
Besok paginya Aulia bangun jam 8 pagi dan baru melihat Fahri sedang sarapan.
"Loh kak kok aku baru lihat, kemarin darimana ini kok baru makan" tanya Aulia yang melihat Fahri sarapan di meja makan.
"Loh kamu kapan Sampek nya, iya ini kakak baru pulang habis nganterin pak kyai sama Bu nyai ke solo ada undangan pengajian, supir nya kemarin lagi izin jadi minta tolong kakak" jawab Fahri.
"Ohh, ibu bapak kemana?" Tanya Aulia yang melihat rumah sepi.
"Kayaknya mereka ke sawah, soalnya padi di sawah udah waktunya panen" jawab Fahri santai.
"Whaaattt... Ibu bapak ke sawah??? Panas-panas begini????" Ucap Aulia sedikit berteriak Fahri yang mendengar kaget karena teriakan Aulia yang tiba-tiba.
" Ehh ... Astaghfirullah.. iya Lia emang pekerjaan ibu sama bapak ke sawah, dulu sih bapak kerja di toko bangunan, tapi waktu pandemi ada pengurangan karyawan karena usia bapak yang udah lumayan berumur jadi mereka memecat bapak tapi Alhamdulillah nya kakak udah jadi guru dan udah bisa cari uang untuk sedikit bantu mengurangi beban mereka" jelas Fahri panjang lebar.
"Jadi selama ini kalian ngak bahagia ya ?" Tanya Aulia dengan nada lemah.
"Aulia sayang, gak semua definisi bahagia itu tentang harta kok, bagi kita bahagia itu sederhana yaitu ketika kita bersyukur, contohnya saat kita diberi kesehatan, kita masih bisa makan, bisa melihat, bisa berbicara dan hal yang paling buat kita bersyukur adalah ketika Allah mengantarkan kamu kesini, dan keluarga kita bisa utuh seperti sekarang" ucap Fahri bijaksana.
Aulia yang mendengar itu terharu, dan dia jadi berpikir selama ini Aulia benar-benar tidak bersyukur, dia selalu merasa kurang akan apa yang dia punya tanpa melihat kebawah tanpa melihat orang lain yang lebih susah, dan ia berjanji akan berusaha membahagiakan kedua orang tua nya ini.
__ADS_1
"Hmm .. gitu ya kak, maaf ya aku kaget aja" ucap Aulia
" Iya gak papa kok dek, oiya ini kamu jadi masuk sekolah kapan kakak udah daftarin kamu, tapi disini sekolahnya siang, jam 1 sampai jam 5 kamu gapapa kan?" Tanya Fahri
"Loh kenapa siang gitu sih kak, emang ada ya sekolah siang-siang" tanya Aulia heran
" Ya emang gitu dek, dulu sih waktu jamannya kakak sekolahnya masih pagi tapi lama-kelamaan yang sekolah disini bukan cuma anak pesantren malah banyak banget anak dari luar pesantren dan karna itu ruang kelasnya jadi kurang karna perkelas nya butuh 5 sampai 6 ruangan" jelas Fahri
" Lah kan tinggal bangun sekolah lagi kak" tanya Aulia.
"Yeeee emang gampang dapet duitnya, yayasan sih baru bisa beli tanah sama fondasi nya aja, kayaknya perencanaan pembangunan itu bakal dilakuin tahun depan deh" jawab Fahri
"Sebenarnya aku bakalan masuk besok sih rencananya tapi berhubung masuknya siang aku bakal masuk hari ini" jawab Aulia tersenyum.
"Boleh" jawab Fahri, karena jadwal mengajar Fahri di Mts tidak ada hari ini.
Pukul setengah 10 mereka berangkat ke sawah dengan menaiki motor Fahri. Saat di tengah jalan Fahri berhenti di salah satu rumah seseorang dan setelah selesai dia dan Aulia melanjutkan perjalanan mereka.
"Kakak ngapain ke rumah orang itu?" Tanya Aulia
__ADS_1
" Nggak ngapa-ngapain cuma minta izin titip parkir mobil di tanahnya" jawab Fahri.
"Lah emang itu tanah siapa?"
"Dia orang yang punya rumah itu dulu, sebenarnya dulu dijual sama tanahnya tapi uang bapak cukup cuma beli rumahnya, dan tanahnya juga luas banget mungkin bisa buat rumah satu lagi yang lebih besar, tapi untung aja dulu orangnya butuh uang cepet karena anaknya melahirkan dan harus di operasi jadi boleh dibeli rumahnya aja" jelas Fahri.
Aulia hanya manggut-manggut.
Setelah sampai di sawah Aulia begitu sedih melihat orang tua nya panas-panasan memotong padi yang sudah kuning ke coklatan tanda siap panen dengan benda yang namanya celurit. Aulia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya bapak dan ibuk.
"Kak kasian banget mereka panas-panasan gini, kok kuat sih orang-orang lain itu juga" tanya Aulia menunjuk pada kedua orang tua nya dan orang-orang lain yang bekerja.
"Emang udah tiap harinya dek, mau gimana lagi, kalau nggak panas-panasan gabisa makan dek" jawab Fahri sambil tersenyum.
"Emang ini sawahnya siapa kak, kok bapak yang garap" tanyanya lagi.
"Ini sawah pak kyai, ada sekitar 3 hektaran disini, beliau mempercayakan bapak sama ibuk menggarap sawahnya dan nanti hasilnya akan di bagi, jadi misal dapat 9 karung padi, nanti 9 itu akan di bagi 3 yang dua hak bapak dan yang 1 hak pak kyai" jelas Fahri
Aulia mengangguk tanda mengerti. Aulia mencoba membatu bapak dan ibunya tapi belum 1 manit dia sudah lari mencari tempat di bawah pohon Karena benar-benar panas dan Aulia tidak tahan " gila aja, gajadi deh gue bantuin sia-sia banget ntar perawatan mahal gue " ucap Aulia menggerutu
__ADS_1
Fahri yang mendengar itu tidakk bisa tidak menahan tawanya karena sikap Aulia yang tadi sok-sokan kasihan dan ingin membantu tapi belum juga apa-apa udah kabur.
Merekapun pulang karena Aulia sudah tidak tahan dengan panasnya yang semakin lama semakin terasa di atas kepala.