
Di bawah naungan arakan gumpalan awan di langit biru Sarah melangkahkan kakinya menuju kelas tempat dia mengajar. Sejak awal kuliah, Sarah mengikuti organisasi pencinta anak jalanan. Sarah sebagai salah satu pengajar di dalam organisasi itu. Dia mengajar anak - anak jalanan di daerah Depok Lama.
Angin bertiup dengan lembutnya menerpa kulitnya Sarah yang sedang berjalan riang. Bersenandung riang menikmati aktivitasnya. Tersenyum ramah ke setiap orang yang bertatap muka langsung sama dia. Bersikap sopan ketika melewati kerumunan orang. Sarah mengedarkan pandangannya ke tempat ngajarnya yang sepi ketika berada di depan pintu kelas.
"Pada ke mana anak - anaknya?" gumam Sarah bermonolog sambil melihat temannya yang sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Sar, hari ini kita ada masalah," ucap temannya Sarah yang bernama Tania.
"Masalah apa Nia?"
"Semua anak tidak diperbolehkan belajar."
"Siapa yang melarangnya?"
"Pak Jacky."
"Ketua pengemis jalanan?"
"Iya Sar, tadi pas anak - anak lagi main sebelum belajar, langsung dibawa pergi secara paksa."
"Terus orang tua mereka gimana?"
"Pada diam aja."
"Kamu udah lapor ke pak RT?"
"Belum."
"Ya udah, kita pergi ke tempat mangkalnya Pak Jecky aja."
"Ngapain kita ke sana?"
"Ngambil murid - murid kita, mereka berhak belajar untuk masa depan mereka."
"Tapi itu berbahaya."
"Kita jangan takut bila di jalan yang benar. Allah pasti melindungi kita."
"Kamu jangan nekat Sar."
"Aku akan melakukan apa pun untuk kebenaran. Kamu mau ikut nggak?"
"Nggak, aku mau ke pak RT aja, mau melaporkan kejadian ini."
Tak lama kemudian, Sarah membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya menuju tempat pangkalnya Pak Jacky. Dia melihat banyak orang di kanan kiri jalan. Hatinya merasa khawatir sama anak - anak muridnya. Derap langkah yang tegas, Sarah menelusuri jalanan menuju tempat pangkal para preman.
Sarah melebarkan kedua matanya melihat ada beberapa anak diseret. Sebagian anak - anak sudah masuk ke dalam mobil kap. Rahang mukanya Sarah mengeras karena geram melihat situasi seperti itu. Sarah mempercepat langkahnya menuju lokasi anak - anak yang mau disuruh menjadi pengamen atau pengemis.
"Lepaskan mereka!" pekik Sarah.
Para preman menoleh kepadanya, lalu Sarah berkata, "Aku bilang lepaskan mereka!"
"Cih! Punya urusan apa kamu menyuruh kami melepaskan mereka!" ucap salah satu preman kesal.
"Mana Pak Jecky? Aku ingin bicara sama dia!" ucap Sarah tegas.
"Ada urusan apa kamu sama si bos?" ucap preman yang satunya lagi.
__ADS_1
"Aku ingin bicara penting sama dia!"
Pak Jecky keluar dari dalam mobil, lalu berucap, "Ada apa Bu Sarah?"
"Bapak gimana sich, ini kan waktunya mereka belajar, pendidikan adalah hak mereka Pak."
"Alah, percuma juga mereka belajar, ujung - ujungnya seperti gw," ucap Jecky sambil berjalan menghampiri Sarah.
"Nggak bisa gitu juga Pak. Saya mohon lepaskan mereka Pak."
"Dari awal organisasi kalian mengajar di daerah ini, penghasilan kami berkurang. Jadi kami memutuskan tidak memberikan waktu belajar lagi untuk mereka."
"Saya mohon Pak, lepaskan mereka."
"Bu Sarah, tadi kan udah saya bilang tidak ada waktu belajar untuk mereka! Gw harap Bu Saray jangan ikut campur urusan kami!"
"Ini urusan saya juga! Saya ingin mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi."
"Bagi mereka cukup nasi bungkus aja!"
"Bapak berarti merampas masa depan mereka, Bapak tidak boleh seperti itu!"
"Udahlah Bu, mulai hari ini tidak ada lagi belajar untuk mereka! Sebaiknya Ibu pergi dari sini!" ucap Jecky kesal.
"Aku akan pergi dari sini asalkan bersama mereka!" ucap Sarah tegas.
"Bu, gw tak ingin memukul seorang wanita! Sebaiknya elu pergi dari sini tanpa mereka!" gertak Jecky.
"Aku akan pergi dari asalkan bersama mereka!" ucap Sarah kekeh.
"Elu mau pakai kekerasan!?" gertak Jecky marah.
"Gw tidak menggertak!" ucap Jecky kesal.
"Jika anda sampai berani memukul saya, saya akan melandeninya."
"Wah, nich orang punya keberanian juga. Baik kita berduel."
"Satu lawan satu tanpa memakai senjata dan melapor ke pihak berwajib. Jika saya menang, mereka harus dibebaskan dari jeratan anda," ucap Sarah yakin.
"Widihhhh, punya nyali juga itu orang," celetuk salah satu preman.
"Udah bos, lawan aja dia. Bos pasti menang," ucap preman yang satunya lagi.
"Deal," ucap Sarah sambil mengulurkan tangan kanannya ke Jecky.
"Baiklah, gw pasti menang," ucap Jecky sambil membalas uluran tangan kanannya Sarah, lalu mereka berjabat tangan.
Tak lama kemudian, mereka memasang kuda - kuda. Dari kecil Sarah belajar ilmu bela diri pencak silat hingga dia pernah menjadi atlit pencak silat Indonesia dan dia bisa menjadi guru silat di lingkungan rumahnya. Karena itu dia tidak takut dengan gertakan Jecky. Jecky memicingkan kedua matanya untuk mencari kelemahan Sarah.
Jecky menendang Sarah, namun dengan tangkas Sarah menepisnya. Dengan sangat cepat, Sarah memelintir kakinya Jecky hingga Jecky terjatuh dan kesakitan. Jecky menoleh ke salah satu anak buahnya, lalu memberi kode ke anak buahnya itu untuk menyerang Sarah. Sarah mengetahui hal itu, maka itu dengan sigap Sarah menoleh ke belakang.
Tiba - tiba anak buah Jecky itu melayangkan tendangan, tapi dengan tangkas Sarah kembali menepisnya lagi. Sarah memelintir kakinya orang itu hingga orang itu kesakitan dan terjatuh. Para anak buah Jecky yang lainnya tampak ketakutan melihat kehebatan Sarah. Mereka tidak menyangka bahwa Sarah dengan mudah mengalahkan bos mereka dan teman mereka yang jago bela diri.
"Kalian kalah, cepat bebaskan mereka!" pekik Sarah.
"Bos gimana?" tanya salah satu anak buahnya.
__ADS_1
"Bebaskan mereka!" pekik Jecky.
Tak lama kemudian, semua anak - anak dibebaskan sama beberapa anak buahnya Jecky. Semua anak - anak berlari menghampiri Sarah. Sarah berjongkok, lalu memeluk erat Sarah. Ada sebagian dari anak - anak menangis. Sarah menenangkan mereka semua dengan kasih sayang. Tanpa disadari Sarah kejadian tadi diperhatikan oleh banyak orang, termasuk El.
"Dia wanita yang hebat," gumam El bermonolog sambil tersenyum.
Kringgg ...
Bunyi dering dari smartphone milik El telah mengalihkan El dari Sarah. El mengambil smartphone miliknya. Sekilas dia melihat tulisan Papi Rogen di layar smartphonenya. El menyentuh ikon hijau untuk menjawab panggilan telepon itu. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo El, gimana lahan lokasinya?" tanya Rogen tanpa basa - basi.
"Bagus Pi, tempatnya lumayan strategi Pi," jawab El sambil melihat Maysaroh sedang membimbing anak - anak berjalan.
"Ya udah kalau gitu, kita beli aja lahan itu," ucap Rogen.
"Baik Pi."
"Sekarang kamu lagi di mana?"
"Lagi di jalan, mau pulang."
"Kamu pulang ke rumah Papi ya, Mommy Renata ingin menemui kamu lagi."
"Ah aku malas Pi."
"Kenapa malas?"
"Aku mau dijodohin sama anak temannya."
"Apa salahnya sich kamu kenalan sama dia?"
"Aku nggak mau Pi."
"Kamu nggak boleh begitu. Coba aja dulu kenalan, siapa tahu kalian cocok."
"Aku bilang nggak ya enggak Pi."
"Apa karena kamu jatuh cinta sama Sarah?"
"Iya Pi, tapi kami tidak pacaran."
"Sebaiknya kamu melupakan dia dan melupakan cintamu kepadanya. Papi yakin kamu bisa melupakannya El karena kalian baru kenalan."
"Aku belum bisa melakukan itu Pi."
"Kamu harus bisa El."
"Ahhhh, Papi sama aja kayak Mami Clara. Aku tidak suka."
"Ya udah terserah kamu. Tapi Papi minta kalian jangan pacaran dan kamu menuruti kemauan Mommy Renata. Hargailah perasaan Mommy Renata El."
"Baiklah Pi," ucap El sambil memicingkan kedua matanya melihat salah satu anak buahnya Jecky yang sedang berlari membawa pisau kecil menghampiri Sarah dan anak - anak.
Dengan cekatan, El membuka sabuk pengaman. Membuka kunci pintu mobilnya. Membuka pintu pengemudi mobilnya. Berlari secepat mungkin menghampiri orang yang sedang mengejar Maysaroh. Dengan secepat kilat dan sekuat tenaga, El menonjok orang itu sehingga orang itu terpental.
Sontak Sarah menoleh ke belakang setelah mendengar suara orang terjatuh. Sarah melebarkan kedua matanya melihat orang itu terkapar. Sudut bibir sebelah kirinya keluar darah segar dan tangan kanan orang itu memegang erat sebilah pisau kecil. Sarah menoleh ke El. Mulutnya terbuka lebar karena terkejut melihat sosoknya El.
__ADS_1
"Orang tadi mau menusuk kamu dari belakang, tidak sengaja aku melihat dia sedang berlari menghampirimu. Sontak aku keluar dari mobil lalu berlari ke sini untuk menolong kamu."
"Terima kasih El."