
setelah mereka duduk Bu Fatimah membawakan nampan berisi teh untuk mereka. Abah membawa mereka ke atas agar bicaranya lebih leluasa saja, dan pak syam abah suruh ikut, karena dia sudah melihat kejadian tadi dan supaya jadi saksi juga.
"maafkan Abah Aulia tadi Abah ngomong nya nada tinggi, Abah hanya kaget" ucap Abah pada Aulia yang melihat Aulia masih agak ketakutan di pelukan ibunya, Aulia hanya mengangguk.
"nak, Abah bukannya tidak sayang kamu dan Aulia, kamu juga harus memikirkan bagaimana pendapat masyarakat terhadap kita, kalau nama baik Abah, Abah tidak terlalu peduli, tapi bagaimana pesantren nak?" ucap Abah rohim dengan suara yang lembut serta mengusap lembut punggung putranya ini, tapi justru sukses membuat nauval meneteskan air matanya.
"bah" ucap nauval yang langsung menjatuhkan tubuhnya di hadapan Abahnya, membenamkan wajahnya di kedua lutut Abahnya.
"maafin Nauval bah, Nauval tadi benar-benar tidak sengaja, Nauval hanya berniat menolong, jangan paksa Aulia bah, nauval gak mau Lia tertekan karena paksaan ini" ucap nauval, yang Aulia lihat dari jauh Nauval menangis memohon pada Abahnya. melihat Nauval sebegitunya memikirkan perasaannya, membuat Aulia tidak tega.
"Nauval nggak pantas bersanding dengan Aulia bah, Aulia punya segalanya, Aulia sudah sangat mapan hidupnya, sedangkan Nauval apa bah..." lanjutnya dengan suara pelan.
"nak .. rezeki sudah Allah atur, kamu juga masih sanggup bekerja kok, kamu jangan terlalu khawatir dengan rezeki nak" jelas Abah mengusap rambut putra kesayangannya ini.
"tapi Aulia....."
"Aulia mau bah, Aulia mau menikah sama Nauval" ucap Aulia mantap, entah keyakinan itu datang darimana dan membuat semua orang Disana menoleh padanya.
"kamu serius Lia?" tanya Nauval Aulia hanya menjawab anggukan.
"baiklah besok kalian akad, tidak perlu mengundang siapapun kecuali yang ada disini, tinggal cari saksi saja.
merekapun setuju dengan yang dikatakan Abah rohim.
"tapi bagaimana dengan perjodohan Nauval?" tanya Aulia pelan
"untuk itu kita batalkan, itu sebenarnya baru rencana saya dan teman saya yang punya pesantren di kota Jombang dan belum ada konfirmasi pada pihak perempuan " jelas kyai rohim, auliapun mengangguk mendengar jawaban Abah.
besoknya sehabis Maghrib mereka melaksanakan akad di rumah pak kyai dan kegiatan belajar di Madin diliburkan, yang datang hanya keluarga Aulia termasuk Fahri dan juga keluarga pak kyai ada adik nya dua laki-laki dan satu kakaknya perempuan masing-masing membawa keluarga nya. dan pak syam diminta menghadiri untuk menjadi saksi.
__ADS_1
"Ankahtuka wazawwajtuka .... " pak Salim mulai membacakan kalimat dalam bahasa Arab sambil mantap bersalaman dengan Nauval.
sedangkan Aulia mulai membacakan doa dalam hatinya, pasalnya tadi siang Nauval memberitahu nya kalau dia sedang akad nikah Aulia diminta berdoa sesuai keinginannya karena inilah salah satu waktu diijabah doa nya.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur" ucap tegas Nauval.
"bagaimana?" tanya pak Salim kepada para saksi.
"sah" ucap mereka serentak.
"Alhamdulillah" ucap nauval pelan.
kini Aulia keluar dari kamar tamu di bawah didampingi Bu Mira menuju ke samping Nauval.
Aulia berdandan sederhana tidak terlalu menor tapi sukses membuat Aulia semakin cantik menurut Nauval.
Aulia duduk di samping Nauval kemudian ibu membisikkan kalau Aulia harus Salim sama suaminya Aulia pun melakukannya, entah karena apa hati Aulia berdebar tak karuan saat mulai menyentuh tangan Nauval dan menciumnya, padahal Aulia sudah sering bersentuhan dengan teman laki-lakinya tapi perasaan ini berbeda.
"sekarang kalian pasang cincin nikahnya ya" ucap Bu Fatimah dan mereka berdua bergantian memasangkan cincin itu di jari satu sama lain.
acara selanjutnya ya hanya ngobrol santai sambil menikmati hidangan yang disediakan umi Fatimah.
untuk malam ini Aulia akan menginap dirumah Nauval untuk selanjutnya kedua orang tua mereka membebaskan mereka akan tidur dimanapun
"senyaman kalian saja, toh rumah kita deketan, gak nyampek dua menit sampai" kata umi dan diangguki oleh Bu Mira.
jam sepuluh malam Aulia sudah ada dikamar Nauval dia juga sudah mengganti baju nya dengan piyama tidur nya, Nauval masih diluar berbincang dengan para sepupunya.
ceklek.
__ADS_1
bunyi pintu membuat Aulia yang duduk di sofa kamar itu menoleh dan mendapati Nauval yang masuk menghampirinya.
"kok belum tidur ?" tanya Nauval kemudian mengelus rambut Aulia.
"iya baru selesai ganti baju" jawab Aulia jujur, Nauval kemudian melihat baju tidur Aulia yang membuatnya salah tingkah, bagaimana tidak baru kali ini dia sedekat ini sama perempuan, apalagi Aulia memakai piyama berbahan halus dan sedikit terawang karena memang warnanya putih dengan lengan dan celana pendek.
"yasudah kalau begitu saya ke kamar mandi dulu dan mau sholat" ucap nauval yang akan pergi.
" sholatnya disini aja ya" pinta Aulia karena diluar semua tamunya sudah pulang dan paling hanya ada umi dan Abah di lantai bawah Aulia masih agak takut dilantai atas sendirian
"iya sayang" jawab Nauval dengan tersenyum, panggilannya yang membuat Aulia merinding seketika.
Aulia menunggu Nauval di tempat tidur sambil memikirkan cara menolak malam pertamanya, karena dari rumahnya tadi ia yakin belum mau menyerahkan dirinya pada Nauval, "kalau di novel-novel kan kalau si cewek nggak mau dan bilang belum siap nanti si cowok nya bakalan nurutin, apalagi cowoknya modelan Nauval begini" batin Aulia sambil terkekeh pelan sendirian dan sudah yakin kalau ia pasti berhasil.
mumpung Nauval lagi sholat Aulia akan pura-pura tidur dulu malam ini, diapun menyelimuti tubuhnya penuh dengan selimut tebal diatas ranjang.
karena sudah lima belas menit sepertinya Nauval belum selesai akhirnya Aulia kembali membuka selimutnya tapi hanya bagian
wajahnya saja dan ternyata Nauval sudah selesai dan sedang memperhatikannya dengan tersenyum, dengan memakai kaos tipis dan celana boxernya serta bau tubuh nya yang wangi membuat Aulia terpesona.
"kamu kenapa sih, kepanasan ya, makanya nggak usah ditutupin semuanya ini" ucap nauval yang kemudian menurunkan selimut Aulia sampai dadanya, Nauval kemudian duduk disamping Aulia dan mengelus rambut Aulia lembut.
"pak" panggil Aulia, yang sebenarnya ingin menyampaikan bahwa ia tidak mau adanya malam pertama.
"kok masih panggil pak sih, nanti dikira saya bapak kamu gimana?" tanya nauval terkekeh pelan yang lumayan terganggu dengan panggilan Aulia.
" terus panggilnya apa dong? Aulia bertanya.
"mas boleh, sayang juga boleh" jawab Nauval yang kemudian berbaring di samping Aulia dan melingkarkan tangannya di perut Aulia, membuat Aulia kaget lalu menyentuh tangan Nauval dan ingin meminta Nauval jangan begini.
__ADS_1
" boleh kan sayang" tanya Nauval yang membuat Aulia merinding dan ada perasaan aneh dihatinya yang ia tidak mengerti.