Gairah Anak Pak Kyai

Gairah Anak Pak Kyai
bab 95


__ADS_3

pukul 09.00 pagi semua orang sudah berkumpul di rumah pak kyai ada beberapa guru yang pak kyai tunjuk untuk ikut memberi solusi ada juga orang tua kedua orang tua Riska sedangkan Aska tidak bisa mendatangkan orang tuanya entah karena alasan apa.


tadinya Aska malah akan kabur tapi ia teringat akan ucapan pak kyai jika laki-laki harus bertanggung jawab dengan apa yang telah ia buat jadi ia memutuskan untuk tinggal entah bagaimana kedepannya.


Alia membantu umi membuatkan minuman dan menyuguhkan beberapa macam untuk disuguhkan agar tidak terlalu tegang suasananya.


"assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" pak kyai mulai membuka obrolan.


"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh " jawab mereka serentak.


" karena semua nya sudah berkumpul disini, kita mulai pertemuan ini, sebelum itu kita awali dengan alfatihah agar di lancarkan oleh Allah, alfatihah.."


"Alhamdulillah, .. kalau begitu silahkan Naufal kamu jelaskan dulu apa yang telah kamu lihat", Naufal mengangguk lalu dengan membaca doa dalam hati ia memulai penjelasan apa yang telah ia lihat semalam dengan sebenar-benarnya, tanpa di kurang dan di lebih-lebihkan.


kedua orang tua Riska tidak bisa menahan tangis kesedihan atas kelakuan putrinya, bagaimana bisa putri yang selalu mereka bangga-banggakan kini mencoreng nama baik keluarganya.


" sebentar dan maaf pak kyai, saya permisi sebentar." mama Riska menyeret putri nya menjauh dari ruang tamu ke luar, kesamping rumah pak kyai.


PLAKk ...


satu tamparan keras mendarat di pipi Riska dari tangan mama nya.


"maaf ma.. Riska khilaf,... " tangis Riska pada mama nya.


"khilaf kamu bilang,?? dasar anak nggak tau diri, udah di sekolahin dan di masukin pesantren biar jadi anak nurut malah kayak begini kelakuan kamu ris, bikin malu keluarga tau nggak? " marah mama nya dengan menjewer kuping Riska sekuatnya. Riska hanya bisa menangis karena kesakitan.


" maaf ma... maaf...." tangis Riska memegangi kupingnya yang masih di jewer mamanya.


Aulia yang melihat dari jendela samping Segera menghampiri nya lewat pintu samping.

__ADS_1


"maaf Tante, ... udah ya Riska jangan di jewer gitu " Aulia memegang lengan tangan mama Riska yang di gunakan menjewer telinga anaknya. dita pun melepaskan jeweran nya.


" Tante emosi nak, riska bener-bener malu-maluin" Dita menangis pada Aulia. Aulia mengusap lengan mama Riska.


"sabar ya Tan" hanya itu yang bisa Aulia sampaikan. sedangkan Riska sangat cemburu mamanya lebih lembut pada orang lain daripada anaknya sendiri.


"mending sekarang ajak Riska masuk Tan, udah di tunggu yang lain, biar masalahnya cepet kelar" Tante Dita mengangguk lalu tanpa menoleh pada Riska ia berjalan masuk dan kembali ke tempat duduk nya semula, Riska mengikuti dari belakang.


" bisa dilanjutkan Bu??" tanya pak affan, Bu Dita pun mengangguk.


" kalau dari saya mungkin lebih baik kita nikahkan saja mereka berdua? itu menurut saya kalau yang lain punya saran silakan" ujar pak kyai memulai diskusi


" saya setuju sih kayaknya itu yang paling baik" ujar naufal


" saya nggak mau nikah dengan Azka pak kyai" lirih Riska


" saya juga nggak mau pak kyai, " Azka ikut-ikutan.


Azka seketika terdiam karena memang dia salah.


"dan untuk status mereka berdua sebagai murid dan guru Saya harap bisa ditindak lanjuti lebih tegas, Contohnya seperti memberhentikan ustad Azka sebagai guru madin dan mengeluarkan dengan tidak hormat Riska dari pesantren ini, hal ini perlu kita lakukan mengingat tanggung jawab yang seharusnya kita percayakan pada ustadz Azka saya rasa dia sudah melanggar dengan sangat gampang nya, dengan kejadian ini saya rasa orang tua santri-santri sudah berkurang rasa percayanya lagi pada kita bukankah begitu??" Naufal menambahkan, guru-guru yang lain pun setuju.


Azka tidak mampu membela dirinya sendiri, yang di katakan orang-orang ini benar.


"jadi gimana pak, Bu? kalian setuju jika keduanya di nikahkan saja ? " papa dan mama Riska mengangguk setuju, tidak ada pilihan lain sekarang ini.


akhirnya beberapa jam kemudian merekapun melaksanakan ijab qobul di situ juga, dengan tanpa persiapan terlebih dahulu.


setelah selesai mereka pun pergi dan semua nya sudah bubar, pak kyai menganggap masalah itu sudah selesai, ya meskipun gosip dari para masyarakat akan tetap ada, tapi setidaknya pihak pesantren tidak tinggal diam dan sudah bertindak dengan baik dengan cepat dan tepat.

__ADS_1


Azka ikut ke rumah Riska karena ia disini masih belum ada rumah, beberapa Minggu dia disini ia tinggal bersama pak Affan.


"nak, kalau mau ke rumah sakit sore ini tunggu dulu ya, umi bawain makanan buat temen-temen kamu Lia" Aulia mengangguk seraya duduk di sofa menunggu kedatangan suaminya yang sedang bersiap untuk berangkat menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Zidan.


tidak lama Naufal pun datang dan di susul oleh umi yang membawa beberapa kotak makan yang sudah beliau isi penuh.


"udah siap yang??" tanya Naufal Aulia mengangguk mereka kemudian pamit pada umi lalu pergi menuju rumah sakit.


sampai sana Naufal dan Aulia langsung masuk ke ruangan Zidan, dan ternyata mereka bertiga sedang melakukan sholat ashar berjamaah.


Aulia dan Naufal pun masuk ke dalam dan diam berdiri di samping Zidan yang masih tidur.


"assalamualaikum warahmatullahi, assalamualaikum warahmatullahi" Sam menutup sholatnya dengan salam, dua yang lain di belakang nya pun mengikuti. mereka lalu berdoa sebentar, setelah itu berdiri merapikan sajadahnya.


"assalamualaikum" salam Naufal karena mereka sudah selesai sholat.


"waalaikumsalam, mari Aulia, bang Naufal, silahkan duduk di sofa dulu" ujar Sam dengan menyalami Naufal dan di ikuti asi juga Rifki, Naufal dan Aulia pun menurut, mereka duduk di sofa ruangan tersebut sedangkan yang tiga laki-laki itu sedang membereskan baju-baju yang berserakan.


"gimana keadaan Zidan Sam? udah baikan??" tanya Naufal


"udah kok bang naufal, Zidan udah lebih baik, kata dokter udah makin baik, katanya kalau besok udah normal semua dan zidannya udah nggak lemes boleh pulang" jelas Sam


"Alhamdulillah kalo gitu ya" Sam pun mengangguk.


sedangkan Aulia diam-diam memotret tiga temannya itu, karena dandanan preman dengan rambut panjang, terus ada juga yang bertato bahkan telinganya ada yang pakai anting dengan rambut ada yang panjang tapi pakai sarung dan peci karena habis sholat, Aulia memotret sambil tertawa kecil.


"kalian udah makan??" tanya Aulia sambil menyimpan ponsel nya.


"belum, rencananya habis ini gue mau keluar beli makan" jawab Adi

__ADS_1


" nah kebetulan, ini gue bawa makanan, masakan umi nya mas Naufal, makan ini aja ya, gue bawa banyak kok" Aulia menunjuk paper bag yang ia bawa dari rumah, ketiga orang itu membuka sarung yang mereka pakai karena sudah memakai celana pendek juga. lalu mendekati meja dan mengambil makanan yang Aulia bawa.


"makasih ya Aulia Lo baik banget deh, makasih juga ya bang Naufal, bilangin juga makasih sama umi nya bang" kata rifki tulus, Naufal tersenyum mengangguk. merekapun menghabiskan makanan yang Aulia bawa dan satu lagi Aulia siapkan buat Zidan kalau bosan makan rumah sakit nanti, karena memang sudah dipisah tempatnya.


__ADS_2