
Naufal memberanikan diri untuk keluar dari ruangan kantor, ia berjalan dan membuka pintu dengan pelan, Naufal menoleh sekitar lingkungan depannya, dan memang kosong, Naufal terus mencari hingga membuka dan melihat isi beberapa kelas yang dekat dengan ruangan kantor, karena sudah ia cek dan tidak ada apa-apa ia pun akan kembali ke ruangan kantor.
"sayang...uhh"
" shuutt .. jangan keras-keras" terdengar suara berbisik, karena sepinya malam suara itu sangat jelas terdengar. Naufal seketika menghentikan langkahnya, kebetulan ia sedang melewati depan lorong yang dekat dengan kamar mandi dan mendengar suara itu. dengan segera ia melangkah kan kakinya dengan langkah pelan jantung nya berdegup kencang.
setelah memastikan bahwa suara itu berasal dari balik pintu di salah satu toilet Naufal mendengar gerakan-gerakan yang sangat jelas terdengar, mungkin kalau dari jauh memang tidak terdengar sama sekali tapi dari balik pintu Naufal mendengarnya jelas.
tanpa menunggu lama Naufal mendobrak pintu toilet yang memang terbuat dari plastik itu hingga selot yang juga dari plastik itu rusak, dan betapa kagetnya Naufal yang dilihat di depannya dua orang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram nya melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya di lakukan.
"astaghfirullahaladzim, apa yang kalian lakukan" teriak Naufal meluapkan emosinya.
Riska yang sedang berjongkok di hadapan Azka yang berdiri dengan pakaian yang sudah terbuka kemana-mana. bahkan baju atasan Riska kancingnya sudah terbuka semua.
nafas Naufal tersenggal matanya berair entah bagaimana caranya ia harus menumpahkan emosi di dada nya. Riska dan azka buru-buru membetulkan pakaiannya.
"pak, saya... saya... " ujar Riska dengan air mata sudah mengalir di pipinya.
" sekarang kalian berdua ikut saya " Naufal memerintah keduanya tidak ada yang mengatakan apapun dan hanya bisa mengikuti naufal dari belakang. Naufal segera menghubungi pak affan untuk segera menemui nya, ia langsung membawa keduanya ke rumah nya, agar Abah juga dapat memberikan nya solusi.
saat mereka sampai ruang tamu rumah nya Riska tidak berhenti menangis, air matanya terus jatuh karena takut, Malu campur aduk jadi satu. Naufal segera mengetuk kamar umi dan Abah tidak lama umi membuka nya.
"assalamualaikum mi" ujar Naufal saat wajah kantuk umi muncul. Naufal sangat tidak tega untuk mengatakannya pada umi tapi ini harus diselesaikan secepatnya.
"Abah ada kan mi?" umi mengangguk
"setengah jam yang lalu baru pulang, ini lagi tidur nak, " jawaban umi semakin membuat Naufal ragu.
"bisa tolong bangunin nggak mi," pinta Naufal
"nggak bisa besok aja nak urusannya? kasihan Abah baru pulang" ujar umi
__ADS_1
" maaf mi, ini penting banget" sesal Naufal tapi ia tidak boleh menunda sam
"yaudah, tunggu di sofa aja" naufal mengangguk lalu melangkah pergi kembali ke sofa beberapa langkah dari depan kamar umi, Naufal duduk di sofa sambil memperhatikan dua orang di depannya Riska dengan air mata yang terus mengalir dan Azka yang diam seribu bahasa.
tidak lama pak afan datang dengan terburu-buru karena tadi Naufal menyuruhnya datang dadakan saat ia juga tidur.
"assalamualaikum" salam pak Affan saat baru sampai
"waalaikumsalam, duduk dulu pak tunggu Abah datang "perintah Naufal pak Affan pun langsung menurut dan duduk di salah satu sofa dengan hati bertanya-tanya apa yang terjadi sampai-sampai Naufal menyuruhnya datang tengah malam begini dan yang lebih mengherankannya lagi Azka temannya duduk bersamanya serta ada Riska santri pesantren yang kadang ikut mengajar kelas madin. pak afan masih diam tanpa bertanya karena memang menuruti perintah Naufal yang katanya menunggu pak kyai. tidak butuh waktu lama pak kyai datang diikuti umi.
Naufal menunggu Abah dan umi duduk terlebih dulu sambil merangkai kata. terlihat sekali wajah lelah dan kurang tidur Abah.
" sekarang kamu jelaskan fal, ada apa ini, terus Riska kenapa menangis ?" Naufal pun mulai menjelaskan secara detail dan tidak ia kurangi atau tambahi.
umi, Abah dan pak Affan benar-benar sangat terkejut,. mereka sangat tidak percaya benarkah ustadz Azka dan Riska melakukan hal itu.
"Astaghfirullahaladzim Azka, kamu mau malu-malu in aku, kamu udah di tolongin malah kayak gini kelakuannya" marah pak Affan.
Aulia terbangun karena haus, setelah minum ia melihat suaminya tidak ada membuat Aulia keluar kamar karena mungkin Naufal ketiduran sofa televisi depan kamar.
tapi saat sampai di depan televisi ia tidak menemukan suaminya, tapi ia dengar di bawah seperti ada orang bicara, Aulia kemudian turun ke bawah untuk melihat apa yang terjadi.
saat di tangga bawah Aulia bingung karena Naufal umi Abah dan beberapa orang berkumpul Disana, seketika Aulia mempercepat langkahnya ia penasaran apa yang terjadi.
"mas... ada apa??" tanya Aulia yang baru sampai di ruang tamu, Naufal dan yang lain kaget karena kedatangan Aulia apalagi istrinya tidak mengenakan kerudung.
Naufal segera melangkah mencegah Aulia mendekati sofa.
"kerudung kamu mana yang?" tanya Naufal. Aulia seketika meraba kepalanya dan ia baru ingat kalau dia melupakan hijab nya.
"lupa mas, aku buru-buru" jawab Aulia Naufal pun menggandeng tangan Aulia dan berjalan kembali ke kamar atas.
__ADS_1
"ada apa sih mas, kok rame-rame gitu? Riska itu juga kenapa kok nangis?" tanya Aulia yang sudah sangat penasaran saat mereka sampai di lantai atas.
" itu, aku mergokin Riska sama Azka lagi di kamar mandi berduaan tengah malem gini" cerita naufal, Aulia sontak kaget.
"hah... serius???" Naufal mengangguk.
"terus gimana dong? "
"ya tunggu keputusan abah mau gimana ini, di kasih hukuman atau di keluarkan"
"astaghfirullahaladzim"
"kamu tidur lagi aja ya,. biar ini kita yang urus" ujar Naufal setelah mereka duduk di ranjang. Aulia mengangguk.
"yaudah mas pergi dulu" Naufal akan meninggalkan istri nya tapi Aulia menahan lengannya.
" cium dulu" rengek Aulia, Naufal tersenyum lalu bibirnya mengecup seluruh wajah Aulia terakhir di bibirnya.
"makasih mas" Naufal mengangguk lalu melangkah pergi dan menutup pintu kamar untuk kembali ke ruang tamu, setidaknya senyuman istrinya barusan membuat rasa emosinya sedikit berkurang.
"jadi gimana penjelasan kamu ris,??" tanya Naufal pada Riska saat sudah duduk kembali.
" saya... saya salah Gus, saya minta maaf, tapi saya dipaksa" ujar Riska sambil menangis.
" dipaksa maksudnya?" tanya pak kyai.
" dipaksa apa sih ris, enak aja, lu juga mau kok, kalo kalian nggak percaya ini lihat chattingan kita" Azka mengeluarkan ponselnya.
"pak Affan, silahkan periksa " ujar Naufal, pak Affan pun mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi hijau di hp Azka dan membaca pesan-pesan nya dengan Riska.
Riska semakin pucat pasi, bagaimana tidak larangan membawa ponsel di pesantren ini yang ia langgar kali ini akan ketahuan.
__ADS_1
"gimana pak?" tanya Naufal setelah menunggu agak lama.