
"Terus perasaan mas Naufal setelah menolong Hasan bagaimana?" Tanya Aulia Naufal pun tersenyum dengan pertanyaan Aulia yang menanyakan tentang perasaan hatinya.
"Awalnya mas Naufal senang, tapi lama-lama perasaan mas gelisah, selalu membayangkan dan memimpikan anak-anak yang lain seperti Hasan menangis meringkuk seperti Hasan, manangis karena tidak ada orang tua nya, bersedih dan ketakutan menghadapi masa depan mereka, apalagi yang paling miris anak perempuan yang ibu nya kadang menikah lagi dan dilecehkan oleh ayah tirinya bahkan bukan anak yatim sekalipun " jelas Naufal mengusap air matanya.
Aulia kemudian memegang tangan Naufal menyalurkan ketenangan untuk suaminya.
"Mas nggak tau kenapa mas cengeng banget kalau bicara soal itu, yang jelas setelah mas mempelajari bagaimana prosedur serta proses nya mas membicarakan itu pada Abah, Abah mendukung mas seratus persen, apalagi itu juga cita-cita Abah untuk membahagiakan anak-anak yatim, tahun pertama memang lumayan susah karena mas belum dapat donatur secara mudah jadi masih pakai dana mas dan Abah, tapi Alhamdulillah lama-lama mas dapat donatur sedikit demi sedikit jadi sampai sekarang" jelasnya kemudian tersenyum menatap istrinya.
"Terus kepuasan buat mas apa?" Tanya aulia
"Mas bahagia melihat mereka di pesantren, memiliki banyak teman, bisa belajar" ujarnya, membuat Aulia mengerti, mungkin perasaan Naufal seperti perasaan Aulia yang menyemangati Zahra waktu itu.
"Mas, Aulia mau jadi donatur ya?" Ujar Aulia tiba-tiba membuat Naufal spontan menoleh.
"Nggak perlu sayang, kan mas udah" tolak Naufal.
"Nggak apa-apa mas, lagian setelah menikah hasil cafe dan resto cuma Aulia puter-puterin di saham, semua kebutuhan Aulia udah mas penuhi" jelas Aulia
"Yaudah nanti urus berkas nya ya" ucap Naufal karena memang tidak mau menolak niatan baik Aulia, apalagi untuk anak yatim-piatu dan kurang mampu.
Karena lapangan itu sudah tidak panas karena siangnya sudah berpindah jadi sore Ada lumayan banyak remaja-remaja laki-laki yang sudah siap bermain sepakbola, aulia dan Naufal hanya memperhatikan dari gezebo.
"Assalamualaikum gus?" Ucap remaja yang menghampiri Naufal berumur sekitar 20 tahunan.
"Waalaikumsalam " jawab mereka berdua serentak lalu melihat ke belakang siapa yang memanggil.
"Hasan" panggil Naufal yang ternyata itulah Hasan yang di ceritakan Naufal barusan.
"Saya nggak sengaja lihat Gus disini jadi saya kesini, oh ada neng Aulia" ujarnya sambil menangkup kedua tangannya lalu menunduk seperti berkenalan Aulia pun tersenyum mengangguk, ia baru ingat kalau tangannya dan Naufal sedang berpegangan. Aulia spontan melepaskan.
"Tenang aja sayang, dia tau kok kalau kita sudah menikah" ujar Naufal yang menyadari tindakan Aulia.
"Nggeh neng, saya sudah tau dari awal gus Naufal yang ceritakan" jawabnya Aulia kemudian mengangguk mengerti sepertinya Hasan ini sangat dekat dengan suaminya.
__ADS_1
"Mau gabung sparing lawan tim nggak Gus? Ini tim kita kurang satu orang " tawarnya pada Naufal, Naufal kemudian menoleh pada Aulia.
"Boleh nggak sayang aku main bola?" Tanya Naufal yang sepertinya berharap diperbolehkan, karena Aulia tau itu salah satu hobi Naufal, bahkan di album fotonya banyak sekali foto Naufal dan tim kesebelasan nya mendapatkan piala.
"Boleh dong mas, Aulia liatin dari sini ya mas" ujar Aulia dan di angguki oleh Naufal.
"Terimakasih sayang" ujarnya Aulia pun mengangguk tersenyum.
Naufal beranjak turun dari gazebo.
"Ayo san" ajaknya pada Hasan, lalu mereka mulai berjalan menuju lapangan.
"Semangat mas Naufal" teriak Aulia membuat Naufal menoleh dan tersenyum.
Tidak lama kemudian permainan pun dimulai, Naufal terlihat tampan berkali-kali lipat, bentuk badannya yang tegap dan tidak terlalu kurus itu berlari sangat kencang, mengejar bola.
Sebenarnya yang membuat Aulia tertarik pada Naufal wajahnya bukan seperti wajah orang alim yang biasanya selalu memakai baju Koko dan sarung, Naufal memiliki wajah badboy seperti tipe aulia, tapi kelakuannya beda jauh dari badboy.
ditengah pertandingan aulia di datangi 4 anak punk yang dulu sebelum menikah dengan Naufal Aulia bertemu di lapangan ini.
tapi mereka menghargai Aulia dengan duduk di bangku sebelah gazebo yang agak jauh.
"ehh neng cantik sekarang makin cantik aja nih" ujar salah satunya yang berbadan paling tinggi dan lumayan berisi.
"iya nih, tambah manis dan se*y"
"eh kalian, apa kabar?" tanya Aulia santai seakan sudah akrab tanpa menjawab godaan mereka.
"ya gini-gini aja deh, hidup di jalanan, ngamen, gitu aja terus" jawab orang yang paling kurus.
"oh iya kita belum kenalan loh nama gue Aulia nama kalian siapa siapa aja?" (tanya Aulia
"gue Rifki" remaja yang tadi bilang seksi.
__ADS_1
"gue Adi" orang yang paling kurus
"Sam" yang punya badan paling tinggi dan berisi daripada yang lain.
"aku zidan" sepertinya dia yang paling kecil dan diam dari tadi.
"oh oke oke gue bakalan ingat-ingat, nama gue Aulia salam kenal" ujar Aulia memperkenalkan diri layaknya di sekolah.
mereka pun mengobrol santai kemudian Aulia mencium bau bakso yang seperti baru mengeluarkan asap dari dalam panci.
Aulia menghirup sebentar entar tiba-tiba ia ingin sekali makan bakso dan membayangkan dengan minum es kelapa muda.
"gue pengen bakso nih ngidam boleh tolong panggilin tukang bakso nggak gue mau jalan lewatin lapangan ini takut nggak kuat lagi hamil" pinta Aulia pada kawan-kawan barunya ini.
"eh buseett, lo udah hamil aja Lia perasaan waktu kita pertama Lo masih pakai seragam sekolah, Lo hamil duluan ya" kaget Sam, dan di angguki yang lain.
"ihhh enak aja, amit-amit jabang bayi ya, sembarangan kalian tau nggak gara-gara kejadian itu gue dinikahin sama guru gue yang negor waktu itu, tuh lagi main bola di sana" jelas Aulia secara terang-terangan menceritakan kisahnya pada keempat laki-laki ini karena sepertinya seumuran dengan Aulia jadi obrolan mereka nyambung.
"waahh, gilak Lo bener-bener, tapi Lo nggak kepaksa kan?" tanya Adi
"nggak kok, sekarang gue malah cinta banget" ujar Aulia senyum-senyum dengan pipi yang sudah memerah.
"udah ah, kalian mau tolongin gue nggak?" tanya Aulia merekapun serempak mengangguk.
"bawain se gerobaknya ya, gue pengen makan didepan gerobaknya, terus sama datengin penjual es kelapa muda " pinta Aulia seperti sudah bersahabat lama.
Adi dan Sam berangkat mencari penjual bakso tentu saja dengan berjalan kaki karena memang dekat dengan jalan raya jadi tidak perlu pakai kendaraan, sedangkan Zidan dan Rifki menunggu disini.
naufal baru melihat dua anak punk berjalan di area lapangan ini langsung melihat Aulia yang sedang di temani dua laki-laki berdandan seperti yang barusan lewat, permainan terhenti karena bola nya berada di kuasa Naufal.
naufal berlari sangat kencang menghampiri istrinya, bukannya suudzon tapi hanya ingin memastikan Aulia baik-baik saja.
Hasan dan teman-temannya yang melihat Naufal berlari kencang dengan wajah sangat khawatir langsung mengikuti Naufal beramai-ramai, takut terjadi apa-apa juga dengan Aulia.
__ADS_1