
Alexander masih berpikir apa? sebenarnya yang terjadi pada kedua kakaknya itu, mereka selalu saja bermasalah, Alexander jadi ragu bagaimana jika dirinya nanti memilik hubungan dengan wanita yang selalu mengejar nya, termasuk Tante ganjen senior nya di kampus dulu, karena saat ini pemuda itu sudah lulus dan sudah bekerja di kantor Ayah nya.
"Alexander, kamu lagi melamun kan apa"ucap Dheandra.
"T tidak mom... hanya saja Alex tidak ingin menikah"ucap nya, spontan.
"Apa-apaan kamu Alexander, kamu harus ingat ayah butuh pewaris bisnis yang sedang kau urus"ucap Dheandra.
"Baiklah tapi mom... Alex bisa punya anak tanpa harus menikah buat saja tepung terigu"ucap Alexander.
sontak semua orang yang masih berada di mobil tertawa terbahak-bahak termasuk dua keponakan nya.
"Arinda yang sedari tadi bersedih kini terlihat menahan tawa, sejak kecil adiknya itu, adalah adik kesayangannya yang paling kocak.
"Alexander, darimana ada? yang membuat anak dari tepung terigu, mommy saja harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa memiliki mu"ucap Arinda.
"Mom... gimana caranya bisa membuat anak"ucap Alexander yang benar-benar keterlaluan dan langsung mendapat sentilan di jidat nya.
"Alex!" ucap Dheandra yang langsung membuat pria itu terdiam.
"Maaf mom"ucap Alexander.
hingga perjalanan itu akhirnya berakhir, rumah besar dan mewah itu sudah sangat Arinda rindukan saat ini.
sementara Refi langsung menyambut kedua cucunya itu.
"Opah "ucap keduanya.
Refi juga langsung memeluk Arinda dengan mengusap punggung putri nya untuk memberikan kekuatan, dan Arinda malah menangis sesenggukan di pelukan Refi.
Alexander menggendong kedua keponakan nya itu dari depan dan belakang tubuh nya.
sementara Dheandra masih memeluk Refi dan juga putra nya itu.
"Sayang kamu tidak usah sedih masih ada ayah dan juga mommy disini, yang akan menjaga kalian bertiga"ucap Refi.
setelah semuanya, sopir menurunkan barang-barang nya, dan membawa nya kedalam rumah.
"Arinda tunggu aku sayang"ucap Argha.
Argha masih berada di perjalanan dia sengaja tidak menggunakan helikopter miliknya karena sedang terburu-buru saat akan menyusul istrinya.
sementara itu di kediaman Gerald, Celsi saat ini tengah merajuk karena suaminya itu tidak membelikan rujak yang dia mau.
dengan alasan takut istri nya yang super hot itu sakit perut, Gerald selalu membuat julukan baru untuk istrinya itu, dan saat ini dia adalah super mom hot.
"Sayang jangan marah gitu dong bagaimana jika kita buat rujak itu berdua pasti seru"ucap Gerald.
"Memangnya kamu bisa, Daddy"tanya Celsi.
"Bisa lah ayo kita buat"ucap Gerald.
"Aku tidak tau caranya Daddy"ucap Celsi.
"begini saja kamu buka kulkas cari ada buah apa saja disana, dan satu lagi gula merah, aku pernah lihat itu di tutorial memasak"ucap Gerald.
"Sejak kapan Daddy, suka melihat hal yang berbau emak-emak ber daster"ucap Celsi, takut suaminya itu belok.
"Please deh yang jangan mikir yang bukan-bukan, aku masih normal jika tidak percaya kamu harus nya ingat hampir tiap malam kita melakukan itu"ucap Gerald, yang langsung membuat wajah Celsi memerah.
"Daddy!"teriak Celsi karena malu saat suaminya membahas itu.
Gerald pun terkekeh, pria itu langsung membawa ponselnya menuju dapur dia mengeluarkan semua bahan yang dia inginkan, beruntung asisten rumah tangga mereka adalah orang Indonesia asli dan tentu saja pintar membuat itu, dan Gerald merasa terselamatkan.
hingga akhirnya rujak itu jadi karena bantuan si mbok Ijah.
__ADS_1
tidak hanya Celsi ternyata Gerald juga menikmati rujak tersebut.
Gerald langsung meminum air putih karena rujak yang ia makan itu benar-benar sangat lah pedas.
Gerald bahkan langsung menyiram bibir nya yang terasa terbakar, maklum saja, selama tinggal di Jerman, dia tidak pernah mencoba makanan seperti itu.
"Sayang berhenti jangan dimakan lagi, semua itu tidak baik untuk pencernaan"ucap Gerald.
"Ini enak tau Daddy, kamu itu kenapa? berisik banget sih"ucap Celsi.
"Jangan-jangan kamu lagi hamil ya, sayang soalnya dulu mommy pas hamil sikembar, dia minta dicarikan rujak oleh ayah"ucap Gerald.
"Tidak Daddy, aku malah baru datang bulan, Daddy tidak lihat putri kita baru berusia lima tahun kurang"ucap Celsi.
"Siapa? tau saja rejeki sayang Daddy juga ingin memiliki cucu laki-laki"ucap Gerald.
"Ada kedua Putri nya, kenapa? tidak minta saja pada mereka"ucap Celsi.
"Di Jerman itu seusia mereka belum boleh menikah kaya di Indonesia, mereka harus mengejar karir dulu minimal setelah berumur tiga puluh tahun baru boleh"ucap Gerald, yang memang kebanyakan lingkungan nya dulu seperti itu, tidak ada pasangan yang menikah terlalu muda.
apalagi, mereka berdua adalah pewaris perusahaan terbesar dan butuh tenaga ekstra.
hingga perdebatan mereka berakhir karena Gerald, langsung sakit perut dan berlari ke kamar mandi, keduanya saling bergantian, beruntung putri mereka begitu anteng.
sementara Argha sesampainya di rumah peternakan tersebut semua orang mengabaikan dirinya tapi Argha, tidak putus asa dia ingin berbicara dengan istrinya, hingga Refi meminta Argha, untuk menemui dirinya di ruang baca.
Argha pun menurut, sementara Arinda tidak ingin membuka pintu untuk siapapun saat ini karena kedua putranya ada bersama dengan Alex.
Alexander tidur dengan kedua keponakan nya itu.
Alexander begitu menyayangi kedua bocah itu, baginya mereka sudah seperti adik Alexander yang bermimpi ingin menjadi seorang kakak, tapi Refi dan Dheandra tidak memungkinkan untuk bisa memiliki anak lagi.
setelah perdebatan alot antara Refi, dan Argha, pria itu keluar dengan raut wajah kecewa karena Argha diminta Refi, untuk menceraikan Arinda, jika dia tidak bisa memilih satu diantara mereka.
sementara Argha, tetap kekeuh ingin bersama dengan Arinda, tidak perduli dengan apapun yang terjadi.
hingga akhirnya Arinda, terpaksa membuka pintu karena dia tidak ingin Argha membuat kegaduhan di rumah keluarga nya itu.
"Apa? kamu tidak lihat ini sudah jam berapa"ucap Arinda tapi Argha tidak menggubris, pria itu langsung memeluk Arinda dengan sangat erat pria itu begitu mencintai Arinda hingga sulit untuk mengucapkan kata perpisahan untuk istrinya itu.
"kau sungguh keterlaluan mas.."ucap Arinda yang kembali ditarik oleh Argha.
"Arinda kita tidak akan pernah berpisah kamu tau ituh"ucap Argha.
"Terserah yang pasti kita tidak akan pernah tinggal bersama lagi"ucap Arinda.
"Aku yang akan menentukan itu, kau hanya perlu mengikuti apa? yang aku ucapkan"ucap Argha.
"Aku bukan boneka"jawab Arinda.
🌹💖💖💖🌹
perdebatan itu belum juga usai hingga suara Dheandra yang terbangun menghentikan mereka.
"Argha, sudah saya bilang bukan kamu tidak berhak atas putri dan cucuku lagi, kenapa? kau masih berani datang ke sini"ucap Dheandra yang langsung membuat Argha terdiam sejenak.
"Mom... Argha, masih suami sah Arin, dan Argha masih sangat mencintai Arin mom please jangan pisahkan Argha dengan Arin"ucap Argha memohon dan berlutut di kaki Dheandra.
"Bangun kamu Argha, jangan berlebihan begitu, aku tidak pernah memisahkan kalian, justru sikapmu lah yang membuat istri dan anak mu menjauh, kau pria yang tidak bisa dipercaya, bagaimana bisa dengan alasan ibumu, selama ini kau mempertahankan hubungan kalian bahkan masih memberikan nafkah batin, apa? itu yang kamu maksud dengan cinta"ucap Dheandra.
"Mom... Argha, akan terlalu banyak dosa jika Argha tidak melakukan itu"jawab nya.
"Owh, begitu ok sekarang agar kau tidak berdosa, ceraikan anak ku sekarang juga, setelah itu kamu bebas mau ngapain saja"ucap Dheandra geram.
"Tidak mom..... please jangan katakan itu,aku sangat mencintai Arinda mom"ucap. Argha.
__ADS_1
"Sudah tidak ada lagi kesempatan, saya sudah tidak mau lagi berdebat sekarang kau bisa pergi, saya bisa mengurus perceraian kalian berdua sekarang juga"ucap Dheandra.
"Tapi aku tidak mau Mom..."ucap Argha yang langsung memeluk Arinda.
Arinda berusaha melepaskan diri tapi Argha tidak kalah kencang memeluk wanita itu tidak hanya itu dia juga berjalan membawa Arinda pergi tidak menghiraukan Dheandra yang memanggil namanya.
"Lepas "ucap Arinda
"Tidak sayang sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu"ucap Argha.
Argha langsung bergegas membawa Arinda kedalam mobil dan wanita itu tidak diberikan kesempatan untuk bisa pergi, Agha bahkan menggunakan seat belt ganda yang aga di mobil nya itu untuk membuat Arinda tidak bisa pergi karena yang kedua seperti tali pengikat yang kuat.
hingga Arinda mengalami kesulitan untuk bergerak.
"Mas, kamu keterlaluan tau gak, aku tidak mau kembali bersama mu, lebih baik kau urus perceraian kita"ucap Arinda.
"Tidak bisa, lebih baik kita mati sama-sama dari pada aku harus kehilangan mu"ucap Argha yang semakin menambah kecepatan mobil nya.
sementara itu di kediaman Dheandra wanita itu hanya bisa mengelus dada, dia tau Arinda masih sangat mencintai Argha, tapi keduanya memiliki ego yang tinggi.
kenapa nasib Arinda begitu mirip dirinya, Dheandra menitikkan air mata, tapi kemudian dia tersenyum saat Refi memeluk nya penuh cinta.
"Jangan terlalu dipikirkan sayang, biarkan semua mengalir apa? adanya yang terpenting putri kita, tetap baik-baik saja, jika ini jalan hidup nya, kita hanya bisa berdoa semoga tuhan memberikan jalan terbaik"ucap Refi.
Dheandra pun hanya memeluk suaminya yang selama ini selalu menemani hidup nya, wanita itu begitu bersyukur, bisa hidup bersama dengan orang yang tepat, seperti kata Bunda Sari dulu, Dheandra pun menitikkan air mata nya, kala teringat dengan bundanya yang satu itu, dia begitu tulus mencintai dan menyayangi Arinda dan juga anak lainnya.
Arinda sendiri belum bisa membalas semua kebaikan tapi wanita itu sudah tiada lebih dulu.
"Semoga bunda berbahagia di surga"ucap Dheandra.
"Amiinn yrbl alamin"jawab Refi yang tau apa? yang dimaksud oleh istrinya itu.
di kediaman Bruno, pagi hari Arina, sudah berkutat dengan tugas nya, mulai dari bangun pagi membersihkan diri dan langsung turun ke dapur, meskipun di sana memiliki banyak asisten rumah tangga tapi dia tidak ingin suaminya dilayani oleh orang lain, kecuali jika dia sedang sakit, dan itu mau tidak mau Bruno, setujui dari pada Arina, merajuk dan pulang ke rumah ibunya, bisa-bisa kepalanya di penggal.
setelah selesai membuat sarapan sekaligus, untuk kedua anak nya, dia naik lift, menuju kamar utama mereka setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, dan setelah itu yang paling lama adalah membangunkan Bruno, hingga air di bathtub selalu Arina beri suhu tinggi agar saat Bruno, bangun Air sudah pas suhunya.
bukan karena Bruno, sulit bangun tidur tapi pria itu selalu minta dimanjakan terlebih dahulu sebelum akhirnya ia bangkit dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.
"Yang bangun Air nya, sudah aku siapkan"ucap Arina.
"No honey morning kiss please"ucap Bruno.
terpaksa Arina, harus mencium bibir suaminya dulu, masih mending jika hanya sekilas,ini bahkan harus lebih lama, dan bahkan pria itu tidak hanya meminta itu saja masih ada ritual lainnya, dan diakhiri mandi bersama dan Arina tidak bisa menolak keinginan suaminya itu.
pria tampan itu, selalu memanjakan Arina dengan kelembutan, karena Bruno,tau Arina, tipe wanita yang sangat lembut dan feminim.
akhirnya mereka melanjutkan ritual pagi nya di kamar mandi, hingga beberapa kali, bahkan tidak menghiraukan waktu yang terus berjalan, beruntung Arina, membangunkan suaminya setelah subuh, saat ini sudah hampir pukul tujuh pagi, tapi mereka baru selesai mandi dan berganti pakaian, keduanya saling membantu untuk mengeringkan rambut mereka.
"Dad...aku sudah keramas dua kali pagi ini kamu gak ada lelahnya sama sekali ya"ucap Arina.
"Bukan lelah sayang, tapi aku makin bersemangat sayang ku, karena hanya dengan mu aku akan seperti ini"ucap Bruno.
"Apa? Daddy serius tidak pernah jajan diluar sana"tanya Arina yang memang selalu memberikan kebebasan kepada suaminya, jika di tanya Arina, normal atau tidak tentu saja Arina normal, dia bahkan menginginkan rumah tangga yang utuh, tapi dia tidak ingin mengekang kebebasan suaminya, yang memiliki hasrat berlebih itu.
"Aku berani bersumpah sayang, sejak bertemu dengan mu, aku tidak bernafsu pada wanita lain, bahkan dulu dia juga hanya beberapa kali aku sentuh saat aku sangat merindukan dirimu.
Arina, menghargai kejujuran Bruno, meskipun kenyataan itu terasa menyakitkan tapi dia lebih memilih seperti itu dari pada suaminya berbohong terhadap nya.
"Jangan melamun sayang, aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan pernah berbohong pada mu"ucap Bruno.
sambil memeluk dan mencium puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih Arina memang sangat merasa dicintai, oleh Bruno.
setelah selesai Arina langsung menuju ke arah kamar putra nya Brian, yang harus segera berangkat sekolah, beruntung Brian sudah selesai bersiap dengan seragam nya itu.
Brian, sudah kelas dua SD, bocah berusia delapan tahun itu tumbuh menjadi anak yang cerdas, mungkin karena garis keturunan.
__ADS_1
sementara sikecil Anggelina, kini baru berusia lima tahun lebih, gadis kecil itu lebih manja pada Daddy nya dan setiap hari dia akan mengikuti Bruno ke kantor.
sementara Arina, masih bekerja di tempat klinik nya pribadi.