Haluan Hidupku

Haluan Hidupku
Mulai Mencintai Dirinya


__ADS_3

Di like ya guys 😁


Di vote ya guys 😁


Di komen ya guys 😁


Happy reading πŸ€—


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


El berdiri di depan cermin yang besar sambil tersenyum manis. Melihat wajahnya yang sudah segar setelah mandi. Dia mengambil sisir dari atas meja rias, lalu merapikan tatanan rambutnya dengan sisir. Saat ini dia hanya memakai celana boxer, memperlihatkan tubuh atletisnya. Membiarkan rambut hitamnya terurai alami. Menaruh sisirnya di atas meja rias.


Kringgg ...


Bunyi dering panggilan interkom apartemennya El dari pesawat telepon yang mengalihkan perhatian El. Sontak El membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya menuju nakas sebelah kanan tempat tidurnya. Mengangkat gagang telepon, lalu mendekatkan gagang telepon itu ke telinga kirinya.


"Hallo ada apa?"


"Tuan, ada Nona Sarah ingin bertemu dengan anda."


Dia tahu dari siapa alamat apartemenku? Jangan - jangan tahu dari Edward?


Batin El.


"Suruh dia naik ke atas."


"Baik Tuan."


Tak lama kemudian El menaruh gagang telepon itu di tempat semula. Berjalan santai sambil bersiul - siul melewati pintu kamarnya. Melewati ruang tamu yang bernuansa manly. Berdiri di depan pintu lift. Pintu lift terbuka menampilkan sosoknya Sarah yang terkejut melihat El yang hanya mengenakan celana boxer. El langsung menarik tangan kanannya Sarah, lalu memeluk pinggangnya Sarah dengan erat.


"El tolong lepaskan aku," ucap Sarah lembut.


"Aku akan melepaskanmu setelah kamu mencium bibirku," bisik El.


"El please tolong lepaskan aku. Aku ingin menjelaskan semuanya," ucap Sarah lembut.


"Bagaimana jika aku tidak mau melepaskanmu?"


"Aku tendang anumu!" gertak Sarah.


Sedetik kemudian El melepaskan dekapannya, lalu berucap, "Kamu mau menjelaskan apa?"


Maysaroh mundur satu langkah, lalu berucap, "Kejadian yang kemarin siang di depan toilet restoran. Kamu salah paham. Waktu itu kami tidak berciuman. Tubuhnya Bang Juned terjatuh ke depan mengenai diriku setelah aku keluar dari dalam toilet sehingga membuat kami berdempetan. Untung di belakangku tembok, jadi kami tidak terjatuh ke lantai. Lalu kamu datang. Kemarin Bang Juned lagi sakit perut, makanya dia lemas yang mengakibatkan tubuhnya terjatuh."


"Kenapa waktu itu kamu tidak langsung menjelaskannya?"


"Bagaimana aku langsung menjelaskannya, sedangkan kamu langsung menarik kerah jasnya Bang Juned dan langsung menonjoknya. Aku nggak suka kamu berbuat seenaknya. Hubungan aku sama Bang Juned yang sekarang hanya sebatas sahabat. Pas aku bantuin Bang Juned, kamu malah kabur," ucap Sarah yang menyakinkan.


"Baiklah, besok - besok aku nggak akan main pukul aja."


"Kamu sebaiknya minta maaf sama Bang Juned karena kamu telah melukai dirinya."


"Iya, nanti aku minta maaf sama dia, ayo ikut aku!" ucap El, lalu dia berjalan ke dapur.

__ADS_1


"El, kamu pakai baju dech, aku risih ngeliatnya," ucap Sarah yang tidak mau ikut El.


"Kamu tak perlu takut, aku nggak akan macam - macam," ucap El dengan volume suara yang tinggi.


"Aku bukan takut, tapi risih!" teriak Sarah yang tetap berdiri di tempat.


"Udah ke sini aja, tolong masaki aku makanan, aku belum makan malam," ucap El dengan volume suara yang tinggi.


"Tapi pakai baju dulu!" teriak Sarah.


"Iya, nanti aku pakai baju! Udah cepatan bantu aku masak!" teriak El.


Tak lama kemudian Sarah melangkahkan kakinya ke dapur. Menyusuri ruang tamu dan ruang keluarga. Sarah melihat El sedang mengupas kulit kentang. Sarah menghampiri El. El menoleh ke Sarah, lalu tersenyum manis. Sarah mengambil pisau yang sudah disediakan, lalu mengambil satu buah kentang.


"Pakai baju dulu," ucap Sarah sambil mengupas kulit kentang.


El memeluk pinggang rampingnya Sarah dari belakang, lalu berbisik, "I love you. Ai tolong bantuin aku masak mashed potato dan bistik ayam."


"Iya. Udah sana cepatan pakai bajunya," ucap Sarah datar.


Tak lama kemudian El mengecup puncak kepalanya Sarah dengan penuh kelembutan, lalu melepaskan pelukannya. Membalikkan badannya, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar. Ketika mengupas kulit kentang yang ketiga, Sarah mendengar derap langkah kaki orang yang menghampiri dirinya. Sarah menaruh kentang dan pisau di atas meja kitchen set, lalu membalikkan badannya. Dia melihat seorang pria paruh baya yang menatap tajam ke dirinya. Maysaroh berjalan menghampiri orang itu, lalu menyalim tangan kanannya orang itu.


"Kamu siapa?" tanya orang itu.


"Saya Sarah Pak," jawab Sarah sopan, lalu Sarah kembali ke tempat semula.


"Dia itu pacar baruku yang kemarin aku ceritakan ke Papi Billy," jawab El sambil berjalan menghampiri mereka.


Billy menoleh ke El, lalu berucap, "Pacar benaran?"


"Nggak, Mami langsung pulang. Papi ke sini mau kasih kabar terbaru soal penyerangan para preman ke kalian di daerah Mekar Jaya," ucap Billy sambil membuka salah satu pintu lemari kitchen set, lalu mengambil gelas.


"Kabar apa?" ucap El sambil membantu Sarah mengupas kulit kentang.


"Jacky dan mereka adalah anak buahnya Trisno."


"Siapa Trisno?"


"Dia mafia perdagangan manusia di bawah umur. Itu nama samarannya, kalau nama aslinya, kami sedang melacaknya," ucap Billy sambil membuka pintu lemari es.


"Berarti si Trisno belum berhasil ditangkap?"


"Belum. Sarah kamu pernah ketemu sama Trisno?" ucap Billy sambil menuangkan air putih ke gelasnya.


Sontak Sarah menoleh ke Billy, lalu berucap dengan sopan, "Pernah Pak."


"Berapa kali?" tanya Billy sambil menaruh gelasnya di atas meja kitchen set.


"Selama aku ngajar di sana, baru tiga kali ketemu."


"Yang meminta izin membuka kelas ke mafia itu siapa?" tanya Billy sambil menoleh ke Sarah.


"Saya tidak tahu Pak."

__ADS_1


"Kamu ketemu dia di mana?"


"Di lapangan depan sekolah."


"Terus di mana lagi?"


"Di situ aja Pak."


"Waktu itu dia ngapain di sana?"


"Melihat - lihat kegiatan sekolah Pak."


"Waktu kamu melihat dia, ada yang mencurigakan nggak?"


"Nggak Pak."


"Kamu pernah ngobrol sama dia?"


"Pernah."


"Ngobrol tentang apa?"


"Dia hanya memberi tahu namanya saja, menanya aku kuliah di mana, tinggal di mana, dan kuliah angkatan berapa."


"Waktu dia ke sana, dia sendiri atau bersama teman - temannya?"


"Dia selalu sendiri. Makanya tadi aku kaget kalau dia seorang mafia."


"Terima kasih infonya," ucap Billy.


"Sama - sama Pak," ucap Sarah sopan.


"Maysaroh, panggil saya Om aja, biar lebih santai," ucap Billy.


"Iya Pak. Eh, iya Om."


"El, lebih extra lagi jagain dia. Musuhnya dia bukan orang sembarangan."


"Baik Papi."


"Papi pulang ya, bye," ucap Billy.


"Hati - hati Pi. Titip salam untuk Mami, bye Papi," ucap El.


Tak lama kemudian Billy pergi dari dapur menuju pintu lift. Sarah membalikkan badannya, dia melihat semua kentang yang sudah dikupas lagi direbus. Sarah ambil beberapa siung bawang putih untuk dikupas kulitnya. Sedangkan El memperhatikan Sarah dengan tatapan mata yang berbinar.


"Om Billy tinggal di mana?" tanya Sarah sambil mengupas kulit bawang putih.


"Di gedung apartemen ini juga. Di lantai dia puluh sembilan."


"Auw!" pekik Sarah karena jari telunjuknya tak sengaja tersayat pisau hingga keluar darah segar.


Sontak El mengambil jari telunjuknya Sarah, lalu menghisapnya supaya darahnya tak keluar lagi. Tak terduga Sarah merasakan getaran halus di hatinya ketika melihat El sedang menghisap jari telunjuknya dengan penuh kelembutan. Sejak awal ketemuan hingga sekarang Sarah merasakan El sering bersikap manis terhadap dirinya.

__ADS_1


Perasaan itu seperti perasaanku ke Bang Juned. Perasaan itu muncul karena El juga sering memperlakukan diriku dengan sangat manis. Hari ini aku mulai mencintai dirinya.


__ADS_2