
Sam menyuapi Zidan dengan telaten, sedangkan Aulia dan naufal duduk di sofa, tidak lama Adi dan Rifki datang mereka mendekati Zidan lalu mengobrol sebentar lalu mendekati Aulia dan Naufal.
" Aulia, mas, makasih banyak ya, kita berhutang Budi banget" ujar Rifki.
" iya udah santai aja, oiya kita mau keluar sebentar kalian disini dulu ya jagain Zidan " ujar Naufal, Rifki mengangguk, Aulia dan Naufal pun bangkit lalu beranjak pergi dari ruangan Zidan.
" nggak tau lagi sih kok ada ya orang sebaik Aulia sama suaminya, mereka nggak risih ya bantuin kita" ujar Sam setelah kepergian kedua pasangan itu.
"iya, kalau orang lain mah noleh aja nggak bakalan karena udah liat casing kita kayak gini" tambah Adi.
" pas Aulia tau Zidan panas banget suaminya langsung gendong Zidan buru-buru bawa dia ke rumah sakit" cerita Sam yang saat tadi ada di lokasi.
"maaf ya kak, mas Sam, mas Adi, mas Rifki, aku ngerepotin kalian banget ya" ujar Zidan yang merasa tidak enak pada ketiga temannya.
"udah nggak apa-apa idan, Lo tuh udah kayak adek kita sendiri, jangan nggak enak gitu, yang penting sekarang Lo udah di tangani dokter" Sam menenangkan Zidan.
"maaf juga ya mas, mas Sam harus jual hp karena buat makan kita, kenapa nggak jual hp aku aja mas" tanya Zidan karena masih melihat hp nya di meja samping sedang kan yang ia tau hp sam sudah di jual.
"nggak lah, kan cuma disitu Lo punya foto nyokap Lo, kita masih harus terus nyari nyokap Lo" Sam menjelaskan.
"tapi kan mas..."
" udah-udah, sekarang Lo istirahat aja" Sam memperbaiki posisi tidur Zidan.
Aulia dan Naufal sedang berada di luar rumah sakit Aulia sedang menunggu makanan pesanan sedangkan Naufal sedang memilih-milih pakaian untuk Sam dan yang lain agar mereka lebih nyaman, setelah selesai mereka membeli makanan pakaian dan kebutuhan mandi Naufal dan Aulia segera kembali ke ruangan Zidan.
"assalamualaikum" ucap Aulia dan naufal.
"waalaikumsalam" jawab mereka serentak.
" kita makan dulu ya, gue udah beli nasi bungkus nih barusan " Aulia menghampiri mereka bertiga yang sedang duduk di lantai yang lumayan luas untuk beberapa orang.
__ADS_1
"eh makasih banget nih Lia" ujar Sam saat Aulia memberikan nasi bungkus nya"
"iya Lia, makasih ya" ujar yang lain, Aulia dan Naufal pun bergabung duduk di lantai untuk makan bersama.
"eh.. Lia, mas.. kalian duduk di sofa aja, kita udah biasa duduk di lantai kok" cegah Adi
"iya Aulia, sofa nya nggak kita dudukin sama sekali kok, masih bersih" tambah rifki yang berpikir kalau Aulia dan suaminya tidak mau duduk di sofa karena takut sudah mereka duduki.
"nggak papa kok, di, Rifki, kita emang mau ikut gabung sama kalian, biar seru makannya, ya nggak sayang?" tanya Naufal, Aulia mengangguk.
"iya, biar rame aja" tambah Aulia.
"yaudah yuk makan, bismillahirrahmanirrahim" Naufal berdo'a.
"bismillahirrahmanirrahim" yang lainnya pun spontan mengikuti dan mulai makan.
setelah makan Aulia pergi ke mushola untuk sholat sedangkan Naufal mengajak ketiga teman Zidan tadi sholat berjamaah di ruangan Zidan yang memang masih luas dan cukup untuk sholat berjamaah, sebelumnya mereka sudah mandi dan berganti pakaian karena Naufal sudah membelikan nya sarung.
"kita balik dulu ya, besok kita sore kesini lagi, dan kalau ada apa-apa atau Zidan boleh pulang kabarin, tadi kan udah gue kasih nomor gue" jelas Aulia saat berpamitan, mereka semua mengangguk, Aulia menyodorkan lima lembar uang berwarna merah pada Sam.
setelah berpamitan pada Zidan juga Naufal dan Aulia kembali ke rumah.
" loh kok malem banget pulangnya nak" tanya umi saat Aulia dan Naufal bersalaman pada umi yang sedang duduk di sofa.
"iya mi, tadi bantu temen dulu ke rumah sakit" jawab Naufal ikut duduk di sofa.
"temen siapa nak?"
" bukan temen deket banget sih mi, mereka kayak anak jalanan gitu tapi beberapa kali ketemu kita dan kita akrab gitu, salah satu yang paling kecil itu sakit panas banget waktu ketemu kita tadi jadi langsung deh kita bawa ke rumah sakit " jelas Aulia
"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, terus gimana keadaan nya sekarang?"
__ADS_1
"ya udah lumayan sih tadi mi, udah nggak lemes, ternyata kena Demam berdarah "
"terus gimana keluarga nya? udah dikabarin?" Aulia menggeleng
"dia keliling-keliling jadi anak jalan gitu sambil nyari ibunya mi, katanya dari bayi nggak pernah ketemu " jelas Aulia
"astaghfirullahaladzim, kok bisa " Aulia mengendikkan bahunya.
"yaudah mi, kita ke kamar dulu," pamit Naufal umi mengangguk.
" mas, kamu hubungi tukangnya ya, mes nya kalo bisa cepet di selesai in, nanti Zidan kalo udah boleh pulang biar ada tempat istirahat " pinta Aulia saat menuju lemari untuk berganti baju setelah mandi dan sholat.
" iya boleh si, tapi kayaknya nggak semuanya langsung selesai, paling 1 kamar aja yang bisa di selesai in cepet"
"iya deh boleh, yang penting Zidan ada tempat buat pemulihan aja mas, daripada di jalan nggak ke urus " Naufal mengangguk lalu tersenyum menghampiri istrinya yang sedang kesusahan mengaitkan bra nya. Naufal pun membantu Aulia.
"aku beruntung deh yang"
"beruntung kenapa mas??"
"punya istri yang baik, tulus, nolongin orang nggak pandang orang itu siapa"
"lebay deh, kamu juga gitu kok, tapi mau gimanapun itu aku bersyukur banget karena punya kesempatan buat tolongin Zidan tadi, aku bahkan ngebayangin di mobil tadi Zidan nggak bisa selamet mas, dia udah panas banget, mukanya pucet banget"
"iya sayang, Alhamdulillah, kamu udah mau tidur?" tanya Naufal mengikuti Aulia menuju ranjang.
"iya mas, capek banget" Aulia membaringkan tubuhnya.
"elus-elus perut aku dong mas, adek lagi kangen papanya nih" goda Aulia yang sedang ingin bermanja. Naufal dengan sigap mengelus perut Aulia yang sudah mulai membuncit dan melantunkan sholawat dengan sangat merdu, Aulia sampai tidak terasa ia tertidur.
setelah Aulia tidur Naufal mematikan lampu, ia kemudian keluar menuju kantor Madin untuk menginput data-data murid-murid terbaru.
__ADS_1
Naufal mengutak-atik komputer hingga tidak terasa pukul 12 malam, matanya sungguh mengantuk, jadi ia berinisiatif membunyikan musik yang melantunkan sholawat- sholawat tapi dengan suara pelan.
saat sedang fokus dengan pekerjaan nya mengubah data yang salah atau yang sudah berganti Naufal mendengar suara kaki melangkah, karena ada musik jadi suara itu samar, Naufal menurunkan lagi volume speaker nya, tidak lama ada suara langkah kaki lagi tapi ini sangat pelan seperti langkahnya berhati-hati sekali.