
"Bu nyai sudah makan belum? mau saya beliin makanan di luar??" tanya Alika
"oh sudah tadi Bu, udah di bawain sarapan sama besan saya." jawab umi
"Alhamdulillah kalau begitu, pokok nya umi ... ehh Bu nyai
"panggil umi juga nggak apa-apa kok nak" ujar umi Fatimah
"beneran umi??" antusias Bu Alika, umi Fatimah pun mengangguk
" iya umi, umi yang sabar yang tenang pikirannya biar badan umi juga ngga sakit" ujar Bu Alika sok dekat.
"hmm, iya ndukk, makasih ya dukungannya" ujar umi Fatimah lembut.
"mas ... itu Bu Alika sok Deket banget sih sama umi??" Aulia bertanya pada Naufal dengan berbisik. Naufal mengangkat dua bahunya.
" biarin aja lah sayang... " jawab Naufal yang sudah malas dengan tingkah sok baik Bu Alika, yang sebenarnya di dalam hatinya tidak sebaik itu.
"hmm, yaudah" ujar Aulia pasrah karena memang ia sangat mengenal suaminya yang pasti sangat tidak suka bila membicarakan orang lain.
" aku keluar dulu ya mas, pengen hirup udara seger, disini juga masih banyak orang " ujar Aulia
"tapi ini makannya ??" tanya Naufal karena makanan Aulia masih tinggal setengah
"nanti aku makan lagi" ujar Aulia bangkit dari tempat duduk nya.
" tunggu bentar lagi dong sayang, biar habis ini mas temenin"
" nggak apa-apa kok mas, orang cuma jalan-jalan di taman aja, sekalian jalan-jalan pagi, aku kan nggak pernah jalan-jalan selama hamil" tolak Aulia
__ADS_1
"yaudah, nanti mas susulin ya " tawar naufal Aulia pun mengangguk.
Aulia pun berpamitan pada umi dan Abah serta para guru yang sedang menjenguk Abah.
" umi nggak salah kan dapet menantu kayak gitu??" tanya Alika pada umi saat Bu Alika membawa umi ke sofa dan duduk berdua, sedangkan naufal kembali berbincang dengan guru-guru lain.
"maksud Bu Alika?" tanya umi
"ya kayak nggak ngehargai umi sama Abah aja sih mi, menurut Alika, masa' di saat seperti ini dia malah pilih jalan-jalan" kompor Alika mulai memanas-manasi umi apalagi ia dari tadi sudah berusaha mendekati umi.
"nggak apa-apa kok Bu, malah dari tadi udah umi suruh menantu umi itu pulang sama keluarga nya tadi, umi nggak mau Aulia kecapean, soalnya udah pernah keguguran juga, " ujar umi tidak setuju dengan apa yang di bicarakan Alika, tapi umi berusaha keras untuk tidak terlihat marah, karena jujur ia sangat tidak nyaman dengan apa yang di bicarakan Alika barusan.
"ohhh gitu ya umi, ya sudah kalau gitu" pasrah Alika, ternyata Aulia memang terlihat se baik itu di depan keluarga Naufal, bahkan sudah ia panas-panasi sedemikan rupa tapi umi masih tetap menyayangi Aulia,.
" oke Alika tenang aja, masih banyak cara lain kok" batin Alika berusaha menahan emosi hati nya yang kesal.
.
.
.
.
.
.
"sayang... " panggil Naufal, Aulia yang sedang berjalan-jalan di taman samping rumah menoleh ke atas ternyata Naufal sedang memperhatikannya di balkon lantai atas. Aulia pun tersenyum lalu melambaikan tangannya. Naufal pun segera menuju bawah menghampiri istrinya.
__ADS_1
" makin rajin sih istri mas ini, abis sholat subuh langsung jalan-jalan kecil disini?" tanya Naufal merangkul pinggang Aulia.
"iya mas, mendekati lahiran kata dokter di suruh banyak jalan-jalan gini tiap pagi" jawab Aulia.
",iya sayang, pinter deh nurut sama dokter " kata Naufal memuji Aulia pun tersenyum.
"iya mas,.. soalnya aku berharap lahirannya bisa normal"
" katanya dulu mau kayak artis-artis itu sayang, langsung operasi Caesar aja?" tanya Naufal
" ngga deh mas, setelah aku tanya-tanya umi kak Aisyah sama ibu, katanya kalau bisa di usahain normal dulu, kalo operasi Caesar proses pemulihan dan penyembuhan nya lama mas, bahkan Sampe bertahun-tahun ke depan kadang masih kerasa." jelas Aulia.
"yaudah sayang, apapun yang penting kamu sama bayi kita selamat dan sehat semuanya ya" ujar Naufal Aulia pun mengangguk.
" yaudah mas mau siap-siap?"
"belum sayang, masih ke pagian, mbok Jum udah dateng belum??" tanya naufal, mbok Jum adalah tetangga mereka yang mereka minta tolong beres-beres rumah dan masak selama umi masih sibuk mengurus Abah, Naufal tidak umi nya kelelahan ya meskipun bagaimana pun Abah sudah lebih baik sekarang tapi Naufal meminta pada umi nya untuk tidak perlu mengurus rumah, yang terpenting Abah dulu. kini Abah sudah mulai bisa mengimami di masjid kembali setelah tiga bulan lebih belum bisa karena kondisi sakit nya. abah pun juga sudah tidak ceramah terlebih dahulu meskipun sudah banyak yang ingin acara pengajian di isi oleh Abah kembali tapi mengingat kondisi Abah belum sepenuhnya pulih Naufal menolak secara halus, Abah pun mau tidak mau menuruti penolakan anak satu-satunya itu bagaimana pun Abah kasihan pada Naufal yang sudah berusaha keras untuk mengobati dan merawatnya beberapa bulan ini mulai dari media bahkan obat-obatan alternatif.
"udah kayak nya mas di dapur, kamu mau kopi?" tawar Aulia, Naufal mengangguk
"aku buatin ya mas..."
"eh biar mbok Jum aja sayang kamu lanjutin lagi aja jalan-jalan nya"
"emang kopi buatan aku nggak enak banget ya, segitunya kamu nggak mau .." cemberut Aulia pura-pura karena selama ini memang ia tidak pandai membuatkan kopi untuk Naufal.
"ya nggak dong, kopi buatan kamu enak kok, bahkan paling enak, tapi kalo kamu sibuk mas nggak apa-apa kok minum kopi buatan mbok Jum" alasan Naufal karena memang selama ini bisa di hitung Aulia membuatkannya kopi dan rasanya selalu sama, kurang memuaskan, setelah di lihat-lihat ternyata Aulia menggunakan air panas dari dispenser yang tidak mendidih menurutnya dan membuat rasa kopi nya kurang enak bahkan pernah membuat lambung Naufal begah, tapi demi menyenangkan hati istri nya Naufal tidak pernah bilang tidak enak dia selalu berbohong mengatakan bahwa kopi buatan Aulia yang terbaik.
Aulia pun mengerti Naufal kurang suka dengan kopi buatannya akhirnya mengalah
__ADS_1
" yaudah aku minta buatin mbok Jum ya mas"
"iya sayang, pokok nya kamu jangan capek-capek, biar mbok Jum aja yang buat" jawab Naufal tersenyum. Aulia pun mengangguk kemudian ia melangkah menuju dapur menghampiri mbok Jum meminta di buatkan kopi untuk suaminya.