
"yaudah kalo nggak mau langsung nikah kita pacaran dulu ya??"
"aku masih belum yakin kak"
"yaudah aku tunggu jawaban kamu Sampe besok, kalo kamu besok nggak nemuin aku berarti kamu beneran tolak aku, karena besok aku bakal pulang ke Jakarta"
"yaudah kak, aku pikir-pikir dulu" Nabila pun berdiri hendak kembali ke dapur dan melayani pengunjung.
"bentar bil" Reno menahan tangan Nabila.
segera ia menempelkan bibirnya lembut pada bibir Nabila, Nabila pun kaget karena Reno melakukannya tiba-tiba. karena Nabila kaget dan hanya diam Reno pun membuka mulutnya, ia lalu mengul*um bibir bawah Nabila lembut sambil memejamkan matanya jantung Nabila tak dapat di kontrol karena seakan mau keluar dari dalam dadanya.
Reno semakin memperdalam cium*nnya Nabila hanya mengikuti gerakan lembut Reno.
mereka melakukannya cukup lama sampai akhir nya Reno melepaskan tautan bibir nya.
"makasih ya sayang" ujar Reno lalu mencium kening Nabila, tanpa berkata-kata atau menjawab Nabila segera berlari keluar dari sana.
Nabila langsung mencari tempat sepi untuk bernafas lega, tapi tubuhnya makin terasa bergetar karena keterkejutan nya barusan.
"ini barusan serius? aku udah cium*?" batin Nabila dengan perasaan panik.
"bil.. dari mana aja Lo,?" tanya Zidan mengagetkan lamunan Nabila.
"ihhh.. ngagetin aja sih kamu dan, "
"lagian ngapain lo disini sendirian, ngelamunin apa? itu kerjaan lagi banyak, banyak orang yang pesen minum lagi"
"iya-iya aku ke sana sekarang, duluan ya"
Nabila pun berlari lalu menuju tempatnya kembali dan melayani pengunjung yang memesan kembali.
.
__ADS_1
.
"pokok nya besok kalau udah nggak ada materi mas harus video call aku, terus yang paling penting nggak perlu ngobrol yang nggak penting sama Bu Alika" seloroh Aulia saat membantu Naufal menyiapkan pakaian yang akan Naufal pakai dan suaminya bawa besok selama tiga hari ke depan.
"insyaallah ya sayang,"
"kok insyaallah sih mas, harus pasti loh ya, aku nggak mau tau"
" iya sayang pasti kok, mas bakal video call kamu terus"
"gitu dong" Aulia menutup resleting tas ransel Naufal. setelah itu Aulia meletakkan nya di meja rak buku di kamar nya. setelah selesai semua persiapan nya Aulia dan Naufal ke ranjang seperti biasa Aulia duduk di depan Naufal, dan Naufal memeluk nya dari belakang mengelus lembut perut Aulia yang mulai membesar.
"pokok nya selama aku nggak ada aku titipin kamu sama Hasan ya sayang, pokok nya kalau kamu mau kemana pun minta anter Hasan, suruh bawa motor ku nggak papa"
"ihh masa' naik motor sih mas"
"lah, kenapa sayang??"
tapi bukannya cemburu Naufal malah tertawa.
" kamu nih ada-ada aja sih, ya nggak lah sayang, mas nggak bakalan cemburu, Hasan itu anak nya nggak neko-neko, nurut terus baik lagi," ujar Naufal membuat Aulia manyun karena cemberut.
" ehh betewe, si Hasan itu emang kalau selalu ada apa-apa curhatnya ke kamu ya mas?"
"ya gitu deh yang, bahkan dulu nih ya kalo mas udah nggak enak badan bukan umi yang heboh, tapi Hasan bolak-balik ke sini minta izin ke umi sama Abah buat rawat mas Sampe sembuh"
" berarti kayaknya kamu itu orang yang penting buat dia mas, kayak anak kamu sendiri ngga sih ?" Naufal mengangguk
"tapi aku sih nggak nganggep dia anak ya, lebih ke temen, atau adik aja, kalau bapak nya mas ketua an yang"
"hehehe, terus kalo curhat cewe gimana? pernah nggak??" Naufal menggeleng
"pernah sih aku dulu nanya gitu, soal nya kan dia kuliahnya di luar pesantren pasti ketemu banyak cewek-cewek, terus mas iseng nanya udah punya yang di suka belum, dia malah jawab nya kalau dia nggak akan pacaran, tapi kalau suatu saat ada yang dia suka dia bakalan langsung minta mas lamarin buat dia"
__ADS_1
" ini sih beneran kamu kayak bapak nya deh mas, terus nanti kalo dia nikahan kamu yang repot "
"ya nggak papa lah, lagian Hasan juga nggak bakal balik lagi ke kampung halaman nya tanah sama rumah orang tuanya juga udah dijual sama paman-paman sama bibi-bibinya jadi aku juga nggak keberatan kok meskipun aku yang repot kalau ada apa-apa sama Hasan ya kayak seumpama dia nikah atau apa hasan juga udah aku anggep keluarga sendiri sayang, kamu... keberatan nggak??"
tanya Naufal karena takut istri nya kurang nyaman.
"ngapain keberatan mas? kan Hasan baik, aku nggak masalah banget kok, seneng aja kamu pasti selama ini kesepian jadi anak tunggal terus deketnya kamu sama Hasan jadi buat kamu nggak ngerasa nggak punya saudara"
"itu sih maksudku yang, selama ini emang aku Aku ngerasa kayak nggak ada saudara dan nggak punya temen cerita gitu Setelah ketemu Hasan dan dia sama aku deket aku lebih senang punya temen cerita atau aku aja ke mana-mana nggak tahu kenapa ngerasa kayak udah punya adik kandung aja"
" ya udah jadi dia nggak bisa nyetir mobil? "
" bisa sih yang, aku udah ajarin juga, ya tapi kalau kamu masih ragu minta antar Fahri aja ya nanti Mas telepon biar dia siaga ada kalau kamu butuh mau pergi-pergi"
" kenapa sih aku nggak nyetir sendiri aja mas, aku kan juga udah biasa "
"nggak boleh sayang, pokoknya aku nggak bakalan izinin kalo kamu Sampe pergi bawa mobil sendiri, mending nggak usah ke cafe biar di handle Hasan semua " posesif Naufal.
" iya deh, ntar aku minta anterin kak Fahri aja, "
"gitu dong" Naufal mencium pipi istrinya, elusannya berpindah pada dada di atas perut Aulia.
"sayang... malam ini tiga ronde ya" bisik Naufal di telinga Aulia
"kok banyak sih mas? biasanya kan cuma dua?"
"kan biasanya itu buat semalem aja sayang. ini kan kita nggak ketemu dua malem kedepan"
"idiiih, biasa nya kan kita nggak setiap hari juga gituan, lebay deh kamu mas" Aulia tertawa padahal itu hanya maunya Naufal pikirnya.
"ya kan biasanya meskipun nggak gituan, aku masih bisa tidur peluk kamu" tangan Naufal mulai nakal menggerayai bagian sensitif tubuh istrinya.
kini Naufal sudah berpindah duduk ke hadapan Aulia lalu menuntun Aulia membaca doa terlebih dahulu seperti biasa setelah selesai ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Aulia, lalu mencium bibir nya awal nya dengan lembut lama-lama semakin panas dan menuntut, bahkan Naufal sudah melupakan kalau bibir nya terluka. dan seperti permintaan nya Aulia pun melayani suaminya malam ini sampai tiga ronde, hingga menjelang subuh mereka baru tertidur.
__ADS_1