Gairah Anak Pak Kyai

Gairah Anak Pak Kyai
bab 70


__ADS_3

"tapi kan mas kalau senyum jadi ganteng banget, buat cewek-cewek meleleh " ujar Aulia sambil mencubit bibir sexy Naufal.


"terus masa' mas nggak boleh senyum sama sekali sih Yang ntar dikira sombong lagi" ujar Naufal dengan cemberut.


"boleh kalau sama yang lain kecuali sama Bu Alika itu, Aulia nggak suka mas" manyun Aulia.


"iya sayang, mas usahain ya demi kamu" ujar Naufal mengecup bibir Aulia gemas.


Aulia dengan sengaja membalas ciuman Naufal, bibir keduanya pun beradu dengan lembut penuh cinta.


"naufal Aulia ayo sarapan dulu nak" teriak umi seketika membuyarkan kegiatan mereka.


"iya umi" jawab Naufal menghapus sisa air ludah di bibir Aulia.


mereka pun sarapan dan seperti biasa Aulia hanya makan beberapa sendok dan minta disuapi oleh Naufal.


selesai sarapan Naufal berangkat dan Aulia membantu umi membereskan bekas piring makan, ia juga membantu mencuci piring membantu pekerjaan umi.


selesai membantu umi beres-beres di dapur Aulia masuk ke kamarnya lagi dan mengecek beberapa email dan beberapa laporan keuangan resto serta cafenya.


jam 10.00 pagi Aulia merasa bosan sekali sendirian di kamar iya berniat jalan-jalan keluar sebentar.


Aulia kembali masuk ke dalam gerbang asrama putri, iya ingin melihat bagaimana suasana di sana kalau jam-jam seperti ini.


Aulia masuk tapi di lihatnya setiap pandangan kosong karena memang banyak santri-santri yang sekolah.


Aulia pun masuk lebih dalam entah untuk apa tapi ia ingin jalan-jalan saja.


tiba-tiba saat ia berjalan menyusuri lorong kamar santri ia mendengar suara tangis.


"hah, aku kok merinding gini sih jangan-jangan banyak hantunya lagi?" gumam Aulia


"ih serem banget sih" Aulia akan segera melangkah meninggalkan tempat itu.


"pak buk, Zahra kangen kalian, huhuuu" gumam pelan suara itu.

__ADS_1


Aulia tidak jadi melangkah dia penasaran dengan sumber suara itu ia pun menghampiri kamar yang diyakini tangisan itu berasal dari sana.


ceklek !


Aulia membuka pintu yang dilihatnya sekarang gadis kecil sedang duduk di lantai menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya, memeluk erat lututnya dan menangis, spontan gadis itu menoleh pada Aulia dan segera menghapus air matanya.


"kamu kenapa kok nangis?" tanya Aulia menghampiri gadis kecil cantik dan manis itu dan duduk disebelahnya.


"kakak siapa? kok nggak sekolah? senior yang udah lulus MA ya?" tanyanya dengan wajah lucu Aulia pun mengangguk.


"nama kamu siapa?" tanya Aulia memulai obrolan


"namaku Zahra kak, kalau Kakak namanya siapa?" tanyanya balik


Aulia tersenyum mengingat nama Zahra yang ada juga di namanya.


"nama kakak Aulia, hilya Aulia AZ Zahra " ucap Aulia lembut


"wah nama kita sama ya, sama-sama Zahra " ucap Zahra antusias Aulia tersenyum dengan kepolosan gadis kecil ini.


"aku kelas 6 SD kak, tadi aku izin gak masuk sekolah karena perutku tiba-tiba sakit" jawab Zahra polos


"terus sekarang udah mendingan ?" tanya Aulia khawatir.


"udah kak, sekarang udah sembuh, tadi di kasih obat sama mbak pengurus" jawab Zahra Aulia pun mengangguk-anggukkan kepala.


"kamu tadi belum jawab kakak loh, kamu kenapa nangis?" wajah Zahra mendadak menjadi sendu.


"Zahra kangen ibuk sama bapak kak?" ujarnya.


"emang orang tua kamu nggak nengokin? kan kemarin hari libur?" tanya Aulia, Zahra menggeleng dan air matanya menetes di pipi chubby nya.


"orang tua zahra sudah meninggal kak, bapak meninggal waktu Aulia kelas 3 SD, terus dua bulan lalu ibu juga meninggal karena sakit" jelasnya membuat hati aulia iba pada gadis ini. ia diam menunggu Zahra melanjutkan ceritanya.


"paman memasukkan Zahra ke pesantren ini karena mendengar bahwa disini anak yatim piatu tidak perlu membayar biaya apapun bahkan makannya ditanggung oleh pak Naufal, pamanku hidupnya pas-pasan kak jadi ia tertarik apalagi disini Zahra nggak cuma sekolah formal, Zahra juga diberi pelajaran agama yang bisa di buat bekal hidup masa depan, itu yang paman selalu katakan, tapi ketika melihat teman-teman di tengok keluarga nya.. Zahra jadi inget sama orang tua Zahra, andai mereka masih ada dan selalu tengokin Zahra pasti Zahra lebih semangat cari ilmunya" ucap Zahra mengusap air matanya yang mengalir tanpa berhenti.

__ADS_1


Aulia yang sudah menangis juga memeluk Zahra, ia memikirkan bagaimana jika ia di posisi nya, Aulia dulu sangat hancur ketika mama papanya meninggalkannya, apalagi anak sekecil ini, bagaimana ia bisa hidup tanpa bimbingan kedua orang tuanya, batin Aulia.


"kamu jangan pernah patah semangat, doain mereka Disana bahagia, dan selalu tersenyum ya sayang, mereka pasti bahagia kalau melihat kamu semangat belajarnya" ujar Aulia masih memeluk dan membelai kepala yang di tutupi kerudung Zahra.


kemudian Aulia melepaskan pelukannya, menatap wajah cantik Zahra lalu mengusap air mata dikedua pipi Zahra.


"Zahra, kamu anak kuat, kamu anak hebat, semoga Allah memberikan jalan terbaik buat kamu kedepannya " ujar Aulia tersenyum, Zahra pun kemudian tersenyum tersentuh oleh perhatian Aulia.


"aminn, terimakasih ya kak, aku seneng deh akhirnya aku bisa meluapkan kesedihan aku, selama sebulan disini aku masih canggung sama temen-temen yang lain" ceritanya lagi, tapi kali ini wajahnya di penuhi oleh senyuman.


"oke, jadi mulai hari ini, kita temenan ya?" ujar Aulia mengangkat jari kelingking nya Zahra pun tersenyum mengaitkan jari kelingking nya.


" jadi kalau mau cerita apapun bisa ke kakak ya" ujar Aulia.


"iya kak, makasih ya, kakak baik deh persis pak naufal" ujarnya.


"emang pak Naufal baik ya?" tanya Aulia penasaran.


"baik banget, udah ganteng, ramah senyum, dan kakak tau nggak program gratis untuk anak yatim-piatu itu berkat pak Naufal" kata Zahra


"hah.. emang iya? kamu tau dari mana?" tanya Aulia agak terkejut pasalnya suaminya tidak pernah menceritakan apapun tentang pesantren.


"kata mbak-mbak sih, katanya dua tahun lalu itu pak Naufal yang memperjuangkan program itu, bahkan dulu pak Naufal pakai dananya sendiri, sekarang udah mendingan karena katanya udah ada donatur ya meskipun pak Naufal masih keluar dana juga sih karena santri yang yatim-piatu tambah banyak juga, bahkan yang tidak ada walinya kayak saudara yang membiayai uang sakunya pak Naufal memberi uang saku setiap Minggunya, kayak aku kak, karena kedua orang tua ku sudah nggak ada, dan paman juga tidak mampu jadi pak Naufal memberikan uang saku., itu sih yang aku denger dari mbak-mbak senior kalau lagi cerita pak Naufal" jelas Zahra membuat Aulia tertegun


"jadi selama ini, Naufal tidak hanya membiayai nya? tidak hanya bekerja untuknya ? naufal lebih dari itu, suaminya mengemban tanggung jawab yang lebih besar dengan menyekolahkan dan memberi makan anak yatim-piatu?" batin Aulia.


"kak" panggil Zahra karena Aulia sedari tadi terdiam


"ehh.." kaget Aulia.


"kakak nggak apa-apa kan? " tanya Zahra khawatir, Aulia pun tersenyum dan menggeleng.


"kakak nggak kenapa-napa kok, oiya udah jam 12 lewat, kakak pergi dulu ya ?" ujar Aulia Zahra pun mengangguk.


"makasih ya kak, Ngobrol sama kakak hati aku lebih enteng" kata Zahra tulus, Aulia mengangguk kemudian ia pamit pergi dan pulang menuju rumah Abah dan umi.

__ADS_1


__ADS_2