Gadis Tangguh Pujaan Ku

Gadis Tangguh Pujaan Ku
#Bicara#


__ADS_3

Saat ini di kediaman Mario, dia tengah sibuk mengadakan akikah bayi, yang baru berusia empat puluh hari, Marvin Alexander dan Marco Alexander.


Desy, kini tengah berada di tengah-tengah kerumunan para ibu-ibu bersama dengan Mario, yang sama-sama menggendong satu anak, tidak hanya mereka berdua Alexa dan Maikel pun menggendong anak mereka, yang tak lain adalah, bintang dan langit.


Suasana mengharu biru, terutama untuk Mario, yang kini menggendong Marvin, sementara Desy menggendong Marco, kedua bayi tampan yang kini menjadi rebutan ibu-ibu pengajian itupun, tengah benar-benar membuat suasana mengharu biru.


"Sayang, putra kita haus"ujar Mario.


"Sama Daddy, ini juga"ujar mau menyusui mereka dulu" ujar Daisy, yang langsung berjalan diikuti oleh Mario.


"Sayang sini Daddy, gendong ya, sambil minum asi mommy kan ujar Mario, pada Marvin.


Mereka berdua pun, meminum asi eksklusif.


Sampai, seseorang memanggil mereka untuk segera turun, karena acara potong rambut sudah akan segera dimulai, Mario dan Desy, pun kembali kebawah.


Sampai akhirnya acara selesai, mereka pun tertidur berenang di atas kasur lantai berukuran besar itu, tempat mereka bersantai, saking lelahnya hingga Desy, terjaga dan mengurus kedua putranya juga anak pertama nya, Bintang dan Langit, yang dipindahkan ke tempat tidur mereka yang ada di ruangan tersebut.


Desy pun membangunkan Mario, untuk segera mandi dan berganti pakaian dengan piyama tidur yang sudah di siapkan karena saat ini sudah pukul sepuluh malam, tidak hanya itu Desy juga mengambilkan makan malam yang terlewat karena keduanya sama-sama kelaparan, apalagi Desy, yang sedang menyusui.


"Tadi saya sudah berulang kali mengetuk pintu untuk memberitahu bahwa makan malam sudah siap, tapi sepertinya nyonya dan tuan sudah tidur"ucap seorang pelayan.


"Owh, tadi kami ketiduran"ucap Desy.


Mario pun langsung memakan makan malam nya, setelah selesai dia langsung mematikan lampu terang mengganti nya dengan lampu temaram, sementara Desy, masih duduk di sofa, saat ini dengan Handphone di tangan nya.


"Kak, aku dapat permintaan untuk membantu seseorang teman yang sedang kesulitan dengan pekerjaan nya"ucap Desy.


"Tidak bisa yang kamu baru saja melahirkan, lagian untuk apa? kamu tidak kekurangan uang juga kan"ujar Mario, tidak setuju.


"Kak, hanya memberikan arahan kok"ucap Daisy.


"Kalau beri arahan, bisa dari jauh kan"ucap Mario, masih dengan nada kesal.


"Ya, tau kak, tapi harus cek dulu yang bermasalah di bagian mana nya"ucap Desy.


"Tidak sebaiknya tidak usah sekalian"ucap Mario, tegas.


"Baiklah baik"kata Desy, pasrah.


Mereka pun, kembali tidur.


Sementara itu di Amerika, keduanya, tengah sibuk mengurus, Amara yang baru saja menjalani operasi syaraf mata yang sempat terganggu saat kecelakaan itu terjadi, gadis itu sudah terlelap, setelah mengeluh sakit dari bekas luka operasi.


Sampai, Amara terlelap, Brian pun duduk di samping sang istri Adeline.


"Yang, apa? kamu pengen sesuatu"tanya Brian.


"Tidak ada mas, terimakasih"jawab Adeline.


"Jangan terlalu banyak pikiran, berdoalah, semoga semua membaik agar putri kita, bisa kembali normal seperti sedia kala, dan bisa sekolah dengan baik"ucap Brian.


Adeline, langsung menghambur memeluk Brian, suara isakkan pun terdengar miris Brian pun mengelus punggung sang istri sambil sesekali mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Kenapa? bukan dia yang melakukan ini, padahal Amara, putri kandungnya, dia bahkan tidak peduli dengan itu, aku yang berjuang sendiri untuk putri ku, dia sendiri malah bersenang-senang dengan bergonta-ganti wanita, tak jarang dia mengangkat tangan, saat aku bicara untuk meminta bantuan nya, padahal dia tau gaji yang aku dapatkan tidak sebesar penghasilan nya, tapi dia selalu bilang bahwa aku tidak berguna,hiks hiks hiks"tangis pilu itu pecah.


"Yang, jangan ingat-ingat masa lalu, biarkan saja, suatu saat nanti dia akan tau akibat nya, karena tuhan tidak pernah tidur"ujar Brian.


"Ya mas, tapi rasa sakit itu selalu datang, setiap kali mendengar Amara, menangis dan mengeluh, bagaimanapun aku tidak sekuat baja, aku hanya bisa menyembunyikan tangis ku, sampai dia terlelap dalam tidur nya, aku tidak tega setiap hari dia harus tinggal bersama dengan orang lain, setiap hari setelah pulang sekolah, bahkan tak jarang sampai ketiduran di tempat penitipan anak, aku ingin hidup normal, bisa bersama dengan nya setiap waktu, tapi tanpa bekerja, aku tidak mendapatkan uang untuk kehidupan kami berdua"ucap Adeline.


"Mulai sekarang, kamu harus berhenti bekerja, tinggal di rumah, bersama dengan Amara, kamu hanya boleh merawat Amara, dan mengurus semua kebutuhan ku, tidak beres-beres rumah ataupun yang lainnya kau adalah nyonya Brian, Anderson tidak ada akan ada lagi kesulitan aku janji"ucap Brian, sambil mengusap puncak kepala istrinya.


"Terimakasih mas"ucap Adeline.

__ADS_1


"Mas, apa? Brilian, akan tetap tinggal di sini bersama dengan Oma, dan Opah nya"tanya Adeline.


"Tidak tau sayang, tapi kenapa? bertanya seperti itu"tanya balik Brian.


"Tidak apa-apa mas, hanya saja rasanya tidak adil jika mas, hanya mengurus Amara, aku juga ingin mengurus Brilian, setidaknya aku bisa berikan kasih sayang yang sama, meskipun tidak bisa memberikan materi, seperti yang kamu berikan"ucap Adeline tulus.


"Terimakasih sayang, atas niat baik nya, tapi kita tanya Brilian, nanti apa? dia bisa ikut kita atau tidak"ujar Brian.


"Ya, mas tapi seharusnya sih bisa ya aku pernah bermimpi memiliki banyak anak, dan suami yang bertanggung jawab sehingga rumah kita penuh kehangatan"ucap Adeline.


"Kamu, memang wanita yang sungguh sangat luar biasa, Sayang"ucap Brian.


"Mas, sebaiknya mas istirahat ya, tidak baik terus bekerja, tanpa memperdulikan kesehatan"ucap Adeline.


"Baiklah sayang ku"jawab Brian, yang kini berbaring dengan posisi kepala diatas pangkuan Adeline, wanita itu pun mengelus puncak kepala Brian, yang kini terpejam, ketampanan Brian, sungguh sangat sempurna bagi Adeline.


Adeline, begitu bersyukur karena telah diberikan suami yang sangat bertanggung jawab, sekalipun, Brian, baru menikah dengan nya.


Sampai Adeline pun tertidur, sambil bersandar di sofa, sambil memangku Brian, hingga keesokan harinya Amara, sudah bisa membuka matanya, saat ini adalah penentuan apakah benar, operasi itu berhasil seperti yang Dokter, spesial bedah syaraf itu katanya, dan dokter spesialis mata, yang selalu mendampingi proses pengobatan Amara, saat ini, Adelinepun masih terus berdoa didalam hati nya, semoga putri nya benar-benar bisa melihat kembali.


Sampai saat, perban dibuka, dengan sangat hati-hati, dan penuh kelembutan oleh dokter spesialis mata yang benar-benar sangat ramah dan sopan itu, meskipun mereka berbeda keyakinan, tapi dia meminta, Adeline dan Brian, juga Adeline, dan Brilian, yang menyempatkan untuk menyaksikan proses tersebut dilakukan.


Perlahan, gadis kecil itu membuka mata nya, dan dia menatap sempat terdiam saat melihat seseorang yang sangat muda dan cantik, disamping sang Mama,


"Kak, Lian cantik sekali"ucap nya yang langsung membuat semuanya saling berpelukan penuh haru, hingga Adeline, menangis sesenggukan diperlukan Brian, dia berulang kali mengucapkan banyak terimakasih pada suaminya itu.


...🌹💖💖💖🌹...


Brian, memberikan pelukan dengan hati-hati pada putri kecilnya itu.


Mereka semua bergantian memeluk Amara.


"Terimakasih mas, terimakasih banyak untuk semua nya, Brilian, sayang Mama, ingin kamu juga tinggal bersama kami, agar kita bisa terus berbahagia bersama"ucap Adeline, yang kini memeluk dan mencium seluruh wajah putri sambung nya penuh sayang hingga Brilian, tidak bisa bicara.


"Semua tergantung padamu putri Daddy"ucap Brian, sambil memeluk erat Brilian.


"Baiklah aku ikut kalian, dan akan pindah kuliah di Indonesia"ucap Brilian, hingga Adeline, berulang kali memeluk putri sambung yang sangat ia sayangi, meskipun baru beberapa hari ini mereka bertemu, tapi Adeline tau putri sambung nya itu adalah gadis yang sangat baik seperti sang suami Brian.


Dan akhirnya setelah satu Minggu, berlalu setelah operasi, akhirnya Amara pun diperbolehkan untuk pulang, mereka kini tinggal di sebuah apartemen milik Brian, dia tidak membawa Adeline, ke Mension mereka yang ada di sana, karena Brian dan Adeline, masih berbulan madu.


Saat ini semuanya sedang menikmati makan malam, Brian, Adeline, dan Amara juga Brilian, yang sedari tadi menjahili adiknya itu, hingga tawa dan rengekan itu pecah, menghangatkan suasana.


"Kak Lian, sudah adiknya nanti kelelahan, kan masih pemulihan"ucap Brian.


"Maaf Daddy, habis dia itu gemesin banget sih, kenapa? tidak dari dulu, aku punya adik, jadi aku tidak kesepian di rumah"ujar Brilian.


"Dulu mommy, menolak untuk punya anak lagi, sayang" ucap Brian.


"Kenapa... apa? Lian nakal Daddy"ucap Brilian.


"Tidak, sayang mungkin karena dia terlalu sibuk bekerja"ujar Brian, tidak ingin mengatakan yang sejujurnya, bahwa sang istri mengalami trauma setelah mengandung dan melahirkan.


"Sayang, mungkin mommy, punya alasan tersendiri, tapi kak Lian, harus bisa terima apapun keputusan mommy nya"ucap Adeline.


"Heumm, ya mam, lagian sekarang mommy juga sudah tidak ada"ujar brilian.


"Tapi mam, mau kasih aku adik lagi tidak, biar di Mension, tambah rame, apalagi adik kembar"ucap nya lagi.


"Mama sih tergantung yang maha kuasa, dikasih anugerah tidak akan pernah menolak"ucap Adeline.


"Syukur lah jika memang seperti itu"ucap Lian.


"Sudah selesai"ucap Amara.

__ADS_1


"Ah curang nih, selesai duluan"ucap Brilian, pura-pura ngambek, dan mencebikkan bibir nya.


"Habis suruh siapa, makan sambil bicara... nanti makanan nya, di makan jin gimana?"ucap Amara.


Sontak semua tidak ada yang berbicara.


Adeline, lupa jika sedang makan tidak diperbolehkan untuk bicara, kecuali setelah selesai, itu adalah yang dipelajari oleh Amara, selama ini dan juga ajaran darinya.


Semua orang pun, melanjutkan makan nya, tanpa suara, kecuali dentuman sendok dan garpu yang beradu.


Setelah selesai, barulah kembali heboh.


sementara itu di Indonesia, Bily Anderson adik dari Brian Anderson, saat ini tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan, bersama dengan teman masa kecil nya, Atala, yang sangat cantik di mata orang yang melihat nya, kecantikan nya, sungguh sangat mengagumkan tapi, gadis dewasa itu, tidak seperti wanita lain nya, yang sibuk berdandan, dia hanya menggunakan pelembab wajah dan bahkan tidak pernah menggunakan lipstik, karena bibir nya memang sudah pink alami.


"Ah, kesel seharusnya aku tutupi, wajah mu itu dengan kardus, agar tidak ada yang bisa melihat mu"ucap Bily.


"Kau pikir aku korban tabrak lari apa!"pekik nya tertahan, karena tangan Bily, membungkam nya.


"Aku kesal karena mereka memuja dirimu, hanya aku yang boleh melihat mu bukan yang lain"ucap Bily.


"Emang nya, aku milik mu apa, orang tuaku saja tidak pernah protes"ujar Atala.


"Orang tua itu, ingin putri nya, segera menikah, tapi kau nya, saja yang betah menjomblo, apa? sulit jika menikah dengan ku, saja"ucap Bily.


Sontak Atala, tertawa terbahak-bahak"Hahaha, kau itu sedang menyindir atau sedang bernyanyi sih"ucap Atala, yang masih tertawa tidak peduli mereka semua melirik ke arah nya.


"Melamar, tentunya"ujar Bily, datar.


"Orang tuh melamar bawa bunga, dan kotak perhiasan, ini cuma ngomong juga gak jelas"ucap Atala, masih terkekeh.


"Beneran, tunggu disini"ucap Bily.


"Hi... aku bercanda, kau itu baper sekali, sekalian saja, bunga Bank, kau bawa"ucap Atala.


Billy, tetap pergi tidak menggubris Atala, yang kini masih duduk, di kursi yang tersedia di sana, sambil memainkan ponselnya.


Sampai hampir lima belas menit, akhirnya Bily, pun kembali.


Tiba-tiba pria itu berjongkok di depan Atala, menyodorkan buket bunga mawar putih, sesuai dengan yang Atala sukai, gadis itu langsung membulatkan matanya, dia tidak bisa berkata-kata saat ini.


"Atala Sadama Aprilia, maukah kau menikah dengan ku, menjadi istri dan ibu bagi anak-anak kita kelak"ucap nya, dengan serius hingga gadis itu dibuat mematung di tempatnya, sementara semua orang yang ada di sana tiba-tiba berteriak.


"Terima..."ucap mereka dengan kompak, hingga akhirnya dengan terpaksa Atala, mengangguk, dia pun berkata.


"Aku tidak bisa janji akan menjadi yang terbaik, tapi aku akan coba untuk menjalani nya, jika kita benar-benar berjodoh, mungkin kita akan segera menikah tapi jika tidak ,maka kita hanya akan menjadi teman untuk selamanya"ucap Atala.


"Terimakasih, tapi aku harap kita benar-benar berjodoh, ucap Bily, sambil memakaikan cincin berlian tersebut di jari manis Atala, yang ternyata benar-benar pas, dan sangat cantik itu.


"Ini apa?" ucap Atala, saat melihat black card di buket bunga mawar putih itu.


"Itu bunga bank, yang kamu bilang"ucap Bily.


"Bily, aku hanya bercanda tentang itu, ambil kembali"ucap Atala.


"Tidak, Atala, aku tidak suka menerima barang yang sudah kuberikan"ucap Bily.


"Tapi, aku tidak membutuhkan itu, dan kita bahkan belum menikah, setidaknya simpan sampai hari itu tiba, atau aku batalkan saja, hubungan i"ucapan Atala, terhenti saat Bily, tiba-tiba mengecup bibir nya.


"Bily" lirih Atala, dengan pipi bersemu merah.


"Ayo, katanya mau nonton, tuh film nya sudah akan dimulai"ujar Bily, yang langsung merangkul pinggang Atala saat itu juga.


"Aku mencintaimu sejak dulu, sayang" ucapnya jujur.

__ADS_1


__ADS_2