Gairah Anak Pak Kyai

Gairah Anak Pak Kyai
bab 90


__ADS_3

beberapa hari kemudian Aulia masuk kelas Madin, dan kebetulan hari ini jadwal guru baru itu masuk kelas Aulia.


"assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" salam guru itu saat memasuki kelas.


"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab murid-murid serentak, para murid perempuan terlihat sangat antusias karena ustadz yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang karena ketampanannya walaupun usianya mungkin sekitar 30 an diatas Naufal sedikit tapi wajahnya tampan dan terlihat masih sangat muda.


" masih ingat kan nama saya?"


"ustadz azka" jawab mereka lagi. sedangkan Aulia yang memang tidak tau tidak menjawab sama sekali.


"iya betul sekali, gimana hafalan nadhom yang pertemuan lalu saya tugaskan??" tanya ustadz azka membuat Aulia kaget, tapi anak-anak yang lain justru berteriak sudah hafal.


"kok nggak bilang sih Ra kalau ada hafalan??" bisik Aulia pada Zahra.


"wahh lupa kayaknya aku kak, kakak Minggu lalu nggak masuk ya ??" tanya Zahra Aulia mengangguk.


"gimana dong ini ??" panik Aulia


"nih kak, yang ini, kakak hafalin sekarang gih, sambil nunggu yang lain setoran" pinta Zahra Aulia pun mengangguk segera menghafal yang di tunjuk Zahra. murid yang lain bergantian menyetor hafalan.


"kamu kalo udah hafal duluan aja Ra, nggak perlu nunggu aku " pinta Aulia pada Zahra. Zahra mengangguk tapi terlihat ragu tapi sepertinya ia memberanikan diri untuk maju.


setelah semuanya selesai hanya tinggal Aulia yang belum membuat Aulia panik dan gelisah, disaat seperti ini bukannya hafalannya jadi gampang justru otaknya menolak keras setiap bait nadhom yang ia hafalkan.


"duhh gimana ini Ra" panik Aulia. Zahra terus menyimak hafalan Aulia yang tak kunjung bisa di hafalnya.


"tinggal satu ya yang belum?? ayo yang belum boleh maju" ucap ustadz azka, Aulia memberanikan diri maju.


"ayo silahkan di baca" ujar ustadz azka

__ADS_1


"ee .. ustadz, saya boleh nggak setor hafalannya Minggu depan?" tanya Aulia menahan takut


"loh kan sudah ada jadwalnya hari ini setoran, kamu nggak ada yang ngasih tau emang nya? kan waktu itu kamu nggak masuk"


"maaf tadz, saya lupa" jawab Aulia bohong, padahal memang tidak ada yang memberitahunya, dia di kelas ini tidak dekat dengan siapapun kecuali Zahra, bertemu dengan Zahra saja waktu kelas Madin dan mungkin memang Zahra lupa Aulia tidak bisa menyalahkan nya.


"oke, berarti ini salah kamu sendiri ya? " Aulia mengangguk.


" padahal kamu dewasa sendiri loh disini, kalau begitu saya tunggu setelah shalat isya di ruang kantor kamu harus setor hafalan setelah sholat isya, tapi saya potong jadi dua bait saja,. kalau tidak saya hukum kamu, bagaimana?, kamu setuju??" Aulia mengangguk pasrah, ustadz azka keluar dari kelas karena jam nya sudah habis Aulia pun kembali ke tempat duduk.


Aulia tidak ikut sholat isya berjamaah, ia di temani Zahra menghafal dua bait nadhom yang akan di setornya ke ustadz azka.


Aulia pun menuju ruang kantor Duduk di sofa berhadapan dengan ustadz Azka, tapi mereka tidak hanya berdua ada beberapa guru lain termasuk Riska, santri yang di minta mengajar anak-anak kelas paling kecil.


Ustadz Azka menatap Aulia sebentar lalu ia kembali menatap kitab yang ia pegang dan memejamkan matanya. Aulia membaca hafalannya ia akhirnya berhasil menghafal sesuai yang tadi diminta ustadz Azka.


"Alhamdulillah, besok sisanya kamu setor lagi, waktu nya seperti ini"


"Kalau nggak mau ya nggak usah ngaji, tidur aja di rumah " Riska menyindir pelan, ia mengerem sedikit omongan nya karena ada guru-guru di dalam ruangan itu. Aulia duduk tegak kembali menghela nafas panjang.


"Kalau besok masih nggak hafal saya hukum kamu" kata ustadz Azka, Aulia terpaksa mengangguk, setelah berpamitan ia pun pulang dan langsung melaksanakan sholat isya'.


Naufal masuk kamar pukul 10 malam, tadi pekerjaan nya menginput data siswa siswi terlebih dahulu, Aulia sudah tertidur pulas dengan tangan memegangi kitab hafalannya, Naufal mengambil kitab itu dari tangan istrinya ia meletakkan kitab itu di atas nakas. Naufal tersenyum melihat tidur Aulia ia mencium perut serta kening Aulia.


Besoknya Aulia pun kembali ke ruang kantor, tapi kali ini Aulia tidak berhasil menghafalkan seluruhnya karena kalimat terakhir di baitnya Aulia lupa.


"Gimana?? Udah inget??" Tanya ustadz Azka, Aulia menggeleng.


"Jadi di hukum ya?" Aulia mengangguk.

__ADS_1


"Sekarang ikut saya" ustadz Azka berjalan ke arah toilet Aulia mengikuti nya.


"Sekarang kamu bersihin toilet ini, Disana tempat sabun sama sikatnya" Aulia pun menurut ia mulai membersihkan toilet, rasanya ingin menangis saja kali ini, Aulia sedang hamil masa' tidak bisa di mengerti pikir Aulia tapi tidak berani ia utarakan.


"Ustad kalau mau balik balik aja, saya bisa sendiri dan pasti saya selesaikan kok" ujar Aulia kala melihat sekeliling nya sangat sepi.


"Saya mau ngawasin kamu takut kabur"


"Saya janji kok nggak bakal kabur" jawab Aulia meyakinkan.


"Sudah kamu lakukan saja, saya cuma ngawasin dari sini kok" ujar ustad Azka dari luar pintu lalu memainkan ponselnya. Aulia sedikit curiga tapi segera ia tepis karena takut bersu'uzon.


Akhirnya Aulia menyikat lantai dengan sabun, ia menyikat dengan posisi menyamping karena memang ia mulai dari tembok yang samping.


Diam-diam sudut mata Aulia melirik ustadz Azka yang tatapannya sungguh aneh, karena seperti tidak berkedip saat mengawasi nya.


Kini Aulia menyikat pinggiran bawah bak mandi dan pastinya itu membuat Aulia membelakangi ustadz Azka, dengan gerakan yang dia percepat, Aulia ingin segera selesai, tapi di belakang tubuhnya, Aulia merasa seperti ada gerakan, tubuhnya merinding bahkan sepertinya ada yang mendekat pada bokongnya.


"Aulia ...." Suara Naufal terdengar dari luar Aulia segera menoleh ustadz Azka berada tidak jauh dari tempatnya dan segera ia kembali keluar pintu.


"Mas Naufal" panggil Aulia Naufal pun menghampiri nya.


"Kamu ngapain, eh kok ada ustadz Azka??"


"Ee.. ini Gus ... Saya ngawasin Aulia lagi di hukum" kata ustadz Azka.


"Mas, aku capek, punggung ku sakit" rengek Aulia pada Naufal, padahal sebenarnya ini hanya alasannya karena ia merasa ada yang aneh dengan ustadz Azka ini. Naufal menghampiri Aulia lalu mencuci kan tangannya yang penuh sabun.


"Maaf ya ustadz Azka, bukannya saya membedakan istri saya dengan murid yang lain, tapi istri saya sedang hamil, dia kalau kecapekan punggungnya sakit, nanti biar saya yang lanjutin" jelas Naufal.

__ADS_1


"Begitu ya gus, yasudah tidak usah dilanjutkan Gus" jawab ustadz Azka


"Terimakasih, kalau begitu saya permisi dulu" Naufal menggandeng tangan Aulia lalu mengajak nya pulang, dan berkali-kali ia meminta maaf karena tadi tidak tau kalau Aulia sedang dihukum.


__ADS_2