Gairah Anak Pak Kyai

Gairah Anak Pak Kyai
bab 59


__ADS_3

deg !


aulia tidak bisa menjawab mereka, orang-orang itu berbicara langsung dengannya. di otak aulia sudah banyak rangkaian kata untuk memakinya tapi hati aulia malu sekali, ia takut malah ia sendiri yang di sudutkan.


Naufal sudah masuk dan mendengar semua pembicaraan para tetangga julid itu.


"mari bu" pamit Naufal kemudian melajukan mobilnya, aulia sudah menangis tapi tanpa suara, ia terus menghapus air matanya berkali-kali.


"sayang, sudah ya gausah nangis" ujar Naufal menenangkan istrinya.


"apa seorang pendosa seperti aulia nggak bisa berubah mas? semua orang menghujat masa lalu aulia, bahkan mereka berfikir aulia sekarang masih buruk, aulia nggak bisa memperbaiki masa lalu aulia yang memang buruk itu mas, terus aulia harus gimana?" ujarnya sambil terus mengeluarkan air matanya.


"sayang, kamu nggak perlu dengerin orang lain, kamu kan hidup nya sama mas, sama keluarga kita, mereka menerima semuanya kok, nggak ada yang menghakimi kamu, kalaupun orang lain yang bilang nggak perlu di masukin ke hati ya, kita nggak minta makan sama mereka kok" ujar Naufal


pelan-pelan aulia sudah tidak menangis lagi, mereka juga sudah mau sampai ditempat tujuan, karena memang tidak jauh dari rumah.


saat sampai mereka di sambut seorang laki-laki yang umurnya kisaran diatas Naufal sedikit.


"assalamualaikum gus" ujar fajar menyapa Naufal sopan.


"waalaikumsalam" merekapun bersalaman lalu Naufal memperkenalkan istrinya.


"lhoh kapan menikahnya Gus, saya belum dengar" tanya fajar.


"kita nikah siri dulu udah beberapa bulan yang lalu karena aulia masih belum lulus, tapi nikah sah sama resepsi nya sebulan lagi kok" jawab Naufal fajar pun mengucapkan selamat dan mendo'akan pernikahan aulia dan Naufal.


kemudian mereka melihat-lihat lokasi tanahnya, dan sepertinya aulia lumayan cocok dan letaknya memang srategis, bagian depannya menghadap ke jalan raya apalagi dekat lapangan dan banyak sawah-sawah di belakangnya membuat penampilan tanahnya banyak yang hijau.


"kenapa kamu jual jar, ini tanah warisan atau gimana" tanya Naufal setelah mereka duduk di sebuah gazebo lapangan.


" tanah warisan Gus, jadi uangnya rencananya mau saya beli sawah di sebelah sawah saya, pemiliknya butuh uang jadi dapatnya agak miring dikit, mumpung sebelahan sama milik saya jadi sekalian aja saya beli, biar luasnya Disana sekalian" jelas fajar membuat Naufal mangut- mangut.


"kan sama aja kak" tanya aulia.

__ADS_1


"nggak neng, kalau sawah kan bisa saya kelola, menanam padi dan sebagainya, kalau tanah kosong pinggir jalan gini kalau saya nggak punya modal ya buat apa juga di anggurin" jawab santai fajar.


"eh kak jangan panggil neng dong,panggil nama aja, saya kan lebih muda, santai aja sama saya" ujar aulia membuat fajar bingung iapun menoleh pada Naufal dan diangguki oleh Naufal.


"iya aulia" jawab fajar akhirnya.


"jadi tawaran awal kamu berapa ?" tanya aulia to the point.


"kalian cocok?" tanya fajar pada Naufal dan aulia.


"kalau aku sih cocok mas, mas gimana?" tanya aulia pada suaminya.


"mas juga cocok, keputusan nya di kamu sayang" ujar Naufal aulia pun mengangguk.


"jadi saya kasih tawaran 950 juta" ujar fajar.


aulia pun berfikir sebentar.


"oke 950 juta" jawab aulia, Naufal dan fajar kaget karena aulia tidak nego dulu, menurut Naufal itu agak mahal.


"ngapain di nego mas" tanya aulia bingung.


"ya ini tanahnya, seharusnya kamu bisa tawar dulu, minta turunin harganya dulu" jelas Naufal.


" iya aulia, saya bisa kok turunin dikit" ujar fajar.


"nggak perlu mas, menurut aulia segitu udah sesuai" jawab santai aulia, kalau kata fajar tadi tanahnya ini hampir mencapai 700 meter kurang, karena beberapa meter tanah itu dulu sudah di waqafkan oleh almarhum ayahnya ke lapangan sampingnya karena memang bentuknya dulu agak miring jadi sekalian di luruskan, dalam hati aulia bersorak "harga segitu di Jakarta udah nggak dapet woy".


"mulai deh jiwa orang kaya nya kumat" gumam Naufal yang bisa di dengar aulia.


"apa mas" tanya aulia sambil menyipitkan matanya horor.


"nggak sayang, kamu cantik" jawab Naufal tersenyum takut singa betina kesayangan nya ini marah.

__ADS_1


"udah-udah jangan berantem, kalian ini lucu banget" ujar fajar menengahi pasangan suami istri ini.


"yaudah besok kita urus surat-surat nya ya" ucap Naufal pada fajar ia pun mengangguk senang, tanahnya di beli tanpa nego.


aulia dan Naufal pun pamit setelah selesai membicarakan urusan tanah.


"mau kemana lagi sayang? mumpung Maghrib masih lama ini" tanya Nauval pada aulia


"nggak deh mas, Lia pengen pulang ke rumah aja" jawab aulia Naufal pun mengangguk kemudian melajukan mobilnya ke rumah aulia.


setelah sampai rumah aulia menunggu Magrib bersama Naufal di ruang keluarga menonton televisi dan mengobrol santai dengan suaminya.


setelah sholat Maghrib aulia akan masuk ke kelas madinnya, karena dia sudah sering bolos, mumpung sekarang sudah tidak terlalu sibuk ia pun masuk Madin.


Saat masuk kelas teman-temannya sekelasnya menatap aulia dengan tatapan tidak bisa di mengerti.


aulia duduk di bangkunya seperti biasa, tapi anehnya Firda teman sebangkunya duduk di bangku lain, aulia pun tidak peduli.


guru pun masuk ke kelas, ternyata guru yang mengajar yaitu Riska, murid pesantren yang dapat juara waktu kelulusan Madin kemarin.


Riska mengajar menulis pego, karena memang di kelas aulia ini termasuk kelas dasar jadi teman-teman nya juga masih agak kecil-kecil, ada yang baru SMP ada yang kelas 3 SMP, bahkan ada yang masih SD kelas 6, dan semuanya perempuan.


"mbak Riska cantik banget ya, pinter lagi, kok bukan mbak Riska aja yang nikah sama Gus naufal" ucap salah satu murid, pada seluruh kelas. dia masih kelas 1 SMP namanya Nanda.


Riska tersenyum "kamu ini bisa aja, kan Gus naufal udah mau nikah" jawabnya, padahal hatinya sudah ingin melabrak aulia tapi ia menahannya agar di luar ia terlihat perempuan yang baik dan lembut.


"sayang banget ya mbak" ujar Nanda.


"berarti bukan jodohnya" Jawab Riska lagi


"iya, jodohnya malah cewek nggak bener, berandalan, suka apa itu namanya ya kalau joget-joget di lampu kelap-kelip gitu, nggak pantes banget sama Gus" jawabnya, Riska tersenyum puas karena Nanda bisa menyindir aulia di depannya.


sebenarnya Riska memang menyuruh Nanda bilang seperti itu agar nanti aulia marah terus buat heboh satu pesantren dan pak kyai nggak mau lagi aulia jadi menantunya.

__ADS_1


aulia tidak memperdulikan sama sekali, dia tetap menyalin tulisan dari papan ke Bukunya.


"Halah, bocil tau apa lo" gumam aulia sambil fokus menulis.


__ADS_2