
Brakkk ...
Suara pintu kamar yang didorong dengan keras. El dan Clarissa masuk ke dalam kamarnya Clarissa sambil berci*m*n dengan penuh hawa nafsu. Mereka sedang asyik bercumbu. Tangan kirinya El menjelajah area pegunungan milik Clarissa. Tangan kanannya memegang erat pinggangnya Clarissa. Mereka saling menguasai rongga mulutnya, membelit, menghisap, ******* lidahnya Bia dengan hawa nafsu sehingga mereka kehabisan nafas.
Mereka saling melepaskan ciuman mereka. Mengatur nafas mereka yang tersengal - sengal agar kembali normal. Clarissa menutup dan mengunci pintu kamarnya karena dia ingin melanjutkan kegiatan panas mereka tanpa dilihat oleh para bodyguardnya El. Clarissa membalikkan badannya, El langsung mengurung tubuhnya Clarissa. Mereka saling menatap lagi sambil merasakan desiran gairah nafsu yang membuncah.
Tak kuasa menahan gairah itu, mereka saling mendekatkan wajah mereka lagi sehingga terjadi ciuman yang bergairah hawa nafsu. Mereka saling menguasai rongga mulut lawan main. Saling menukar saliva lagi, saling membelit, menghisap dan ******* lidah lawan main dengan posisi saling berpelukan dan kedua tangan mereka saling menelusuri tubuh lawan main. Dengan lihai El membuka kancing kemeja merah yang dipakai oleh Clarissa.
Kedua tangannya El menelusuri punggung Clarissa, lalu membuka pengait kacamata kuda milik Clarissa. Bibirnya El beralih ke leher jenjangnya Clarissa, memberikan jejak petualang di sana sehingga membuat Clarissa bersuara yang menggoda sambil menelusupkan kedua tangannya ke area pegunungan milik Clarissa. Dengan kecepatan kilat, El membuka kemeja merah dan kacamata kuda yang dipakai oleh Clarissa tanpa melepaskan bibirnya dari leher jenjang milik Clarissa.
Membuang kemeja dan kacamata kuda milik Clarissa ke sembarang tempat. Ciuman El turun ke area pegunungan milik Clarissa. Me*la*hap gunung sebelah kiri dengan rakus. Gunung sebelah kanan di*re*mas dengan lembut. El menegakkan badannya, lalu dia menukar posisi mereka. El menyandarkan tubuhnya di tembok. Sedangkan Clarissa berdiri di depan El. Kedua tangannya Clarissa membuka satu persatu kancing kemeja putih milik El, lalu meraba dada bidangnya El.
Membuka klip bungkusan lollipop milik El sambil memberikan jejak petualang di lehernya El sehingga membuat tegangan listrik di bawah sana. Clarissa membuka bungkusan kain yang menutupi permen lollipop milik El, lalu tangan kirinya menelusup ke area pendalaman hutan rimba. Me*re*mas lembut barang yang beraliran tegangan listrik sehingga El mengeluarkan de*sah*an yang seksi di telinganya Clarissa.
Tok ... tok ... tok ...
Daun pintu kamarnya Clarissa diketuk. Bunyi ketukan itu tidak digubris oleh mereka yang sedang menikmati petualangan yang penuh dengan kenikmatan. Dengan ahli Clarissa menurunkan tubuhnya. Membuka bungkusan luar dan dalam permen lollipop milik El. Memegang, lalu menjilati permen lollipop milik El sehingga El sangat menikmati pelayanan dari Clarissa.
"Permisi Tuan Muda, Nona Sarah sekarang lagi dibawa ke rumah sakit pusat Jakarta, dia jatuh dari tangga!" teriak orang yang tadi mengetuk pintu.
Sontak El membuka kedua matanya. Menghentikan gerakan kepalanya Clarissa, lalu menghempaskan kepalanya Clarissa dari benda pustakanya. Clarissa langsung menjauhkan dirinya dari El. El langsung memakai dua celananya. Menutup reselting, lalu mengancingkan celana jinsnya. Tak lama kemudian El mengancingkan kemejanya. Sedangkan Clarissa memungut kemeja merahnya dan branya, lalu memakainya satu persatu.
"Aku harus pergi," ucap El panik setelah mengancingkan kemejanya.
"Kamu mau pergi ke rumah sakit?" ucap Clarissa sambil menatap menggoda ke El.
"Iya, aku ingin menjenguk Sarah."
"Kamu masih mencintainya?" ucap Clarissa sambil berjalan menghampiri El.
"Iya, dia satu - satunya wanita yang sangat aku cintai."
"Tapi kan dia sudah mencampakkan dirimu, lagi pula kalau dia mencintai dirimu, dia mau melayani kebutuhan biologismu dong," ucap Clarissa sedikit protes sambil mengusap lembut benda pustakanya El.
"Pemikiran dia sangat berbeda dengan pemikiran kita. Dia hanya mau melayani kebutuhan biologis suaminya."
"Terus kenapa kamu tidak melamarnya?" bisik Clarissa sensual.
"Aku sudah melamarnya, tapi dia menunda keinginanku untuk menikahinya."
"Kenapa dia menundanya?" ucap Clarissa sambil mengalungkan kedua tangannya di leher kokohnya El.
"Karena dia ingin mengetahui orang tua kandungnya dulu, setelah itu dia mau menerima lamaranku, tapi kami putus sebelum dia mengetahui orang tua kandungnya."
"Apakah sekarang dia sudah menemukan orang tua kandungnya?"
"Sudah, sehari setelah kami putus."
"Ya udah kamu lamar aja dia sekarang."
"Belum saatnya."
"Kenapa belum saatnya?"
"Yah ... dia masih marah samaku karena dia melihat langsung aku sedang berhubungan intim sama wanita lain."
__ADS_1
"Salah kamu sendiri bisa sampai ketahuan. Terus kapan kita berolahraga di atas ranjang?" ucap Clarissa.
"Nanti aku kabari."
"Jangan kelamaan, karena lusa aku harus ke Surabaya, ngurusin perusahaan peninggalan Papi."
"Yah udah, lihat gimana besok," ucap El sambil melepaskan kedua tangannya Clarissa.
Clarissa mendengus kesal melihat kelakuan El yang telah mencampakkan dirinya. Padahal dia sudah mengorbankan waktunya hanya untuk menemani El yang sedang bersedih hati. El membuka kunci pintu kamarnya Clarissa. Menekan handle pintu ke bawah. Menariknya ke dalam sehingga pintu kamar terbuka. Melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.
"Ayo kita ke rumah sakit pusat Jakarta!" ajak El sambil berjalan menuju pintu apartemen milik Clarissa. "Adi, tolong berikan smartphoneku!" sambung El tegas sambil menghentikan langkahnya.
Tak lama kemudian para bodyguard El menghentikan langkahnya. Salah satu bodyguard El yang bernama Adi membuka kunci koper milik El. Mengambil smartphone milik El. Memberikan smartphone itu ke empunya. El menerima smartphone itu. Membuka beberapa ikon untuk menghubungi salah satu bodyguardnya Sarah sekaligus mata - mata yang diperintahkan El untuk mengawasi gerak - geriknya Sarah. Mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Beberapa kali terdengar nada sambung yang berasal dari nomor yang sedang dihubungi oleh El.
"Hallo Bima, sekarang Sarah ataupun Aisyah berada di ruang apa?"
"Di UGD Tuan Muda."
"Ok, awasin terus dia."
"Baik Tuan Muda."
Sedetik kemudian El memutuskan sambungan telepon itu. Bima menaruh handphonenya di saku celana seragamnya. Bima masuk lagi ke ruang UGD. Dia melihat Sarah sedang berbicara sama kakak kandungnya yang bernama Dafa. Bima tersenyum sopan ketika bertatapan langsung dengan Dafa.
"Permisi Tuan dan Nona, apakah kalian perlu sesuatu?" ucap Bima sopan.
"Tolong bawakan pakaiannya Aisyah yang sudah disiapkan sama Mbok."
"Baik Tuan, saya permisi dulu," ucap Bima sopan, lalu Bima melangkahkan kakinya keluar dari ruang UGD.
"Kamu harus dirawat, soalnya besok seluruh tubuhmu diperiksa," ucap Dafa serius.
"Ya ampun Mas, aku hanya benjol masa harus dirawat, diolesin pakai Thrombophob juga sembuh."
"Ini perintah Abi."
Sarah hanya tersenyum malas menanggapi ucapan Dafa. Sarah mengalihkan pandangannya ke ranjang sebelah. Dia melihat seorang anak kecil yang dipenuhi oleh luka lebam. Hatinya Sarah terenyuh melihat kondisi anak itu. Sontak Sarah menduduki tubuhnya. Menaruh kakinya di atas lantai.
"Kamu mau ke mana?" ucap Dafa panik sambil beranjak berdiri.
"Aku mau ke sebelah," ucap Sarah sambil beranjak berdiri.
"Tapi badan kamu lagi sakit."
"Aku nggak kenapa - kenapa Mas, aku mohon izinkan aku ke sebelah ya," ucap Sarah lembut.
"Baiklah, tapi Mas ikut."
Tak lama kemudian Sarah dan Dafa berjalan menghampiri pasien yang berada di sebelah. Mereka berhenti ketika berada di samping kanannya anak itu. Sarah merasa sedih melihat kondisi anak kecil yang babak belur. Anak kecil itu dalam keadaan pingsan. Dua orang perawat datang menghampiri mereka sambil membawa alat - alat kesehatan dan obat - obatan.
"Permisi, apakah kalian keluarga dari anak ini?"
"Bukan," ucap Dafa serius.
"Mohon maaf, kalian tidak diperbolehkan berada di sini," ucap salah satu perawat.
__ADS_1
"Maaf Sus," ucap Sarah sedih.
"Ayo Dek, kita balik ke tempatmu," ajak Dafa.
Tak lama kemudian mereka melangkahkan kakinya ke tempat Sarah diperiksa. Sarah duduk di stretcher yang tadi dia tempati. Dafa duduk di bangku sebelah kanan brankar Sarah. Samar - samar Dafa mendengar suara seorang pria yang dia kenalin. Dafa berdiri dari kursinya. Melangkahkan kakinya ke sumber suara.
Sarah melihat Dafa menghampiri orang itu yang sedang berada di area anak kecil yang penuh dengan luka lebam, lalu mempertajam pendengarannya sehingga dia mendengar orang yang sedang bicara di area brankar anak kecil yang dipenuhi dengan luka lebam.
"Assalamu'alaikum, apa kabar Bro?" ucap Dafa.
"Wa'alaikumussalam, eh ada Mas Dafa, Alhamdulillah baik. Bagaimana kabarnya Mas Dafa dan keluarga?"
"Alhamdulillah baik. Kok kamu ada di sini?"
"Tadi pas aku habis pulang dari Depok, di perjalanan aku menemukan anak ini. Anak ini bilang, bahwa dia diculik dan dia ingin pulang ke rumahnya. Aku kasihan melihat kondisinya yang penuh dengan luka lebam. Dia minta tolong kepadaku untuk mengantarkan dia ke keluarganya. Akhirnya aku mengiyakan. Nah, pas di tengah perjalanan, tiba - tiba dia pingsan. Akhirnya aku bawa dia ke sini."
"Kamu sudah melaporkan hal ini ke pihak berwajib?"
"Belum."
"Kamu harus secepat mungkin melaporkan hal ini ke polisi. Aku punya kenalan polisi, dia saudara sepupunya Om Rogen. Kamu lapor aja soal kasus ini ke dia."
"Ya udah, aku minta nomor handphonenya."
"Nanti aku kirimin."
"Kalau Mas kenapa bisa di sini? Ada yang sakit?"
"Iya, adik perempuanku tadi jatuh dari tangga."
"Adik perempuan?" tanya orang itu bingung.
"Iya, adik perempuanku yang dulu sempat hilang sekarang sudah ditemukan."
"Alhamdulillah. Terus bagaimana kabarnya Ummi kamu?"
"Alhamdulillah sudah baikan. Bagaimana kabarnya Ummi dan Kakek kamu?"
"Alhamdulillah baik. Aku jadi penasaran sama adik perempuanmu, pengen lihat."
"Ayo, aku kenalin kamu sama adik perempuanku. Dia sangat cantik seperti Ummiku."
"Ayo."
Tak lama kemudian Sarah mendengar derap langkah kakinya mereka yang sedang menghampiri dirinya. Sarah tertegun melihat sosok seorang pemuda yang menurutnya ganteng luar biasa di samping kanannya Dafa. Tiba - tiba Sarah merasakan desiran lembut di hatinya ketika tatapan matanya ketemu sama tatapan mata pria itu. Tatapan mata pria itu seakan menghipnotis Sarah.
Ya Allah ganteng sekali orangnya. Selain ganteng, baik pula. Terus kenapa aku merasakan sesuatu di hatiku.
💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐🌷🌹💐
Terima kasih sudah membaca novelku yang ini 😊😊😊🥰🥰🥰.
Semoga para readers suka membaca novelku. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam novel ini karena novel ini masih jauh dari kata sempurna 😊😊😊.
Dukung novel ini dengan like, komen, kasih vote, kasih bintang lima dan kasih hadiah ya, love you 😁😁😁😘😘😘
__ADS_1