
" ayo dong mas ... ajarin aku naik motor lagi" pinta Nabila pada Sam.
" nggak ah, males ngajarin kamu, kamu nggak bisa-bisa" cemberut Sam, pasalnya sudah berulang kali ia mengajarkan Nabila naik motor tapi memang Nabila masih takut-takut jadi tak pernah berani belajar sendiri.
"ya namanya juga belajar mas... boleh ya.... plis....." mohon Nabila.
" yaudah-yaudah, nanti dulu kalo kerjaan ku udah selesai " kata Sam.
" yeeeaay... makasih ya mas ..." teriak Nabila kegirangan sampai tak sadar ia memeluk Sam, Sam yang kaget dengan pelukan itu pun hanya mendelik tak berbicara apapun.
"cieeee .. uhuuuyyy.... pajak jadiannya dong...." ujar nisa dari belakang, sontak Nabila melepaskan pelukannya dan menoleh pada nisa ternyata banyak teman-teman yang lain sedang melihat mereka membuat Nabila dan Sam seketika Malu.
" eh apa sih orang kita nggak jadian kok" ujar Nabila gelagapan.
"nggak jadian tapi kok peluk-pelukan gitu" tambah Nisa.
"kayak nya Nabila deh yang suka sama gue, buktinya tadi dia peluk-peluk gue gitu, ya kan??? ngaku aja loh" kata Sam malah menggoda Nabila yang kini sudah terlanjur malu.
" ihhhhh.... GE er banget sih kamu mas, nggak ya, aku nggak suka sama sekali sama kamu mas,. " kata Nabila sambil berlalu pergi.
terlihat Ririn dari bagian belakang hanya memandang dengan tatapan sedih, pasalnya sudah lama sekali ia naksir pada Sam tapi tak pernah berani ia mengatakan nya kini melihat Nabila seperti itu yang juga sepertinya menyukai Sam juga.
jika di bandingkan dirinya memang Nabila lebih cantik dan pastinya lebih baik, tapi sepertinya ia ingin menyerah dulu sebelum berperang, ia takut malu jika cinta nya di tolak setelah ia menyampaikan perasaan nya.
" cieee mas Sam.... udah mulai tumbuh benih-benih cinta nih ya..." goda nisa pada sam.
"apa sih kamu ini, kecil-kecil ngomongnya cinta-cintaan, udah sana balik kerja lagi" kata Sam, Nisa pun memanyunkan bibirnya dan kembali ke pekerjaan nya, demikian pun Sam kembali melakukan pekerjaan yang tadi sempat tertunda gara-gara Nabila mengajaknya bicara.
di sini semua orang memang memanggil Sam dengan sebutan mas karena Sam yang paling tua di antara mereka, Sam berumur 27 tahun, dan terbukti dia bisa menjadi leader yang baik yang di tugaskan untuk mengatur para pekerjaan teman-teman nya yang lain yang memang Aulia sendiri mempercayakan itu.
__ADS_1
"pukul 8 pagi persiapan mereka sudah selesai tinggal menunggu jam saja karena mereka buka cafe pukul 9 pagi.
" mas... ayo kita belajar sekarang" pinta Nabila pada Sam, Sam melihat jam tangannya terlebih dahulu.
" ngapain sih liat-liat jam, ini jam 8 mas masih ada se jam lagi kita buka" kata Nabila akhirnya Sam pun mengangguk ia kemudian mengambil motor nya sendiri yang ia kredit. setelah itu ia membonceng Nabila ke lapangan samping cafe lalu ia pun mulai mengajarkan Nabila seperti sebelum-sebelumnya, Nabila langsung Sam minta menyetir dan membonceng nya, tugas nya menahan Nabila takut jatuh.
setelah berkeliling lapangan sampai setengah jam lamanya akhirnya Sam mencoba melepaskan Nabila sendirian, dan akhirnya Nabila pun bisa.
" makasih ya mas.... udah ajarin aku Sampe bisa, besok aku mau coba-coba bawa motorku sendiri" kata Nabila saat mereka sudah berada di cafe.
" iya sama-sama bil, tapi inget ya, di jalan sama lapangan itu beda, pokok nya ati-ati kamu" kata Sam Nabila pun mengangguk.
" iya mas, aku pasti ati-ati kok, lagian juga jalan rumah ku ke cafe nggak terlalu rame mas, " kata Nabila, Sam pun mengangguk.
" aku mau traktir kamu makan nih, dimana ya mas?" tanya Nabila.
" ihhh jangan gitu dong mas, mau ya mas ... plissss .." mohon Nabila.
" yaudah, terserah kamu aja deh" kata Sam Nabila pun mengangguk, mereka pun kemudian kembali masuk cafe, dan bersiap membuka cafe.
.
.
" kita berangkat sebulan lagi, jadi untuk semuanya Abah harap untuk menjaga kesehatan ya, agar saat waktunya berangkat kita semua dalam keadaan sehat" kata Abah, para keluarga besar kini sedang makan malam bersama untuk membicarakan perihal keberangkatan umroh mereka bulan depan.
" insya Allah bah, semoga kita semua dalam keadaan sehat ya" kata Naufal dan di Amini yang lain.
" bah, udah bilang kan kalo tambah satu?" tanya Aulia pada Abah, Abah pun mengangguk.
__ADS_1
"emang nya tambah siapa lagi Lia?" tanya pak Salim.
" Hasan pak, dia selama ini kerja keras banget buat cafe apalagi sambil kuliah, pengen aja aku apresiasi kerja keras dan semangatnya" jawab Aulia santai, pak Salim hanya menganggukkan kepalanya.
"assalamualaikum.." panggil Hasan dari luar, Naufal pun bangkit menghampiri Hasan yang sudah berada di depan pintu masuk, dan meminta Hasan untuk duduk di kursi meja makan yang memang tinggal satu.
Hasan merasa sangat tidak enak makan se meja dengan pak kyai dan keluarga besarnya.
" santai aja san, nggak usah tegang gitu" kata Fahri sambil tersenyum melihat ketegangan di wajah Hasan.
" hehe, enggeh mas fahri" jawab Hasan sopan.
" ayo silahkan makan san, ini piring nya, nasinya ambil sendiri ya biar enak" kata umi Hasan pun mengangguk ia pun kemudian mengambil nasi secukupnya. setelah itu ia mulai ikut makan seperti yang lainnya.
sebenarnya Hasan masih belum tau kenapa ia di ajak makan malam bersama keluarga besar gus Naufal tapi tidak ada yang bisa ia tanyakan ia hanya diam sampai nanti ada yang memberitahunya, karena Hasan sama sekali tak berani bertanya pada orang-orang yang ia hormati di hadapan nya.
" setelah selesai menikmati makan malamnya umi, Aulia, Bu Mira membersihkan sisa-sisa piring di meja makan, Aisyah tak dapat membantu karena ia ke ruangan lain untuk menyusui anak nya.
"san kamu siap-siap ya bulan depan kita bakalan pergi umroh bareng, jadi saya harap kamu baik-baik jaga kesehatan " kata Naufal mulai memberitahu, Hasan sangat terkejut.
" serius gus?jadi maksudnya saya ikut gitu?" tanya Hasan Naufal mengangguk, sungguh tak dapat di bohongi jika ia tak bisa menahan air matanya, ia tak menyangka ia akan bisa berangkat ke tanah suci, sebentar lagi, dalam hidupnya ia hanya bisa memohon bila suatu saat ia ingin sekali berangkat ke rumah Allah. tapi untuk membayangkan dalam waktu dekat ini apalagi di usianya yang masih sangat muda ia tak pernah membayangkan hal ini.
dalam hati nya ia mengucap syukur berkali-kali, tak bisa ia rangkai dengan kata-kata rasa senang di hati nya.
" gus, pak kyai dan keluarga, saya nggak tau lagi musti gimana saya berterima kasih, kebaikan gus Naufal dan keluarga sangat-sangat luar biasa untuk saya dari mulai saya kecil, sekali lagi, saya berterima kasih sekali" kata Hasan tulus. Naufal mengangguk,.
" sama-sama san, ini semua juga nggak akan terjadi kalo kamu nggak bekerja keras selama ini di cafe, ini cuma apresiasi kita buat kerja keras kamu selama ini" kata Naufal.
" yang paling penting kamu harus bersyukur berterimakasih pada Allah san, karena ini semua karena Allah kamu di kasih kesempatan seperti ini" tambah pak kyai.
__ADS_1