Gairah Anak Pak Kyai

Gairah Anak Pak Kyai
bab 97


__ADS_3

malam nya Aulia masuk ke ruang kelas madin nya dan saat masuk kelas para teman-teman Aulia heboh menggosipkan tentang Riska, dengan santainya Aulia duduk di sebelah Zahra.


"kak.. " panggil Zahra


"iya kenapa Ra?" tanya Aulia


" kakak udah tau kan kabarnya mbak Riska sama ustadz Azka?" Aulia mengangguk.


"sebenernya aku mau cerita ini dari lama kak"


"oh ya?? jadi kamu udah tau dari sebelumnya?" tanya Aulia, Zahra mengangguk


"sebenernya aku pernah pergokin mereka, kakak inget nggak waktu aku nangis dan sedih di kelas??" Aulia mengangguk menunggu Zahra meneruskan cerita nya.


" aku pergokin mereka malem-malem waktu di loteng atas aula, mereka berduaan dan peluk-pelukan, malah cium-ciuman"


"kamu serius lihat itu semua??" tanya Aulia terkejut, Zahra mengangguk.


"terus gimana? "


"karena aku liatnya jelas dan di depan aku banget jadi kepergok sama mereka,. karena liat aku mbak Riska sama ustadz Azka nyamperin dan ngancem aku kalo bakalan nyiksa aku kalo Sampe aku bilang-bilang sama orang lain "


"jadi itu alesan kamu nangis waktu itu?" tanya Nia Zahra mengangguk.


" iya aku udah pengen banget bilang sama kakak tapi ya aku takut " Zahra meneteskan air mata nya lagi karena mengingat saat Riska membentaknya dan bersikap sangat judes pada nya setelah kejadian itu.


Aulia memeluk tubuh kecil Zahra, mengusap-usap punggung Zahra lembut.


"udah nggak usah sedih, Allah udah nunjukin semua nya sama kita tanpa kamu bicara"


"aku ngerasa bersalah kak karena nggak bilang dari awal" kata Zahra sambil menangis di pelukan Aulia.


"nggak kok nggak ada yang salahin kamu Ra, kamu berhak kok ambil keputusan itu untuk menyelamatkan diri kamu sendiri" Aulia mencoba menjelaskan perlahan, Aulia sangat kasihan pada Zahra yang harus di paksa dewasa oleh keadaan, di umur yang seharusnya ia banyak belajar hal baru dan banyak bermain kini ia harus bergabung dengan orang-orang yang bukan seusianya dengan watak dan sifat yang berbeda, dan mau tidak mau Zahra harus mengikuti alur peraturan yang telah di tetapkan, ya meskipun ada juga anak seusia Zahra yang biasanya ia ajak main tapi pasti terbatas oleh waktu dan jadwal belajar yang padat.


"aku masih nggak nyangka aja sih kak, sama mbak Riska yang kelihatannya alim itu, dia masa' begitu?"


"udah biarin aja urusan orang, " kata Aulia


"iya sih kak, tapi kalo ngatain kakak orang nggak bener orang nggak bener terus sama temen-temen yang lain, eh dia nya sendiri juga nggak bener"

__ADS_1


" biarin aja dia mau gosip atau ngomong apa aja sama orang lain nggak usah peduliin"


"iya kak, kak Aulia emang bener-bener baik deh, udah di jahatin tapi tetep aja nggak di denger" kata Zahra Aulia tersenyum.


" enggak ah biasa aja, oh iya, hari Minggu kamu di jenguk paman kamu nggak Ra??" tanya Aulia mengalihkan pembicaraan..


"enggak kak, kan aku di tengokin paman kan sebulan sekali kak"


" yaudah jam 9 siap-siap ya, ikut kakak" ajak Aulia


"kemana kak?"


"ada deh, yuk ah baca nadhoman bareng, nunggu gurunya lama banget" .


setelah obrolan itu Aulia dan Zahra pun membuka kitabnya dan belajar bersama karena jam pelajaran pertama kosong.


hari Minggu Aulia mengajak Naufal jalan-jalan mengajak Zahra karena Aulia sudah berjanji pada Zahra. untung saja Naufal mau karena Abah juga sudah lebih baik, beberapa hari ini Naufal sama sekali tidak meninggalkan Abah lama-lama karena takut keadaan Abah makin memburuk, tapi Alhamdulillah Abah sudah lebih baik dan kini sudah bisa jalan-jalan keluar rumah.


Zahra dan Aulia sudah masuk mobil Naufal.


"udah siap?? " tanya Naufal memegang kendali stir.


setelah melewati perjalanan setengah jam lebih Aulia dan Naufal di ikuti Zahra masuk ke mall. Zahra yang baru pertama kali tau yang namanya mall tidak dapat menyembunyikan wajah bahagia nya apalagi Aulia menawarkan semua apa yang Zahra lihat lama, mulai dari baju kerudung dan yang lain-lain.


kini mereka sedang beristirahat di sebuah gerai es krim Aulia dan Zahra asik makan es krim. Naufal tertawa karena Aulia dan Zahra makan es krim belepotan dengan telaten Naufal mengelap bibir keduanya. setelah puas berkeliling mereka pulang, karena kelelahan Zahra sampai tertidur di mobil.


"punya anak perempuan asik ya mas?" kata Aulia setelah melirik jok belakang


"apa aja yang penting sehat yang"


"kamu sayang banget ya sama Zahra?" tanya Naufal


"iya mas, kamu bisa liat kan?" Naufal mengangguk.


"iya, mas liat dari kamu pertama kali ceritain dia, "


"pengen deh angkat Zahra jadi anak" kata Aulia tiba-tiba.


" Zahra kan udah kayak anak kita sendiri sayang, dan semua santri lainnya di pesantren juga anak kita, tapi mas ingetin dulu ya jangan sering-sering begini, di pesantren anak yatim juga banyak dan mas cuma nggak mau ada yang cemburu atau iri" Naufal mengingatkan istrinya.

__ADS_1


"iya mas aku ngerti, makasih ya udah ingetin aku" Naufal mengangguk tersenyum.


sampai rumah Zahra langsung di suruh kembali ke kamar nya sedangkan Aulia dan Naufal juga kembali ke kamar.


"mas nanti acara 4 bulanan kehamilan aku di buat gimana?" tanya Aulia karena kini usia kandungan nya sudah mau 4 bulan.


"kalo itu kamu omongin sama umi sama ibu ya sayang, emang kamu pengennya gimana??"


"nggak gimana-gimana sih mas, nurutin umi sama ibu aja ntar mau nya gimana" Naufal pun mengangguk.


setelah sholat magrib karena hari Minggu ini Madin libur Nia hendak menuju rumah ibunya, ia ingin membicarakan tentang acara 4 bulanannya pada ibu nya saat baru masuk Aulia mendengar suara ibu nya menangis ia pun mengintip dari celah pintu kamar ibu nya yang tidak tertutup sepenuhnya.


Bu Mira menangis menatap karpet gambar Ka'bah yang terpajang besar di kamar nya,


"ya Allah, .. izin kan hamba mu ini ketika masih hidup di beri kesempatan bisa berkunjung ke rumahmu, melihat langsung tempat peristirahatan terakhir nabi Muhammad utusan mu ya Allah" tangis Bu Mira. entah kenapa hati Aulia bergetar, tubuhnya merinding, bahkan lututnya lemah seketika melihat dan mendengar tangisan ibu nya kala merindukan Allah dan nabi Muhammad.


Aulia memutuskan untuk pergi dari sana, ia tak kuat menahan rasa haru dan sedih nya ia pun masuk ke dalam kamarnya di rumah Naufal.


"ya Allah... kenapa aku nggak kuat liat ibu begitu??" Aulia menangis di kamar nya, ia bingung sendiri dengan perasaan nya, apa yang sebenarnya yang terjadi pada nya?.


ceklekk


Naufal membuka pintu kamar nya melihat Aulia duduk di lantai samping ranjang sambil menangis.


"sayang.. kamu kenapa?? kok nangis ??" tanya naufal khawatir, Aulia yang melihat suaminya datang langsung memeluk Naufal dan menceritakan apa yang terjadi padanya barusan.


"sebenarnya sih umi pernah keceplosan yang bilang kalo selama ini ibu sama bapak kerja keras di sawah itu buat nabung pengen umroh" kata Naufal.


"oh ya mas?? kok ibu nggak pernah cerita sama aku sih?" Naufal mengendikkan bahu


"takut ngerepotin kamu mungkin"


"iya sih, gimana dong mas aku pengen berangkatin ibu sama bapak umroh tapi kalau Sekarang uang nya masih di pake buat bangun cafe" kata Aulia sambil menangis.


" mas juga belum ada yang, kamu tau sendiri kan kita patungan buat beli tanahnya kemarin ??" tanya naufal Aulia mengangguk, kini ada sedikit penyesalan dari Aulia karena tidak mengikuti saran suaminya untuk menawar harga tanah tersebut, tapi yasudahlah nasi sudah jadi bubur.


"do'a sama Allah yang, " kata Naufal


"hah"

__ADS_1


"iya do'a kuncinya, kalau udah niat dan yakin pasti Allah bakalan permudah jalannya " kata Naufal, akhirnya mereka pun wudhu lalu menjalankan sholat isya dan berdoa dengan tenang dan syahdu


__ADS_2