Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Aku Tidak Mau


__ADS_3

Saat ini Aisyah, Rifky dan para bodyguardnya Aisyah ataupun Sarah sedang berada di sebuah mall yang beralamat di 10 Bayfront Ave, Singapore 018956. Mereka berniat ingin membeli sebuah tas untuk Annisa yang sudah berjuang melawan penyakit ganasnya. Menyusuri mall yang memiliki jendela kaca raksasa yang menjulang ke langit-langit dan kanal dalam ruangan yang melintasi seluruh bangunan sehingga menghasilkan kesan futuristik.


"Aisyah kita beli tasnya di toko itu ya?" ucap Rifky sambil menunjuk sebuah toko branded dunia.


"Iya Bi," ucap Sarah, lalu mereka melangkahkan kakinya ke toko itu.


"Zayn sudah menghubungi kamu?" ucap Rifky sambil berjalan melewati pintu toko.


"Belum Bi," ucap Sarah sambil berjalan masuk ke dalam toko.


"Good afternoon, how can I help you?" ucap salah satu sales toko itu yang ramah dan sopan ketika Rifky, Sarah dan para bodyguardnya Sarah berhenti di depannya.


"Good afternoon too. I want to find a limited edition bag for my wife."


"Ok, Come with me, we have a limited edition collection for you sir," ucap SPG toko itu, lalu dia melangkahkan kakinya menuju ke etalase yang berisi tas limited edition.


Wahai sang pencuri hatiku, kamu telah mengusik relung hatiku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku.


Bunyi dering dari smartphone milik Sarah ketika Rifky mengikuti langkahnya sales toko. Sarah membuka resleting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Sarah mengerutkan keningnya ketika melihat nomor asing yang berasal dari luar negeri. Sarah menyentuh ikon hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo assalamu'alaikum," salam Sarah sopan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Ini siapa ya?" tanya Sarah bingung.


"Aku Zayn, salam kenal. Aku sudah kirim biodataku ke email kamu."


"Hai Zayn, iya nanti aku cek. Apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, gimana kabarnya kamu?"


"Alhamdulillah kabarku baik Zayn. Kamu sekarang udah sampai di London?"


"Iya. Kamu sekarang lagi di mana?"


"Lagi di Singapore nemenin Ummiku yang sedang dirawat. Kamu cucunya Engkong Abdullah ya?"


"Iya kok kamu tahu? Oh ya gimana kabarnya Ummi kamu?"


"Alhamdulillah sudah lebih baik dari kemarin. Orang tua angkat atau orang yang menemukan aku saat diculik itu adalah Babe Rojali, kamu kenal Babe Rojali?"


"Iya kenal, oh ya kamu yang sahabatnya Juneidi dan Zarkasih ya?"


"Iya, waktu kami masih kecil diajak sama kamu ke rumah kamu yang di daerah Pondok Indah. Kita suka berenang di sana."


"Iya, sekarang aku baru ingat, aku pernah nolongin kamu waktu kamu tenggelam."

__ADS_1


"Iya, aku juga ingat itu. Maaf waktu itu repotin kamu."


"Kamu nggak repotin aku kok. Sekarang kamu masih tinggal di Condet?"


"Udah nggak, sekarang aku tinggal di Kemang."


"Nama asli kamu Aisyah Humaira ya?"


"Iya."


"Nama yang bagus. Nama kamu waktu kamu belum tahu tentang kamu bukan anak babe Rojali, kalau nggak salah Sarah kan?"


"Iya. Dan kebetulan sekali kita kenal lagi sekarang."


"InsyaAllah nanti kita dekat. Tolong kamu buat CV dan tuliskan tentang dirimu dengan sebenarnya ya. Sekalian tulis nama akun Facebook dan Skype kamu ya. Aku mau kita ta'aruf. Kamu mau kan?"


"Iya aku mau, nanti setelah aku pulang dari mall, aku langsung bikin CV dan kirim CV itu ke alamat email kamu."


"Oh ya udah dulu ya, aku mau sholat dulu. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Tiba - tiba ada seorang yang menarik lembut lengan kirinya Sarah dari arah belakang, sontak Sarah menoleh kebelakang. Dia menatap dengan tatapan dingin ke orang yang sudah menarik lengannya dan ternyata orang itu adalah Rafael. Rafael tersenyum manis ke Sarah.


"Akhirnya kita bisa bertemu lagi," ucap El lembut.


"Boleh kita ngobrol sebentar."


"Mau ngobrol apa?" tanya Sarah sambil menaruh smartphone miliknya ke dalam tas.


"Kamu sudah yakin ingin menerima perjodohan itu padahal kamu belum kenal orangnya?" ucap El ketika Sarah menutup reselting tas selempangnya.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Kesannya kamu membeli kucing di dalam karung. Nggak kamu pikirkan lagi mengenai perjodohan itu?"


"Itu bukan urusan kamu."


"Aku tidak mau kamu nanti menyesal dengan keputusanmu itu."


"Aku tak akan menyesal dengan keputusanku itu. Satu lagi, tolong jangan ganggu aku lagi. Aku tidak ingin ada masalah lagi di antara kita, permisi," ucap Sarah.


Tak lama kemudian Sarah dan para bodyguardnya Sarah melangkahkan kakinya menghampiri Rifky yang sedang memilah - milah tas. Tanpa disadari Sarah, El mengikuti langkah kakinya Sarah. Rifky menoleh ke Sarah ketika Sarah menghentikan langkahnya di samping kanannya. Rifky tersenyum teduh ke Sarah.


"Tasnya bagus ya Nak," ujar Rifky sambil menunjukkan tas Hermes Matte White Niloticus Crocodile Himalaya Birkin.


"Iya bagus Bi. Berapa harganya Bi?"

__ADS_1


"Empat koma lima miliar."


"Wow, harga yang fantastik. Ummi suka koleksi tas mahal Bi?"


"Nggak."


"Assalamu'alaikum Om Rifky," sapa Rafael ketika berdiri di samping kirinya Rifky.


Rifky menoleh ke El, lalu berucap, "Eh, ada Rafael."


Sedetik kemudian Rafael menyalim tangan kanannya Rifky, lalu berkata, " Lagi ngapain Om?"


"Lagi beliin Umminya Aisyah tas, Tante Annisa kan belum punya tas mahal, jadinya Om mau beliin tas mahal untuk Tante Annisa. Kamu lagi ngapain di Singapore?"


"Lagi lihat tanah di sekitar sini, rencananya mau ada proyek pembangunan apartemen dan ingin bekerja sama lagi sama perusahaan Om untuk membangun apartemen itu, dan satu lagi aku ingin yang ngerancang apartemen itu Aisyah. Apakah Om berminat ingin bekerja sama lagi dengan perusahaan saya?" ucap Rafael sopan.


"Wow keren sekali, Om sich mau aja, tapi soal ngerancang apartemen itu tanya langsung aja sama Aisyah, dia mau atau nggak," ucap Rifky lembut.


"Kalau ngerancang apartemen itu aku nggak mau," samber Sarah tegas.


"Sangat disayangkan sekali kamu menolaknya padahal hasil rancangan kamu sangat bagus dan banyak disukai oleh orang."


"Nak El, aku sudah infokan hal ini ke Tante Ira?"


"Udah Om, Tante Ira setuju tapi dia nunggu persetujuan dari Sarah, apakah Sarah mau menjadi arsitek di perusahaan Om."


"Kapan kamu infokan tentang proyek itu ke Tante Ira?"


"Hari Jum'at."


"Nak El, di perusahaan Om kan sudah ada penggantinya Sarah. Hasil rancangan mereka juga sangat bagus dan banyak diminati oleh orang, sebaiknya Nak El pakai jasa mereka aja," ucap Rifky lembut dan penuh wibawa.


"Tapi kan mereka belum tahu gedung - gedung yang ada di Singapore seperti apa. Aku mau memakai jasanya Sarah karena Sarah kan sudah tahu bentuk gedung yang futuristik seperti mall ini, jadi Sarah punya gambaran seperti apa kemauan saya. Saya ingin gedung apartemen saya yang ada di Singapore seperti mall ini, sebuah apartemen yang futuristik."


"Nanti kan kamu bisa sampaikan kemauan kamu seperti apa kepada salah satu arsitek di perusahaan Om dan Om pasti mengajak salah satu arsitek yang kamu pilih ke sini," ucap Rifky berwibawa.


Wahai sang pencuri hatiku, kamu telah mengusik relung hatiku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku. Sang pencuri hatiku, nama mu terpatri di sanubari ku.


Bunyi dering dari smartphone milik Sarah ketika Rifky meminta salah satu SPG toko untuk membungkus tas yang dia beli. Sarah membuka resleting tas selempangnya. Mengambil smartphone miliknya. Sarah menggeleng - gelengkan kepalanya ketika melihat nama Bu Ira di layar smartphonenya. Sarah menyentuh ikon hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.


"Hallo assalamu'alaikum Sarah," ucap Ira ramah.


"Wa'alaikumussalam, ada apa ya Bu?"


"Sarah, kamu mau nggak merancang desain sebuah apartemen di Singapore? Kliennya Rafael, jadi kan kalian bisa sering bertemu. Rafael mengajak kerja sama dengan perusahaan The R design and kontruksi untuk membangun sebuah apartemen di Singapore. Bayarannya sangat tinggi Sarah. Kamu mau kan?"


"Maaf Bu aku tidak mau."

__ADS_1


__ADS_2