
selesai mandi berdua Aulia dan Naufal menuju meja, di meja makan lauk dan sayurnya sudah dingin karena ini sudah sore jadi itu bekas makan siang tadi, melihat itu Aulia jadi tidak berselera makan.
"mas, Aulia pengen makan yang lain" ujar Aulia ketika Naufal akan menyendok kan nasi ke piringnya.
"hah, pengen makan apa sayang?" tanya Naufal.
"nggak tau, kita keluar aja ya mas, cari makan di luar" ujar Aulia memegang tangan Naufal.
"sayang" kalimat Naufal terhenti karena tadi ia akan menolak, tapi mengingat Aulia selalu tersiksa akan mualnya Naufal pun mengangguk, ia tidak bisa tega tidak menuruti keinginan istrinya atau mungkin saja keinginan bayinya.
selesai bersiap-siap Aulia dan Naufal pergi mengendarai mobil Aulia, Naufal yang mengambilnya di rumah ibu, lalu Aulia masuk lewat depan gerbang rumah Naufal.
"Maaf ya mas ngerepotin mas terus" ujar Aulia karena ia mengingat saat Aulia belanja tas dan Naufal sedikit menasehatinya.
"nggak ngerepotin kok, mas seneng " jawab nya lalu mengecup tangan Aulia yang baru ia genggam.
"soal yang kemarin juga aku minta maaf mas" ujar aulia memberanikan diri.naufal mengerutkan keningnya.
"soal apa sayang ?" tanyanya bingung, pasalnya menurut Naufal sudah tidak ada masalah apapun antara ia dan istrinya.
"emm.. masalah tas yang kemarin " jawab Aulia ragu akan pembahasan nya
"waktu itu kan kamu udah maafin mas, kan mas yang salah, kamu nggak salah sama sekali" jawab Naufal yang memang kenyataannya begitu.
"nggak mas, Aulia yang salah, waktu itu Aulia hanya merasa benar Aulia egois mas" ujar Aulia yang mulai kelihatan ingin menangis.
"udah-udah nanti kita bahas lagi, sekarang Aulia mau makan apa!" ujar Naufal yang sudah berhenti di tepi jalan. Aulia kemudian melihat-lihat sekeliling memilih menu resto mana yang bisa mereka kunjungi.
__ADS_1
"Aulia mau nasi Padang mas" jawab aulia.
"yaudah bentar mas parkirin di tempat parkir nya dulu" kata Naufal kemudian menggerakkan mobilnya menuju area parkir restoran Padang tersebut.
kali ini seperti biasa Aulia minta Naufal menyuapi nya, tapi kali ini ia minta suap pakai tangan, katanya kalau makan nasi Padang harus pakai tangan.
akhirnya Naufal menurut meskipun lumayan malu karena banyak orang berlalu lalang.
"aa sayang " ujar Naufal menyuapi Aulia, Aulia pun membuka mulutnya menerima suapan suami tercintanya.
selesai membayar di kasir Aulia dan Naufal melajukan mobilnya lagi.
"mas kita ke lapangan aja yuk, lihat-lihat pemandangan Disana aja" spontan Aulia yang tiba-tiba muncul ide di otaknya, karena ia ingin mengobrol dengan suasana indah dan tenang.
"ngapain yang?" Tanya Naufal.
Naufal pun melajukan mobilnya menuju lapangan sepakbola di desa sebelah.
Setelah sampai Aulia dan Naufal menuju gazebo tidak jauh dari lapangan.
"Mas, Aulia minta maaf seperti yang Aulia bilang di mobil tadi" sergah aulia langsung.
"Kamu nggak salah sayang" jawab Naufal santai.
"Aulia salah mas, Aulia gak pernah mikirin perasaan mas, Aulia hanya mau menang sendiri, Aulia selalu minta apapun yang Aulia pikir mas mampu" ujar Aulia, Naufal kemudian memegang tangan Aulia.
"Itu udah kewajiban mas, kamu nggak usah khawatir" ujarnya mengelus tangan lembut Aulia.
__ADS_1
"Maaf juga mas, Aulia baru tau kalau mas juga menafkahi anak yatim juga" kata Aulia
"Kamu tau darimana?" Nadanya tampak tak terkejut sama sekali.
"Dari teman, mas kenapa nggak bilang sama Aulia, kan kalau tau gitu Aulia beli nya bisa pake uang Aulia sendiri" ujarnya karena memang setelah Aulia menikah Naufal selalu mencukupi kebutuhan nya, bahkan uang bulanan yang Aulia kasih pada Bu Mira itu semua nafkah dari Naufal, jadi Aulia memberikannya pada Bu Mira untuk keperluan rumah. Uang Aulia tak tersentuh, hanya Aulia sesekali membelanjakannya saham-saham, untuk tabungan nya.
"Maaf, mas lupa ceritain itu, makasih ya sayang, karena kamu sekarang udah ngerti kamu bisa kan memprioritaskan yang namanya kebutuhan daripada keinginan" nasehat Naufal pada istrinya, Aulia mengangguk.
"Iya mas, ngomong-ngomong kenapa mas membuka program itu?" Tanya Aulia
"Program apa ?"
"Ya program menggratiskan biaya pendidikan untuk anak yatim-piatu" tanya Aulia.
"Ya nggak apa-apa, waktu mas mengajukan usulan tersebut memang belum ada yang setuju awalnya, tapi Abah sangat yakin bahwa mas bisa melaksanakan itu, ini juga salah satu impian abah, bisa memberi pendidikan yang baik untuk anak yatim, dan Alhamdulillah setelah banyak pertimbangan seluruh yayasan akhirnya setuju" jelas Naufal.
"Masa' cuma gitu doang, awal ceritanya dong mas, gimana mas bisa tertarik akan membuat program itu?" Penasaran Aulia.
"Awalnya sih tiga tahun lalu, ada santri namanya Hasan, rumah dia jauh dari sini luar pulau, dia kesini awalnya hanya di kasih tau gurunya yang memang teman Abah, mas senang melihat dia, mas suka semangat belajarnya, dia juga anak yang rajin bahkan sangat menghormati guru, waktu itu ada kabar dari keluarganya kalau ayahnya meninggal dan mas sampaikan sama dia, lalu ia izin meminjam hp, jadi mas kasih" jeda Naufal mengambil nafas.
"Terus mas??" Penasaran Aulia.
"Dia yang memang menelfon di kantor, dan mas mendengar pembicaraannya, intinya keluarga nya memintanya pulang karena yang membiayai dia sudah meninggal, dan keluarga yang lain juga ekonomi nya pas-pasan, ibunya juga lebih dulu meninggal, ia bingung sampai menangis karena harus menghentikan pendidikan nya yang saat itu ia masih kelas 2 MA, dia sampai mohon-mohon pada paman serta bibinya bahkan berjanji untuk membayar semuanya jika sudah bekerja nanti, tapi mereka justru memaki Hasan" jelas Naufal panjang lebar.
"Emang dia nggak pulang buat ke pemakaman ayahnya?" Tanya Aulia Naufal menggeleng
"Ia sudah tidak punya uang lagi, uang kiriman terakhir dari ayahnya juga sebulan lalu, dan yang mas lihat dia sama sekali tidak pernah jajan di sekolah, mungkin hanya cukup untuk kebutuhan yang lain, keluarganya tidak mau mengirimkan uang untuk ongkos yang memang lumayan mahal apalagi kalau mau naik pesawat" ujar Naufal, Aulia diam mendengar apa yang akan Naufal ucapkan.
__ADS_1
" Setelah menelfon dia menangis di belakang mas, tapi suaranya sangat Pelan dan seperti sangat menyakitkan, ya karena ditinggal ayahnya dan juga harus berhenti sekolah nya. Lalu mas menenangkannya. Setelah memikirkan seharian mas mencari tiket penerbangan, malamnya mas ajak Hasan pulang ke kampung halaman nya, dan mas juga izin ke keluarga yang ada untuk membiarkan ia tetap mondok di pesantren dan tidak perlu khawatir akan biayanya, mereka pun setuju karena Hasan juga setuju" jelas Naufal,