
Di depan toilet sebuah restoran besar di ibu kota, ada dua orang laki - laki. Yang satu memiliki tinggi tubuh sekitar seratus delapan puluh lima centimeter, berbadan tegap mengenakan setelan jas warna hitam yang tampaknya dijahit khusus untuk ukuran badannya karena menempel dengan begitu pas di tubuhnya.
Celana panjang yang berwarna hitam tampak indah membungkus kaki jenjangnya. Lelaki itu adalah Ahmad Juneidi alias Juned. Juneidi menyeka darah segar miliknya dengan ibu jari tangan kanannya. Sarah panik melihat kondisi Juneidi yang terkapar tak berdaya di atas lantai.
Sarah berjalan cepat menghampiri Juneidi yang sebenarnya sedang sakit. Memapah Juneidi untuk berdiri. El mengeraskan rahang mukanya mengeras melihat sikapnya Sarah yang lebih mempedulikan Juneidi dari pada perasaan di hatinya. Satu persatu orang - orang menghampiri mereka.
El melihat sekitarnya yang dipenuhi sama orang - orang. Angkara murka menyelimuti dirinya ketika melihat Sarah sedang memapah Juneidi untuk berjalan. El langsung pergi dengan membawa amarah, kesal, dan kecewa di hatinya. Sarah tidak mempedulikan El yang melengos pergi begitu saja. Sarah tidak mempedulikan tatapan orang - orang yang mengarah ke dirinya dan Juneidi.
"Sebaiknya Bang Juned ke klinik gedung ini aja," ucap Sarah khawatir sambil memapah Juneidi berjalan menuju meja mereka.
"Iya. Ke mana El?"
"Aku nggak tahu."
"Kamu kok menolongku bukannya mengejar El? Sebenarnya perasaan kamu ke dia seperti apa?"
"Ini bukan masalah perasaan, tapi soal sikap seorang pria yang baik dan menolong orang lain yang lebih membutuhkan pertolongan. Aku nggak suka seorang pria yang main pukul aja tanpa memberikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi yang sebenarnya."
"Sebaiknya kamu menjelaskan yang sebenarnya Sar, supaya El tidak salah paham."
"Nanti setelah aku mengantar Bang Juned ke klinik."
"Tak perlu, aku udah bisa sendiri," ucap Juneidi, lalu dia menegakkan badannya.
"Bang Juned, nggak jadi makan siang di sini?"
"Jadi."
"Terus ke kliniknya kapan?"
"Setelah makan siang aku langsung ke klinik," ucap Juneidi sambil menduduki tubuhnya di sofa single.
"Benaran Bang Juned ke kliniknya sendirian?" ucap Sarah sambil menduduki sofa panjang.
"Iya."
"Sar, sebaiknya kamu telepon El biar masalah itu cepat selesai, aku tidak mau ada fitnah di antara kita dan dia salah paham tentang hubungan kita yang sekarang."
"Baiklah Bang Juned."
Sarah membuka resleting tas jinjingnya untuk mengambil handphone miliknya. Memencet tombol handphonenya untuk menghubungi El. Memencet tombol hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya. Beberapa kali nada sambung terdengar, tapi El sengaja tidak menjawab panggilan telepon itu karena sedang marah sama Maysaroh.
Dengan kesal El menyentuh ikon merah di layar smartphonenya untuk menolak panggilan itu. Lalu dia menyentuh beberapa ikon untuk memblokir nomor handphone milik Maysaroh. El menaruh smartphone miliknya di saku dalam jasnya. Melangkahkan kakinya keluar dari gedung IR Corporation. Berjalan menuju mobilnya yang berada di depan teras lobby gedung. Masuk ke dalam mobilnya tanpa mempedulikan sapaan dari beberapa orang.
Mengambil smartphone miliknya dari kantong jasnya, lalu menaruhnya di dekat rem tangan. Menarik tuas rem tangan mobilnya setelah pintu mobilnya ditutup sama salah satu petugas parkiran gedung itu. Mengatur gigi mobil, lalu sedikit menginjak pedal gas. Melajukan mobilnya dengan pelan. Lama - kelamaan kecepatan mobil itu semakin tinggi.
Kringgg ... kringgg ... kringgg ...
Bunyi dering dari smartphone milik El telah sedikit membuyarkan konsentrasi El. El mengambil smartphone miliknya. Sekilas El melihat tulisan Pak Juan di layar smartphonenya. Menyentuh ikon hijau di layar smartphonenya, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya.
"Hallo Pak Juan, ada apa?" ucap El sambil menyetir.
__ADS_1
"Selamat siang Pak El, saya hanya mau mengingatkan, nanti jam dua Pak El ada pertemuan dengan klien di restoran Gulali."
"Tolong kamu wakilin saya untuk pertemuan itu."
"Maaf Pak, nanti jam satu saya mewakili Bapak untuk meninjau proyek perumahan di daerah cibubur."
"Biar saya yang meninjau, kamu yang menemui klien itu."
"Tapi berkas - berkas laporan proyek itu ada di saya Pak."
"Kamu simpan aja, saya sudah tahu isi semua laporan itu."
"Proposal untuk klien itu ada di mana ya Pak?"
"Di meja kerja saya, kamu ambil aja di sana."
"Baik Pak."
"Saya on the way ke proyek."
"Baik Pak."
El langsung menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya, lalu menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. El menyentuh beberapa ikon di layar smartphonenya untuk menghubungi Edward. Menyentuh ikon hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kirinya lagi. Lima kali nada sambung terdengar.
"Hallo Bro! Ada apa siang bolong telepon?" ucap Edward ramah.
"Nanti sore bawa cewek ke apartemen gw!" perintah El.
"Gw lagi marahan sama Sarah," ucap El ketus.
"El, sebaiknya elu pegang janji elu ke Sarah," ucap Edward serius.
"Kok elu ngomong gitu sich?"
"Karena gw yakin, Sarah itu wanita yang baik - baik."
"Dia pandai kamuflase. Sebenarnya dia wanita murahan," ucap El serius.
"What the happen? Itu tidak mungkin, tidak ada hujan, tidak ada petir, kenapa elu tiba - tiba ngomong seperti itu?"
"Tadi gw lihat dengan kedua mata gw sendiri, dia sedang berciuman dengan mantan pacarnya di depan toilet restoran."
"Elu nggak salah lihat?"
"Enggak."
"Mantan pacarnya yang sudah nikah itu?"
"Iya."
"Masa sich, gw nggak percaya."
__ADS_1
"Ya udah terserah elu, mau percaya atau nggak. Pokoknya nanti sore bawa cewek ke apartemen gw."
"Ok bos El. Oh ya El, bulan depan Pak Juan jadi pensiun dari perusahaan elu?"
"Jadi, emangnya kenapa?"
"Gw yang gantiin Pak Juan ya, gw mau jadi asisten elu."
"Emangnya skripsi elu udah selesai?"
"Udah dong, tinggal sidang. Rencananya dua minggu lagi, gw disidang."
"Baiklah."
"Udah dulu ya El, gw mau makan siang dulu," ucap Edward.
Tak lama kemudian Edward menjauhkan smartphone miliknya dari telinga kanannya, lalu menyentuh ikon merah untuk memutuskan sambungan telepon itu. Menaruhnya di atas meja. Mengambil mie ramen dari mangkuk dengan sumpit, lalu memakannya.
Now I know he said things hit things that we didn't mean. And we fall back into the same patterns same routine. But your temper's just as bad as mine is. You're the same as me. But when it comes to love you're just as blinded.
Baby, please come back. It wasn't you, baby it was me. Maybe our relationship wasn't as crazy as it seemed. Maybe that's what happens when a tornado meets a volcano ...
Bunyi nada sambung dari smartphone milik Edward. Edward menelan makanannya, lalu mengambil smartphone miliknya. Melihat tulisan Sarah di layar smartphonenya. Edward mengerutkan keningnya karena bingung kenapa Sarah menelponnya. Edward menyentuh ikon hijau di layar smartphonenya, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinga kanannya.
"Hallo Sar! Ada apa ya?" tanya Edward bingung.
"Kamu tahu di mana El?" ucap Sarah khawatir.
"Waduh, aku nggak tahu Sar. Tadi sich dia telepon aku, dia bilang lagi marahan sama kamu. Memangnya kenapa kalian bisa marahan?" ucap Edward yang penasaran.
"Dia salah paham Ed. Tadi badannya Bang Juned jatuh nimpa tubuhku karena dari semalam dia sakit perut, untung di belakangku ada tembok jadi tidak jatuh di atas lantai depan toilet. Saat itu El lihat. Disangka El kami sedang berciuman, padahal kami tidak berciuman. El langsung menarik kerah jas, lalu menonjok mukanya Bang Juned sampai Bang Juned terpental dan di pinggiran bibirnya Bang Juned keluar darah. Aku kesal melihat sikap El seperti itu, maka itu aku langsung menolong Bang Juned berdiri dan berjalan. Eh, tiba - tiba El pergi begitu saja tanpa memberikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya."
"Ooo, begitu ceritanya. Kamu telepon aja ke El."
"Aku udah telepon, tapi ditolak. Aku telepon lagi, nomornya udah nggak aktif."
"Wah kalau El udah begitu, susah diajak ngobrol. Sebaiknya besok malam kamu ke apartemennya El aja."
"Tapi aku tidak tahu di mana alamatnya."
"Nanti aku smsin alamat apartemennya."
"Terima kasih ya Edward. Udah dulu ya, aku mau lanjutin makan dulu. Bye Edward."
"Bye Sar."
Tak lama kemudian Sarah menjauhkan benda pipih itu dari telinga kirinya. Memencet tombol warna merah untuk memutuskan panggilan telepon itu. Menaruh handphone miliknya di dalam tas jinjingnya. Menutup reselting tas jinjingnya. Melanjutkan makan siangnya.
"Bagaimana? Temannya El tahu keberadaan El di mana?" ucap Juneidi setelah menelan daging steaknya.
"Temannya El juga nggak tahu, malah dia bilang bahwa El sedang marah samaku dan El susah diajak ngobrol kalau lagi marah. Menurut dia sebaiknya aku menjelaskan semuanya ke El besok aja. Besok aku akan menjelaskan semuanya itu, supaya dia tidak salah paham," ucap Sarah sambil memotong daging bistik ayamnya.
__ADS_1