Gairah Anak Pak Kyai

Gairah Anak Pak Kyai
bab 98


__ADS_3

sampai sebulan lebih Aulia masih kepikiran dengan keinginan ibunya, tapi sama sekali ia tidak tampakkan pada Naufal, sampai acara 4 bulanan usai Aulia masih memikirkan bagaimana cara nya mendapatkan uang segera. sedangkan uangnya dan Naufal sudah ia pakai untuk membeli tanah, membangun cafe serta menggelontorkan modal awal untuk membeli peralatan-peralatan di cafe yang memang lumayan mahal.


apalagi kini ia sudah menjadi donatur tetap di yayasan pesantren jadi ya bagaimana pun juga pendapatan resto nya harus di bagi-bagi.


" apa aku pinjem om herman aja ya? pasti om herman mau pinjemin?" gumam Aulia.


"tapi masa' buat ke tanah suci dapet utang sih, kan ngga mungkin?.. , tau deh, pusing" kesal Aulia karena masih banyak kebimbangan di hatinya.


"sayang.." panggil Naufal memasuki kamarnya membuyarkan lamunan Aulia lalu menghampiri istrinya.


"kenapa mas?" tanya aulia yang sudah menyambut pelukan suaminya.


" udah sholat dhuhur ?" tanya Naufal Aulia mengangguk.


"mau liat cafe nggak?" Aulia mengangguk.


"yaudah gih pake jilbabnya sayang" pinta Naufal Aulia pun mengangguk lalu mencium pipi Naufal sebentar dan beranjak memakai jilbab.


"bismillah semoga setelah di buka cafe nya rame terus aku biar cepet bisa kumpulin uang buat daftarin ibu umroh, ya Allah permudah lah jalan hamba agar bisa membahagiakan kedua orang tua hamba ya Allah". batin Aulia sambil melihat cermin saat ia memakai jilbab nya.


mereka pun menaiki mobil Aulia menuju cafe yang tidak jauh dari rumah nya.


Cafe nya sudah hendak buka karena di bantu Zidan, Rifki dan yang lainnya yang mempersiapkan segala sesuatunya, membuat pekerjaan Aulia jadi mudah karena kemana-mana ke empat orang ini yang jalan dan mereka bahkan saling bagi tugas.


sesampainya disana terlihat Sam dan rifki dan zidan sedang menata meja dan kursi, Adi sedang menulis di salah satu meja.


"gimana di? kurang alat apa aja?" tanya Aulia duduk di depan Adi di ikuti Naufal.


"udah semua Lia, tinggal tunggu alat-alat masak sama alat pembuat kopi nya Dateng, paling besok" Aulia mengangguk mengerti.


"terus soal karyawan di?" tanya Naufal


"kenapa bang?"


" enggak butuh apa aja gitu ? barista sama koki aja kah?"

__ADS_1


"iya bang kayanya itu deh, gimana ya bang? Lia? kalian punya kenalan sendiri apa kita buka lowongan?" tanya Adi membutuhkan saran dari bos nya.


"kalian buka aja lowongan deh, kalo koki sama barista kita nggak ada yang kenal sih, ya nggak mas?" tanya Aulia Naufal mengangguk karena memang ia juga tidak ada kenalan.


Zidan, Rifki, dan Sam lalu ikut bergabung dengan mereka.


" Zidan, habis ini buatin tulisan ada lowongan ya, buat koki sama barista" pinta Adi pada zidan karena memang hanya Zidan yang gaptek yang lainnya nggak ada yang bisa menjalankan komputer, jadi Zidan lah yang bertugas dalam hal ini.


"siap.. mau di buat sekarang??" tanya Zidan


"ntar aja Zidan, kalian juga pasti masih capek angkat-angkat meja sama kursi barusan" kata Aulia, zidan pun mengangguk.


"eh udah makan belum?" tanya Naufal semua nya kompak menggeleng.


" makan diluar yuk" ajak Aulia. ke empat laki-laki itu saling pandang, mereka sebenarnya sangat segan pada kedua bos nya ini karena mereka sangat baik, bahkan sebelum cafe di buka mereka sudah di bayar oleh Naufal dan Aulia hanya karena membantu mempersiapkan pembukaan cafe.


"pasti kelamaan mikir, udah ah ayo" Aulia berdiri di ikuti Naufal dan akhirnya semuanya berdiri berjalan dan masuk mobil. untung saja Naufal membawa mobil Aulia yang besar jadi cukup membawa 4 orang.


mereka makan di restoran atas keinginan Aulia karena cuaca yang panas ia ingin makan di tempat ber AC.


setelah makan Aulia punya ide untuk membawa mereka ke babershoop untuk memangkas rambut ke 4 karyawan barunya yang masih dengan gaya anak punk itu.


"ee.. gimana ya kak, ini rambut ku kan masih keren" kata Zidan membelakangkan rambut depannya yang panjang agar terlihat rapi.


"iya Lia, ini kayak nya masih bagus" kata Adi


"bagus gimana sih di, itu rambut kamu udah kayak kesetrum banyak yang rusak gara-gara warna nya, pasti warnainnya pake cat rambut murahan yang nggak ada vitamin rambutnya kan? , mana warna putih lagi, kayak nggak ada warna lain aja cat rambutnya" Aulia pura-pura memarahi Adi. membuat Sam Zidan dan Rifki tertawa, Naufal pun sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.


"udah sayang, kalo nggak mau jangan di paksa" kata Naufal setelah selesai tertawa


"ihh.. kamu gimana sih mas? cafe nya kan udah mau buka dan mereka kan yang bakal ngelayanin, masa' dandanannya kaya gitu? nanti pengunjungnya kan malah jadi takut" jawab Aulia membuat ke empat orang di belakangnya tidak enak.


"kita mau deh Lia" kata rifki akhirnya dan di angguki oleh yang lainnya.


" yess .. yaudah mas berhenti di babershoop yang di ruko kanan jalan itu aja, kayaknya tempatnya nyaman" ajak Aulia

__ADS_1


" nggak mau di tukang cukur langganan mas aja, enak juga kok tempatnya, murah lagi" tawar Naufal.


"murah?? nggak mau, pasti tempatnya panas, nggak ada AC nya " tolak Aulia, Naufal hanya menarik nafas dalam, ini yang katanya mau cepet nabung buat umroh ibu nya tapi kalo ke orang lain sangat royal dan masih bergaya hidup tinggi, tapi tak apalah, sekali-kali juga lagian Aulia kan memang di besarkan dari orang yang punya segalanya, apa-apa langsung ada, mungkin efek samping nya di angkat anak oleh almarhum papa dan mama nya pikir Naufal. (wkwkwk, ada efek sampingnya juga ternyata kayak obat aja: batin author).


sampai di tempat cukur nya ke empat anak itu langsung di tangani tidak perlu antri karena memang babershoop nya yang besar dan banyak karyawan nya.


ke empat karyawan Aulia menyerahkan semuanya pada Aulia tentang model bahkan Aulia yang bawel pada tukang cukurnya begini dan begitu jika tidak cocok.


"karena kalian nurut kalian boleh warnain rambutnya, tapi dengan syarat warna yang bagus yang kalem jangan yang gonjrang gonjreng kayak mau tujuh belasan gitu" ujar Aulia saat pencukuran rambut mereka akan selesai.


"serius Lia??" tanya Rifki Aulia mengangguk


"waahhh asikkk" kata Zidan.


"tapi inget ya, harus yang kalem dan harus yang cocok, kalau perlu konsul dulu sama mas-mas dan mbak-mbak disini yang cocok gimana " jelas Aulia semuanya mengangguk senang.


"mas, kasih mereka pilih warnanya dong" pinta Aulia pada salah satu karyawan yang sedang tidak memotong rambut.


karyawan itu membagikan masing-masing contoh warna nya.


Naufal hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat istrinya yang masih memikirkan keinginan hati mereka. Aulia menghampiri suaminya yang duduk memainkan hpnya.


"kamu capek mas? bosen nunggu nya nggak??" tanya Aulia duduk di samping Naufal.


"nggak sayang, oiya tadi kamu marah karena rambut mereka warna warni tapi sekarang nggak papa?" tanya Naufal.


"ya nggak papa mas, kasian aja tadi udah aku marah-marahin" kata Aulia Naufal hanya mengangguk-anggukan kepala.


" makasih ya Lia" kata Sam yang duduk di samping Naufal


"sama-sama, Lo nggak nge cat rambut juga?" tanya Aulia Sam menggeleng.


" nggak ah, sekali-kali gini, cakep nggak?"


"cakep Dong, gue malah pangling ini" jawab Aulia karena memang Sam terlihat lebih rapi dan segar.

__ADS_1


"ekhhemm" batuk Naufal karena mendengar istrinya memuji laki-laki lain Aulia langsung menoleh pada suaminya


" tapi tetep paling ganteng suami aku dong" ujar Aulia takut akan batuk Naufal barusan dan langsung memeluk Naufal dari samping. Sam tertawa melihat wajah takut Aulia pada Naufal.


__ADS_2