Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Sayangku


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," salam Hasanah, neneknya Juneidi dan Zarkasih yang sedang berdiri di depan etalase makanan.


"Wa'alaikumussalam, eh ada Jadda, masuk Jadda," ucap Sarah sopan, lalu menyalim tangan kanannya Hasanah.


"Ini calon laki elu Rah? Kayak pangeran aja pake segala pengawal," ucap Hasanah ramah sambil menoleh ke El, lalu El menyalim tangan kanannya Hasanah.


"Iya Jadda, pangeran berkuda poni," ucap El sedikit bercanda sambil melepaskan tangan kanannya dari tangan kanannya Hasanah.


"Hahaha bisa aja elu ladenin ledekan gw," celetuk Hasanah.


Sarah tersenyum sopan menanggapi ucapan El, lalu berkata, "Doain aja supaya kami jadi menikah Jadda."


"Iya didoain, semoga kalian jadi menikah. Aamiin Ya Robbal Alamiin. Bagaimana kabar Babe elu?"


"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Alhamdulillah baik Jadda. Aduh! Payah nich, dari tadi tamu agung nggak disuruh duduk. Jadda silakan duduk," ucap Sarah yang lupa mempersilakan Hasanah duduk dari awal datang.


"Iya terima kasih, tapi gw hanya sebentar. Gw ke sini mau pesan paket nasi uduk sama ayam goreng Jakarta seratus dus buat hari Sabtu jam delapan pagi," ucap Hasanah.


"Iya Jadda. Ada acara apa Jadda?"


"Empat bulanan cicit gw, bininya Juneidi udah hamil empat bulan," ucap Hasanah senang.


"Selamat ya Jadda udah mau punya cicit," ucap Sarah senang.


"Juneidi cucu Jadda yang ke berapa?" tanya El sambil menoleh ke Hasanah.


"Cucu gw yang kedua," ucap Hasanah sambil menoleh ke El.


"Aku kira cucu pertama Jadda," celetuk El.


"Bukan. Cucu pertama gw sekarang jadi orang Eropa, gara - gara Umminya kawin lagi sama orang Inggris."


"Wah keren amat cucu pertama Jadda jadi orang Eropa," ujar El yang ingin menyenangkan hati seorang nenek.


"Iya, dia kerjanya di luar angkasa."


"Dia astronot?" tanya El.


"Iya."


"Wow keren banget, susah loh Jadda jadi seorang astronot."


"Iya, tapi karena itu si Zayn jarang ketemu sama keluarganya."


Zayn? Perasaan aku pernah dengar tentang orang itu, tapi di mana ya aku mendengarnya?


Batin El.


"Sarah, Juned udah ngundang elu belum?"


"Belum Jadda. Acaranya jam delapan Jadda?"


"Acaranya jam sembilan pagi. Ya udah kalau begitu, gw pulang dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," ucap Sarah.


Tak lama kemudian Hasanah pergi dari warung nasi Rogaya. Sarah termenung melihat kepergian sosok Hasanah. Dia jadi teringat akan Juneidi. Cinta pertama dia yang belum bisa dilupakan. Sarah langsung menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan lamunannya. El tersenyum sinis karena menyadari Sarah yang sempat melamun setelah kepergian Hasanah.


"Ai, tolong bikini aku kopi ya," pinta El yang masih bantuin Sarah beresin etalase.


"Iya," ucap Sarah, lalu dia berjalan ke tempat minum.


"Kamu nanti datang ke acara itu?" tanya El setelah selesai bantuin Sarah sambil menoleh ke Sarah.


"Kalau aku diundang aku pasti datang, kamu ikut ya," ucap Sarah sambil mengaduk kopi.


"Iya, aku pasti ikut. Ai, Babe jadi pulang besok?"

__ADS_1


"Jadi. Oh ya El, kemarin biaya operasinya berapa? Aku mau gantiin biaya operasi," ucap Sarah sambil berjalan menghampiri El.


"Kami tak perlu menggantinya."


"Aku nggak mau kamu membayar semuanya," ucap Sarah sambil memberikan secangkir kopi ke El.


"Aku nggak suka kamu tidak mau menerima bantuanku," ucap El serius sambil menerima cangkir itu.


"Aku nggak suka kamu yang membiayai semuanya. Aku nggak mau terlalu membebanimu."


"Kamu tidak membebaniku," ucap El setelah menyeruput kopinya.


"Tapi aku tidak mau kamu membiayai semuanya. Cepat kamu sebutkan!"


"Baiklah. Delapan puluh lima juta."


"Aku akan melunasinya sebelum kita menikah."


"Yah ... tambah lama lagi dong kita nikahnya," protes El.


"Elu gimana sich Sar, udah si El ngebet banget pengen kawin ame elu, elu malah menunda pernikahan elu ame El?" celetuk Maimunah sambil berjalan masuk ke dalam warung.


"Gw mau melunasi biaya operasi Babe gw dulu."


"Ya elah, nagapain juga elu bayar biaya operasi Babe elu ke Bang El, pan calon laki elu ude kaya sepuluh turunan," celoteh Maimunah sambil menduduki tubuhnya di bangku.


"Ya nggak gitu juga kali Munah," ucap Sarah sambil berjalan menghampiri Maimunah.


"Elu terlalu idealis orangnya," celetuk Meira sambil berjalan masuk ke dalam warung.


"Bukan idealis, tapi ini menyangkut harga diri aku Mei," sambil duduk di depan Maimunah.


"Ya elah segitunya, pan si El udah ikhlas biayai operasi Babe elu."


"Yah, tetap aja aku nggak mau dia yang biayai operasi Babe aku."


"Emang itu yang aku inginkan, aku nggak mau nikah terlalu cepat," ujar Sarah.


"Tapi pan nggak boleh nunda - nunda pernikahan," celetuk Maimunah.


"Tapi kan nggak dosa menunda pernikahan," kilah Sarah.


"Udah biarin aja, aku sich terserah Sarah," samber El sambil duduk di samping kirinya Sarah.


"Assalamu'alaikum," salam Juneidi di ambang pintu warung.


"Wa'alaikumussalam, masuk Bang Juned," ucap Sarah.


"Widihhh ... masih tetep ganteng aja si calon bapak ini," celetuk Maimunah sambil menoleh ke Juneidi yang sedang memakai baju Koko dan sarung serta peci.


"Pak Haji mau ikut nimbrung ke sini?" ledek El sambil menoleh ke Juneidi.


"Iya, boleh nggak nimbrung di sini?" ucap Juneidi sambil berjalan menghampiri mereka.


"Boleh dong, masa kagak boleh, macam pula kau bah," ucap Meira dengan nada suara yang bercanda.


"Romannya ada kabar yang bahagia nich," celetuk Maimunah.


"Iya, aku mau ngundang kalian semua ke acara empat bulanan anakku," ucap Juneidi sopan.


"Di mana acaranya Bang Juned?" ucap Sarah sambil menoleh ke Juneidi.


"Di rumah Nyak, hari Sabtu jam sembilan pagi acaranya."


"InsyaAllah ya gw datang," ucap Maimunah.


"Gw pasti datang," samber Meira.

__ADS_1


"Aku dan El InsyaAllah datang," ucap Sarah.


"Warung udah tutup ya SAR?" ucap Juneidi sambil menoleh ke Sarah.


"Iya Bang Juned."


"Diborong sama para pengawal gw Jun," ucap El.


"Babe kapan pulang dari rumah sakit Sar?"


"InsyaAllah, besok pulangnya jam satu siang."


"Besok kamu yang jemput Babe?" ucap El.


"Iya, aku sama El yang jemput Babe."


"Oh ya, by the way kapan kamu nikah sama El?" celetuk Juneidi.


"Masih belum pasti Bang Juned," ucap Sarah.


"Dia nunda pernikahan kami Jun," samber El.


"Kenapa kamu menundanya Sarah?" ucap Juneidi sambil menoleh ke Sarah.


"Aku ingin melunasi biaya operasi Babe dulu Bang Juned."


"Dia selalu menundanya Jun," ucap El sedih.


"Udah biarin aja El, dia emang orangnya keras kepala," ucap Juneidi.


"Tapi pan nggak bagus menunda pernikahan," celetuk Maimunah.


"Kalau salah satu calonnya belum siap buat apa menikah, malah nanti terpaksa menikahnya," ucap Juneidi sambil menoleh ke Maimunah.


Sialan Juned, bukannya dukung gw malah dukung Sarah. Kayaknya si Juned senang banget dengar Sarah menunda pernikahan kami.


Batin El.


"Permisi Tuan Muda," ucap Jono.


"Ada apa Jon?" tanya El sambil menoleh ke Jono yang sedang berdiri di belakangnya.


"Pak Trisno sudah ketangkap."


"Alhamdulillah, tuch orang udah ketangkap," ucap syukur Sarah.


"Kamu tahu dari siapa?"


"Dari Tuan Besar Billy."


"Bagus. Akhirnya bisa bebas, yes," ucap El senang.


"Ketangkap di mana?" tanya Sarah sambil menoleh ke Jono.


"Di Bandung Nona."


"Dia langsung dibawa ke Jakarta?"


"Iya Tuan Muda, dia langsung dibawa ke Metrojaya."


"Bagus, akhirnya kita bisa bebas berduaan tanpa ada pengawalan lagi," ujar El bahagia.


"El kamu besok mau ke Metrojaya?" tanya Sarah sambil menoleh ke El.


"Iya, setelah jemput Babemu Ai."


"Aku ikut ya."

__ADS_1


"Pasti sayangku."


__ADS_2