
Ekhemm!!
Aulia dan Nauval langsung melepaskan pelukan mereka, tapi yang datang ternyata Fahri membuat mereka bernafas lega.
"Kalau peluk-pelukan dikamar dong" ucap Fahri menggoda adiknya dan sahabatnya.
"Kakak ihhh... Kirain siapa.." cemberut Aulia
"Mobil siapa ini? Jok nya masih diplastikin gini" tanya Fahri yang heboh melihat mobil mewah didepannya.
"Mobil Aulia lahh, yakan mas" ucap Aulia dengan yang dibuat sedikit sombong, karena memang sekarang Fahri semakin sering membuat Aulia kesal, tapi ya begitulah dengan candaan Fahri buat membuat mereka berdua lebih dekat.
"Beneran Gus??" Tanya Fahri ke Nauval dan dijawab dengan anggukan.
"Nanti kita jalan-jalan ya Lia, kakak pengen banget tau rasanya naik mobil ini" ucap Fahri heboh.
"Katrok banget sih " ucap Aulia bercanda.
"Ayodong Lia, adik kakak yang puaallliinggg cantik" rengek Fahri, Nauval hanya bisa tertawa melihat kedekatan istrinya dengan kakak iparnya ini.
"Udah-udah, gimana kalau hari Minggu besok kita jalan-jalan" usul Nauval.
Mereka pun mengangguk setuju.
Aulia dan Nauval pulang naik mobil baru mereka lalu di masukkan ke bagasi rumah Aulia yang memang masih muat untuk dua mobil lagi.
Setelah dikamar Nauval tidak segera pulang ke rumahnya. Sekarang keberadaan Aulia lebih menarik dari apapun.
Nauval sudah mandi dan memakai kemeja ala-ala takwa dan sudah memakai sarung, Aulia juga sudah mandi dan memakai piyama santainya.
"Kok nggak pakai gamis sayang?.. kamu nggak masuk ngaji?" Tanya Nauval.
"Males mas, Aulia nggak masuk dulu nggak papa ya mas?" Ucapnya
"Yaudah nggak papa tapi besok harus masuk ya, kamu nanti ketinggalan pelajaran banyak" pinta Nauval kemudian Aulia mengangguk.
Adzan Maghrib berkumandang Nauval segera ke masjid karena hari ini jadwalnya jadi imam, sedangkan Aulia katanya ingin sholat dirumah saja.
Jam 8 malam Nauval mengetuk pintu kamar Aulia, kemudian ia masuk.
" Nggak ngajar mas?" Tanyanya sambil mengerjakan PR nya yang harus dikumpulkan besok.
"Jadwal mas udah kok sayang, sekarang udah kosong jadi mas kesini aja kangen sama kamu" Aulia segera menghampiri Nauval lalu mencium tangan suaminya itu, Nauval yang diperlukan manis seperti itu oleh Aulia merasa sangat bahagia.
Ya, tadi Bu Mira mengajarkan Aulia beberapa kewajiban sebagai istri dan juga mengajarkan kesabaran keikhlasan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Dan sekarang mulai Aulia praktekkan.
__ADS_1
Setelah mencium tangan nauval Aulia segera duduk dipangkuan Nauval.
"Mas udah makan belum?" Tanya Aulia lembut
"Belum sayang" jawab Nauval jujur
" Belum ya, tadi makanan di meja ibu habis mas, Aulia nggak bisa masak" ucap Aulia pelan dan membuat Nauval tersenyum.
"Kita keluar aja gimana sayang, cari makan di luar " ajak Nauval Aulia dengan senang hati mengangguk setuju.
Aulia sudah memakai hotpants dan kaos bermerek GG warna hitamnya, rambutnya di kuncir biasa dengan make up tipis sekali, bahkan tanpa memakai bedak, hanya memakai lipstik nude saja.
Aulia belum sepenuhnya berjilbab, hanya saat sekolah dan belajar di pesantren, tapi saat di luar ia masih seperti dulu.
"Sayang, celana kamu kurang bahan baget ganti ya" kata Nauval yang baru masuk kamar Aulia lagi setelah ganti baju dari rumahnya.
Aulia cemberut tapi menurutinya dengan mengganti celana jeans panjang warna biru Dongker.
Nauval memakai celana pendek selutut dan juga kaos hitam lalu dipadukan jaket warna coklat, wanginya juga sangat kalem, tidak menusuk hidung.
Mereka makan di tempat langganan aulia yang pinggir jalan itu, Nauvalpun menurutinya.
Mereka makan dengan santai, setelah makan mereka ke mall dulu menuruti Aulia yang katanya pengen cuci mata tapi ternyata belanja baju dan barang-barang yang unik menurut kacamata penglihatan Aulia.
Nauval hanya mengangguk ketika Aulia memilih baju untuk ganti-ganti mengaji, yaitu gamis-gamis, dan baju lengan panjang. Aulia tidak lupa memilihkan kemeja-kemeja kekinian untuk suaminya.
Aulia juga membeli beberapa lingerie untuk tugas negaranya nanti malam, dan Nauval tidak tau karena tadi Nauval tidak mau masuk ke tempat dalaman perempuan, malu katanya.
Setelah selesai belanja Nauval yang pergi ke kasir yang lumayan mengantri, sedangkan Aulia duduk di sebuah bangku menunggu Nauval.
Di kasir Nauval bertemu dengan Linda kakak kelas Aulia yang terkenal dari dulu memang suka pada Nauval. Aulia hanya memandang dari kejauhan karena kalau kesana takut orang itu curiga pada hubungan mereka.
Aulia geram sekali karena Nauval terus meladeni pertanyaannya, si lindanya juga caper banget, ngomong aja lebay di alus-alusin. Tapi Aulia masih bersabar menunggu.
Setelah selesai membayar dan pergi dari murid alumni sekolah nya yang dari dulu suka dengannya Nauval menghampiri Aulia.
"Yuk sayang, udah kan? Mau beli apa lagi?" Tanya Nauval.
"Udah mas, aku mau pulang" dingin Aulia yang segera pergi ke keluar mall.
Nauval yang heran pun segera menyusul aulia setelah sampai ia segera memasukkan belanjaannya ke bagasi lalu membayar parkiran kemudian mobil mereka keluar dari parkiran mall itu.
"Sayang, kamu kenapa kok diem aja dari tadi?" Tanya Nauval.
"Nggak papa mas " Jawab Aulia.
__ADS_1
"Serius??"
Aulia menghela nafasnya, kata ibuk tadi dia harus selalu jujur dengan suaminya tentang perasaan hatinya, komunikasi dalam hubungan itu yang paling penting, baiklah sekarang ia akan jujur.
"Mas .. Lia cemburu.." ucap nya Pelan, Nauval awalnya terkejut tapi ia teringat pertemuan nya dengan Linda tadi.
"sayang.." Nauval ingin menjawab tapi Aulia langsung memotong.
"maafin Lia ya mas, nggak seharusnya Lia kekanak-kanakan kayak gini, padahal Lia udah jadi istri mas, tapi Lia cemburu mas dideketin cewek lain, hati Aulia sakit mas, Lia takut mas ninggalin Lia, apalagi keluarga mas orang terpandang dengan ajaran agama yang kental, banyak perempuan diluar sana lebih baik dari Lia mas" ucap Aulia dengan matanya yang mulai berair, yang entah kenapa ia takut suaminya berpaling, apa Aulia sudah cinta matikah.
"sayang, kamu kok ngomong gitu sih, kan mas cintanya sama kamu, mas gak mau kamu mikir kayak gitu, kan mas dulu mulai awal kita Deket udah bilang cinta sama kamu sayang" jelas Nauval.
"kamu jangan ngomong gitu ya sayang, mas nggak akan berpaling ke lain hati kok" lanjutnya.
"udah ya jangan nangis" Aulia pun mengangguk kemudian mengusap air matanya.
setelah sampai di rumah Aulia mengganti bajunya lalu sholat isya sedangkan Nauval kembali ke rumah Abahnya sebentar untuk mengambil baju untuknya tidur malam ini.
" Nauval?" panggil umi ketika Nauval hendak keluar.
" iya umi" Nauval berhenti kemudian menghampiri uminya yang duduk di sofa ruang keluarga dibawah.
"kamu tidur dirumah Aulia nak?" tanya umi
Abah baru keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan mereka.
"ia umi, gapapa kan?" tanya Nauval.
"gak apa-apa dong, kalian sering-sering ya, biar umi segera punya cucu" ucap umi kemudian tertawa. Nauval hanya tersenyum karena sebenarnya malu membahas ini didepan Abahnya.
"kamu sudah besar ya nak, putra kesayangannya Abah" ucap Abah.
"iya dong bah, masa' kecil terus" jawab Nauval.
"maafin keegoisan Abah ya dulu nak yang melarang kamu kuliah arsitek" ucap Abah.
"iya bah Nauval gak papa kok" jawab Nauval sambil tersenyum.
"udah ah nggak usah sedih-sedih, pokoknya sekarang kamu fokus sama ngajar kamu dan juga keluarga kecil kamu " ucap umi
"iya nak, jaga Aulia ya, tuntun dia menjadi lebih baik, Abah yakin kamu pasti bisa" ucap Abah yang Nauval mengerti maksudnya Nauval pun mengangguk.
"iya Abah, umi, do'a in Nauval ya " kata Nauval
"pasti nak, kalian berdua selalu dalam doa kami, dan benar kata umi, cepat kasih kita cucu, Abah udah rindu gendong bayi" ucap Abah sambil tersenyum mengusap punggung Nauval yang malu-malu.
__ADS_1