
"mas itu ustadz Azka temen apanya pak affan sih?" tanya Aulia saat Naufal sedang memijat punggung nya.
"katanya sih sempet sekamar waktu mondok dulu, tapi cuma sebentar ada kali sebulan, terus baru ketemu lagi beberapa waktu lalu dan waktu ustadz Azka lagi butuh kerjaan, jadi di tawarin ngajar disini sama pak affan" jelas Naufal yang duduk di belakang Aulia.
" berarti nggak terlalu kenal Deket banget dong?"
"ya nggak tau, mungkin... tapi mungkin pak affan mau tolongin temennya, emang kenapa sih kok nanya-nanya ustadz Azka?"
"nggak tau mas, kayak ada yang aneh aja sama dia"
"aneh gimana sih yang?"
"ya aneh nggak sih, dia tadi udah aku suruh pergi tapi malah nggak mau, maksud aku kan risih gitu di toilet itu kan sepi ya"
"emang iya?? " Aulia mengangguk.
"terus ada yang dia lakuin? atau hal-hal yang mencurigakan nggak?" Aulia mengendikkan bahu.
" aku belum bisa pastiin sih, soalnya tadi dia pegang hp tapi kayak matanya lihat aku terus, tapi nggak tau juga apa karena aku ada di bawah jadi itu cuma perasaanku aja masih belum jelas sih" jawab Aulia
" terus nggak ada apa-apa lagi kan? kayak dia ngapain lagi gitu?" naufal semakin penasaran, Aulia menggeleng.
"mending mas lihatin dulu aja gerak geriknya, bukannya su'udzon mas, kita perlu waspada apalagi santri-santri disini itu tanggung jawab kamu" kata Aulia, Naufal pun mengangguk karena memang benar yang di katakan Aulia, Azka belum lama dikenalnya ia tidak bisa sepenuhnya percaya.
"apalagi kalau denger berita-berita jaman sekarang pada nggak masuk akal mas, ya na'udzubillah min dzalik sih jangan Sampe terjadi sama pesantren ini, makanya kita harus berupaya menyeleksi guru-guru terbaik dan paling penting sih amanah buat ngajar santri-santri"
"iya sayang mulai besok mas akan lebih memperhatikan ustadz Azka, apa mending kamu nggak usah masuk Madin aja gimana? mas sendiri yang bakal ajarin kamu dirumah"
"kok gitu mas, ntar aku bosen lagi malah ujung-ujungnya nggak belajar"
"mas nggak mau kamu di hukum kayak tadi, dan mas juga takut terjadi apa-apa sama kamu"
"nggak mas, aku bakalan tetep masuk kelas, dan aku bakal bantu kamu nyelidikin si ustadz Azka itu"
"nggak perlu sayang, itu biar jadi urusan mas, kalau sore kan kita nggak ada kegiatan? mas ajarin kamu persis kayak pelajaran kamu biasanya " kekeuh Naufal, Aulia tetap menggeleng, ia sebenarnya juga mau mengikuti keinginan Naufal, mengingat tubuhnya sudah agak malas dan kehamilan membuat nya pengen rebahan aja tapi Aulia masih khawatir dengan Zahra, satu-satunya temannya di kelas Madin.
__ADS_1
"yaudah kalau kamu maunya gitu, tapi inget kalau di hukum lagi bilang sama mas ya, atau mas bilang aja sama guru-guru buat nggak hukum-hukum kamu"
"terserah kamu aja mas" jawab Aulia.
hari-hari selanjutnya Aulia tetap masuk kelas Madin seperti biasa tapi ia tidak pernah di hukum lagi, meskipun begitu Aulia tetap menghafalkan atau mengerjakan tugas dari ustadz dan ustadzah semampu nya, para guru-guru pun tidak ada yang memaksa.
sore hari ini Aulia dan Naufal melihat progres pembangunan cafe nya.
" ini tinggal finishing aja, mungkin sekitar sebulanan lah udah bisa kita mulai cari-cari furniture buat cafe" Aulia mengangguk senang.
" terus kayaknya kita musti buka lowongan kerja, biar pas cafe nya buka udah nggak ribet lagi cari karyawan" Aulia menoleh pada Naufal.
" iya kayak nya mas, tapi jangan banyak-banyak dulu sih, dan.. kita nggak perlu buka lowongan " Naufal mengerutkan keningnya
"kenapa ??"
"karena aku udah tau siapa orang yang bakal aku rekrut"
" siapa yang??" Aulia lalu menarik tangan Naufal membawa Naufal ke lapangan berjalan terus menuju gazebo lapangan.
" assalamualaikum" salam Aulia saat sudah sampai di gazebo, tapi ternyata hanya ada Zidan dan Sam yang sedang tidur.
"bangunin dong mas, tumben banget ini cuma berdua" Naufal pun membangunkan dengan menggoyangkan tubuh sam tidak lama sam bergerak dan pelan-pelan membuka matanya.
"ehh... ada kalian??" Sam bangkit mengucek-ngucek matanya.
"kok cuma berdua sam? yang lain mana?" tanya Naufal
"Adi sama Rifki lagi ngamen dulu, gue jagain si Zidan ini, kurang enak badan" jawab Sam
"sakit apa dia? udah berapa lama ?" tanya Aulia tampak khawatir.
" seminggu lebih ini sih, demam, tapi nggak tau kenapa nggak sembuh-sembuh, padahal udah kita beliin obat di warung" jawab Sam, Aulia lalu menempelkan tangannya di kening Zidan dan sontak suhu tubuh Zidan menyalur ke tangannya dan terasa sangat panas.
" astaghfirullahaladzim, ini panas banget sam, kok nggak di bawa ke rumah sakit?" tanya Aulia panik.
__ADS_1
" ya gimana lagi Lia, kita nggak ada duit nya, ini aja hp kita ada yang ke jual buat beli makan karena pemasukan kita berkurang, soalnya gue sama Zidan nggak ikut ngamen" jelas Sam yang juga sepertinya banyak pikiran dan bingung.
"kita bawa ke rumah sakit aja Sam, ayo sayang, mas gendong ke mobil " Naufal sigap menggendong tubuh Zidan, karena Zidan memang masih kecil kalau dia meneruskan sekolahnya mungkin dia kelas satu SMA.
"ayo sam, Lo ikut ke rumah sakit apa nunggu yang lain ??" tanya Aulia pada Sam yang berjalan di belakang Naufal menuju mobil Aulia.
"gue ikut aja, nanti yang lain gue kabarin pake hp zidan, gue khawatir juga sama itu bocah" Aulia mengangguk mereka pun segera membawa Zidan ke rumah sakit terdekat dan Zidan langsung dapat perawatan diopname.
"untung saja kalian cepat membawanya kesini, dia terkena DBD dan trombosit nya sangat rendah, nanti setiap satu jam saya cek lagi kondisi nya " ujar dokter yang menangani Zidan lalu ia berpamitan dan pergi.
"gue nggak tau lagi harus bilang gimana sama kalian berdua, pokoknya terimakasih banget udah mau baik sama kita " ujar Sam dengan mulut bergetar, hatinya sungguh ingin menangis atas kebaikan Aulia dan Naufal tapi ia harus menahan karena gengsi. Naufal menepuk-nepuk pelan punggung sam.
" udah santai aja bro, kita masuk ke ruangan Zidan yuk" naufal mengajak Sam berjalan masuk di belakang Aulia. Aulia sengaja memilihkan kamar VIP untuk Zidan agar istirahat nya lebih nyaman.
saat membuka pintu Zidan ternyata sudah bangun tapi badannya sangat lemas tidak bertenaga.
"kak" Zidan mencoba bangun tapi Aulia langsung mencegahnya.
" udah kamu rebahan aja, gimana sekarang badannya?"
"udah mending sih kak daripada tadi, tadi aku buka mata aja susah lemes banget" jawab Zidan
"nanti berangsur-angsur membaik kok" Aulia mengambil bubur yang disiapkan suster di meja.
"makan dulu ya? biar kakak suapin"
"eh.. biar aku aja Lia, " sergah Sam
"iya kak, biar kak Sam aja" ucap Zidan karena merasa segan pada Aulia.
"gitu ya? yaudah nih Sam" Aulia menyerahkan mangkuk bubur itu pada Sam.
" bantu bangunin Zidan mas" pinta Aulia pada Naufal, Naufal pun langsung membantu zidan mengangkat leher dan punggung belakang nya, Aulia menatakan bantal agar pas dan Zidan nyaman makannya.
"segini cukup?" tanya Naufal, Zidan mengangguk.
__ADS_1