
"Walaupun kau bukan titisan dewa. Ku takan kecewa. Karena kau jadikanku sang dewi. Dalam taman surgawi. Walaupun dirimu tak bersayap. Ku akan percaya. Kau mampu terbang bawa diriku. Tanpa takut dan ragu. Walaupun kau bukan titisan dewa. Ku takan kecewa. Karena kau jadikanku sang dewi. Dalam taman surgawi," ucap Sarah yang sedang menyanyikan lagu dari Titi DJ yang berjudul Sang Dewi.
Suara merdunya Sarah telah menghipnotis para pengunjung kafe milik Clara. Semua pengunjung terpana sama suara indahnya Sarah, termasuk seorang produser yang memiliki label musik terbesar di Indonesia. Produser itu sangat tertarik untuk mengajak Sarah sebagai salah satu penyanyi di label musiknya. Produser itu memencet tombol untuk memanggil salah satu pelayan kafe itu.
"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.
"Tolong panggilkan penyanyi di kafe ini," ucap produser itu sambil menikmati suara merdunya Sarah.
"Penyanyi yang mana ya Tuan? Soalnya di kafe ini sekarang memiliki dua orang penyanyi."
"Yang sekarang lagi nyanyi."
"Sebaiknya anda minta izin dulu sama Tuan Muda," ucap pelayan itu sopan.
"Kenapa mesti minta izin?"
"Karena Mbak Sarah adalah calon istrinya Tuan Muda, Tuan."
"Huh ...," produser menghela nafas panjang.
"Ya udah nggak usah, sana kamu pergi dari sini," ucap produser itu kesal.
Tak lama kemudian pelayan itu pergi menjauh dari produser itu. Produser itu keluar dari mejanya, lalu berjalan menghampiri panggung kafe. Melewati beberapa meja para pengunjung. Berdiri di belakang panggung untuk menunggu Sarah selesai nyanyi. Suara tepuk tangan menggema di kafe, termasuk produser itu. setelah Sarah selesai menyanyikan dua buah lagu.
"Terima kasih atas perhatian dari kalian semua. Untuk lagu berikutnya akan dinyanyikan oleh rekan saya yang bernama Meira. Dia ini jago nyanyi loh para pengunjung, suaranya lebih merdu dari saya. Mari kita sambut, Meira!" ucap Sarah ceria sambil merentangkan tangan kanannya ke arah Meira.
Meira melangkahkan kakinya ke depan panggung sambil tersenyum manis, lalu dia berucap, "Terima kasih banyak saudaraku atas pujiannya."
"Sama - sama Mei."
"Ok, untuk lagu berikutnya, saya akan menyanyikan lagu permintaan dari meja nomor lima yang berjudul Dan," ucap Meira riang sambil menoleh ke para pengunjung kafe.
Sedangkan Sarah berjalan ke pinggir panggung sambil melihat ibunya El, lalu turun dari panggung melalui tangga. Melanjutkan langkahnya ke ibunya El untuk memberikan salam. Tiba - tiba produser itu menepuk pelan bahu kanannya Sarah. Sarah menoleh ke arah kanan.
"Iya, ada apa Pak?" ucap Sarah sopan.
"Boleh kita bicara sebentar?" ucap produser itu.
"Boleh."
"Mari ikut saya!" ajak produser itu.
Tak lama kemudian produser itu melangkahkan kakinya menuju meja, sedangkan Sarah mengikuti langkahnya produser itu. Produser itu menduduki tubuhnya di bangku taman. Sarah menduduki tubuhnya di sebelah kanan produser itu. Produser itu menoleh ke Sarah, begitu juga dengan Sarah. Sarah menoleh ke produser itu.
"Sepertinya anda orang terkenal. Anda artis?" ucap Sarah sopan.
"Perkenalkan nama saya Andrew Allison," ucap orang itu sambil mengulurkan tangan kanannya ke Sarah.
Wah ternyata dia adalah aktor kesukaanku. Aku harus tetap tenang berhadapan dengannya.
Batin Sarah
Sarah membalas uluran tangan kanan orang itu sambil merasakan kegugupan dirinya, lalu berucap, "Sarah."
Orang itu melepaskan jabat tangan mereka, lalu berucap, "Dulu saya artis, tapi sekarang saya seorang produser. Saya ingin anda menjadi salah satu penyanyi di perusahaan label musik saya. Apakah anda berminat?"
"Benarkah?" ucap Sarah kaget campur senang sambil menurunkan tangan kanannya.
"Iya, aku serius."
Ini kesempatanku, uang hasil dari pekerjaanku sebagai artis bisa membayar semua hutangku ke El.
Batin Sarah.
__ADS_1
"Iya aku mau. Apa aku perlu kirim CV dan test vokal?"
"Ehmmm ... kamu boleh bawa CV kamu ke kantorku," ucap Andrew, lalu dia mengeluarkan dompetnya untuk mengambil kartu nama dirinya. "Ini kartu namaku, besok jam empat sore bawa CV kamu ke kantorku," ucap Andrew sambil memberikan kartu namanya ke Sarah.
"InsyaAllah aku datang. Besok aku test vocal?" ucap Sarah.
"Nggak usah, besok langsung rekaman."
"Hah!? Yang benar Pak? Aku langsung rekaman?" ucap Sarah terkejut.
"Iya, aku langsung suka suara kamu. Suara kamu indah, semua orang yang mendengarkan suara nyanyianmu pasti suka dan terlena. Besok aku tunggu."
"Terima kasih banyak ya Pak Andrew. Saya InsyaAllah datang," ucap Sarah senang.
"Kapan kamu menikah sama El?" ucap Andrew.
"Pak Andrew kenal El?"
"Iya, kami masih saudara. Saya kakak sepupunya El. Mami Clara adiknya mamaku."
"Ooo. Pak Andrew mau menjadikan saya sebagai salah satu penyanyi di perusahaan label musik Bapak apakah karena permintaan El?"
"Nggak, saya memang ingin menjadikan kamu sebagai salah satu penyanyi di perusahaan label musik saya. Kapan kalian menikah?"
"Belum tahu kapannya. Memangnya kenapa Pak?"
"Soalnya perjalanan kamu menjadi seorang penyanyi akan memakan waktu yang banyak. Karena itu bisa menghambat persiapan pernikahan kalian. Kalian sudah mempersiapkan pernikahan kalian?"
"Belum, El baru melamar saya secara pribadi."
"Bagaimana kalau kalian mempersiapkan pernikahan kalian setelah kamu sudah menjadi penyanyi terkenal?"
"Usulan yang bagus Pak. Saya setuju dengan usulan Bapak. Saya akan membicarakan hal ini sama El. Kira - kira butuh berapa lama saya jadi penyanyi terkenal?"
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa membayar hutangku ke El tanpa harus melunasi hutang sampai bertahun - tahun.
Batin Sarah.
"Baiklah, saya akan menuruti perintah Bapak," ucap Sarah sopan.
"Selamat malam Andrew," salam El sambil berjalan menghampiri mereka.
"Selamat malam El," ucap Andrew sambil menoleh ke El.
"Bagaimana kabarnya Vian?"
"Baik. Dia sekarang sudah masuk sekolah."
"Ada urusan apa kamu sama calon istriku?" ucap El sambil menduduki tubuhnya di tengah - tengah mereka.
"Aku ingin mengajak Sarah kerja sama."
"Kamu mau jadiin Sarah penyanyi di perusahaan label musikmu?" tanya El sambil menoleh ke Andrew.
"Iya."
"Aku tidak setuju," ujar El tegas.
"Hah? Kamu apa - apaan sich El!? Kalau aku jadi penyanyi terkenal, aku bisa bayar hutangku ke kamu dalam waktu dekat!" ucap Sarah kesal.
"Aku nggak mau jauh darimu terlalu lama. Kalau kamu jadi penyanyi terkenal, pasti kita jarang ketemunya," ucap El sedih.
"Ah, kamu ABG ababil aja El, aku nggak suka. Aku tetap ingin menjadi penyanyi terkenal," ucap Sarah tegas.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu nggak usah bayar operasi Babemu."
"Kalau gitu kita putus aja!" ucap Sarah marah sambil beranjak berdiri.
El langsung menggenggam pergelangan tangan kirinya Sarah dengan erat, lalu berucap, "Kita jangan putus dong. Terserah kamu, asalkan kita jangan putus."
"Udahlah El terima aja keinginan dia, lagi pula kamu belum menjadi suaminya, jadi kamu nggak berhak untuk mengaturnya," ucap Andrew tegas sambil menoleh ke El.
"Jangan kamu ambil dia dariku!" ucap El sambil menatap tajam ke Andrew.
"Hahaha, kamu takut kehilangan wanita yang kamu cintai lagi? Aku nggak akan mengambilnya karena aku masih punya banyak wanita," ledek Andrew.
Sarah menoleh ke El, lalu berucap, "Tolong lepaskan tanganku."
"Iya," ucap El, lalu dia melepaskan pergelangan tangan kirinya Sarah.
"Kamu nggak nyamperin Mami Clara?" ucap Sarah.
"Mami jadi datang ke sini?"
"Jadi. Ya udah aku ke Mami Clara dulu."
Tak lama kemudian Sarah melangkahkan kakinya menghampiri mejanya Clara. Melewati beberapa meja pelanggan kafe di bawah naungan cahaya yang temaram. Menyusuri jalan setapak yang melintasi taman. Tersenyum sopan sambil menganggukkan kepalanya. Menyalim tangan kanannya Clara.
"Selamat malam Mami," sapa Sarah sopan sambil menduduki tubuhnya di kursi samping kirinya Clara.
"Dasar wanita murahan, giliran nggak ada El, dekatin cowok ganteng dan mapan," sindir Clara ketus tanpa menoleh ke Sarah.
"Maksud Mami apa ya?" ucap Sarah bingung sambil menoleh ke Clara.
"Alah kamu nggak usah sok suci dech! Kamu udah ngegodain Andrew. Andrew itu udah punya istri yang sangat cantik dan seorang putri yang sangat cantik. Kamu jangan jadi pelakor yang bisa menghancurkan keluarga bahagianya keponakanku," ucap Clara datar.
"Astaghfirullah Mami, aku nggak mungkin melakukan itu."
"Untuk saat ini tidak, tapi kita lihat saja nanti."
"Pak Andrew mengajak saya untuk bekerja sama membuat rekaman album saya."
"Awalnya seperti itu, tapi lama kelamaan menjalin asmara."
"Mami tidak usah bahas tentang itu. Aku nggak suka," ucap El serius sambil berdiri di belakang Sarah.
"Kamu ngomong seperti itu berarti kamu masih marah sama Andrew karena dia telah merebut cinta pertamamu."
"Biola bukan cinta pertamaku, tapi cinta monyetku. Lagi pula aku nggak suka bahas itu karena kejadian itu sudah lama banget Mami," ucap El serius sambil mengusap lembut pundaknya Sarah yang terbuka.
"Bagaimana pertemuan kamu dengan clientmu tadi sore? Apakah Pak Bram orangnya enak diajak berkompromi?" ucap Clara mengalihkan pembicaraan.
"Iya, dia langsung deal dengan harga yang aku tawarkan Mi," ucap El sambil menduduki tubuhnya di depan Clara.
"Selamat malam Tante Clara," sapa Andrew sopan sambil berdiri di belakang Sarah yang membuat El menatap tajam ke dirinya.
"Selamat malam keponakanku yang ganteng, silakan duduk And," ucap Clara ramah.
"Ai, ayo kita ke panggung, sebentar lagi kamu kan nyanyi," ucap El sambil beranjak berdiri.
Sontak Sarah beranjak berdiri, lalu berucap sopan, "Saya permisi dulu, selamat malam."
"Selamat malam juga cantik," ucap Andrew sambil menoleh ke Sarah.
Tak lama kemudian Sarah keluar dari kursinya. El langsung menarik tangan kanannya Sarah, lalu menggandengnya. El dan Sarah melangkahkan kakinya menuju ke panggung. Sarah merasakan aura kecemburuan dari mimik dan bahasa tubuhnya El terhadap Andrew. Sarah mengusap lembut punggung kirinya El untuk menetralkan rasa cemburu di hatinya El.
"Sayang kamu tenang aja, aku tak akan pergi meninggalkanmu," ucap Sarah lembut yang membuat El menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
El langsung memeluk Sarah dengan erat, lalu berbisik, "Aku pegang ucapanmu my sweet heart."