
Sebuah mobil Mercedes Benz C-Class berada di bawah pohon rindang yang dapat menyediakan oksigen selama dia puluh empat jam nonstop. Di dalam mobil itu ada El, Sarah, Adi dan Fery. El dan Sarah sedang tidur yang saling berpelukan di jok belakang. Sedangkan Adi dan Fery sedang menunggu Tuan Mudanya bangun dari dunia mimpi.
"Kira - kira kapan Tuan Muda kita bangun?" tanya Fery sambil menoleh ke Adi.
"Mereka kan udah tidur lama, palingan sebentar lagi bangun," ucap Adi sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh pekarangan rumah yang sangat luas.
"Kira - kira semalam mereka habis ngapain ya? Soalnya dari tadi kuperhatiin, tidur mereka nyenyak banget."
"Nggak usah kepo dech Fer," ucap Adi sambil melihat Sarah yang sedang melepaskan tangan El dari pinggangnya dari kaca spion.
"Udah sampai ya?" tanya Sarah yang membuat Fery kaget.
"Iya Nona," jawab Adi sopan.
"El bangun, bangun, bangun," ucap Sarah sambil mengguncangkan tubuhnya El.
"Whoaaammm," El menguap sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.
"El ayo kita keluar dari sini! Kita sudah sampai di rumahnya Pak Gunawan," ucap Sarah yang masih mengguncangkan tubuhnya El.
Tak berselang lama El membuka kedua matanya dengan sempurna. Menduduki tubuhnya, lalu mengucek - ngucek kedua matanya untuk menyesuaikan sinar di dalam mobil. Sarah menduduki tubuhnya, lalu merapikan pakaiannya dan tatanan rambutnya. Sarah menoleh ke El. Melihat wajahnya El yang lesu dan seperti orang yang kurang tidur.
"Kamu sakit?" tanya Sarah khawatir.
El langsung menoleh ke Sarah, lalu berucap, "Nggak, aku cuma masih ngantuk, makanya tadi aku ikutan tidur di sini."
"Kamu semalam begadang?"
"Yah begitulah."
"Kenapa begadang?"
"Aku nggak bisa tidur karena menahan hasrat birahiku. Aku nggak mau mimpi basah lagi ketika tidur bersamamu," bisik El.
Sontak Sarah menepuk paha kanannya El, "Ya udah nanti malam aku tidur di hotel aja."
"Jangan!"
"Nanti kalau kita tidur berdua lagi, yang ada kamu begadang lagi terus kamu sakit," ucap Sarah khawatir.
"Nanti malam aku tidur di kamar tamu."
"Terus para bodyguard tidur di mana?"
"Di ruang keluarga."
"Kasihan mereka tidur di ruang keluarga."
__ADS_1
"Itu sudah biasa bagi mereka."
"Permisi, Tuan Muda dan Nona. Apakah kita jadi ke rumahnya Pak Gunawan?" tanya Adi sopan.
"Jadi, tolong siapkan formasi."
"Baik Tuan."
Sedetik kemudian El menarik tuas pintu mobil sambil mendorong pintu sehingga pintu mobil terbuka. El keluar dari dalam mobil. Mengulurkan tangan kanannya ke Sarah. Sarah menerima uluran tangan kanannya El, lalu keluar dari dalam mobil. El langsung menggandeng tangan kirinya Sarah. El dan Sarah melangkahkan kakinya ke rumahnya Pak Gunawan dengan beberapa bodyguard.
Awalnya Sarah risih dikawal melulu, tapi karena rayuan dan permintaan El akhirnya Sarah mau dikawal. Menyusuri pekarangan rumah yang luas. Salah satu bodyguard mereka membuka pintu pagar kecil yang terbuat dari kayu. Mereka masuk ke dalam halaman rumah yang asri. Menyusuri kebun bunga beraneka macam.
Tok ... tok ... tok ...
Salah satu bodyguard mereka mengetuk pintu rumahnya Pak Gunawan. Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka lebar. Yang membuka pintu itu adalah seorang nenek - nenek. Sarah dan El tersenyum sopan ke wanita lanjut usia itu. Wanita tua itu membalas senyuman mereka.
"Selamat pagi Bu, apakah ini rumahnya Pak Gunawan?" ucap Sarah sopan.
"Iya benar, tapi Pak Gunawannya sudah meninggal dunia," ucap wanita tua itu datar.
"Kalau istrinya masih ada?"
"Saya istrinya, ada apa ya?"
"Apakah Ibu dua puluh tiga yang lalu kehilangan anak?" ucap Sarah to the point.
Sepertinya aku adalah salah satu anak mereka.
Batin Sarah.
Sarah, El dan para bodyguardnya masuk ke dalam rumah yang memiliki model klasik kuno. El dan Sarah menyalim telapak tangan kanannya wanita tua itu, lalu duduk di bangku yang terbuat dari kayu. Sedangkan wanita tua itu duduk di kursi yang terbuat dari kayu. Wanita tua itu mengambil sebuah remote, lalu memencet salah satu tombol di remote.
"Saya tidak pernah kehilangan seorang anak, tapi tetangga saya yang dulu yang kehilangan anak."
"Kalau boleh tahu siapa nama tetangga Ibu yang kehilangan anak?" tanya Sarah.
"Ehmmm ... saya lupa namanya, tapi seingat saya dia memiliki peternakan."
"Apakah orang itu Pak Rifky Wijanarto?" tanya El.
"Bukan itu, tapi ... oh ya namanya Kiky."
"Adi tolong kamu cari nama Kiky di daerah Tajurhalang!" titah El sambil menoleh ke Adi.
"Baik Tuan Muda," ucap Adi sopan.
"Permisi," ucap seorang pelayan sambil membawa nampan yang berisi ubi goreng dan delapan cangkir teh, lalu pelayan itu melanjutkan langkahnya menghampiri mereka.
__ADS_1
"Silakan diminum teh hijau dan dimakan ubi gorengnya," ucap wanita tua itu sambil melihat salah satu pelayanannya menaruh hidangan untuk para tamu.
"Ibu tahu siapa yang beli rumah Pak Gunawan yang dulu?" tanya El menyelidik.
"Tahu," ucap wanita itu sambil melihat pelayannya yang sedang berjalan ke dapur.
"Namanya?" ucap El yang masih menyelidik.
"Pak Rifky Wijanarto. Coba kalian tanya hal kehilangan anak sama Kiky."
"Ibu tahu rumahnya Pak Kiky?"
"Nggak tahu. Coba kamu tanya ke Irman, mantan asisten suami saya. Dia masih bekerja di perkebunan itu."
"Terima kasih Ibu Gunawan yang baik hati atas informasinya," ucap Sarah sopan setelah makan satu buah ubi goreng dan meminum teh hijau.
"Sama - sama. Sebenarnya kalian siapa?" tanya Bu Gunawan.
"Saya sedang mencari orang tua kandung saya Bu," ucap Sarah sambil mengambil satu buah ubi goreng.
"Kenapa nggak tanya aja ke pihak polisi?" ucap wanita tua itu.
"Aku ingin mencarinya sendiri," jawab Sarah yakin ketika menghentikan kunyahan.
"Kalau tidak ada bantuan dari pihak kepolisian, kamu akan kesusahan mencarinya," ujar wanita tua itu.
"Terima kasih atas perhatian dari anda Bu Gunawan," ucap Sarah sopan.
"Dulu saya pernah dengar ada bayi perempuan di desa sebelah diculik sama pengasuhnya," ucap wanita tua itu yang sedikit demi sedikit mengingat kejadian yang masa lalu.
"Penculikan!?" ucap Sarah terkejut sehingga menjatuhkan ubi goreng yang dia pegang, sontak Sarah mengambil ubi goreng itu.
"Ibu Gunawan tahu siapa nama orang tua bayi perempuan itu?" tanya El menyelidik sambil menutupi ujung meja yang runcing supaya kepalanya Sarah tidak mengenai ujung meja itu.
"Saya sudah lupa. Coba kamu tanya hal itu ke Irman. Kenapa kalian mencari informasi tentang orang tua yang kehilangan anaknya y saya?"
"Karena orang yang menemukan saya habis belanja sayuran di perkebunan Pak Gunawan. Dia menyarankan saya menanyakan hal tentang orang tua saya sama Pak Gunawan Karena Pak Gunawan sudah tiada, jadi Ibu yang menjadi informan untuk saya."
"Maksudnya apa ya?" ucap Bu Gunawan yang belum mengerti ucapan Sarah.
"Setelah orang itu belanja di perkebunan Pak Gunawan yang dulu, dia menemukan diriku di antara tumpukan sayuran. Dia menyarankan aku untuk menanyakan informasi tentang orang tua kandungku ke Pak Gunawan. Karena Pak Gunawan sudah meninggal, jadi saya minta tolong sama Ibu untuk memberikan informasi tentang orang tua kandung saya," ucap Sarah pelan - pelan.
"Saya hanya mengingat yang itu aja."
Informasi yang kurang memuaskan.
Batin Sarah.
__ADS_1