
"udah mas geliii" Aulia menahan tangan Naufal yang masih ingin menggelitik Aulia.
Naufal memeluk Aulia menempelkan pipi kirinya pada pipi kanan Aulia.
"gemes deh sama kamu, makin hari makin cinta"
"masa'?"
"iya lah, jangan tinggalin mas ya" pinta Naufal lagi, Aulia mengangguk.
"hari ini Lia capek banget mas" kodenya pada Naufal.
"mas pijit ya sayang, yang mana? " tanya Naufal Aulia menunjuk kaki nya, Naufal dengan sigap memijat Aulia, Aulia yang sudah kelelahan memejamkan matanya ia sampai tidak sadar sudah tertidur.
besoknya Naufal memanggil Radit ke ruangannya, Radit berjalan ke ruangan Naufal dengan hati berdebar-debar, apa gurunya itu tau permasalahan nya dengan Hasan kemarin itu karena membicarakan Aulia.
"duduk dit" ujar Naufal mempersilahkan Radit duduk disofa agar berbicara lebih santai.
"mm ..maaf pak ada apa ya, kalau hukuman nya yang kemarin sudah saya lakukan tadi sebelum masuk" Radit agak ragu duduk.
"bisa kamu ulangi omongan kamu yang buat Hasan tersinggung kemarin? saya ingin mendengarkan langsung " Naufal to the point.
deg!
Radit terdiam cukup lama, ia bingung dan takut bagaimana menjawab ini, Naufal pasti sudah tau pikir Radit.
"maaf pak, saya salah" hanya itu yang Radit sampaikan dengan menunjukkan wajahnya karena malu pada gurunya ini ia ketahuan membicarakan istrinya.
"berarti benar apa yang dibilang Hasan?" Naufal mencoba tetap tenang, sebenarnya tangannya sudah ingin meninju wajah Radit, Tapi mampu Naufal tahan. Radit tidak bisa menjawab, dia masih setia menundukkan wajahnya tak berani menatap Naufal.
"jawab" bentak Naufal Radit sampai kaget melihat Naufal membentak nya.
"saya minta maaf pak, saya cuma asal ngomong" Radit mencoba memberanikan diri, Naufal mencoba mengatur nafasnya, merendam emosinya yang sudah naik tadi, ia harus ingat dia berhadapan dengan muridnya sendiri.
"oke, saya cuma kasih peringatan keras untuk kamu, saya tidak akan main fisik, apalagi kamu murid saya"
"iya pak saya benar-benar minta maaf "
"baiklah sekarang kamu masuk kelas lagi" perintah Naufal Radit pun melenggang pergi menuju kelasnya.
__ADS_1
tiba-tiba ponsel Naufal berdering tertera nama Aulia menghubungi Naufal segera mengangkat panggilannya.
"assalamualaikum sayang"
"waalaikumsalam mas, kamu masih sibuk nggak?"
"nggak sayang, hari ini juga gaada jadwal ngajar, kenapa yang?"
"ini umi ngajak fitting gaun, tadinya sih Lia bilang berdua aja biar Lia yang nyetir tapi kata umi gak boleh, jadi aku telfon mas "
"jadi mau mas anterin?"
"iya mas, kata umi harus mas, Lia nggak boleh nyetir, lagian juga mau fitting baju kan kedua mempelai masa' iya Lia sendiri"
"iya sayang, mas pulang sekarang"
"iya mas Lia juga siap-siap, assalamualaikum "
"waalaikumsalam "
Naufal segera pulang sesuai permintaan Aulia.
Aulia mengajak serta ibu agar semuanya sesuai keinginan bersama. mereka sampai di butik Aulia lalu mencoba gaunnya begitu pun Naufal, setelah semuanya sudah selesai merekapun pulang.
selesai makan ia kepikiran untuk membelikan Zahra sesuatu. "beliin apa ya?" batin Aulia bertanya -tanya.
Aulia kemudian melihat-lihat ke tempat kerudung dan baju muslim, ia akhirnya memilihkan satu set baju muslim untuk Zahra.
"buat siapa sayang? kok ukuran nya kecil gitu" tanya Naufal melihat baju yang sedang di pegang Aulia.
"buat temenku mas" Naufal hanya ber oh ria.
selesai belanja sebentar tadi mereka pulang. sampai rumah aulia segera mandi karena sudah sore.
malam hari Aulia sangat bersemangat untuk pergi mengaji, ia berjalan ke kelasnya dengan bersenandung karena akan memberikan sebuah hadiah buat Zahra.
" orang tua kamu semuanya udah meninggal ya Ra" tanya Nanda pada Zahra yang bisa Aulia dengar di luar kelas.
"iya kak" jawab Zahra dengan nada sedih.
__ADS_1
"kasihan banget deh, terus kamu tinggal di pesantren ini nggak perlu bayar dong". Kata Firda, Zahra tidak menjawab.
"kalau gitu jangan belagu ya, kamu aja disini cuma numpang kok" lanjut Nanda dengan nada mengejek, Zahra sudah tak kuasa menahan tangisannya.
"ss..saya kan nggak pernah macem-macem kok kak" Zahra sudah gugup.
"emang, makanya aku peringatin, jangan deket-deket deh sama si Aulia itu, biarin aja dia nggak punya temen sekalian" lanjutnya membuat Aulia sontak melototot dan segera masuk kelas.
"heh anak kecil" bentak Aulia yang baru masuk kelas semaunya kaget apalagi nanda yang baru saja mengancam Zahra.
"maksud Lo apa ngomong gitu? Lo nggak suka sama gue ya nggak suka aja gak perlu ngancem-ngancem si Zahra" teriak Aulia lalu menghampiri Zahra yang masih menangis.
"dasar berandalan, gak tau aturan ngomong" Nanda memang masih kelas 3 SMP tapi omongannya benar-benar seperti senior yang ngatain junior, kayak udah tua banget.
Aulia menarik nafas, ia teringat sedang hamil "huh amit-amit jabang bayi" gumamnya pelan.
Aulia tidak mempedulikan Nanda lagi ia membawa Zahra keluar dari sana, lalu ke kantor untuk meminta izin tidak masuk, kebetulan di kantor hanya ada Naufal dan pak affan yang belum masuk ke kelas untuk mengajar karena masih baru ambil bukunya.
"assalamualaikum "
"waalaikumsalam " mereka berdua serentak Naufal menghentikan kegiatan nya di depan lokernya mencari buku melihat Aulia sedangkan pak affan mengotak-atik komputer juga melihat Aulia dan Zahra.
"pak boleh saya izin nggak?" tanyanya.
"emang kenapa?" tanya pak affan.
"Zahra" Aulia terhenti dia belum memikirkan matang-matang apa alasan izinnya, padahal tadi ia sudah malas masuk kelas kesal dengan Nanda dan yang lain.
"Zahra kenapa? sakit?" tanya Naufal bingung Aulia menghentikan kalimatnya. Aulia menggeleng perlahan membuat Naufal dan pak affan semakin bingung.
"kepala saya pusing pak" ucapnya berlagak ada lampu bohlam bersinar di atas kepalanya.
"sakit? mau ke rumah sakit? sebelah mana yang sakit " tanya Naufal heboh menghampiri Aulia, pak affan yang juga khawatir langsung mengikuti Naufal menghampiri Aulia, Aulia semakin bingung "gimana sih " gumamnya.
"nggak pak, saya mau pulang aja, boleh kan pak ditemenin zahra" ujar Aulia.
"serius? mau saya temenin aja nggak takut kamu kenapa-kenapa " kata pak affan, Naufal langsung melotot pada pak affan, kan pak affan sudah tau dia calon istrinya masa' nawarin anterin sedangkan ada calon suaminya.
"eh .. maaf pak, saya cuma khawatir" jelasnya tersenyum melihat pelototan pak Naufal.
__ADS_1
"kan ada calon suami.."
"etsss .. udah pak saya mau pulang sama Zahra, assalamualaikum " potong Aulia segera menarik tangan Zahra untuk pulang ke rumahnya, rumah Aulia sendiri lagian Deket juga dengan pesantren nanti Zahra kalau mau balik ke kamarnya tinggal jalan, dan nggak mungkin aulia ajak ke rumah Naufal.