Gairah Anak Pak Kyai

Gairah Anak Pak Kyai
bab 84


__ADS_3

"andai aja aku nggak keguguran ya mas, pasti aku juga lahiran bareng kak Aisyah " ujar Aulia tiba-tiba dengan mata berkaca-kaca. Naufal segera memeluk Aulia, mengusap puncak kepalanya.


"sayang, jangan di pikirin lagi ya, kita harus bersyukur, ini Allah udah di gantiin,. kamu kan udah hamil lagi, jangan stress ya, kasian ntar bayi kita yang ini" Naufal mengusap lembut perut Aulia


"buat yang udah Allah ambil, iklasin ya yang, apapun di dunia ini sudah punya ketetapan dan janji masing-masing, apalagi anak, kita nggak punya hak untuk sekedar marah sama Allah, semuanya hanya titipan, dan akan di ambil jika sudah waktunya" lanjut Naufal.


"iya mas, " Aulia kemudian tersenyum melepaskan pelukan Naufal dan mengusap air matanya. Naufal pun menggenggam tangan Aulia dan menuntunnya untuk duduk di kursi lagi.


"kabarin ibuk yang" ujar Naufal, Aulia mengangguk dan menelpon ibu dan umi.


saat Aulia menelfon, fahri dan seorang dokter perempuan berjilbab keluar dari ruangan.


"loh naufal??" ujar dokter tersebut.


"farah" Naufal mengenali dokter itu, Naufal sontak berdiri.


"apa kabar kamu? makin ganteng aja" ujar Farah sambil tertawa, dengan niat bercanda. Aulia menoleh ke arah Naufal dan segera mengakhiri telponnya.


"nggak kok, biasa aja" jawab Naufal tersenyum sedikit menanggapi candaan teman yang tidak terlalu ia kenal ini, hanya tau nama dan beberapa kali bertegur sapa, tapi memang gerak gerik Farah dari selalu mencuri-curi pandang pada Naufal saat bertemu.


"kak, udah aku kabarin ibuk, katanya pengen kesini" Aulia berbicara pada Fahri tanpa menoleh Naufal.


"terus gimana? "


"mending Kakak telfon lagi"


"yaudah, kakak telfon lagi, sekalian kabarin mertua kakak" Fahri pun pergi ke kursi yang di sebrang, Aulia duduk kembali ke kursi tunggunya, tapi berpindah ke kursi yang paling ujung.


"eh kamu inget si Indri yang dulu saingan aku ngejar-ngejar kamu nggak fal? Sekarang udah nikah loh? kamu dateng??" tanya Farah lagi pada Naufal.


"nggak, aku nggak tau kabarnya" jawab Naufal jujur, ia pun segera akan melangkah ke tempat Aulia.


" eh.. kamu siapanya pasien yang baru melahirkan ini fal?" tanya Farah menghentikan niat Naufal akan pamit.


"ohh.. aku .."


"mas, sini kepalaku pusing" Aulia memanggilnya dengan kesal, Naufal pun menoleh.


"maaf far, aku ke istriku dulu, kayaknya lagi nggak enak badan" ujar Naufal, tanpa menunggu jawaban Farah Naufal segera melangkah ke arah Aulia dan duduk di sampingnya.


"ohh, udah punya istri " gumam Farah pelan, ia pun langsung pergi menuju ruangannya.


Naufal menggenggam tangan Aulia.

__ADS_1


"kok bisa pusing yang? ini minum dulu" Naufal menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutup nya. Aulia menerima nya dan segera meminum air itu.


"tadi siapa mas?" tanya Aulia judes.


"dokter tadi?"


"yaiyalah siapa lagi" Aulia agak nyolot.


"Farah, sekampus dulu kita, tapi beda jurusan"


Aulia tidak bertanya lagi, ia kemudian diam.


"kamu mau periksa sekalian nggak yang? mumpung di rumah sakit" tawar Naufal, tanpa berfikir Aulia mengiyakan.


"yaudah ayo" mereka kemudian menelusuri rumah sakit mencari ruang pemeriksaan kehamilan. setelah ketemu segera Naufal mendaftar dan antri sebentar lalu giliran mereka masuk untuk diperiksa.


Aulia agak kaget ternyata dokternya orang yang sama dengan dokter yang tadi ngobrol dengan Naufal.


"eh, fal.. ini istri kamu mau periksa kehamilan ??" tanya Farah.


"iya far" jawab Naufal.


"oke dengan ibu siapa?" tanya Farah


"oke, ada keluhan bulan ini?"


"mual sesekali kalau pagi, terus punggung sakit dari kemarin" jawab Aulia.


"kalau punggung sakit saat hamil muda seperti ini Bu ada beberapa penyebab, ada yang karena hormon, pertumbuhan berat badan dan bayi, bisa juga stress atau jarang olahraga, dan nanti saya kasih obat pereda nyerinya ya, dan boleh dipijat lembut ya punggung nya, atau bisa mandi air hangat" jelas Farah, Aulia dan Naufal mendengarkan dengan seksama.


setelah mereka selesai Naufal dan Aulia keluar dari ruangan pemeriksaan itu, dan berniat kembali ke ruang melahirkan tadi.


Aulia berjalan tapi fokusnya pada ponselnya, karena Fahri mengabari lewat pesan katanya Aisyah sudah dipindahkan ke ruang rawat.


"kita cari ruangan melati nomer 11 mas, kak Aisyah di pindah kesana" ujar Aulia.


"oke " Naufal menjawab kemudian fokus dengan mencari ruangan yang Aulia sebutkan tadi.


"kamu sengaja ya bawa aku periksa kandungan tadi, karena kamu tau kan dokter tadi yang periksanya temen kamu itu ?" tanya Aulia tanpa memandang Naufal dan terus berjalan.


"maksudnya?" tanya Naufal bingung.


"ya kamu sengaja bawa aku periksa kandungan disini biar kamu bisa ketemu lagi sama dokter tadi" ketus Aulia. Naufal menghentikan langkahnya menggenggam tangan Aulia, ia pun ikut berhenti.

__ADS_1


"ya nggak lah sayang, mas khawatir kamu kenapa-napa, kamu kan ngeluh punggung sakit, jadi mumpung di rumah sakit ya periksa sekalian, mas nggak tau apa-apa loh soal farah" Naufal mencoba menjelaskan.


"alesan" ketus Aulia melepaskan tangan Naufal dan meninggalkan suaminya.


"huh" Naufal menghela nafas kasar, istrinya sedang cemburu tanpa alasan, padahal jelas-jelas tadi Naufal bilang mereka hanya teman.


"astaghfirullahaladzim" Naufal mencoba meredam emosi nya, ia harus lebih sabar menghadapi Aulia, apalagi istrinya sedang hamil muda.


Naufal segera mengikuti Aulia yang sudah menemukan ruang rawat kakaknya.


"assalamualaikum" Aulia masuk, mendapati Aisyah berbaring dengan wajar penuh binar kebahagiaan, disampingnya Fahri pun sama, menggenggam tangan Aisyah penuh cinta.


"waalaikumsalam, sini masuk dek" ujar Aisyah, Fahri pun menoleh, menjawab salam Aulia, melepaskan genggaman tangan nya di tangan Aisyah.


"selamat ya kak, udah jadi ibu" Aulia menghampiri Aisyah dan memeluknya.


"iya dek Alhamdulillah " Aisyah membalas pelukan Aulia. Fahri kemudian melenggang ke sofa yang ada dikamar itu, disusul Naufal yang baru datang.


Aulia duduk di tempat Fahri tadi menjaga Aisyah, bertanya-tanya bagaimana perasaannya, dan apapun yang berkaitan dengan pengalaman baru Aisyah tadi.


"gimana kak? udah ada namanya belum??" tanya Naufal pada Fahri mencoba membiasakan panggilannya pada kakak iparnya.


"belum Gus, kayaknya ntar tanya pak kyai aja" Naufal pun mengangguk.


"sayang, kamu mau makan nggak?" tanya Naufal pada Aulia, Aulia hanya menoleh sejenak lalu menggeleng dan kembali menatap Aisyah.


"kan udah waktunya makan siang "


"nggak" jawab Aulia lagi tanpa menoleh, Naufal pun tidak bertanya lagi.


"hey, nggak boleh gitu kalo ngomong sama suami" Aisyah berbicara pelan.


"biarin aku kesel" Aisyah pun diam tidak bicara lagi, karena memang mood Aulia seperti kurang bagus.


"tumben Gus nggak nempel itu anak?" tanya Fahri sambil mengupas buah Kelengkeng yang ia beli barusan di depan rumah sakit.


"kayaknya lagi marah " Naufal mulai ikut makan buah Kelengkeng yang ada di depannya.


"marah kenapa??"


"cemburu sama dokter yang bantu istrimu melahirkan tadi"


"hah, kok bisa?"

__ADS_1


__ADS_2