Gairah Anak Pak Kyai

Gairah Anak Pak Kyai
bab 25


__ADS_3

"nih" ucap Aulia menyerahkan kunci mobilnya pada Nauval.


"oke aku pulang dulu ya" pamit Nauval


"ehh.. besok hati-hati ya jangan ngebut-ngebut " pesan Aulia.


" siap ibu negara" ucap nauval tersenyum


"ihh apaan sih ibu negara segala, udah sana-sana pulang"


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


paginya pun Nauval setelah sholat subuh berangkat dengan mobil Aulia dan sampai sekitar jam setengah 7 pagi.


Aulia hari ini juga memiliki agenda mendatangi pemilik tanah samping rumahnya, Aulia tidak bisa sendiri karena Aulia masih sekolah dan orangnya pasti tidak akan percaya jadi ia mengajak Fahri untuk mengantarnya.


"kamu ngapain sih dek minta anter ke tempat yang punya tanah samping?" tanya Fahri di motor.


*by the way motor Fahri sudah beres dan ternyata Nauval setelah mengambil kunci mobil kerumah Aulia lanjut membantu Fahri membetulkan motornya.


"cuma mau ngomongin tanahnya itu kak mau di jual apa nggak" jawab Aulia.


mereka pun sampai.


"ada apa ya nak kok tiba-tiba kemari?" tanya ibu-ibu itu saat sudah mempersilahkan masuk kedua tamunya.


"maksud kedatangan saya, saya mau menanyakan tanah ibu di samping rumah kami dijual apa tidak ya Bu?" tanya Aulia to the point.


" sebenarnya rencana sih ada nak, tapi saya nggak bisa ngomong apa-apa karena semua keputusan ada di suami saya, bulan kemarin sih ada yang nawar 140 juta, kalian kan tau sendiri kalau tanahnya juga luas" ucap Bu Siska.


"saya ada rencana pengen beli buk, kalau bisa nanti suami ibuk bisa nggak ya ketemu sama kita bicarain ini?" kata Aulia Fahri yang mendengarnya pun kaget.


" dek ... kamu serius??? " tanya Fahri Aulia menjawab dengan anggukan kepalanya.

__ADS_1


" boleh, nanti saya bicarakan ini ya " ucap Bu Siska.


"baik Bu saya permisi dulu ya ?" ucap Aulia.


" baik mbak mas silahkan " jawab Bu Siska.


"dek kamu serius mau beli tanah ini" tanya Fahri saat sampai dirumahnya


"ya serius lah kak, kenapa sih dari tadi nanya itu terus " jawab Aulia


" itu mahal banget loh dek, kamu ada uangnya"


"ada kok, tenang aja" jawab Aulia sambil berjalan ke kamarnya tidur untuk menunggu waktu sekolahnya.


setelah sholat Maghrib rumah Aulia kedatangan tamu pak Basuki dan Bu Siska untuk membicarakan tentang tanah yang tadi Aulia tanyakan.


" jadi bagaimana pak Bu ?" tanya Aulia sedangkan pak Salim dan Bu Mira hanya diam karena mereka tidak tahu apa yang akan Aulia bicarakan dengan tamunya ini, dan Fahri hanya menyimak nya saja.


"kalau saya sih mau saya jual kalau laku 200 juta mbak" kata pak Basuki


" jadi kalau diambil harga segitu bapak mau lepas?" tanya Aulia lagi pak Basuki pun mengangguk menandakan ia.


" oke deal, 200 juta" ucap Aulia enteng, semua yang ada ruangan itupun terkejut karena Aulia tidak menawar sama sekali.


"serius" gugup pak Basuki, karena dari rumah pikirannya sudah pasti akan ditawar harga murah mengingat keluarga pak Salim ini tidak kaya-kaya banget.


"iya" ucap Aulia mengajak bersalaman pak Basuki pun tidak ragu menerima uluran tangannya.


"kalau begitu urus semuanya sama kak Fahri ya, nanti saya tinggal transfer" kata Aulia mereka pun mengangguk, tidak lama kemudian mereka pulang kerumahnya.


"kamu serius nak mau beli harga segitu, itu mahal banget loh, kalau mau ditawar tadi juga bisa kok" tanya Bu Mira.


"iya dek, kamu gampang banget bilang iya" kata Fahri.


"iya nak" setuju bapak

__ADS_1


"ihh masa' mahal sih, inikan bentuk investasi pak buk, jadi semakin lama tahun kalau dijual lagi bakal lebih mahal, menurutku ini masih terbilang murah loh kak, tanah di Jakarta malah udah gak waras mahalnya, apalagi di mandara kakak tau kan rumah artis papan atas itu? harganya aja permeter nya tembus 20 juta lebih, apa nggak gila itu" jelas Aulia pada keluarganya.


"iya tapi lagian kamu buat apa sih nak beli tanah ini, rumah ini kan udah cukup" ucap bapak.


"pengen Aulia bangun rumah pak, dan ini kita poles juga buat rumahnya kak Fahri kalau sudah menikah, gimana?" ucap Aulia.


" astaghfirullah Aulia, aku nggak apa-apa kok nanti setelah menikah kos dulu sambil kumpulin buat rumah, kamu gak perlu bangun rumah baru, rumah ini hak kamu kok " ucap Fahri yang langsung duduk di sebelah Aulia.


"ihh... kakak apaan sih, akutuh pengennya kita kumpul aja, jangan jauh-jauh aku udah nyaman sama kalian aku nggak mau pisah lagi" ucap Aulia menunduk menahan air matanya keluar.


"Aulia kamu nggak perlu seperti ini nak, ibu juga nggak apa-apa kok meskipun kita pisah rumah sama Fahri" ucap ibu.


"ibu, hati ibu nggak sekuat itu, pasti ada trauma sendiri kalau jauh dari anak-anaknya, udah ya pak buk, ini salah satu bentuk bakti aku sama kalian, aku pengen kalian bahagia, dan aku juga pengen kalian nggak usah ke sawah lagi, panas tau Bu," ucap Aulia panjang lebar.


"kan emang kerja kita di sawah "ucap pak Salim mencairkan suasana semua yang Disana tertawa.


" aku tau kok kalo kalian sering kerja disawah orang, mulai besok nggak usah ya pak buk, kalian istirahat aja di rumah" pinta Aulia.


"iya pak buk, Fahri kan juga udah kasih uang belanja buat ibuk, tapi masih aja kerja di sawah orang lain" tambah Fahri.


"habisnya gimana dong, semakin tambah usia kalau diem aja malah tambah sakit semua" kata pak Salim


"yaudah gini aja, mulai besok Aulia kasih jatah belanja bulanan ibu, terus Aulia mau ibu gausah kerja ke sawah orang lain, kalau kesawah sendiri boleh aja tapi gak boleh Sampek seharian" ucap Aulia dengan ide yang baru terlintas di otaknya.


" nggak usah dikasih uang bulanan nak, dari Fahri sudah cukup kok untuk makan sehari-hari ibu coba ya, tapi sesekali nggak papa kan Lia, daripada ibu diem terus malah tambah gak sehat" jawab Bu Mira menyembunyikan kalau uang hasil kerja keras nya dan bapak masuk tabungan rencana umroh Bu Mira dan pak Salim, karena dia tau kalau Aulia mengetahui nya pasti ia akan memaksa membayarkan, dan Bu Mira tidak mau itu terjadi.


"terserah ibu aja, tapi Aulia gak mau Sampek ibu kecapean, ibu selalu pergi pagi-pagi banget pulangnya pas siang panas-panas, kadang habis sholat Dzuhur masih balik lagi, Aulia sering lihat ibu pijat kaki ibu sendiri, pasti capek ya buk" ucap Aulia.


Bu Mira tersenyum mendengar ucapan Aulia karena Aulia sangat peduli pada mereka meskipun baru bertemu kembali.


"udah kamu tenang aja nak, memang pekerjaan ibu dan bapak dari dulu kasar nak, kita udah biasa" jawab bapak.


"dan mulai sekarang kebiasaan itu musti dikurangi, Aulia gak mau ibu bapak kecapean" jelas Aulia yang di angguki oleh Fahri.


"iya buk, Fahri juga setuju sama Aulia".

__ADS_1


__ADS_2