Gadis Tangguh Pujaan Ku

Gadis Tangguh Pujaan Ku
#Rumah untuk Amara#


__ADS_3

Adeline, hanya bisa terdiam, saat Brian, bilang bahwa dirinya telah menyiapkan rumah untuk menampung mereka, lebih tepatnya, memberikan rumah untuk Amara.


Sesampainya di rumah tersebut, Adeline, dibuat kagum, bukan karena rumah mewah dan besar, tapi rumah bergaya minimalis modern, yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk Amara, dan dirinya.


Brian, kini tengah menurunkan koper milik, Adeline, yang tadi sempat ia, bawa disana juga barang-barang sudah diturunin, rumah kosong itu, tadinya rencananya, untuk di tinggali oleh kedua orang tua istrinya, tapi setelah rumah itu beres, kedua orang tua, Sania, meninggal dunia, tak lama disusul dengan kematian Sania.


Brian, hampir depresi, tapi lagi-lagi Brilian, putri pertama nya, yang kini berusia delapan belas tahun itu, selalu menjadi sumber kekuatan, Brian, harus bangkit dari keterpurukan akibat ditinggal istri.


Sampai tiga tahun lebih, Brian, hidup dalam kesedihan dan kesendirian pria itu, masih selalu, datang ke makam sang istri, jika dia sedang sangat merindukan nya, dia akan duduk di sana selama berjam-jam bahkan hingga pria itu menginap di samping makam istrinya itu.


Cinta, pertama dan rasa cinta yang begitu besar, membuat dia hampir putus asa, dan ingin bunuh diri, bagaimana tidak, wanita itu adalah segalanya baginya.


Tapi kini, waktu telah menyembuhkan luka, Brian, sudah bisa mengihklas kan segala nya, karena, sesedih apapun dirinya, tidak akan bisa mengembalikan, istrinya ke dunia


Brian, pun mulai menata hidupnya, bersama dengan sang putri yang waktu itu baru berusia lima belas tahun, dia mencoba bangkit, dan kembali fokus pada perusahaan.


Brian, pun mulai kembali menemukan seseorang yang pernah hadir dalam hidup nya,dulu saat dia tengah terpuruk dan berkali-kali terluka, karena kecelakaan kecil yang mempertemukan dirinya dengan wanita cantik yang memiliki kebaikan luar dan tidak hanya itu, dia juga sangat ramah.


Adalah, Adeline, wanita berusia 27 tahun seorang yang cantik, dan sangat rajin dan gigih, Brian memang sempat tertarik, tapi dia enggan untuk, memulai hubungan kembali dengan seseorang, Brian hanya akan, cukup dengan mengagumi keindahan tersebut, tapi ternyata dia tidak mampu menahan godaan jika ternyata cinta sudah berbicara, meskipun Adeline, tidak singgel, dan bahkan dia sudah memiliki anak, tapi yang membuat Brian, yang tidak pantang menyerah adalah, ketidak beruntung an wanita itu, yang memiliki suami, tapi tidak di nafkahi, dan bahkan sering mendapatkan kekerasan fisik.


Brian, geram, dengan itu, dia saja, begitu lama berjuang untuk meluluhkan hati istrinya, kenapa? disaat orang lain memiliki istri yang baik, malah di sia-sia kan, Brian, menghamili istrinya itu jauh sebelum dia menikah, agar Bruno, mau menerima wanita yang sangat ia cintai, yang sempat Bruno, tolak, tapi melihat cucunya yang telah lahir ke dunia, Bruno, akhirnya luluh juga, dan saat itu lah pr bagi pria itu dimulai.


Istri yang seharusnya, mau melayani suaminya, dan akan patuh, pada peraturan tapi tidak dengan istri Brian, justru sebaliknya dia selalu ingin dilayani, dan tidak pernah peduli Brian ,ada atau tidak, wanita itu, hanya peduli dengan dirinya sendiri.


Hingga bertahun-tahun lamanya, tapi Brian, selalu menunjukkan kelembutan dan kasih sayang, tapi sedikit pun, baru saat dua tahun terakhir sikapnya berubah lembut dan perhatian, tapi sayang sang pencipta lebih sayang padanya, dan memanggil nya saat dimana, dia berubah menjadi lebih baik.


Sampai saat, Adeline, menata barang-barang nya, sampai selesai tengah malam, Adeline pun menghentikan beres-beres nya, karena, Brian, mengajak mereka untuk makan, ternyata pria itu, sudah memesan makanan untuk mereka bertiga.


Brian pun duduk, dan berdiam diri di kursi nya, Adeline, pun menghidangkan makanan untuk Brian, dan Brian pun menyungging kan senyuman,di bibir nya.


"Terimakasih"ucap Brian.


"Sama-sama"ujar Adeline.


Mereka bertiga pun duduk santai di sofa setelah makan malam, ketiganya kembali mengobrol hingga Amara, tertidur.


Saat itu, Brian, membawa Amara, kedalam kamar Adeline, karena permintaan Adeline, akhirnya, setelah itu Brian, pun pamit pulang.


pria itu, bahkan pamit layaknya, seorang yang tidak akan berjumpa lagi, mereka bersalaman.


"Aku pulang dulu, hati-hati di rumah, semoga kamu betah tinggal di sini, ini rumah untuk Amara, kamu tidak usah berpikir yang macam-macam, cukup rawat putri mu, dengan baik, dan besok akan ada dua orang pengasuh suami istri yang, akan aku pekerjakan untuk merawat putriku, saat ibunya, tengah bekerja, mereka berpungsi sebagai ART dan juga sopir, sekaligus tukang kebun, tidak perlu memikirkan gaji mereka karena saya yang akan bayar semua nya"ujar Adeline.


Adeline, pun, berucap terimakasih yang sebanyak-banyaknya, atas semua kebaikan Brian, padanya.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membalas kebaikan Brian dengan cara, membuat kan pria itu sarapan pagi makan siang dan makan malam, meskipun harus merepotkan sopir nantinya, tapi Adeline, harus balasbudi .


Hingga keesokan paginya Adeline, sudah belanja bahan makanan, dari super market terbesar dalam ada di kompleks perumahan tersebut, dia membelikan sembako, tidak hanya itu, dia juga membeli berbagai jenis minuman kalengan dan juga lainnya untuk nanti jika, sewaktu-waktu, Brian datang berkunjung.


Adeline, sudah berkutat dengan wajan dan sodet saat ini dia ingin membuat nasi goreng seafood, dan juga capcay goreng, untuk pelengkap ada juga telur dadar gulung campur sayur, setelah nasi goreng matang dan semua nya, akhirnya, waktu itu pun menyiapkan kotak bekal untuk diantar pada Brian, ke kantor nya, dia juga menyiapkan susu dan bekal untuk Amara.


Hingga sopir mengantarkan sang putri tercinta ke, sekolah, bersama si bibi yang akan menjaga Amara, Adeline, berangkat kerja dengan menggunakan taksi.


sesampainya di tempat kerja, Adeline, pun langsung disambut oleh pasien ibu hamil dan yang akan berobat, di sana, wanita itu pun langsung membuka pintu masuk dan mempersilahkan semua orang menunggu di kursi tunggu, dia juga melayani administrasi, setelah itu dia mulai mencatat keluhan pasien, dan menimbang berat badan bayi, atau anak yang akan berobat, atau ibu yang akan melakukan KB, rutin dan masih banyak lainnya.


Sampai saat Agam, datang merangkul pinggang Ananda masuk kedalam klinik ibu dan anak tersebut, Adeline, pun menyambut kedatangan mereka dengan sapaan dan senyum ramah.


Termasuk pada dua jagoan Arsen dan Arthur yang dibawa masuk ke dalam rumah pribadi nya mereka di samping klinik tersebut, untuk menunggu sang mommy bekerja, sementara Agam, setelah duduk sebentar sambil melihat istri tercinta nya, bersiap dia selalu menggoda Ananda, dan pelukan hangat dan ciuman bertubi-tubi, sampai Ananda tertawa geli.

__ADS_1


...🌹💖💖💖🌹...


"Aku berangkat dulu sayang ku, mulai besok, aku akan jadi sopir tetap mu"ucap Agam sambil terus menggoda.


"Bukan nya, setiap hari juga begitu tuan Agam, yang tampan dan gagah juga baik hati"ujar Ananda.


"Aku, selalu lupa, apa lagi setelah be*c**t* dengan mu, sayang.... kemarilah aku bisikkan sesuatu"ucap Agam.


"Apa?itu yang"tanya Ananda.


"Arsen dan Arthur meminta adik"ucap Agam.


"Sayang, anak mu sudah tiga, apa? masih kurang"tanya Ananda.


"Tentu, aku ingin membangun, tim kesebelasan"ucap Agam, sambil tersenyum.


"Mas, dapat Arsen dan Arthur pun itu adalah mukjizat, setiap hari pun aku tidak pernah minum pil, pencegah kehamilan, semua itu sudah kehendak yang maha kuasa, aku sudah lebih bahagia, saat mendapat dua jagoan, tidak berharap lebih lagi"jelas Ananda.


"Heumm, permisi nyonya dan tuan, pacaran nya, tolong di kondisikan dulu, itu pasien, sudah membeludak, dan saya kewalahan"ucap Adeline, yang sudah sangat akrab dengan mereka.


"iri bilang bos"ucap Agam dengan sengaja.


"Tidak iri, biarpun sekarang sudah tersingkir dari benalu, aku masih bisa berdiri"ucap Adeline, sambil pergi begitu saja.


"Hey, adik sepupu, jangan ngambek kan nanti cepat di kubur"ujar Agam, sambil terkekeh, pria itu bisa bersikap hangat hanya pada istri, dan Adeline, Adeline bagi Agam, sudah seperti adiknya sendiri, ditambah lagi sekarang Brian, sangat menyukai nya.


"Sudah dulu ya Daddy, aku harus bekerja dulu, Daddy bisa temani aku disini, sambil memeriksa pasien, atau mau lanjut ngantor"ucap Ananda, lembut.


"Aku mau ngantor dulu, kamu hati-hati ya sayang"ujar Agam.


Kecupan dan pelukan itu, kembali terjadi, sampai saat Adeline, kembali usil mengganggu mereka, berdua.


"Hahaha, iri dia yang"goda Agam.


"Ehh, ada yang bicara ya, tapi tidak ada orang nya"ucap Adeline, sambil pelangaplongo sementara Agam, yang gemas pun menarik hidung Adeline.


"Ah... sakit tau, ongkos operasi plastik ini terlalu mahal, Korea dan negara manapun tidak akan sanggup membuat nya"ucap nya kesal.


"Alah hati saja dengan rongsokan"cibir Agam sambil pergi.


"Ah, kalian ini sudah seperti Tom and Jerry saja"ucap Ananda yang kini tertawa.


"Habis nyonya, dia selalu pamer, kemesraan di depan jomblo ,kan kasihan ucap Adeline, sambil tertawa, diapun mempersilahkan pasien, saat itu juga.


Sementara itu di kantor Brian, tersenyum bahagia, saat melihat kotak bekal yang ada di atas meja nya, asisten nya bilang itu dari Nona Adeline.


Brian pun membuka kotak bekal tersebut, dan tampak lah makanan favorit nya, yang dulu selalu mommy, nya buat.


"My, wanita yang Brian, mau sudah Brian, temukan, mommy harus setuju dengan pilihan Brian kelak"ujar pria tampan tersebut.


Pria itu mulai menyendok makanan tersebut, dan rasanya pun, persis seperti yang ibunya buat, Adeline, mampu membuat dia bahagia.


Brian pun mengirimkan pesan, pada kakak sepupu nya, untuk menyampaikan terimakasih nya, atas bekal sarapan pagi yang Adeline, kirim ke kantor.


Sementara itu, Ananda, disela kesibukan nya, wanita itu masih, sempat menyampaikan pesan kepada Adeline, dua perempuan hebat, itu kini tengah membantu mengurus pasien.


Sementara itu, di kediaman Deri, pria yang malam kemarin kembali, dia sudah bersama dengan wanita selingkuhan nya, bahkan Deri, sudah membuat mengisi rumah tersebut dengan perabotan baru, jika dulu yang membeli barang-barang tersebut adalah Adeline, dari hasil kerja keras nya, saat ini Deri, sendiri yang membelikan semua nya, dengan uang hasil kerja keras nya.

__ADS_1


Memang pria, kejam tidak pernah punya belas kasih, istri sendiri dijadikan janda demi menikah dengan wanita sampah.


Sementara itu di dalam rumah tersebut, keduanya tengah berbahagia, Deri, bahkan tidak tau jika anak yang dikandung oleh wanita itu bukan, anak nya, tujuan wanita itu ingin menguras harta yang Deri, miliki saat itu juga.


Beruntung, Deri, memang sama-sama licik, dia tidak memberikan kesempatan untuk, siapapun mengambil keuntungan dari nya, pria itu hanya ingin, bermain-main saja, tanpa mau rugi.


Adeline, sendiri kini sudah selesai bekerja, karena pasien cukup banyak, dia pun terlihat begitu lelah hari ini, wanita itu bahkan sampai ketiduran di dalam taksi, dan dibangunkan oleh sopir taksi, yang baik hati itu.


"Nona, sudah sampai"ucap pria paruh baya itu.


Sampai Adeline, masuk kedalam rumah, wanita itu terus saja menguap beruntung putri nya juga tengah belajar mengaji bersama dengan asisten pribadi nya, yang dipekerjakan itu, adalah wanita serba bisa, wanita paruh baya itu, mampu membuat suasana rumah semakin hangat, Amara, bahkan senang, tidak seperti ART yang lama, wanita itu kaku, tapi sekarang jauh lebih ramah, mungkin ART, yang lama lebih patuh pada majikan pria, ketimbang pada nya.


Saat, Adeline, baru selesai mandi dan berganti pakaian, tiba-tiba suara bel pintu terdengar nyaring, ternyata Brian, datang, diri dia membawa oleh-oleh untuk Amara.


"Daddy tampan"panggil Amara, yang kini terdengar nyaring.


"Coba lihat,Daddy, bawa apa? untuk Amara"ujar pria yang kini memangku Amara.


"Wah, mainan, terimakasih Daddy"ujar gadis kecil itu.


"Sama-sama sayang, gimana belajar nya lancar"ujar Brian.


"Lancar Daddy, tadi teman ku, bilang Daddy tampan ada di sekolah ya"ucap Amara.


Sontak Brian pun terkejut, lalu menetralkan ekspresi wajah nya.


"Ah, itu tadi Daddy, ingin bertemu dengan Amara, tapi katanya Amara, sedang belajar dan tidak boleh diganggu."jelasnya.


"Owh, begitu"ujar Amara, sambil tersenyum.


"Iya, sayang mommy nya dimana?"tanya Brian.


"Di atas mungkin lelah setelah bekerja seharian"ucap gadis kecil itu.


"Apa? Amara dan mommy, sudah makan"tanya Brian lagi.


"Amara sudah, tapi mommy, sepertinya belum"jawab nya.


"Panggil nyonya, bilang saya disini"ucap Brian.


"Baik, tuan"jawab BI Ratih.


Akhirnya dia pun pergi memanggil Adeline, hingga beberapa menit kemudian , wanita itu turun diikuti oleh asisten nya di belakang, Adeline, terlihat sangat lelah saat ini.


"Apa? kamu sudah makan"ucap Brian.


"Belum sempat"ucap Adeline.


"BI, apa? sudah ada makan malam"ucap Brian.


"Sudah tuan"jawab wanita paruh baya itu.


"Ayo, makan dulu, jangan di tunda-tunda lagi, nanti kamu sakit, siapa? yang akan merawat mu"ucap Brian.


"Ya, baik'lah"ujar Adeline, sambil berjalan menuju meja makan.


Brian mengikuti langkah nya sambil menggendong Amara, gadis kecil berusia tujuh tahun itu masih bergelayut manja pada Brian.

__ADS_1


"Daddy tadi aku belajar mengaji"


__ADS_2