Gairah Anak Pak Kyai

Gairah Anak Pak Kyai
bab 39


__ADS_3

Aulia pulang dengan keadaan lesu, dia langsung menuju kamarnya dan tidur.


jam setengah tiga sore Nauval membangunkannya, Aulia terbangun saat Nauval mencium bibirnya seperti biasa.


"mas"


"sayang, kamu kok nggak bilang sama mas?" tanya Nauval


"bilang apa sih mas?" tanya Aulia yang masih mengantuk.


"kamu kok nggak bilang kalau kamu hamil?" pertanyaan nauval membuat Aulia langsung tersadar dan bangun.


"kamu .. tau mas?" tanyanya Nauval pun mengangguk.


"mas bahagia banget sayang, Allah kasih amanah buat kita bisa menjadi orang tua, mas janji akan berusaha membuat kamu bahagia" kata Nauval yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya kemudian memeluk Aulia.


Aulia tertegun, dia tidak tau harus bereaksi bagaimana.


"mas .." ucapan Aulia terhenti oleh Nauval.


" nanti malam kita kasih tau ke keluarga ya sayang, pasti mereka seneng banget" ucap nauval.


"iya mas" hanya itu yang bisa Aulia bilang sekarang ini.


mereka benar memberi tahu anggota keluarga dan mereka sangat bahagia, Abah juga sampai sujud syukur karena Allah memberikan kenikmatan yang indah ini.


Aulia hanya bisa tersenyum, sebenarnya Aulia ingin menyampaikan perasaan yang dirasakan Aulia pada Nauval, tapi dia takut Nauval menganggap Aulia tidak mau mengandung anaknya dan menjadi salah faham.


Aulia mual-mual hanya sesekali tidak setiap hari seperti yang diceritakan orang karena memang tidak semua orang sama.


diam-diam selama satu bulan ini pikiran Aulia sangat stres, karena pelajaran, pekerjaan dan entah kegundahan dihati Aulia yang dia pendam sendirian. belum lagi akhir-akhir ini tetangga-tetangga nya bergosip tidak mengenakkan tentangnya dan Nauval yang sering kelihatan keluar masuk rumah Aulia.


Aulia sedang berjalan pulang dari sekolah karena jaraknya memang tidak jauh.


"eh ibu-ibu, kok saya sering lihat Gus Nauval itu keluar dari rumah Bu Mira ya, kadang malah pagi-pagi sekali, saya khawatir deh ada apa-apa dia sama anak perawan nya Bu Mira" siapa lagi kalau bukan Bu Santi provokator nya.


"iya buk, jangan-jangan jadi anak kyai terus sama guru itu cuma kedok, padahal orang nya suka zina" jawab Bu Mirna


"astaghfirullah jangan Sampek deh Bu, amit-amit " balas ibu-ibu lain.

__ADS_1


Aulia mendengar itu tidak menanggapinya Aulia terus berjalan pulang, sampai kamarnya ia baru menumpahkan air matanya.


ini memang kesalahan nya yang menyembunyikan pernikahan mereka dan membuat orang lain berfikir macam-macam terhadap nya, tapi mau bagaimana lagi, Aulia masih sekolah, Aulia takut di keluarkan dari sekolah.


Aulia menangis sampai tertidur, bangun tidur Aulia sudah mendapati Nauval di depannya.


"Sayang, mata kamu kok sembab begini?" Tanya Nauval yang terlihat khawatir.


Aulia pun terbangun kemudian memeluk suaminya kemudian mencium pipi Nauval.


"Nggak papa mas"


"Serius??" Tanya Nauval meyakinkan Aulia hanya mengangguk.


"Kamu sekarang mandi ya terus sholat, habis ini kita kontrol kandungan kamu ya? Kan hari ini jadwalnya" Aulia mengangguk kemudian melangkah ke kamar mandi.


Aulia membuka semua bajunya untuk memulai mandinya, saat membuka ****** ******** Aulia kaget saat melihat darah seperti menstruasi, tidak banyak memang tapi perasaan Aulia sudah takut, pikirannya sudah kemana-kemana.


"Ntar tanya dokter nya aja" ucap Aulia


Selesai mandi Aulia segera sholat ashar kemudian bersama Nauval menuju dokter kandungan.


"Eh Aulia mau kemana sore-sore gini, udah cantik aja?" Tanya Bu Santi yang sedang lewat di depan rumah Aulia.


"Mau keluar bentar buk" jawab Aulia.


Mobil Nauval sudah keluar dari gerbang, Aulia kemudian menutup gerbang rumahnya, sedangkan Bu Santi mengintip mobil yang Aulia naiki dan terlihat jelas bahwa Nauval yang duduk di kursi kemudi.


Aulia sebenarnya mencoba tidak peduli tapi tetap saja kepikiran.


Setelah sampai mereka masuk ke ruang pemeriksaan karena memang kebetulan tidak antri.


"Apa ada keluhan hari ini Bu?" Tanya dokter Atikah


" Ini dok, saya ada flek keluar seperti menstruasi " jawab Aulia agak ragu.


Nauval yang mendengar langsung kaget, Aulia tidak pernah cerita pada Nauval.


Dokter Atikah pun lumayan khawatir.

__ADS_1


" Dari kapan keluarnya?" Tanya dokter lagi.


"Tadi pagi belum ada dok, pas bangun tidur sore barusan saya mau mandi di ****** ***** saya ada darahnya tapi tepat keluarnya saya nggak tau, mungkin waktu saya tidur" jelas Aulia.


"Baiklah mari segera periksa Bu, takut terjadi apa-apa" mendengar ucapan dokter itu membuat jantung Aulia dan Nauval berdebar-debar. Aulia takut terjadi sesuatu dengan anaknya, Nauval yang melihat kekhawatiran Aulia hanya bisa menggenggam tangan Aulia.


Setelah lumayan lama memeriksa dokter mengajak Aulia dan Nauval duduk kembali.


"Pak Bu... Maaf sepertinya bayinya tidak bisa diselamatkan, detak jantung nya sudah tidak ada dan kita harus secepatnya melakukan tindakan kuret" ucap dokternya.


Deg!!


Tanpa permisi air mata Aulia mengalir, bukan ini yang Aulia mau, ia memang tidak menginginkan kehamilan ini, tapi ia tidak menolak bayi nya, Aulia tetap ingin bayinya lahir dengan selamat.


Nauval berusaha tetap tegar untuk menguatkan Aulia.


"Kira-kira penyebab nya apa ya dok?" Tanya Nauval


"karena tadi kata nya tidak pernah jatuh atau terbentur benda keras jadi kemungkinan bisa jadi ibunya stres dan banyak fikiran" jawab dokter.


"Yasudah dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya dok" ucap nauval.


"Baiklah, ini saya kasih obat peluruh kandungan setelah nanti keluar gumpalan darah ibu bisa datang kesini lagi dan baru kita kuret, saya tidak bisa menahan ibu menunggu disini karena prosesnya berapa lamanya saya tidak bisa memastikan, jadi kita sarankan obat ini diminum dirumah, nanti tunggu reaksinya saja, tapi ini agak sakit, jadi nanti ibu tahan ya" ucap dokter itu.


Aulia hanya mengangguk pasrah kemudian mereka pulang ke rumah Aulia, di perjalanan mereka berdua hanya diam tidak ada yang bersuara.


"Maafin Lia mas" ucap Aulia pelan.


"Nggak papa sayang, seharusnya yang patut disalahkan itu mas, mas nggak bisa jagain kalian berdua, maafin mas ya dan mungkin emang belum rezeki sayang, sabar ya" ucap nauval.


Sampai rumah Aulia segera minum obat yang sudah di beri dokter, Nauval menyuruh Aulia berbaring di kamarnya saja. Kedua orang tua mereka dan Fahri serta istrinya juga sudah di beri tahu oleh Nauval, sekarang mereka berkumpul di rumah Bu Mira.


Nauval, menemani Aulia di kamar, sedangkan yang lain duduk di ruang keluarga berbincang-bincang untuk ikhlas dengan musibah ini, karena memang semua di dunia ini hanya titipan.


tiga puluh menit obatnya mulai bereaksi sekarang Aulia sedang kesakitan sampai menangis, keluarganya yang mendengar Aulia berteriak segera menghampiri Aulia. Bu Mira yang tidak tega bahkan ikut menangis melihat anak nya kesakitan tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"mas .. sakit banget mas.. Lia nggak kuat.." Aulia sudah duduk di lantai karena dari tadi sudah bolak balik pindah posisi mencari tempat yang bisa mengurangi rasa sakitnya.


Bu Mira dan umi Fatimah menghampiri Aulia yang sedang duduk dilantai memeluk Nauval.

__ADS_1


"nak yang kuat ya.." ucap Bu Mira mengelus punggung putrinya.


__ADS_2