-coba membeli wanita di luar sana, tapi tidak bisa membuat ku senang bahkan aku malah jijik melihat nya"ucap Bruno.


"Tidak usah kamu jelaskan tuan Bruno,aku sudah tidak peduli lagi"ucap Arina.


"Arina!"ucap Bruno, yang kini melotot tajam kearah nya.


"Apa?...aku bilang begitu karena bahkan sekarang kamu sudah menikah dengan nya, apa lagi yang harus dipertahankan"ucap Arina.


Bruno mendorong Arina, kearah ranjang hingga terjatuh di kasur nya.


"Bruno!! kamu itu kenapa?..., lepas!! Bruno lepas"teriak Arina.


Arina terus berontak hingga Bruno melepaskan dasi nya dan hendak mengikat Arina, dengan dasi nya, tapi tiba-tiba seseorang datang menghentikan aksi nya.


"Mom...hiks hiks hiks mommy, uncle jahat"ucap Brian, yang langsung memeluk Arina.


"Sayang uncle tidak jahat, mommy sedang bermain penjahat dan polisi dengan uncle ini"ucap Arina, agar putra nya tidak mengalami trauma.


"Mommy tidak bohong kan? tadi mommy teriak-teriak"ucap Brian.


"Tidak sayang kalau bermain kan seperti itu"ucap Arina, berbohong.


Bruno langsung mendekat dan mengelus puncak kepala putra nya, yang masih berada di dalam pelukan Arina.


"Hay tampan boleh kenalan"ucap Bruno.


"Boleh, tapi uncle jangan jahat sama mommy lagi"ucap Brian.


"Sayang Daddy gak jahat, tadi Daddy sedang bercanda dengan mommy"ucap Bruno.


"Siapa? nama mu boy"ucap Bruno.


"Brian"ucap Brian.


"Namamu bagus, dan wajah mu begitu mirip dengan Daddy"ucap Bruno, lagi-lagi menjelaskan bahwa dia adalah ayah Brian.


Arina yang hendak menyangkal nya tapi tidak jadi karena Brian tiba-tiba memeluk Bruno


"Bruno please jangan lakukan itu, dia hanya putra ku"ucap Arina.


"Jangan buat kebohongan didepan putra kita, Arina, aku bukan pria bodoh yang bisa kamu bohongin"ucap Bruno tegas sambil menggendong anak nya, dan pergi menuju keluar kamar.


"Bruno jangan bawa putra ku, aku mohon, Bruno please, kamu bisa memiliki anak dengan wanita itu, jangan bawa putra ku!"teriak Arina.


"Temui aku di rumah kita"ucap Bruno.


"Tidak aku tidak akan pernah pergi lagi dengan mu"ucap Arina.


"Arina, kamu tidak akan pernah bisa menolak nya"ucap Bruno.


"Bruno!"teriak Arina, yang kini tersungkur di lantai dia tidak bisa melihat Bruno membawa putranya.


"Nona bangun ucap seorang pelayan"tolong siapkan mobil ku, dan bawakan tas ku juga ucap Arina yang langsung mencoba untuk berdiri, beruntung tas yang berisi keperluan putra nya masih berada di sofa, Arina langsung membawa itu dia lihat tadi Brian belum mengganti baju.


pelayan langsung menyerahkan tas milik Arina.


dan Arina pergi membawa tas besar berisi belanjaan milik Brian, yang belum sempat ia cek, sesampainya di dalam mobil, Arina langsung menghidupkan mesin mobil dan pergi begitu saja dengan mobilnya, bahkan dengan kecepatan tinggi.


Arina tidak peduli dengan kendaraan lain dia hanya ingin Brian, segera kembali ke sisinya.

__ADS_1


"Bruno, aku akan sangat membenci mu jika kamu sampai membuat putra ku menangis.


Arina langsung pergi menuju rumah lama mereka, Arina dan Bruno, memiliki rumah lama mereka yang dulu mereka tinggalkan meskipun rumah itu tetap terjaga dan terawat.


Arina,kini bahkan tidak perduli dikejar polisi karena ugal-ugalan di jalan raya, saat ini hingga tiba di pekarangan rumah tersebut, akhirnya polisi pun pergi entah kenapa.


"Bruno dimana putra ku"ucap Arina berteriak.


"Jangan teriak-teriak putra kita baru saja tidur"ucap Bruno yang menuruni anak tangga.


"Aku tidak peduli, kembalikan putra ku sekarang juga"ucap Arina.


"Dia juga putra ku, Arina,aku lebih berhak atas dia, karena aku ayah nya"ucap Bruno.


"Kau bukan ayahnya! harus berapa kali aku jelaskan"ucap Arina sambil berteriak dia sudah benar-benar jengah dengan pria itu.


"Arina, kita buktikan dengan tes DNA,satu lagi bawa ke hadapan ku, siapa pria yang telah menghamili mu"ucap Bruno.


"Dia sudah mati"ucap Arina yang langsung mendapatkan tatapan mata tajam dari Bruno, yang kini memerintahkan anak buahnya untuk mengurung Arina di gudang yang gelap.


"Jangan Bruno please jangan lakukan ini aku takut aku mohon jangan Bruno!"teriak Arina yang kini mengetuk pintu gudang tersebut.


"Aku tidak akan mengeluarkan mu jika kamu tidak berkata jujur.


"Baiklah-baiklah aku akan mengatakan nya"ucap Arina.


"Cepat katakan!"ucap Bruno.


"Kamu ayah nya, hiks hiks hiks kamu ayah nya, keluarkan aku sekarang juga"ucap Arina.


Bruno langsung membuka pintu, dia bahkan langsung mengangkat tubuh Arina, yang kini bahkan tidak bisa berdiri karena lemas akibat ketakutan.


Arina, memang fobia dengan gelap dan itu diketahui oleh Bruno.


sesampainya di dalam kamar, Bruno langsung membaringkan Arina, dia mengecup bibir itu,dan Bruno langsung berkata"Terimakasih honey, karena kamu sudah mau berjuang untuk anak kita, maaf kan aku tidak pernah ada untuk kalian karena jujur saat itu aku kecewa dengan permintaan mu untuk bercerai, aku mencintaimu jadi aku tidak ingin berpisah dengan mu, dan ini adalah bukti keseriusan ku dulu yang tidak pernah kalian tau"ucap Bruno yang mengambil buku akta perkawinan.


"Aku benci kamu Bruno, kamu tega ninggalin aku tanpa berkata apa-apa, bahkan pesan ku tak pernah kamu balas, aku sudah putus asa, bahkan aku hampir bunuh diri, jika ayah tidak ada disisi ku selama ini, ayah selalu memberikan aku semangat dan mendukung ku, hingga aku berhasil sampai di titik ini, aku tidak tau jika mereka tidak ada selama ini mungkin aku dan Brian, tidak ada lagi di dunia ini"ucap Arina.


"Ini ponsel ku"ucap Bruno yang mengambil nya dari laci nakas, dan memberikan itu pada Arina, handphone nya sudah lama dimatikan dan saat di hidupkan kembali semuanya sudah tidak ada lagi, tidak ada pesan apapun atau sekedar panggilan tidak terjawab semuanya hilang.


"Aku tidak pernah membawa ponsel itu"ucap Bruno.


"Pergilah, biar Brian, tinggal bersama ku disini, kamu bisa kembali nanti setelah jadwal praktek usai setelah itu kita sama-sama kerumah orang tua mu"ucap Bruno.


"Tapi dia akan menangis mencari ku"ucap Arina.


"Baiklah kita akan pergi bersama bersiaplah dana-dana yang cantik"ucap Bruno.


"Biar aku dandan seheboh apapun tidak akan bisa secantik istri mu"ucap Arina, yang langsung membuat Bruno mematung dia baru tersadar bahwa dia meninggalkan istrinya itu di mall.


"Pergilah temui dia, mungkin dia lebih membutuhkan mu, saat ini biar aku sama Brian, pergi ke klinik, kamu bisa bertemu Brian kapan pun"ucap Arina, yang sudah merelakan Bruno, pergi selama ini, meskipun hatinya masih terasa perih.


Bruno langsung pergi saat itu juga, dan itu membuat Arina, menitikkan air mata, dia tau mereka tidak sepenting itu di hati Bruno.


🌹💖💖💖🌹


satu hari sudah berlalu, semenjak sore itu, Arina kini tengah berada di rumah peternakan bersama Brian, yang kini tengah bermain bersama dengan Alex, adiknya itu kini sudah kelas satu SMA dia banyak digemari oleh para ABG, juga tante-tante cantik di sosial media, karena parasnya yang teramat tampan, dan bakat nya yang sangat menantang adrenalin.


Alex, kini juga sekolah sebagai pembalap mobil, melanjutkan cita-cita ibunya, meskipun Dheandra, sempat melarang kerena takut putra bungsu nya itu kenapa-napa tapi Alex, adalah anak yang sangat keras kepala untuk sebuah cita-cita.


Arina, sendiri tengah berkeliling memeriksa, sapi yang ada di peternakan tersebut, bersama dengan Refi.


"Yah, semua sapi nya sudah dikasih vitamin kan ada beberapa yang kurang baik pertumbuhan nya"ucap Arina.


"Seperti nya sudah setiap kali waktu nya tiba, mungkin ada kendala tapi nanti ayah tanyakan pada asisten ayah"ucap Refi.


Arina mengangguk, sambil terus berjalan mengikuti Refi.


"Yah jika ayahnya Brian kembali, dan ternyata dia sudah memiliki istri, apa? yang Arina harus lakukan"pertanyaan tersebut sontak membuat Refi menoleh.


"Apa?? dia kembali"ucap Refi.


Arina hanya mengangguk, pelan seperti ragu untuk menjawab.


"Sebaiknya kamu urus perceraian di pengadilan negeri dulu karena secara agama dia sudah bukan suamimu lagi, semenjak awal kalian sebenarnya tidak resmi menikah, tapi karena Bruno, sudah mendaftarkan pernikahan kalian secara negara, jadi sidang itu harus ada, dan kalaupun kalian akan bersatu kembali kalian harus menikah ulang secara agama, dan Daddy mu yang harus menjadi wali nikah nanti"ucap Refi bijak.

__ADS_1


"Baiklah ayah terimakasih ayah selalu ada untuk ku"ucap Arina tulus sambil memeluk Refi.


"Kalian semua anak ayah, jadi tidak mungkin ayah membiarkan anak ayah menderita, satu hal yang selama ini ayah ingin, ayah ingin kalian bahagia terlepas dari masalah apapun dalam hidup, ayah ingin melihat mommy kalian tetap tersenyum bahagia, dan tidak ada lagi tangis kesedihan"ucap Refi.


"Ayah memang yang terbaik, semoga Allah memberikan umur panjang untuk ayah dan mommy, agar nanti Arina bisa membahagiakan kalian berdua"ucap Arina tulus.


"Ayah hanya ingin melihat mu bahagia dan itu sudah lebih dari cukup"ucap Refi.


"Terimakasih Ayah"Arina kembali memeluk Refi, sambil meneteskan air mata haru bagaikan mendapatkan kado terindah dari Tuhan, memiliki ayah sambung seperti Refi, yang benar-benar mencintai mereka sejak mereka terlahir ke dunia dan bahkan Refi selalu pasang badan untuk mereka semua, jika mendapatkan gangguan dari luar.


sementara itu di kediaman Argha, sudah beberapa hari ini Argha, harus membujuk Arinda yang di vonis mandul oleh dokter spesialis kandungan, dari hasil pemeriksaan medis yang mereka lakukan satu Minggu yang lalu.


"Sayang, sudah dong jangan terus dipikirkan, banyak cara untuk mendapatkan keturunan, kamu tidak usah takut, kita bisa berobat Ok"ucap Argha meyakinkan.


"Semua orang pasti bilang begitu, itu mudah bagi mu karena dengan gampang kamu bisa ganti istri mas, sementara hidup ku, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk bahagia, aku juga ingin memiliki keturunan"ucap Arinda sambil menangis.


"Arinda, sayang jangan berpikir yang macam-macam, mas tidak akan meninggalkan kamu sekalipun kita tidak punya keturunan, mas akan tetap berada di samping kamu, Ok"ucap Argha sambil mendekap erat Arinda.


"Tidak bisa Argha, kamu tidak bisa melakukan itu mommy ingin menimang cucu, dan jika dia tidak hamil juga tahun ini lebih baik kamu menikah lagi"ucap mommy Argha, yang datang tiba-tiba masuk kedalam kamar mereka.


"Tuh mas, dengar kan apa kata nenek sihir ini, aku sudah tidak berguna, sekarang kamu bisa ceraikan aku"ucap Arinda yang semakin menangis kencang.


mertua Arinda yang selalu bertengkar bagai kucing dan anjing itu, dengan menantunya, bahkan tidak pernah Arinda, sebut dengan sebutan mommy atau layaknya ibu mertua pada umumnya, mereka tidak pernah damai karena ibu mertua nya, selalu mencari gara-gara dan Argha, tidak pernah marah dengan sebutan Arinda pada ibunya itu, karena Argha tau Arinda tidak pernah benar-benar tulus mengejek ibunya yang selalu bersikap kekanak-kanakan.


"Mom... Arinda, tidak mandul dia hanya butuh waktu dan penyesuaian"ucap Argha.


"Apa? kamu bilang penyesuaian sudah tiga tahun lebih Argha... tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk begundal ini hamil, mommy tidak habis pikir dengan kedua anak mommy, yang satunya menikahi perempuan yang kelewat manja, dan kamu menikahi begundal jalan kaya begini, ya ampun mau dimana ditaruh ini muka"ucap wanita paruh baya itu yang dandanan nya sampai lima cm, itu yang selalu Arinda ucap kan.


"Taro di tembok"jawab Arinda yang sempat-sempatnya menyela pembicaraan, padahal dia masih menangis di pelukan suaminya.


"Hey begundal tidak berguna, sebaiknya kamu diam, kamu itu ya, tidak ada sopan-sopan nya pada mertua, durhaka emang ni begundal satu ini"ucap mertua Arinda.


"Mertua, apa tidak salah, bukan nya, sedari dulu aku tidak pernah punya mertua ya, apa disini ada yg lupa"ucap Arinda sambil mengejek mertuanya itu.


"Sayang-sayang sudah ya jangan ladeni mommy, sebaiknya kita turun, dan kamu harus makan,ok biar sehat terus, sebentar lagi aku harus segera pergi ke rumah sakit"ucap Argha.


"Aku ikut... tidak mau disini ada nenek sihir nanti aku di sihir jadi kodok kamu bisa kawin lagi"ucap Arinda manja.


"Aku sihir beneran kamu"ucap ibu mertua nya yang langsung pergi, sebenarnya ada satu hiburan tersendiri bagi wanita paruh baya itu, dia suka sekali menggoda Arinda, yang dia anggap sudah seperti putri nya, yang sudah tiada watak mereka sama-sama keras tapi kadang manja, dan itu bisa mengobati kerinduan nya, meskipun dia selalu diejek , dibilang nenek sihir, tapi wanita itu tau Arinda hanya bercanda.


Arinda masih di gendong ala baby koala, oleh Argha, yang sangat mencintai nya, Argha sendiri tidak pernah tau dia akan begitu mencintai wanita yang ia temui di jembatan itu, tiga tahun lalu, bahkan tingkah Arinda yang keras kepala dan kadang manja pada nya, membuat dunia nya benar-benar dipenuhi oleh kebahagiaan, dan tingkah konyolnya, saat sedang protes selalu membuat dia tertawa bahagia.


Arinda adalah dunia nya, di balik kehidupan kelam nya.


bahkan karena kehadiran Arinda pula, selama tiga tahun ini, dia memutuskan untuk berhenti, dari dunia bawah, dia ingin melanjutkan hidup bersama pemberi warna cerah dalam kehidupan nya yaitu Arinda.


"Mas... suapi"ucap Arinda.


"Iya sayang"ucap Argha yang masih menyiapkan makan siang untuk istrinya itu.


"Yang aku pulang larut, kamu beneran mau ikut?"tanya Argha, memastikan.


"Ya ikut lah mas, aku gak mau dirumah bersama nenek sihir"ucap Arinda yang kini melirik ke arah ibu mertua nya yang tengah duduk di sofa ruang santai.


"Heummm baiklah tapi jangan protes jika bosan"ucap Argha lagi.


"Aku lihat nanti saja kalau aku bosan aku bisa jalan-jalan"ucap Arinda.


"Iya itu bagus, tapi jangan naik jembatan lagi ok"ucap Argha.


"Tergantung"ucap Arinda.


"Yang.."ucap Argha.


"Iya mas enggak"jawab Arinda, yang tak tahan jika melihat Argha memohon seperti itu.


Arinda pun selesai makan dia langsung bersiap saat itu juga, karena Argha, sudah harus segera pergi menuju rumah sakit, Arinda langsung terburu-buru pergi mengikuti langkah lebar dari suaminya itu.


sesampainya di rumah sakit, Argha, langsung disambut oleh asisten pribadi nya yang sangat cantik, dan beberapa dokter laki-laki dan perempuan, Argha harus segera masuk ke ruang operasi, saat itu juga asisten nya langsung memasang jubah berwarna hijau dan tutup kepala juga masker pada Argha, karena sedang emergency sementara Arinda hanya melongo menatap perlakuan wanita itu pada suaminya.


Argha langsung mengecup bibir Arinda sekilas lalu berkata"Yang masuk keruangan dulu ya ini darurat Ok tunggu ya sayang"ucap Argha, yang langsung pergi bersama tim dokter lainnya, rupanya ada pasien kecelakaan masal yang harus segera mereka tangani.


Arinda berjalan gontai menuju ruangan tersebut, sepanjang jalan menuju ruangan itu, dia tidak menghiraukan,para suster yang kenal siapa dirinya yang sedang menyapa nya.


Arinda merasa tidak berguna,benar kata ibu mertua nya, dia bahkan tidak bisa pendukung yang baik bagi suaminya, selain tidak bisa memberi Argha, keturunan dia juga tidak bisa mengurus suaminya dengan baik, malah dia sendiri yang sering dilayani oleh Argha.

__ADS_1


setelah empat jam menunggu akhirnya Argha, masuk ruangan itu, dan satu kata yang keluar dari bibir Arinda.


"Mas kita bercerai saja"


__ADS_2