Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Babe Jangan Pergi!!!


__ADS_3

Dilike ya guys 😊


Dikomen ya guys 😁


Divote ya guys 😊


Dikasih Bintang Lima ya guys 😊


Happy reading 😁


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Cahaya sang surya sore hari menyinari kota Jakarta. Lukisan arakan awan yang berbentuk dengan indahnya membentang di langit biru. Keindahan langit tak seindah hatinya Sarah yang sedang kalut memikirkan kondisi babe Rojali. Hatinya Sarah bergelut rasa khawatir dan sedih karena babenya masuk ke ruang ICU rumah sakit karena serangan jantung lagi.


Mobil Alphard berwarna hitam milik El yang ditumpangi oleh Sarah dan El menyusuri jalan tol TB. Simatupang dengan kecepatan yang lumayan kencang. Sarah memandang pemandangan di luar jendela mobil. Melihat gedung - gedung pencakar langit yang tertata rapi. Dari villanya El sampai sekarang tak bosan - bosannya, cairan bening mengalir lembut membasahi pipinya Sarah.


Sarah menangis dalam diam, seperti yang biasa dia lakukan jika dia sedang bersedih. Liza memejamkan dua matanya sambil menarik nafas, lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan berulang kali untuk menenangkan hatinya dan supaya dia bisa bisa menghentikan tangisannya.


"Kamu harus yang sabar ya," ucap El lembut sambil membelai rambutnya Sarah.


Sarah menoleh ke El, lalu berkata dengan suara yang parau, "Iya."


Setelah memakan waktu satu jam setengah di perjalanan, akhirnya mobil Alphard hitam milik El berhenti di lahan parkiran sebuah rumah sakit. Sarah dan El membuka sabuk pengaman. Menarik tuas pintu mobil, lalu mendorong pintu sehingga pintu mobil terbuka. Mereka berdua keluar dari dalam mobil, lalu menutup pintu mobil. Melangkahkan kakinya menuju ruang ICU.


Sarah dan El melihat sosok Rogaya yang sedang duduk tak berdaya di bangku panjang depan ruang ICU rumah sakit sambil menundukkan kepalanya. Sarah menduduki tubuhnya di samping kanannya Rogaya, sedangkan El berdiri di samping kanannya Sarah. Dengan jelas Sarah melihat Rogaya sedang menangis sesenggukan. Air mata Sarah mengalir lembut lagi di pipinya.


El menundukkan kepalanya, lalu berbisik, "Kamu tidak usah menangis lagi Ai, itu akan menambah kesedihan di hatinya Nyak. Kamu harus kuat supaya bisa menjadi sandaran Nyak kamu, saat ini Nyak kamu butuh dukungan untuk tetap tegar menghadapi ini semua."


Sarah menyeka air matanya. Menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan sehingga dia berhenti menangis. Sarah mendekap Rogaya dengan penuh kasih sayang. Rogaya menangis tersedu - sedu di dalam dekapan Sarah.


"Nyak harus yang sabar ya, Sarah yakin Babe pasti sembuh Nyak, sebaiknya Nyak berhenti menangis, percuma juga Nyak menangis. Yang penting buat Babe adalah doa kita supaya Babe cepat sembuh," bisik Sarah lembut.


Tak lama kemudian Rogaya menyeka air matanya di bahu kirinya Sarah. Menarik nafas dalam - dalam, lalu menghembuskan nafas dengan pelan - pelan sehingga Rogaya berhenti menangis. Rogaya melepaskan dekapan Sarah. Menatap kosong ke depan. Sarah menengok mukanya Rogaya yang sedang melamun.

__ADS_1


"Nyak jangan banyak pikiran, nanti Nyak sakit," ucap Sarah yang khawatir sama kondisinya Rogaya.


Rogaya menoleh ke Sarah, lalu berucap, "Elu baik banget Rah. Anak kandung gw aja nggak sebaik elu. Padahal dulu elu sering gw siksa. Elu nggak dendam kan ama gw?"


"Nggak Nyak."


"Kenapa elu nggak dendam ama gw? Pan gw bukan Nyak kandung elu."


"Sarah udah anggap Nyak sebagai ibu kandung Sarah karena Nyak sudah membesarkan dan mendidik Sarah," ucap Sarah tulus.


"Pasti orang tua kandung elu orang yang sangat baik kayak elu. Semoga elu bisa menemukan orang tua kandung elu."


"Aamiin Ya Robbal Alamiin. Nyak, boleh Sarah nanya sesuatu?"


"Boleh, elu mau nanya apa?"


"Kenapa Babe masuk ke rumah sakit lagi?" tanya Sarah yang khawatir sama kondisi kesehatan Rojali.


"Itu semua karena Nyak. Nyak telah berbohong pada kalian semua. Nyak berbohong tentang ayah kandungnya Mariana. Ayah kandungnya Mariana bukan Abang Rojali, tapi A Irwan. A Irwan itu selingkuhan Nyak. Dulu waktu elu masih umur tiga tahunan, gw ketemu sama A Irwan di warung nasi. Dia sering membeli makanan di warungnya Nyak. Lama - kelamaan hubungan kami semakin dekat. Nyak merasa lebih nyaman ketika berada di samping A Irwan yang sangat perhatian sama Nyak. Saat itu Abang Rojali sedang sibuk berdagang sehingga tidak memperhatikan kita, dia hanya memberikan uang, tapi tidak memberikan rasa kasih sayang lagi sehingga Nyak merasa kesepian. A Irwan telah mengambil hati Nyak yang terluka karena sikap cueknya Abang Rojali. Kami sering pergi berduaan untuk berpacaran sehingga beberapa kali kamu melakukan hubungan intim dan akhirnya Nyak hamil. Waktu Nyak tahu lagi hamil, Nyak panik. Nyak datangin ke tempat tinggalnya A Irwan, waktu itu dia ngontrak di rumah petakan Babe Marzuki. Nyak kasih tahu ke dia, tapi dia mengelaknya sampai kami ribut dan akhirnya A Irwan pindah kontrakan entah ke mana. Nyak kelimpungan harus berbuat apa. Nyak mencari cara supaya Nyak dan Babe untuk berhubungan intim setelah sekian lamanya kami tidak melakukan hubungan intim lagi. Nyak ngajakin Babe untuk berhubungan intim, dan Babe menyetujuinya. Setelah beberapa kali Nyak sama Babe berhubungan intim, Nyak bilang ke Babe bahwa Nyak sedang hamil. Saat itu Babe sangat bahagia karena akhirnya kami memiliki seorang anak setelah menjalani berbagai macam pengobatan dan berdoa. Semalam Mariana datang ke rumah untuk mempertanyakan hal itu. Dia tahu itu dari A Irwan sendiri. Pertama kali mereka ketemu di kantornya Pak Richard. Pak Richard itu suaminya Mariana, mereka menikah di Singapore. Setelah Nyak menceritakan tentang itu ke Mariana, Mariana marah - marah. Nyak nggak kuat mendengar ocehan Mariana, akhirnya Nyak pergi ke warung. Ternyata Mariana mengikuti Nyak ke warung. Di sana Nyak dicaci maki. Tak sengaja Babe mendengar ucapan Mariana. Setelah pulang sholat Isya berjamaah, Babe melihat Mariana sedang memarahi Nyak, makanya Babe menghampiri kami. Dari situ Babe mendengar semuanya sehingga membuat dia terkena serangan jantung lagi.".


"Nyak nggak tahu Rah. Setelah kejadian itu, Mariana pulang bersama suaminya."


Kurang ajar sekali Mariana. Aku harus menemukan Mariana dan memberikan dia pelajaran.


Batin Sarah.


"Assalamu'alaikum Rogaya," sapa seorang pria tua yang membuat Sarah, Rogaya dan El menoleh ke pria itu.


"Ngapain elu ke sini Irwan Sunandar?!" ucap Rogaya ketus sambil beranjak berdiri.


"Aku mau menjenguk suamimu," ucap pria tua itu yang ternyata memiliki nama Irwan Sunandar.


"Tak perlu elu menjenguknya!" ucap Rogaya ketus.

__ADS_1


"Bagaimana pun juga aku harus menjenguknya karena dia telah membesarkan dan mendidik anak kita."


"Oh baru sekarang elu mengakuinya sebagai anak setelah elu tahu bahwa anak elu adalah istri dari bos elu. Dasar cowok bermuka dua!" ucap Rogaya ketus.


"Maafkan aku."


"Tidak ada kata maaf untuk elu! Sebaiknya elu pergi dari sini!" ucap Rogaya ketus.


"Baiklah kalau itu maumu."


"PERGI SANA!" ucap Rogaya murka sambil menunjuk ke sembarang arah.


"Tunggu dulu Pak," ucap Sarah sopan ketika melihat Irwan mau membalikkan badannya.


"Ada apa Nona?" tanya Irwan.


"Aku mau bicara sebentar sama anda Pak."


"Ngapain elu ngobrol sama orang kayak dia!?" ucap Rogaya kesal.


"Sarah ingin menanyakan tempat tinggalnya Mariana Nyak," ucap Sarah sopan sambil menoleh ke Rogaya.


"Ngapain elu nanyain tentang itu? Udeh percuma elu datangi dia, dia nggak bakalan mau maafin Nyak."


"Sarah mau kasih tahu keadaan Babe Nyak dan memberikan dia pelajaran."


"Percuma Rah, dia pasti kaga dengarin omongan elu."


"Permisi, dengan keluarganya bapak Rojali," ucap salah satu perawat yang keluar dari ruang ICU.


"Iya bener Sus, ada apa ya?" ucap Rogaya sambil merasakan perasaan yang gundah.


"Innalilahi wa innailaihi, Bapak Rojali telah meninggal dunia. Mohon maaf sebelumnya, kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan bapak Rojali," ucap suster itu sopan.

__ADS_1


"Tidak!!! Babe jangan pergi!!!"


__ADS_2